Keluar Saja

Saya akhir-akhir ini merasa risih dengan grup yang saya join di sebuah socmed. Percakapan-percakapan di grup itu, gimana yah..rasanya kok kebanyakan isinya ngomongin yang jelek-jelek tentang orang lain. Padahal saya nggak kenal dengan orang yang diomongin itu.

Saya berusaha mengalihkan pembicaraan ke tema lain, mulai dari ngomongin bisnis sampai ngomongin cara rebonding bulu ketiak. Pokoke yang positif-positif aja deh, bukan yang ngejelekin orang lain.

Ternyata upaya saya mengalihkan pembicaraan itu gagal. Pasalnya, jumlah anggota yang ngomongin topik ngegosipin orang itu lebih banyak daripada jumlah anggota yang nggak ikutan ngomong.

Saya pake cara lain. Grupnya saya bikin mute, jadi kalo ada yang ngomong di grup itu, HP saya nggak akan bunyi sehingga saya cuman baru baca isi grup kalau saya lagi buka forumnya.

Mula-mula cara itu efektif, sampai kemudian notifikasi grup itu di socmed itu jadi numpuk semua. Mata saya gatel kalau tiap kali saya buka socmed itu, di layar atas tertera “Anda punya 56 notifikasi yang belom dibaca dari Grup XXX.”

Dan begitu saya buka notifikasinya, ternyata isi chat grup itu lagi. Isinya ngomongin orang jelek lagi. Meskipun orang yang diomongin pun juga beda-beda. Bisa tentang seseorang di bekas sekolah kami, tentang seorang dokter yang dituduh salah kasih obat, tentang pramugari dari maskapai entah negara mana yang roknya terlalu cekak, malah sampai tentang Amerika yang katanya adalah otak berdirinya ISIS.

Ya ampun. Ini sudah keterlaluan.

Chatting di socmed seharusnya menyenangkan, bukan jadi ajang ghibah.

Tadinya saya pikir saya yang nggak normal. Mosok saya nggak mau beradaptasi dengan kalangan persahabatan cuman gara-gara kalangan itu seneng ngegosipin orang lain? Lagian saya ragu juga kalau saya mau hengkang dari grup itu. Nanti takut dikira sombong.

Tapi makin diliat notifikasinya, kok malah bikin mata tambah gatel. Dan makin dibaca isi ngobrolnya, malah bikin perut jadi sembelit.

Saya akhirnya ambil keputusan nekat. Saya pencet “Leave Group.”

Sekarang sudah hampir sebulan saya pergi. Undangan untuk kembali ke grup itu masih ada di notifikasi. Tapi saya menghela napas dan membiarkan undangannya tetap di sana.

Tidak. Saya ingin hidup dengan kalem tanpa harus terganggu dengan rumpian tak bermanfaat tentang menjelekkan orang lain. Saya sudah berusaha mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih baik, tapi kalau ini tidak berhasil, barangkali saya perlu grup lain yang lebih bermanfaat.

Saya merasa lebih tenang sekarang.

http://georgetterox.blogspot.com

http://laurentina.wordpress.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

10 comments

  1. aku udah sekitar sebulanan puasa dari sosial media bu dokter. alasannya, supaya hidup lebih tenang. dan iya banget lho, hidup jadi lebih tenang ga baca gosip yg aneh-aneh. notifikasi di email tinggal delete tanpa dibuka dulu hihi…sampe akhirnyaaaaaa…minggu ini puasanya terpaksa berhenti karena pengin ngintip kabinet baru, ealahhhh langsung cetarrrr! omongan jelek tentang salah satu menteri wanita jadi topik utama…doh…cape dehhhh… *lalu puasa lagi*

  2. profijo says:

    Sama, aku jg tergabung dalam group yg isinya kayak gitu juga. Tapi aku masih bertahan, meski tak pernah menyahut/ nimbrung dalam obrolan mereka. Alesan gak leave group karena gak enak hati 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *