Mengenang Mrs Doubtfire

Mrs Doubtfire mungkin salah satu film favorit saya di tahun 1993. Semula waktu saya nonton resensinya di Cinema Cinema (Ya Tuhan, berkatilah Noorca Massardi yang menciptakan acara ini pertama kali di RCTI. Gara-gara acara ini, bokap saya jadi manyun coz saya todong terus buat nonton bioskop), saya kirain ini cuman cerita tentang mantan suami (yang diperankan Robin Williams) yang berusaha merebut kembali mantan istrinya (Sally Fields) yang lagi pacaran sama pengusaha keren (Pierce Brosnan).

Dulu Pierce ini keren bingits lho, dan dia belom jadi James Bond. Salah satu om-om favorit saya. Iya, dulu saya memang pengidap father complex alias penyuka om-om senang, hihihi..

Waktu saya nonton filmnya sungguhan di laser disc (hayoo..kalau kalian nggak tahu apa itu laser disc, kalian pasti masih ingusan!), ternyata saya ketemu pelajaran-pelajaran lain yang lebih menarik. Antara lain, saya belajar tentang semangat “fight”-nya si Mrs Doubtfire yang sebetulnya laki-laki ini, untuk tetap bisa ketemu anak-anaknya padahal dilarang sama hakim negara bagian. Di sini saya belajar bahwa sejelek-jeleknya bokap, dos-q pasti tetap ingin mendidik anak-anaknya supaya jadi orang baik. Dan dos-q akan melakukan segala cara untuk itu, termasuk menyamar menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri.

Tapi pelajaran yang paling saya inget justru di akhir filmnya. Di adegan terakhir, seorang anak kirim surat ke talk show-nya Mrs Doubtfire, curhat tentang orangtuanya bercerai. Anak ini sedih kenapa orangtuanya nggak mau barengan lagi seperti suami-istri normal.

Saya lupa jawaban persisnya Mrs Doubtfire itu gimana, tapi intinya dos-q jawab gini..

“Gini ya, Nak. Tiap ayah dan ibu itu jalan hidupnya beda-beda. Ada ayah dan ibu yang tetap ingin hidup bersama-sama. Ada ayah dan ibu yang nggak kepingin hidup bersama lagi, dan merasa lebih baik kalau hidup sendiri-sendiri. Ada anak yang cuman tinggal bersama ayahnya aja, ibunya di tempat lain. Ada juga anak yang cuman bareng ibunya aja, sedangkan ayahnya di kota lain. Pilihan apapun yang dipilih ayah dan ibu bisa beda-beda, akan tetapi semuanya tetap punya persamaan: Ayah dan ibu tetap sayang sama kamu, nggak ada sedikit pun berkurang cinta mereka kepada kamu. Dan kamu masih tetap memiliki mereka sebagai ayah dan ibumu. Dan hati mereka masih tetap bersama kamu, meskipun mungkin mereka sudah memilih jalan hidupnya sendiri-sendiri..”

(Sebetulnya dia ngomongnya nggak persis gitu, saking saya aja yang lebay..)
Itu dialog terakhir, dan saya terharu, nggak sadar air mata saya bergulir sepanjang closing credit filmnya mengalir sampek abis..

Robin Williams, yang memainkan Mrs Doubtfire dengan keren ini, semalam meninggal dunia. Dia aktor besar, sulit nemu aktor lain yang bisa seperti dia.

 

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

11 comments

  1. 21inchs says:

    saya jg terharu dgn adegan closing nya itu waktu mrs dobfire kegep, ketauan kl dia nyamar utk bs tetap bertemu dgn anak anaknya..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Lu nonton di bioskop, enak, Fel. Gw nggak boleh nonton ini sama bokap gw coz bokap gw benci film yang “kebanci-bancian”..

      *susah deh kalau punya bokap tukang nge-judge*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *