Majapahit Travel Fair di Grand City Surabaya, Vendornya Pasif

Weekend ini ada acara di Grand City Surabaya, yakni Majapahit Travel Fair. Saya dateng ke sana dan acaranya menarik. Ada banyak pebisnis yang bikin stand di pameran pariwisata itu, terutama travel agent, adventuring, periklanan, dan lain-lain.

Saya seneng dateng ke pameran, terutama travel fair, coz biasanya di pameran selalu ada banyak pengetahuan baru yang nggak saya dapetin dari majalah atau tivi. Meskipun saya nggak niat belanja di pameran, tapi ngobrol dengan para pengusaha itu selalu bikin wawasan saya nambah. Minimal saya tahu pasaran harga wajar suatu produk sehingga saya nggak gampang jadi korban iklan.

Tapi kali ini saya bukan mau cerita soal produk baru. Saya mau cerita tentang gairah promosi pelaku pameran pariwisata di travel fair itu.

Saya tawaf keliling arena Majapahit Travel Fair di Grand City Convex Surabaya yang gede itu. Tiap lewat suatu stand, pasti ada yang teriak promosi, “Silakan, Kak! Mau coba rafting?/Boleh lihat-lihat batiknya?/Tiketnya lagi murah, Kak!” Kadang-kadang saya nggak noleh kalau dipanggil-panggil Kakak itu, soalnya saya tahu mereka bukan adek saya.. :p

Tapi kalau ada banner setinggi dua meter yang cukup menarik di depan stand, saya biasanya berhenti. Membaca iklan yang ada di situ. Dan tinggal ngitung detik sampek ada seorang penjaga stand-nya untuk merayu saya supaya saya mau beli produknya.

Nah, saya berhenti di sebuah stand kecil seukuran 2 x 2 meter yang banner-nya ngejual paket snorkling di Bali. Oh oh. Snorkling. Dan posisinya cuman satu jam naik pesawat dari Surabaya. I’m in trouble.

Saya nunggu 10 detik. 15 detik. 20 detik. Sudut mata saya menangkap mbak-mbak duduk di dalem stand-nya. Heh, kok si mbak diem aja sih? Nggak mau merayu saya snorkling di Bali yah?

Saya ninggalin stand itu dengan perasaan gondok di dalam hati. Dasar mbak-mbak belagu. Udah stand-nya kecil, ada calon customer dateng tapi nggak disambut. Nggak mau produk elu laku ya?

Nggak ada lima detik, saya dihadang seorang pemuda. “Gunung Kidul-nya, Kak? Lagi ada promo nih!”

Dengan sigap dos-q nyodorin saya brosur. Saya mengambil brosurnya karena semula kasihan lihat upayanya jadi sales dan berniat langsung capcus. Tapi langkah saya tertahan waktu saya lihat di brosur itu ada gambar sekelompok orang lagi rafting di atas perahu karet berbentuk bulat masuk gua.

Si pemuda, sadar bahwa brosurnya mencaplok perhatian saya, langsung ngoceh bertubi-tubi. Ini Gunung Kidul, cuman satu kilo dari Jogja. Paketnya cuman Rp 65k/orang. Rafting 1,5 jam. Atraksinya lihat stalagtit. Ada guide. Pakai pelampung. Disediain makan siang. Kalau nggak tahu Gunung Kidul, boleh minta dijemput dari Jogja.

Saya ngeliatin si sales sambil mbatin, elu lebih menarik ketimbang si mbak-mbak yang jualan paket snorkling di Bali.

Saya belom berniat ke Gunung Kidul dalam waktu dekat, tapi saya mutusin nyatet alamat website-nya si sales rajin dan akan mengunjunginya kapan-kapan.

Terus saya jalan lagi. Di tengah hall, ada stand-stand luas yang kayaknya nilai sewa pamerannya lebih gede ketimbang stand-stand kecil. Yang namanya ukuran stand lebih gede, pasti dia bisa bikin showcase lebih leluasa untuk menarik pengunjung.

Dan saya berhenti di sebuah banner bergambar Raja Ampat.
Mampus, saya mbatin. Daerah impian daku ini.

Yang jaga dua orang mbak-mbak. Sibuk ngeliatin buku tamu. Saya berdiri di depan banner, dengan gestur “Come and get me, come and get me”. Tapi si mbak-mbak diam aja. Saya ngitung sampek 20. Dan si mbak nampak nggak aware lihat mata saya yang terpaku sama gambar kepulauan hijau Raja Ampat di tengah lautan biru.

Saya melirik ke atas. Siapa sih nih yang nyewa stand?
Tulisannya, Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong.

Nah, sekarang saya ngerti kenapa orang lebih tertarik liburan ke Malaysia/Singapura ketimbang ke Indonesia Timur.

Saya capcus dari stand-nya Sorong, dan kelayapan ke stand-stand lain. My hunk dan saya ngabisin waktu cukup lama di sana, menyisiri pameran pariwisata itu dengan penuh minat.

“Aku dicuekin Sorong,” curhat saya ke my hunk.
“Kalau swasta sih promosinya lebih semangat,” kata my hunk.

Lalu menjelang kami keluar dari pameran pariwisata itu, dalil kami akan kecuekan birokrat pariwisata terhadap promosi pun patah.

Di ujung pintu ada stand yang mengusung wisata ke Kalimantan Timur. Nama Derawan jelas-jelas dipuja-puja di situ. Saya menoleh ke penjaganya, dan penjaganya langsung mengundang saya masuk.

Dia laki-laki, dengan tampang khas Dayak yang non-ekspresif. Dia mengoceh bahwa ke Kepulauan Berau cukup pakai pesawat dua kali dari Surabaya. Anggarannya Rp 4,7 juta kalau mau yang ideal, itu sudah termasuk tiket pesawat pulang pergi ke Surabaya, dan nginep selama tiga malam di resort milik investor Malaysia atau Jerman yang ada di sana. Kalau kepingin lebih murah, bisa aja, paling-paling yang lebih murah itu nginep di rumah penduduk tapi sudah ada AC-nya. Atraksi utamanya snorkling, foto-fotoan di pantai, dan jalan-jalan ke pemukiman lokal. Makan tiga kali sehari sudah ditanggung di dalam paket. Pake guide. Boleh berangkat meskipun cuman satu orang aja. Dia presentasi pake laptopnya dan pamer foto-foto orang liburan. Dikasih alamat website dan Twitter-nya segala.

Saya ngeliatin mukanya dan mbatin, presentasi lu sederhana, tapi materi lu mengandung dollar.
Gw berharap daerah lain punya sumber daya manusia kayak elu.

Saya dan my hunk pulang dari Grand City Surabaya dengan ngomongin isi Majapahit Travel Fair itu. Lepas dari urusan produk-produknya yang sebagian masih terhitung mahal, kami bandingin kemampuan masing-masing stand untuk bikin promosi di pameran pariwisata.

Nyewa stand di Majapahit Travel Fair itu butuh berkorban duit, apalagi di Grand City Surabaya yang tempatnya terhitung high-end. Supaya nggak mubazir, stand-nya kudu dimanfaatin bener-bener. Kadang-kadang untuk menarik perhatian pengunjung, kita kudu jemput bola. Caranya bisa dengan bagi-bagiin brosur, panggil-panggil pengunjung. Ketika bola dateng, itu kesempatan kita buat promosiin apa yang kita jual. Nggak semua bola berminat sama produk kita, maka tugas kita untuk bikin bola itu tertarik sama produk kita.

Saya adalah bola, dan kadang-kadang sebagai bola, saya kepingin dijemput.

Tapi kalau pengusaha stand itu nggak berusaha jemput saya, padahal bolanya sudah jelas-jelas berdiri di depan stand itu, apakah berarti stand itu nggak kepingin laku?

Lalu saya terpikir ide lain. Kadang-kadang pemda nyewa stand di Majapahit Travel Fair itu bukan buat promosi daerahnya. Dia nyewa stand itu karena untuk ngabisin anggaran tahunan daerahnya. Yang dia suruh jagain stand itu ya PNS-nya. Sang PNS yang diutus pun nongkrong di stand hanya untuk “menjalankan tugas”. Perkara pariwisata daerahnya nggak laku, itu bukan urusan si PNS, weitjee..

Sekarang kita ngerti kenapa di Indonesia ini ada daerah tujuan wisata yang “basah”, ada yang “kering”. Sekuat-kuatnya kita mencanangkan slogan “Mari kita berwisata ke dalam negeri”, tetep aja destinasi-destinasi “kering” itu nggak akan laris selama penjual daerahnya nggak mau jemput bola.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

2 comments

  1. Ila Rizky says:

    bener banget, mba. biasanya sewa standnya aja mahalnya minta ampun. itu kalo itungannya harian, bisa dikalikan berapa ya 😀 belum lagi pembagian brosur2, setidaknya kalo udah keluar modal, pasti pengen banyak yang join juga,hehe. moga aja pemerintah kita jadi lebih kreatif untuk memasarkan wisata di negeri sendiri ya

    1. Iya. Di Indonesia banyak banget sebetulnya pengusaha-pengusaha pariwisata kecil-kecilan yang ingin memanfaatkan pameran untuk promosi usahanya. Tapi mereka terkendala biaya untuk ikut pameran.

      Makanya kalau sudah punya kesempatan untuk ikut pameran itu, mbok ya dimanfaatkan seoptimal mungkin. Kalau target promosi udah nongol di depan pintu, jangan dianggurin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *