Menghindari Beli Kosmetik Mengandung Merkuri

Guru saya pernah iseng meneliti kosmetik bermerk M*C yang dipakai cewek-cewek jetset di Jakarta. Hasilnya ternyata mengejutkan. Sebagian dari kosmetik itu mengandung merkuri.

Ketika hasil itu diberitahukan kepada konsumen, kontan konsumen kalang kabut. Bagaimana caranya kosmetik bermerk high-end asal internasional bisa mengandung bahan yang mematikan nyawa itu?

Sebetulnya penjelasannya logis bin simpel. Kosmetik M*C memang banyak dipake seleb-seleb luar negeri, seperti yang biasa kita baca di majalah-majalah lifestyle. Tapi kosmetik M*C yang dipakai seleb luar negeri itu adalah kosmetik yang dibikin di pabrik Amrik sana. Sedangkan kosmetik M*C yang dijual di Indonesia, adalah M*C yang dibikin pabrik di Tangerang.

Mana tahu kita bahwa kosmetik itu mengandung merkuri?
Gambar diambil dari sini.

 

Kosmetik yang dijual di Amrik, mungkin sudah lewat sensor FDA. FDA adalah badan yang bertugas mengawasi produk-produk makanan, obat-obatan (termasuk kosmetik), supaya jangan sampai produk yang beredar itu mengandung zat yang membahayakan kesehatan.
Bagaimana dengan kosmetik yang dijual di Indonesia?
Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah bekerja untuk melindungi rakyat Indonesia dari kosmetik yang mengandung bahan-bahan tidak bertanggungjawab. BPOM, atau Badan Pengawas Obat dan Makanan, punya andil dalam mengawasi produk-produk kosmetik yang dijual di Indonesia. Produk-produk yang kedapatan mengandung merkuri tidak boleh mendapatkan nomer BPOM, dengan kata lain produk itu tidak boleh dijual. Toko yang berani menjualnya bisa didenda, digerebek, bahkan bisa disuruh tutup.
Tapi Indonesia belum seketat itu. Karena di Indonesia telah muncul fenomena baru berupa menjamurnya online shop. Online shops ini jualan apa aja, termasuk kosmetik yang belum tentu lolos BPOM. Dan merknya nggak selalu merk buatan China atau Korea yang murah-murah itu. Malah masih banyak merk-merk terkenal buatan Amrik dan Eropa yang tidak punya nomer BPOM. Dan wanita-wanita Indonesia yang gandrung akan merk ini dan tetap membeli produk mereka, masih banyak.
Apa akibatnya? Pabrik kosmetik bermerk mahal, yang memproduksi kosmetik dan diam-diam menyelipkan merkuri di dalamnya, dan jelas produk ini tidak lolos uji FDA, akan kesulitan menjual varian produk ini di luar negeri. Maka mereka mengekspor produk ini ke Indonesia, karena tahu di Indonesia ada cewek-cewek yang kecanduan terhadap merk mereka. Pengusaha Indonesia akan mengimpor produk ini karena tuntutan pasar yang besar, dan..boom! Maka masuklah merkuri ke kulit konsumennya.
Dan cewek Indonesia nggak bisa ngeles. Merknya asli? Iya dong, kan ada sertifikasi pabriknya. Buatan negara maju? Iya dong, jelas. Terkenal? Iya dong, kan menurut majalah, merk ini sering dipakai oleh bintang film X, model Y, dan putri kerajaan Z. Siapa yang nggak bangga? Bahwa sebetulnya kosmetik tersebut ada merkurinya, siapa yang tahu?
Ah, mosok sih kita sebodoh itu?
Tentu saja tidak. Karena selalu ada tips untuk menghindarkan diri dari kosmetik yang mengandung merkuri. Bukan, bukan dengan tidak membeli kosmetik! Mengatakan anti kosmetik sama aja dengan katak dalam tempurung. Dan ini juga berlaku untuk Anda, pria!
Bukalah website-nya BPOM ini. Temukan menu Produk Teregistrasi, lalu pada kolom Cari Berdasarkan pilihlah Merk. Pada kata kunci, masukkan merk yang Anda incar, misalnya M*ke Ov*r, E*st*e L*ud*r, L*ccit*ne, terserah Anda deh. Tekan Enter. Maka Anda akan disodorkan varian-varian produk dari merk tersebut yang sudah mendapatkan nomor jaminan BPOM.
(Kalau ternyata produk tersebut sudah dapet nomer BPOM dan di kemudian hari ternyata mengandung merkuri juga, buatlah class action.)
Lha kalau kosmetik yang Anda incar ternyata tidak ada di situ, bagaimana? Padahal kosmetik ini dipakai oleh Kim Kardashian lho.
Ya terserah Anda. Semoga Anda sehat wal afiat dan tidak keracunan merkuri.
“Dokter Vicky, untuk keperluan kosmetika ini saya memakai obat yang diracik oleh dokter. Kan tidak ada nomor BPOM-nya, gimana dong?”
Jawaban saya, maka dokter Anda yang bertanggung jawab atas isi kosmetik tersebut. Kami para dokter sudah disumpah untuk tidak memasukkan bahan-bahan yang membahayakan nyawa pasien ke dalam obat-obatan pasien kami.

Cobalah beli fungsi, bukan beli merk.

 

Cobalah beli manfaat, bukan beli harga.

Terima kasih kepada guru saya yang sudah memberi saya nasehat ini.

Disclaimer: Saya bukan pegawai BPOM, bukan simpatisan BPOM, tidak pernah dibayar untuk mempromosikan nomer BPOM.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

4 comments

  1. Anonymous says:

    1. "Pabrik kosmetik bermerk mahal, yang memproduksi kosmetik dan diam-diam menyelipkan merkuri di dalamnya"

    2. "Maka mereka mengekspor produk ini ke Indonesia, karena tahu di Indonesia ada cewek-cewek yang kecanduan terhadap merk mereka. Pengusaha Indonesia akan mengimpor produk ini karena tuntutan pasar yang besar, dan..boom! Maka masuklah merkuri ke kulit konsumennya."

    Those are pretty controversial statements. Do you have solid proof? Bukan sekedar "kan gak ada nomor BPOM nya" yah.

    Gw bukan pengguna MAC, jadi gw gak bermaksud belain mereka.

    Btw, soal ol-shop, setau gw mereka nih jualan bukan lewat jalur resmi. Misalkan mereka beli langsung dari web US terus resell these products (gw gak tau bener atau gak karena gw gak punya ol-shop. Tapi kalo iya, ini cara yg gw ambil, terutama untuk shades yang gak masuk ke indo. Harga jual jadi lebih mahal? Yah, mungkin itu sebabnya gw gak punya olshop). Berarti:
    1. barang2 yg dijual di web US yah FDA-approved dong?
    2. Gak bisa dibilang M*C "ekspor" produk itu ke indo karena web M*C US cuma bisa kirim ke alamat US. Kalo pembeli kemudian resell belanjaan mereka, ya itu di luar urusan M*C, bukankah begitu?

    1. Hai Tria.

      Menyesal sekali gw nggak punya solid proof. Tapi kalau gw dapet bukti solid-nya, insya Allah akan gw tuliskan.

      Gw nggak tahu apakah barang-barang yang dijual di web-nya US itu pasti FDA approved atau enggak. Karena gw juga nggak tahu apakah kementerian perdagangan, kementerian informatika, dan FDA di US bekerja sama untuk menyensor barang-barang yang dijual di website bikinan negara US, atau tidak.

      Anggap saja misalnya FDA sudah mengetes produk-produk merk X yang dijual di web-nya X dan semuanya FDA-approved:
      Kemungkinannya bisa saja produk merk X yang dijual oleh reseller Indo tidak dibeli dari web resminya merk X tersebut, mungkin dibeli melalui cara lain. Dan mungkin belum di-approved FDA juga. Lalu reseller Indo menjualnya di Indo melalui internet, dan produk non-FDA-approved tersebut akhirnya terkonsumsi oleh konsumen di Indo. Jika kejadiannya seperti ini, memang bukan tanggung jawab pabrik merk X tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *