Kuman TB yang Kebal

Kumannya TB itu kuman yang istimewa. Kuman yang bernama Mycobacterium tuberculosis ini senang dengan tempat yang banyak oksigennya alias paru-paru dan tidak bisa mati dengan antibiotik pasaran yang sering dijual bebas di warung-warung obat. Dia berkembang biak pesat, dan anak-anak kuman itu mengikis sel-sel badan penderitanya sampai habis. Mereka yang menderita TB, biasanya meninggal karena TB milier (jenis TB di mana TB sampai memenuhi seluruh paru karena saking banyaknya) atau meningitis TB (jenis TB yang sudah menyebar ke selaput otak).



Pengobatan TB sebetulnya cukup mudah. Obat-obatan rifampisin, isoniazid, etambutol, dan pirazinamid, yang disediakan gratis oleh Puskesmas seharusnya cukup untuk membunuh kuman TB yang bersarang di paru. Obat ini harus diminum selama enam bulan tanpa bolos supaya bisa bekerja untuk menyembuhkan TB.


Bagian yang menyebalkan dari kuman TB adalah saat mereka sudah beradaptasi untuk tinggal bersama sel tubuh penderitanya. Kuman di sini akan berubah menjadi bentuk kuman yang sulit dibunuh dengan obat-obatan rifampisin dan isoniazid. Dokter menyebut ini mutasi, di mana susunan gen dalam kuman TB berubah menjadi susunan yang tidak akan hancur dengan obat-obatan TB. Dalam hal ini kuman TB disebut resisten, atau dalam bahasa gaulnya, kumannya sudah kebal dengan obat TB biasa.


Bagaimana caranya kuman ini bisa sampai bermutasi menjadi kebal?


1) Kuman Mycobacterium ini sudah tumbuh pesat karena lama tidak dibunuh dengan rifampisin dan isoniazid.
Ini lazim terjadi pada penderita TB yang tidak pernah diobati. Mereka sudah menderita batuk-batuk lama sekali, namun karena tidak pernah diperiksa, maka tidak mendapatkan pengobatan rifampisin dan isoniazid. Sementara penderita tidak berobat, kuman TB di dalam tubuhnya pun berkembang biak pesat menjadi bentuk yang sulit diobati dengan obat-obat TB biasa.


2) Kuman Mycobacterium ini pernah dibasmi dengan obat, tetapi karena obatnya hanya diberikan separuh-separuh, maka kuman yang semula lemah pun menjadi kuat kembali.
Ini biasa terjadi pada “alumni” penderita TB yang pernah diobati, tetapi pengobatannya tidak tuntas. Mereka tidak menyelesaikan pengobatannya sampai enam bulan penuh, alias pengobatannya berhenti di tengah jalan dengan berbagai alasan (misalnya karena merasa pengobatannya terlalu mahal, atau malas minum obat).


3) Kuman Mycobacterium ini sudah bertemu dengan kuman Mycobacterium lainnya sehingga membentuk anak-anak kuman Mycobacterium yang sangat kuat.
Ini sangat sering terjadi di negara-negara yang banyak penderita TB-nya, termasuk di Indonesia. Penderita TB berkeliaran di jalan dan berbaur dengan masyarakat, dan tidak sadar bahwa ia berbaur dengan orang yang diam-diam juga menderita TB. Ketika berbaur itu, ternyata cipratan dahak terhirup oleh masing-masing penderita, sehingga kuman-kuman di dalam dahak itu pun semakin kuat karena “bertemu saudaranya”.


Bagian paling apes adalah orang-orang sehat yang bertemu dengan penderita TB yang kebal obat-obatan ini. Jika penderita TB tersebut bersin atau batuk di depan mereka, mereka yang sehat ini bisa ikut tertular. Dan karena mereka tertular jenis kuman TB yang resisten obat, maka akan sulit mengobati korban-korban baru ini dengan obat TB biasa.



Saat ini tantangan yang sulit buat dokter-dokter paru di Indonesia adalah menolong mereka yang menderita TB yang resisten terhadap obat-obatan. Saat rifampisin dan isoniazid yang disediakan Puskesmas tidak lagi manjur untuk mengobati mereka, dokter akan mencoba obat-obatan antibiotik lain seperti streptomisin, makrolid, aminoglikosid, dan lain-lain untuk menolong mereka. Konsekuensinya bagi penderita, untuk menjangkau perawatan ini tidak bisa dengan mengandalkan Puskesmas yang murah-meriah. Akan lebih banyak uang dan tenaga yang harus dikeluarkan oleh sang penderita TB, karena ia tidak bisa diobati dengan obat-obatan standar. Dokter dan sang penderita akan harus bekerja berlomba dengan waktu, karena saat kuman TB sudah semakin kebal, mereka harus berusaha keras supaya TB tidak sampai memenuhi paru-parunya, apalagi menyebar ke otak dan menimbulkan radang selaput otak yang bisa membunuh sang penderita.


Wow..ternyata berbahaya sekali penderita TB ini jika sampai kebal obat ya?


Sebetulnya mudah saja mencegah penderita TB supaya tidak sampai resisten terhadap obat. Cara-cara pencegahannya begini:

1) Jika Anda memang batuk lama sampai lebih dari dua minggu, lebih baik Anda segera memastikan apakah Anda kena TB atau tidak. Semakin cepat TB diobati, semakin cepat kumannya dibunuh sehingga tidak sampai berkembang biak, apalagi sampai menjadi kebal terhadap obat.

2) Jika Anda sudah pasti mengidap TB, maka patuhilah nasehat petugas kesehatan untuk minum obat terus-menerus selama enam bulan. Obat yang diminum secara konsisten terus-menerus akan melemahkan dan membunuh kuman TB, sehingga Anda tidak memberinya kesempatan untuk hidup apalagi sampai resisten terhadap obat.



3) Selama Anda menderita TB, Anda bukan hanya wajib menghindarkan orang-orang sekitar untuk ketularan oleh Anda, tetapi juga menjauh dari orang-orang yang bisa menulari Anda. Cuci tangan, memakai masker, merupakan kebiasaan yang bisa membuat Anda terhindar dari tertular penyakit orang lain. Termasuk pula kebiasaan ini juga membuat kuman TB yang sedang Anda obati tidak akan sampai menjadi kuat kembali oleh kuman TB dari orang lain.


Mari menjemput kesembuhan, bebaskan lingkungan kita dari TB !
http://laurentina.wordpress.com
http://georgetterox.blogspot.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

9 comments

  1. Adi Pradana says:

    Kunjungan balik mbak dokter. Artikel TBnya mantap punya. Salam kenal ya, tentang gebleknya, iya kalau dingin alot, tp kalo dimakan pas hangat tidak dok… 🙂

  2. Saya cermati akhir-akhir ini ada banyak postingan tentang TB bu Dokter. Apa ini berarti: 1) Masyarakat Indonesia belum paham apa itu penyakit TB, 2) Penderita TB tidak disiplin dalam mengkonsumsi obat.

    Bagaimana?

  3. Menghindar dengan cara cantik ya mbak, baru saja aku lakukan hari ini. Bukan TB sih tapi temanku ini sedang flu berat tapi mau minta diantar ke suatu tempat sedangkan aku harus jemput anak pulang sekolah aku harus menghindari dia dari anakku hehehe. Mungkin tindakanku agak sedikit berlebihan ya mbak. Padahal kalau aku flu aku berusaha mengindari teman-teman supaya mereka tidak tertular

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *