Konser Mini di Mall

Malam ini saya ngabisin waktu nemenin my hunk meeting di sebuah mall di deket Joyoboyo, Surabaya. Karena saya nggak cukup kompeten untuk ikutan diskusinya my hunk yang berbau komputer-komputeran itu, saya pun nonton sebuah konser mini yang malam ini digelar di mall itu.

Yang main adalah sebuah band berpersonel delapan orang. Vokalisnya ada tiga, jumlah yang menurut saya terlalu hambur, biarpun suara masing-masing vokalisnya lumayan bagus sih. Saya heran kenapa sebuah band harus punya vokalis sampek tiga orang. Saya kira jawabannya, nggak mungkin dua orang, coz mungkin lima orang lainnya nggak bisa nyanyi, sedangkan kalau honornya dibagi tujuh, kayaknya susah karena tujuh itu bilangan prima. Jadi mereka perlu satu orang vokalis lagi supaya gampang bagi honornya (katanya mathematic freak).

Selama bertahun-tahun saya selalu bertanya-tanya kenapa vokalis cewek bajunya harus you-can-see. Membuat gadis-gadis berjilbab nggak cukup laris untuk jadi vokalis band kecuali Elvi Sukaesih (itupun juga karena dos-q takut ditindas Rhoma Irama). Entahlah semenjak era Fatin Lubis ini. Tapi melihat lampu-lampu spotlight yang menyinari pentas malam ini, saya akhirnya mengerti. Pasti di panggung itu sumuk sekali gegara lampu-lampu spotlight itu. Menyesuaikan gaya busana dengan panasnya lampu adalah solusi yang baik.

Bicara soal vokalis, saya terheran-heran kenapa vokalis cowok harus nyanyiin lagunya Ari Lasso dan vokalis cewek harus nyanyiin lagunya Raisa. Kenapa jarang nonton band ada vokalis cewek nyanyiin lagunya cowok dan ada vokalis cowok nyanyiin lagunya cewek?
(Jadi inget bulan lalu saya main ke sebuah toko Jepang di sebuah mall. Ketika dari tengah mall itu ada konser mini di mana vokalis cowoknya nyanyiin Royal-nya Lorde, saya langsung bubarin acara belanja saya dan nontonin konser itu dengan khusyuk.)

Teka-teki yang nggak bisa saya pecahkan malam ini adalah kenapa keyboard-nya harus dua. Kalau keyboard yang satu untuk menciptakan efek piano, saya ngerti. Tapi keyboard satunya buat apa? Toh sudah ada drum sungguhan dan bass sungguhan untuk menciptakan irama dan mimpin melodi. Dan sudah ada gitar dan saksofon buat jadi budak melodi.

Anyway, saya selalu seneng liat pianisnya main keyboard di samping. Akan jauh lebih oke kalau dia main grand piano sungguhan, tapi pasti susah menggotongnya ke panggung Surabaya Town Square.

Sorry dori mori, untuk urusan bikin konser mini demi menciptakan crowd, saya tetep lebih seneng nonton di Paris van Java. Soalnya di PvJ dikasih bangku, jadi penontonnya bisa nonton orang nyanyi di bangku. Lha di Sutos nggak ada bangkunya. Memangnya harga bangku taman itu mahal ya?

http://laurentina.wordpress.com

http://georgetterox.blogspot.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

11 comments

  1. Malah di mall2 di Surabaya sebagian seringnya kita ngamen (istilah untuk main musik di tempat umum – bukan di tempat konser berbayar) di lantai paling bawah yang bisa dilihat dari atas (seringkali bagian tengah lantai 2 dst dari mall kan berlubang) sehingga kebanyakan penonton mantengin kita dari atas sambil senderan ke besi penyangga itu =))

    (dulu saya beberapa kali ngamen di mall bersama WM Rhapsody, mungkin kadang2 masih mengisi acara juga dengan musik semi-klasik)

    1. Nah, itu pula. Jadi waktu saya nonton konser mini ini, sebenernya saya kepingin nonton dari lantai atas aja, supaya saya bisa motret crowd dari sudut pandang burung. Tapi ada satpam yang melarang saya nongkrong di pinggir void dan maksa saya ikutan gabung sama crowd. Karena bodi saya kalah kekar dan saya nggak bawa senjata, saya jadi jiper dan terpaksa ngalah sama satpamnya, hiks hiks..

      Eh, Fabiola kalau ngamen, kasih tau saya dong, biar saya bisa nonton 🙂

  2. PRofijo says:

    Bilangan prima itu bilangan yang hanya bisa dibagi 1 dan bilangan itu sendiri (hasilnya tidak pecahan). bener gak sih..???

    Untuk konsernya no comment, aku gak cukup kompeten 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *