Lebih Banyak Sarapan atau Makan Siang?

Beberapa orang sering konsul ke saya kenapa mereka sering cepet penyakitan. Sebetulnya penyakitnya sepele, misalnya pusing kepala, lemes, flu, maag, gitu deh. Yang sepele karena nggak bikin cepet modar tapi nampaknya lebih mengganggu hajat hidup karena mengacaukan semangat bekerja (dan pada akhirnya, menunda kenaikan gaji atau minimal menjauhkan konsumen).

Salah satu pertanyaan yang saya lontarkan adalah “Apakah kau makan siang?”

Biasanya dijawab ya. Meskipun beberapa orang mengira bahwa definisi makan siang adalah makan lumpia goreng yang dijual Mpok Siti.

Pertanyaan berikutnya adalah “Sarapanmu apa?”

Jawabannya biasa “I*d*mie.” Maklum orang sibuk.

Pertanyaan favorit saya adalah “Berapa hari kau sarapan dalam tujuh hari terakhir ini?”

Di sinilah biasanya jawabannya bervariasi. Saya sama sekali nggak terkejut ketika mereka ternyata bolos sarapan.

Ada beberapa alasan kenapa orang tidak rajin sarapan.

“Gak sempet. Subuh-subuh harus ngejar busway.” (Oh, kamu temennya Dinda.)

“Warungnya Mpok Siti tutup.” (Seolah-olah sumber makanan hanya Mpok Siti.)

“Nyokap nggak masak.” (Oh, jadi kau masih anak mama.”)

“Istriku lagi males masak.” (Kau menikahi istrimu hanya untuk dibikinin sarapan? Kenapa kau tidak menikahi Mpok Siti?)

“Duitnya diirit buat makan siang.” (Ini ngirit atau medit?)

Saya akan cerita tentang bagaimana cara tubuh normal bekerja. Ini tubuh yang normal ya. Kalau Anda nggak merasa tubuh Anda normal, ya jangan ditiru.

Tuhan menciptakan badan kita untuk bekerja di pagi hari sampek siang, paling banter sore. Sedangkan malam hari waktunya istirahat. (Dan itu sebabnya kenapa saya lebih suka penerbangan pagi atau siang ketimbang penerbangan malam. Sesungguhnya tidak ada yang lebih saya pikirkan ketimbang kesehatan pilotnya. Bukan, saya bukan ada main sama pilot.)

Jika jam-jam produktif kita adalah jam pagi, maka selayaknya mayoritas amunisi yang diberikan kepada badan kita juga diberikan pagi. Artinya, sarapan harus lebih banyak daripada makan siang!

“Saya sudah sarapan kok. Pake I*d*mie.”

Saya tepok jidat.

Bukannya saya anti sama produknya pabrik Indofood itu. Tapi sarapan yang produktif adalah ditentukan dari komposisi kalori atau energi yang dihasilkan melalui karbohidrat yang masuk ke badan kita. Mie instant mungkin menghasilkan energi, tapi energi yang dihasilkannya nggak sebanyak roti. Setangkap roti tawar mungkin menghasilkan energi, tapi jumlah energi yang dihabiskannya lebih cepat habis daripada makan secentong nasi. Jadi kalau mau banyak energi pada waktu kerja gimana caranya? Ya harus sarapan, dan sedapat mungkin sarapannya berupa nasi.

(Sebetulnya kentang juga boleh, tapi saya masih belom bisa menentukan berapa porsi kentang yang efektif untuk menyamai nasi.)

“Memangnya saya harus makan lebih banyak sarapan daripada makan siang?”

Jawab saya, lha memangnya Anda lebih produktif pada jam dua siang daripada jam sembilan pagi?

Biasanya jawabannya adalah, “Karena saya bekerja sebagai supir bis jemputan yang nganterin anak-anak pulang sekolah.” 😀

“Gimana dengan makan malam? Apakah porsinya sama dengan sarapan atau lebih sedikit lagi?”

Terserah Anda. Pokoknya porsi sarapan harus lebih gede kalau Anda memang kerja pagi.

Jika Anda adalah pilot yang menjalani shift malam, lebih baik makan malam dengan porsi yang sama seperti sarapan. Dan kuncinya kalau mau kerja, harus lebih banyak karbohidrat ketimbang lemak.

“Makan malam bikin gendut!”

Iya, kalau menu makan malamnya lebih banyak lemak ketimbang karbohidrat. Kecuali kalau setelah makan malam, Anda lari keliling lapangan sepak bola. 😀

Karena, untuk menghasilkan energi, secara normal tubuh memilih membakar karbohidrat duluan ketimbang lemak. Ketika tubuh sudah nggak punya cadangan karbohidrat (baca: nasi) untuk dibakar, maka tubuh akan memilih lemak untuk dibakar.

“Tapi saya nggak punya waktu untuk nyiapin sarapan, hiks..hiks.. Jangankan buat sarapan, sholat Subuh aja masih sering kesiangan..”

Oh, poor you.

Jadi, apakah Anda masih lebih banyak makan siang ketimbang sarapan? 🙂

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

31 comments

  1. Keke Naima says:

    kalau saya sarapan termasuk wajib. Anak saya kalau gak sarapan biasanya pulangnya suka panas badannya. Masuk angin gitu. Akhirnya, besoknya gak sekolah. Jadi sekarang wajib sarapan semua

  2. Mila Said says:

    Breakfast is the most important meal of the day. Tapi sampe sekarang masih belom kuat sarapan nasi euy, palingan bubur ayam atau lontong. biar gaya ditambah buah2

  3. profijo says:

    Aku malah bisa dibilang tidak pernah sarapan saking jarangnya. Alasannya? Karena Kira2 30 menit – 1 jam setelah sarapan, perut mules, kayak pengen BAB. Mungkin karena belum memasuki jam kerja perutku kali y? Jadi itu perut demo? Dan aku harus menempuh Bekasi Bogor tiap hari kerja. Itu mules muncul seringnya pas masuk tol JORR. Kemana aku melampiaskan hasrat mules itu 🙁

    Akhirnya ambil keputusan, stop sarapan untuk sementara. Sambil latihan sarapan Klo pas hari libur.

  4. Wakz, saya tertohok kalimat terakhir. Shalat subuh saja masih kesiangan, hiks…

    Saya beruntung tinggal di Jogja. Kalau pagi banyak makanan murah seperti gudeg tahu, soto, atau sop ayam. Satu porsinya dihargai Rp 5.000 dan porsinya besar cukup untuk dua kali makan. Alhasil saya makan cuma dua kali sehari Bu Dokter, pagi sama malam, sekalian ngirit, hahaha.

  5. mamipapa.me says:

    kl gw gak bisa sarapan berat2 paling segelas susu tiap hari, sesendok madu manuka, segelas air glukolin, sama roti dan selai meses (kl lg ada stok roti) dr dulu diwanti2 gak boleh perut kosong pagi2 tar sakit berabe.. kesehatan itu mahal kl udah sakit

    tapi lg gak ada roti trus stok madu abis… gmn dong Vic hahaha enak tinggal hotel yah mau bubur tinggal comot, soup miso tinggal nyomot, roti tinggal nyomot, juice, buah byk pilihan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *