Risiko untuk Untung

Alkisah saya ditanyain teman yang lagi craving kepingin hamil. Karena tidak sabar maka ia pergi ke dokter kandungan, minta dibikin supaya cepat hamil. Mungkin dokter kandungannya bosan juga dengan teman saya, karena teman saya ini udah berkali-kali mengeluh mandul padahal dokternya belom setuju bahwa teman saya mandul. Jadi akhirnya dokternya bilang, “Ya sudah, kalau Anda mau, Anda histerografi aja.”

Sang dokter menjelaskan prosedur histerografi, dan membuat teman saya pulang dalam keadaan jiper karena ngeri membayangkan prosedurnya.
Sudah tahu ngeri, lalu dia masih juga kirim pesan ke saya, “Mbak Vic, kalo HSG itu sakit ya?”
Saya langsung jawab, “Sakit.”
Sudah saya duga, dia semakin jiper.
***
Dalam hidup, kita nggak pernah jauh-jauh dari risiko. Misalnya mau buka usaha, ya kita harus siap berhadapan dengan risiko berutang, risiko ditipu partner bisnis, dan entah apa lagi.
Ah, itu perumpamaan yang terlalu besar.
Misalnya kita mau cari makan aja, maka risikonya adalah harus pergi ke warung pinggir jalan. Artinya ada risiko kulit jadi item kena matahari. Mau pergi malem, tapi kan lapernya pas siang.
Begitu juga halnya kalau kita ini sakit. Kalau mau sembuh ya kudu pake obat. Kadang-kadang kalau obatnya nggak diproduksi dalam bentuk pil, ya harus disuntik. Risiko disuntik adalah sakit ditusuk jarum.
Tapi kan itu semua adalah tindakan yang sebetulnya untuk mencapai tujuan. Saking aja ada risikonya. Kalau mau punya penghasilan aktif tanpa risiko dipecat, ya harus berani buka usaha sendiri. Kalau mau perut kenyang di siang hari, ya harus berani melawan sinar matahari untuk jalan ke warung. Kalau mau sembuh, ya harus berani disuntik.
Dan sebetulnya risiko kan bisa ditekan, kalau kita tahu cara meminimalisirnya. Supaya buka usaha nggak sampek merugi, taruhlah modal sedikit-sedikit tapi kembangkan usaha kita untuk mempromosikan modal itu. Supaya nggak kepanasan waktu jalan siang-siang, ya pakailah payung. Supaya nggak sakit waktu disuntik, cengkeramlah tangan suami sampek patah supaya sakitnya nggak kerasa.. #eh
***
Lagian dokternya kan sudah bilang, kalau baru menikah satu tahun dan nggak hamil-hamil, itu belom tentu juga mandul. Banyak yang baru hamil setelah menikah dua tahun. Apalagi yang beberapa bulan lalu baru berhenti minum pil KB.
Tapi namanya juga untuk memuaskan rasa ingin tahu, maka tindakan histerografi tidak ada salahnya. Asal sudah tahu risikonya, yakni sakit. Meskipun sebetulnya sakitnya nggak seberapa, masih lebih sakit luka bekas operasi. Kan ada untungnya juga akhirnya, jadi ketahuan kenapa belom hamil. Memang risiko itu untuk mencapai untung. Ya kan? Ya kan?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

15 comments

  1. galihsatria says:

    Aku juga kadang-kadang heran dengan temen yang belum setahun menikah tapi sudah panik belum hamil. Kalau belum waktunya dikasih ya mau usaha gimana pasti belum lah. Tapi memang desakan sosial dengan pertanyaan, "Wis bathi durung?" itu memang nyesek sih, hehehe…

  2. zachflazz says:

    saya jadi tau HSG sekarang.

    tapi lagian juga baru setahun. wong temen saya yang udah 10 tahun juga akhirnya hamil koq. itu sudah diatur Gusti Allah to?

  3. budiono says:

    ada temen saya setelah berusaha selama 5 tahun labih, akhirnya berhasil hamil. mengapa disebut berhasil? karena dia melakukannya dengan tujuan pengen hamil, dan sudah berusaha dengan berbagai upaya, sampe ke dokter di singapor n malaysia sana (nonton balapan, mampir ke dokter xixi..)

    baru setahun sudah panik? mungkin terus didesak orang sekitar, terutama orang tua yang pengen segera dapat cucu :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *