Garong vs Meme

Bahwa orang yang terperdaya oleh napsunya sendiri, akan melakukan apa saja
kalau udah kepepet.

Bagaimana cara garong bersikap kalau kelompok mereka sudah teridentifikasi
sebagai garong oleh masyarakat? Pilihannya hanyalah mereka berhenti jadi garong
atau meneruskan karier sebagai garong. Opsi pertama nampak lebih mudah. Kecuali
jika mereka punya alasan kuat untuk opsi kedua, misalnya karena jika tujuan
mereka berhasil, eksistensi kelompok mereka akan semakin kuat; atau jika sampai
tujuan mereka gagal terpenuhi, mereka akan dikucilkan, bahkan mungkin
diberantas. Dan mereka merasa layak diberantas, karena mereka adalah garong.

Apa alasan Anda untuk berkelahi?
Gambar diambil dari sini.

Alkisah di sebuah kelurahan ada dua orang sedang bertarung untuk pemilihan
lurah. Tiap calon lurah punya pendukung masing-masing. Kebetulan calon lurah
yang pertama punya suporter berupa sekelompok pemuda yang demen ngomong kasar
dan suka jelek-jelekin orang. Calon lurah yang kedua juga punya suporter, dan
kebetulan suporternya ini terdiri dari sekelompok pemuda seniman yang demen
bikin gambar meme kreatif yang suka dipake buat nyindir-nyindir orang. Populasi
penduduk di kelurahan itu bisa kita bagi jadi tiga; yaitu kelompok pemilih
untuk calon lurah pertama, kelompok pemilih untuk calon lurah kedua, dan kelompok
pemilih yang-mana-aja-pokoke-setelah-nyoblos-gw-dapet-Starbucks-gratisan. Maka
kampanye pun dilakukan untuk menarik hati penduduk kelompok pemilih ketiga
supaya mau milih calon lurah pertama dan calon lurah kedua.
Tim sukses calon lurah pertama merayu kelompok pemilih ketiga dengan
berkoar-koar di semua stasiun kentongan bahwa calon lurah pertama didukung oleh
banyak pejabat intelek. Kampanye ini nampaknya kurang sukses karena kelompok
pemilih ketiga umumnya nggak seneng nonton siaran kentongan, karena bosan lihat
panggung kentongan yang penuh dengan panggung goyang dangdut norak plus
berlumuran sandiwara penuh dengan emak-emak bersasak tinggi yang sibuk
memelototi cewek nelangsa yang umumnya pake kerudung. Tim hore calon lurah
kedua pake jalan lain, antara lain bikin iklan di YouTube berpola MLM yang
mencitrakan bahwa calon lurah usungan mereka senang temenan sama ibu-ibu jualan
di pasar dan bercita-cita mengangkat pemulung supaya punya kios sendiri di
plaza-nya Babah Hong. Kampanye ini mulai terdengar lebih realistis karena
nampaknya lebih mudah dijalankan.
Tim sukses calon lurah pertama pun gerah karena nampaknya calon lurah kedua
lebih menarik hati, sehingga mereka pun mengerahkan laskar mereka yang
kebetulan garong. Garong-garong ini ngoceh di stasiun kentongan bahwa calon
lurah kedua itu belom disunat, turunan Babah Hong, dan komunis. Isu yang
terakhir ini sensitif bener, soalnya bertahun-tahun lalu penduduk sekelurahan
itu pernah babak-belur nggak bisa jualin hasil produksi ternak mereka ke kota
gegara kota ogah beli daging yang diambil dari sapi komunis. Maka tim suksesnya
calon lurah pertama pun berharap kalo sampek tim horenya calon lurah kedua jadi
panas karena dedengkotnya dituduh komunis, maka tim hore akan angkat senjata
dan nampak seperti garong. Maka penduduk kelompok pemilih ketiga akan berpindah
simpati dari tim hore calon lurah kedua, dan memantapkan pilihannya ke calon
lurah pertama.
Skenario babak pertama ternyata berhasil. Tim hore calon kedua yang nggak
sengaja dengerin siaran stasiun kentongan pun naik pitam, lalu menggerebek stasiun
kentongan dan nyuruh-nyuruh stasiun itu jangan siaran lagi. Penggerebekan ini
direkam oleh tim sukses calon pertama, dan disiarkan ke mana-mana kalau tim
hore calon kedua itu anarkis.
Tapi ternyata biarpun skenario babak pertama berhasil, justru skenario
babak kedua yang gagal. Pasalnya penduduk kelompok pemilih ketiga ternyata
nggak makin tertarik untuk milih calon lurah pertama. Mereka belum mutusin buat
milih calon lurah kedua juga. Soalnya, mereka belom denger kasak-kusuk bahwa
Starbucks akan membagi-bagikan kopi gratis buat para penduduk yang bersedia
memilih. Terhadap acara penggerebekan stasiun kentongan yang dituduh anarkis
itu, mereka hanya berkomentar bahwa semestinya stasiun kentongan itu ditutup aja
dari dulu-dulu, soalnya penyiarnya kentongan itu diragukan kemampuannya bikin
warta dan rada-rada “lebay mengabarkan”. Mereka malah menyarankan siaran
kentongan itu diganti aja dengan siaran stand-up comedy. Yang mana usul itu
sulit diterima oleh akal sehatnya pemilik stasiun kentongan karena
comic-comic-nya stand-up potensial bikin lelucon yang nyindir-nyindir,  termasuk nyindir pemilik stasiun kentongan
yang hobinya bikin lumpur untuk menenggelamkan sawah.
Malam ini adalah malam terakhir kedua calon lurah akan adu
debat untuk menarik simpati penduduk sekelurahan supaya memilih satu orang aja,
jangan milih dua-duanya. Kelompok pemilih ketiga sangat senang ini debat
terakhir, karena sudah bosan pembicaraan di warung kopinya Mbok Darmi isinya kampanye
calon lurah melulu. Padahal mereka nggak konsen sama pemilihan calon lurah,
mereka lebih gelisah siapakah yang akan menang Piala Dunia tahun ini, apakah
Jerman atau apakah Brasil. Sebetulnya nonton Piala Dunia itu paling enak ya di
Starbucks. Apa daya nonton di Starbucks itu harus beli kopi, dan mereka baru
bisa beli kalau sudah nunjukin tanda bahwa mereka sudah milih calon untuk
lurah. Maka untuk sementara, mereka cuman bisa puas ngomongin Piala Dunia
sambil nyesap kopi seduhannya Mbok Darmi, sambil tutup kuping yang roaming
denger debat kusirnya tim garong sok intelek versus tim seniman ahli meme..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *