Ketika Burung Belum Hamil

Memang pada dasarnya semua makhluk hidup itu punya kodrat untuk punya keturunan. Tidak cuma manusia, tetapi juga hewan-hewan. Ada kalanya hewan tidak kunjung juga punya anak. Mungkin di sini yang resah nggak cuman sang khewan bersangkutan. Tapi juga manusia yang memiliki mereka pun ikutan resah.

***

Paman saya punya investasi berupa peternakan burung. Dos-q piara sekitar 40 ekor burung di rumahnya di Surabaya. Burung-burung itu dikumpulin satu per satu dari tukang jualan burung, lalu dipasangin di kandang. Diharapkan dengan menaruh satu ekor burung jantan dan satu ekor burung betina di kandang yang sama, maka burung-burung ini akan beranak-pinak, lalu anaknya bisa dijual.

Sudah setahun paman saya piara burung-burung ini. Sebagian burung sudah beranak, tapi sebagian lagi belum berketurunan juga. Apakah burung bisa mandul? Paman saya resah coz dana yang dos-q keluarin untuk beli burung ini juga nggak sedikit. Kalau nih burung cuman numpang makan di rumahnya doang terus lama-lama menua dan mati, ya ini kan namanya rugi. Maklum paman saya pebisnis.

Lagian males juga piara burung yang sama terus-terusan tapi nggak bunting juga. Setiap saat paman saya menghampiri kandangnya dan bertanya, “Kapan isi?”
Mungkin si burung juga eneg ditanyain kayak gitu. Pertanyaan nggak sopan.

(Oke, alinea yang ini bohong. Paman saya nggak pernah bertanya gitu. Ini cuman gimmick-nya saya aja. :p *ditoyor sama Paman*)

Setelah dikonsulin ke ahli burung, terus disarankan supaya burung-burung paman saya yang disinyalir mandul itu diperiksain kariotype. Hanya sekedar memastikan bahwa mereka jenis kelaminnya bener. Lha bayi manusia cowok aja sering dikira cewek gegara penisnya kecil, dan baru ketahuan setelah nggak mens-mens selama 20 tahun, kalau dia sebenernya cowok. Apalagi burung.

Paman saya sebetulnya ragu apakah burung-burungnya perlu di-kariotype. Pemeriksaan ini mahal lho. Lagian dulu penjualnya juga udah jelas bilang bahwa burung yang ini jantan dan burung yang itu betina. Tahu dari mana?
“Dari kicauannya,” kilah sang penjual.

Dokter hewan yang meriksa burung-burungnya menggeleng. Nggak selalu kicauan itu akurat untuk menentukan jenis kelamin. Malah metode kicauan itu banyak salahnya.

Akhirnya paman saya mutusin buat mengikutkan burung-burungnya untuk pemeriksaan kariotype. Sebetulnya kariotype itu murah, cuman reagen untuk pemeriksaan ini mahal, jadi kalau sekali periksa harus melibatkan banyak burung, jangan cuman satu-dua ekor burung doang.

Ketika hasil pemeriksaan kariotype akhirnya keluar, dokter hewannya cengar-cengir. Ternyata banyak burung itu selama ini salah masuk kamar..eh, kandang. Burung jantan dipasangin bareng sesama jantan. Yang betina dikandangin bareng yang betina juga. Pantesan burungnya nggak hamil-hamil!

Akhirnya paman saya mendata ulang burung-burungnya sesuai hasil kariotype itu dan memasukkan burung ke kandang yang “benar”. Alhasil satu per satu para burung pun jadi bertelur dan menetaskan anak-anak mereka yang lucu ke dunia. Dan paman saya mulai tersenyum lega coz melihat tanda-tanda cuan di depan mata.

Dan akhirnya mereka hidup bahagia selama-lamanya. Burung-burung itu, anak-anaknya, dan paman saya.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

6 comments

  1. f4dLy :) says:

    *ngakak dulu*
    pasti selama ini burung-burung itu bertanya-tanya dalam hati "ngapain saya di paksa tinggal sesama jenis padahal di kandang sebelah ada betina nganggur >.< "

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *