Gaji Naik, Terus Kenapa?

Kalau Anda sudah naik gajinya, berikutnya Anda ingin apa?
Gambar diambil dari sini

Menjelang pemilu gini, isu kenaikan gaji memang santer jadi sasaran empuk
buat mendongkrak dukungan. Pada debat capres weekend lalu, seorang kandidat bilang
bahwa jika gaji dinaikin, maka akhirnya kualitas masyarakat meningkat.
Meningkat itu ya maksudnya lebih maju, lebih sejahtera, dan lain-lain. Gaji
siapa yang dinaikin? Ya gaji guru, gaji dokter, gaji tentara, gaji hakim, dan
lain-lain, pokoknya yang dikasih gaji.

Saya tergelak-gelak. Ini mirip dagelan.
Saya sendiri penasaran, memangnya gaji pegawai negeri sekarang berapa sih?
(Saya bukan pegawai negeri). Terus, mestinya gaji pegawai negeri itu berapa?
Kalau sudah pakai kata MESTINYA berarti kita akan bertanya berapa standar gaji
seharusnya itu.

Karena saya baru berpengalaman jadi dokter, belum berpengalaman jadi guru,
apalagi jadi tentara atau hakim, saya cuman bisa berbagi tentang rasanya digaji
sebagai dokter.
Bekerja semenjak lulus kuliah, saya merasakan yang namanya digaji swasta
maupun digaji pemerintah (sebagai tenaga kontrak). Cukup atau enggak? Yah,
tergantung. Kalau buat makan tiga kali sehari, dan menciptakan standar gizi
berupa indeks massa tubuh masih berkisar 19-23, ya cukup. Buat beli baju dan
memastikan bajunya bisa dicuci pake air bersih tanpa merusak pakaian, ya cukup.
Buat bayar kost-kost-an yang punya air bersih, ya cukup.
Tapi..karena standar hidup saya rada sok elite, gaji itu jadi terasa
kurang. Karena saya kepingin pake minyak wangi. Karena saya kepingin internetan
melulu tiap hari buat ngeblog. Karena saya malu kalau ke kondangan nggak ngasih
angpaw. Karena saya seneng bolak-balik naik pesawat pulang ke rumah orang tua
tiga bulan sekali. Karena saya seneng makan pizza di mall sambil nyeruput smoothies
mangga. Pendek kata, karena alasan gaya hidup yang nggak sepadan dengan gaji,
maka gaji saya ya nggak cukup.
Semakin tambah umur, kebutuhan pegawai pasti akan semakin bertambah. Orang
menikah, punya istri, maka dia harus kasih makan istrinya. Jika dalam satu
rumah itu ada anak, maka dia harus kasih makan anak-anaknya juga. Ketika salah
satu anggota keluarga ada yang knocked out kena flu, pasti mereka harus beli
obat. Oleh sebab itu diciptakan tunjangan beras, tunjangan kesehatan, dan
tunjangan entah apa lagi. Pemerintah sudah kasih regulasi, beras untuk pegawai
negeri adalah beras merk X, yang sekiranya kalau dimasak pun rasanya masih pulen,
dan nggak ada kutunya. Untuk berobat pun sudah dikash fasilitas Askes/BPJS.
Jadi, mau kurang apa lagi?
Persoalan akan jadi repot, jika saban hari raya para pekerja ngeyel minta
dikasih THR. Saya biarpun merayakan Lebaran, tetap nggak ngerti di sebelah mana
pengaruhnya kalau sekiranya THR itu nggak diberikan. Apakah Lebaran harus pakai
baju baru? Memangnya baju lamanya kenapa? Apakah Lebaran itu harus mudik? Kalau
memang sudah rencana mau mudik, ya menabunglah untuk biaya mudik itu dari
jauh-jauh hari, bukan dengan menunggu datangnya THR. Apakah karena pada hari
Lebaran itu semua daging naik? Lho, bukankah keluarga Indonesia kalau lagi
kumpul-kumpul itu senengnya makan Ind*mie?.. *ditoyor jemaah blog*
Jadi, kalau gaji polisi naik, gaji dokter naik, gaji guru naik, gaji hakim
naik, apakah rakyat Indonesia lantas akan jadi lebih tajir? Saya kok ragu..
Karena masalah ketidaksejahteraan kita nggak akan serta-merta selesai
dengan menaikkan gaji. Tapi masalah cara kita memanajemen gaji itu yang lebih
mudah untuk diperbaiki. Kalau kita ini nggak banyak gaya, pikir deh, Insya Allah
gaji itu cukup lho..
Memang ada masalah yang tetap krusial untuk diselesaikan. Misalnya
memastikan semua orang dapet rumah yang layak. Memastikan semua orang bisa
makan kenyang dengan indeks massa tubuh tetap di rentang 19-23. Memastikan
semua orang bisa dilayani dokter tanpa harus mengurangi standar pelayanan.
Memastikan semua orang bisa berhubungan pasutri tanpa harus takut kebanyakan
anak. Memastikan semua anak tetap bisa bersekolah tanpa harus takut dipungli kepseknya yang kejar setoran.
Cari capres yang mengerti kesusahan rakyat. Yang bisa kasih alternatif
win-win-solution untuk semua orang. Yang mau tertib, nggak mau korup, dan
beriman kepada profesionalisme. Bukan yang cuman naikin gaji.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

14 comments

  1. BabyBeluga says:

    Yang namanya politisi disana sama ama politisi pihaknya Obama disini. Mereka pengen upah buruh macemnya fast food workers dinaikkan menjadi 15 dollars per jam. Nah kalau upah pekerja fast food udah 15 dollars per jam, gimana upah professional workers yg untuk profesi dia diperlukan dana edukasi yg besar dan juga diperlukan waktu bertahun2 untuk mendapatkan gelarnya. Sapa yg mampu untuk makan di fast food rest kalau belum apa2 kita udah tau biaya pekerjanya aja udah 15 dollars per jam. Sebagai lulusan ekonomi, aku sih percaya kalau gaji naik pasti biaya2 lain naik juga. Jadi jangan liat dari segi kenaikan gaji doang tapi lihat kemampuan beli uang tersebut. Apa artinya kenaikan gaji kalau harga barang lain naik juga? Beginilah kalau punya pemimpin yg hy bisa memberi janji muluk2 tapi gga ngerti ekonomi (atau mereka ngerti sih ekonomi tapi mereka pikir rakyatnya gga ngerti).

  2. zach flazz says:

    gaji kan mestinya udah ada di proyeksi masing-masing orang. kalo nggak setuju dengan gaji di institusi X, ya udah kan, tinggal nyari pekerjaan lain yang sesuai dengan gaji idealnya. simpel bukan. makanya saya pun nggak sependapat dengan isu kenaikan gaji di debat capres. mengalir sajalah. kebayang presiden ntar pada naikin gaji sembarangan, apa APBN kita nggak remuk nanti.

  3. limmyhl says:

    setuju bgt vic.
    the bigger the income, the bigger the expense.
    semakin byk pemasukan semakin tinggi pula pengeluaran.

    yg penting itu sebenarnya perumahan murah utk rakyat dan jaminan kesehatan utk rakyat.

  4. mawi wijna says:

    Ah, kan memang sudah kenyataan dari jaman batu mpe jaman digital sekarang ini kalau kebutuhan manusia itu nggak pernah habis. Akibatnya, berapapun besar uang yang dimiliki (gaji yg diterima) ya ga akan pernah cukup.

    Tapi ya saya percaya manusia bakal tetap bisa hidup Bu Dokter. Lha wong gelandangan saja banyak kok. Soal hidup senang atau menderita itu kan tergantung perspektif si manusia saja.

    Kalau pemerintah mau bikin terobosan, bikin supaya harga-harga kebutuhan dan gaji nggak naik dalam satu dekade. Kalau perlu tiru itu negeri komunis, cuma ada belasan tingkatan dalam gaji. Biar nyaris rata semua itu pendapatan.

    1. Di negeri komunis, meskipun semua orang gajinya sama, tetapi aset-aset yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasain negara. Maka nggak ada yang pake barang KW 1, barang KW 2, barang KW 3, semua orang memakai barang yang kualitasnya sama (bobroknya). Makanya nggak ada kesenjangan sosial. Kalau semua orang rela digituin, nggak akan ada deh yang ngomel minta kenaikan gaji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *