Antara Beauty, Behavior, dan Brain

Bu Guru saya menantang murid-muridnya. Kalau mau sukses, mana yang lebih penting, beauty, behavior, atau brain duluan? 

Kami jawab, ya penting tiga-tiganya.

Bu Guru saya suruh kami bikin prioritas. Karena prioritas akan menentukan bagaimana kita bersikap. Maka mulailah kelas kami berkicau beda-beda.

Yang satu jawab brain dulu, baru behavior dan beauty itu yang terakhir. Soalnya brain dan behavior itu inner beauty. Nanti kalo inner beauty-nya sudah keluar, nanti (outer) beauty-nya itu keluar sendiri. Dan brain dulu, karena yang penting manusia itu kudu pinter, baru sopan (behavior). Soalnya di jaman hi-tech sekarang, orang sopan sih banyak, tapi kalo nggak pinter nanti nggak akan kompetitif.

Kelompok lainnya jawab behavior dulu, baru brain dan beauty. Katanya, akhlak itu lebih penting. Kalau behavior nggak bagus, percuma punya brain encer dan beauty kayak bintang pelem. Pasti ujung-ujungnya nanti jatuh juga lantaran attitude-nya jelek.

Bu Guru saya bilang, sebetulnya yang penting itu beauty dulu. Lho kok lho kok?

Katanya gini. Misalnya sekarang tolok ukur keberhasilan kita adalah bisa mendapatkan pekerjaan. Kita pergi ke suatu kantor, bawa sertifikat setumpuk pertanda kita lulus cum laude, dan sudah ikut seminar ini seminar itu, dan menguasai enam bahasa asing sekaligus. Soal sopan nggak usah ditanya, lha dulu kita sudah pernah berpengalaman magang di istananya ratu Inggris. Di atas kertas, pasti kita akan dapet pekerjaan.

Lalu kita masuk kantor supervisor-nya. Apa yang terjadi kalau kesan pertama orang di kantornya adalah bingung, “Ini mahasiswa PKL dari mana ya?”

Padahal kita mau ngelamar kerjaan jadi manajer.

Si supervisor, yang sudah terhipnotis oleh penampilan kita yang nggak mirip manajer, akhirnya cuman nanyain basa-basi. Tergantung waktu yang bersedia dia korbankan. Lha sertifikat setumpuk yang kita bawa itu? Aih, siapa sih yang mau baca tulisan dalam dokumen kertas?

Maka kesempatan pun melayang.

Anda bisa bilang, “Ah, gitulah risikonya ngelamar pekerjaan. Selalu ada risiko ditolak. Makanya mending wirausaha sendiri. Jadi boss untuk diri sendiri.”

Ide yang bagus sekali. Persoalannya cuman satu, kita butuh customer untuk kasih makan perut kita.

Kisah Pedagang Sapi

Suatu hari ada seorang pemuda bernama Alexis. Ganteng, tajir, mengelola peternakan sapi di Sukabumi yang diwariskan oleh bokapnya. Bokapnya sendiri sudah tua, maunya duduk-duduk aja mancing ikan sambil ngasuh cucu. Lalu dateng seorang investor tajir mau beli sapi. Alexis, yang dari awal sudah mencium bau dolar, menyambutnya di lobby rumahnya yang klasik.

Apa coba yang diucapkan oleh sang investor pertama kali, “Assalamualaikum, Mas Alexis. Bapakmu ada?”

Ternyata sang investor itu mau nawar sapi sama bokapnya Alexis.

Ceritanya sapi-sapi beternak dengan sukses dan sang investor mau beli lagi. Dia dateng ke ranch itu, ketemu Alexis lagi dan tanya, “Halo, Mas Alexis. Bapaknya ada?”

Apakah kita mengerti ada yang janggal di sini? Padahal manajer direktur perusahaannya kan Alexis, bukan bokapnya. Kenapa yang dicariin bokapnya melulu?

Singkat cerita, Alexis merubah penampilannya. Yang semula nge-grunge, dia ubah jadi rada konservatif dikit. Yang tadinya ketemu tamu cuman pake sendal gunung, sekarang dia pake sepatu mengkilat.

Ketika investor-tukang-nyari-bapaknya itu kembali, yang diucapkan adalah, “Halo, Mas Alexis. Gimana sapi-sapi saya, apakah produksi susunya nambah terus?” Dan sampai satu jam kemudian, si investor nggak nyari-nyari bokapnya sedikit pun.

Jadi..

Dua contoh di atas bilang bahwa untuk mendapatkan suatu kesempatan, beauty tetep nomer satu. Brain kita (yang dibuktikan setumpuk sertifikat, sederetan gelar, nilai IPK) tidak akan terekspos kalau penampilan kita nggak terjaga dengan baik. Behavior yang bagus juga nggak akan terekspos, karena tetep orang lebih melirik duluan kepada yang lebih menarik, bukan yang lebih bermoral.

Meskipun tetep.. beauty nggak bisa hidup sendirian tanpa brain dan behavior yang mumpuni. Beauty memegang 30% keberhasilan, sedangkan behavior memegang 40% dan brain punya andil pada 30% lainnya. Beauty itu bukan cuman sekedar urusan pasang make-up atau milih baju yang ada dasinya. Beauty adalah urusan bagaimana membuat penampilan tetap menarik dengan sumber-sumber daya yang kita punya. Dan diri yang bau, kotor, kusut, yang intinya bikin orang males deket-deket, bukan termasuk penampilan yang menarik.

 

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

12 comments

  1. Rani says:

    Hai vicky
    Sekarang saya ngerti kenapa penampilanmu yg terkini menjadi berbeda dgn saat SMP, hahaha, iya lah berbeda

    Skrg kmu pintar dan cantik! Hehe, menurut saya cantik or beauty itu ngga mesti lipstik, eyeshadow or something… dgn saya mandi bersih dan pake parfum sebelum bobo aja saya udh merasa cantik,buat suami sya hihihi

    So, beauty is wearing or use something, that makes you comfort and you sure people arround you love to stay close to you

  2. Hoeda Manis says:

    Dari satu sisi, yang diuraikan Bu Guru di atas itu emang bener, kita lebih tertarik pada penampilan daripada isi. Tapi penampilan menarik juga lama-lama membosankan kalau isinya (otaknya) nggak semenarik penampilan. Ya kayak kita beli buku mungkin tertarik pada keindahan sampulnya. Tapi jika isinya membosankan, itu benar-benar menjengkelkan.

  3. Ranger Kimi says:

    Aku setuju dengan teori penampilan itu penting, setidaknya penting untuk kesan pertama. Jadi, ya jangan menafikan pentingnya penampilan. 🙂

    1. Ya, karena sedikit sekali orang yang mau beli buku tersegel yang cover-nya nggak menarik, Wijna. Bahkan orang yang beli buku karena denger resensinya bagus pun butuh cara penyampaian resensi yang menarik juga.

  4. kgabdul says:

    Happy Blogging mbak Vicky,

    #btw mukadimah dulu, serius awal kali saya ngeblog 5 tahun lalu, saat masih kelas 3 SMA saya pernah bolak-balik berkunjung ke blog ini… hahha tapi mungkin mbak lupa 😀

    BTW terkait postingan di atas, saya berada di kubu yang berseberangan nih dengan si ibu guru. Kalau melihat personalitinya si ibu guru dia adalah orang yang sangat terkotak-kotakan dengan definisi brain itu sendiri.

    Seorang yang pintar tentu menyadari how they should make their self better…means dia tahu cara bersikap dan mnejaga attitude….

    #ehinicumaopini

    #peace

    btw salam 😀

    1. Hai Aziz, samar-samar saya masih ingat kok pernah nulis namamu di daftar saya. *meskipun saya lupa sekarang daftar itu saya simpen di mana*

      Saya juga merasa pengertian brain di atas terlalu sempit. Mungkin Bu Guru lupa kalau ada satu bagian dari brain yang mengatur emosi, dan emosi inilah yang mengatur behavior dan beauty. Saya sendiri melihat kalau orang yang lagi kena kanker otak (brain), dia akan bisa gampang marah dan tidak mau berpakaian dengan baik (alias, behavior dan beauty-nya jadi jelek).

      Terima kasih sudah kembali ke sini ya. Selamat ngeblog kembali, Aziz 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *