Ketika Polisi Salah Gerebek Tempat Game

Alkisah di sebuah kota di Jogja (ini sebenernya maksudnya apa sih?), ada polisi dilaporin warga sipil. Konon menurut penerawangan si warga itu, ada sebuah bangunan yang konon orang-orangnya di dalemnya suka main game. Kalo diliat-liat yang punya lahan itu orangnya tajir. Tapi kerjaannya nggak jelas. Mosok cuman main game aja bisa setajir itu? Jangan-jangan bangunan itu sebenarnya sarang judi yang berkedok tempat main game?

Dengan berazaskan laporan sang warga penerawang, maka suatu hari polisi datang ke tempat itu menggerebeknya. Pertama di gerbang dihadang satpam, ditanyain mau apa. Karena satpamnya bingung ada manusia berpakaian preman mau mausk ke tempat itu. Tapi si polisi berkostum preman malah membogem mentah sang satpam dan menyerbu masuk.

Tiba di dalem, polisinya takjub liat semua orang di situ nampak sibuk padahal mereka cuman main game. Si polisi ngeyel maksa ketemu pemimpin tempat itu, mau nanya penghasilan orang-orang di tempat itu berapa. Sementara orang-orang yang ada di dalemnya, yang lagi bekerja, malah bingung mengerutkan kening sembari memandangi polisi-polisi preman itu dengan tatapan seolah berkata, “Who da hell are you?”

Akhirnya seseorang yang rupanya cukup berwenang di situ tanya baek-baek, mau apa preman-preman itu. Setelah tahu bahwa preman-preman ini sebenarnya adalah polisi, sang pekerja menjelaskan bahwa bangunan itu adalah kantor, bukan warnet game apalagi sarang judi. Kantor ini adalah badan usaha, cabang dari Gameloft. Gameloft itu developer game asal Perancis, yang nyebar-nyebarin game-nya ke seluruh dunia dengan berpartner bareng operator telfon seluler, pabrik ponsel, media, dan lain-lain. Tapi si polisi masih ngeyel bertanya, “Nge-gym di sini seharinya berapa?”

Para pekerja bingung, kenapa polisi ini sudah dijelasin tentang permainan komputer, malah nanya soal tarif fitness..?

***

Kisah ini cuman dramatisir dari penggerebekan polisi terhadap sebuah perusahaan developer game di Jogja kemaren.

Memang repot bekerja di industri kreatif itu. Karena kreatif, jadi nggak ada protokol formal-formalan. Efeknya pada kelakuan pengusahanya dan karyawan-karyawannya. Dari penampilan aja kelihatan begajulan, nggak pakai seragam resmi kayak PNS, nggak necis kayak teller bank. Padahal omzet duitnya banyak. Nggak heran kalau orang yang kurang piknik pun nggak percaya bahwa industri kreatif itu “bekerja”.

Saya pernah punya teman yang kerja jadi web developer. Suatu hari ia ingin mematuhi kewajibannya sebagai warga negara yang baik, yaitu ingin daftar NPWP. Maka terjadilah wawancara sinting di kantor pajak ini:
Petugas pajak: “Kerjanya apa, Mbak?”
Teman saya: “Saya web developer.”
Petugas pajak: “Apa itu?”
Teman saya: “Mmh..saya bikin website.”
Petugas pajak: (terdiam sebentar) (mengira-ngira sumber penghasilan teman saya) “Ooh..Mbak ini punya warnet ya?”
Teman saya: (pengen garuk-garuk tanah)

Sementara itu, negara kita punya banyak banget orang-orang yang pintar bikin software dan software-nya laku keras dijual ke mancanegara. Tapi banyak orang yang kayak gini nggak dapet kerjaan di Indonesia karena mereka ternyata cuman lulusan SMK, jadi nggak bisa daftar ujian CPNS. Dan buat mereka, kuliah S1 informatik di ITB dan ITS ternyata mahalnya na’udzubillah. Namun mereka tetap tajir karena software mereka dibeli dalam dollar. Itu membuat mereka bisa mensejahterakan emak-emak mereka, merenovasi tegel rumah menjadi ubin, dan membelikan ayah mereka sepetak sawah. Lalu tetangga mereka yang kepo, yang kebetulan cuman pegawainya dinas kabupaten dan paling banter cuman bisa jadi petani penggarap, bingung dari mana anak-anak ini dapet penghasilan banyak cuman dengan “main komputer” setiap hari. Dan mulailah mereka menyebar-nyebar isu bahwa anak-anak muda ini telah mengubah loteng kamar mereka menjadi “pesugihan”.. 😀

Moral of the story:
– bekerja secara online harus sabar. Sabarnya adalah menghadapi tetangga yang suka kepo bin sirik melihat kita nampak “menganggur”
– kalau memang bikin kantor web developer, pasanglah plang supaya nggak dikira warnet game sarang judi
– petugas pajak harus ngerti bahwa bisnis internet development merupakan bisnis yang potensial menuai sumber pajak yang banyak, nggak kayak bisnis warnet yang penghasilannya nggak tentu
– lakukan riset dulu yang teliti kalau mau menganiaya usaha orang. Kalau sampai salah aniaya, bisa di-bully para socmed-enthusiast se-Indonesia lhoo..
– makanya thoo..semua orang di seluruh Indonesia harus melek internet, dan internetnya dipakai untuk kegiatan produktif, bukan cuman buat pesbukan melulu. Denger itu, Tiiff..
http://georgetterox.blogspot.com

http://laurentina.wordpress.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

12 comments

    1. Menurut aku, pekerjaan yang bisa membagi waktu seimbang antara menghasilkan omzet dan bercengkerama dengan keluarga, tanpa omzetnya harus disunat pajak-pajak yang nggak bermanfaat, itu pekerjaan yang sangat enak, Brill.

  1. nyonyakecil says:

    wah baru tau beritanya dari sini.. iya emang aktivitas internet dan industri kreatif ini lagi berkembang banged di indonesia. tapi orang punya persepsi salah tentang pekerjaan yaitu : harus ngantor, pakaian rapih, meeting ketemu bawahan dan klien.
    Yang mana skarang smua itu bisa dilakukan online aja kok 😀 Makanya tuh polisi sala info gegara tetangga2nya kali ya

    1. Ya, Teph, sebetulnya itu memang inti dari tulisan ini. Supaya orang terbuka persepsinya bahwa bekerja itu tidak harus ngantor, dan berpakaian rapi hanyalah sebuah upaya pencitraan.

      Di dunia ini, Google adalah perusahaan yang kasih kesejahteraan paling tinggi (ditinjau dari gaji yang diterima karyawannya dan tunjangan-tunjangan yang diterima oleh anak-anak karyawannya). Akan tetapi perusahaan itu nggak mewajibkan pegawainya datang ke kantor apalagi berpakaian seperti orang gedongan. Yang diminta perusahaan itu hanya bekerja sebanyak kurun waktu tertentu dalam seminggu dan target harus sampai.

      Di Indonesia, pekerjaan seperti itu akan dicela oleh orang-orang "jaman dulu". Apalagi kalau Google-nya nekat nggak pasang plang di depan kantornya. Pasti digerebek polisi deh..

  2. 21inchs says:

    pengetahuan pak polisi dan pak petugas pajaknya perlu di up-grade, akan tetapi kan biasa petugas pajak yg mendata atau 'menjerat' wajib pajak kan ya pendidikannya cukup tinggi, paling tidak prodip di stan itu..

    dan memang pemasangan plang adalah salah satunya utk menghindari pajak. akan tetapi kalau sudah ketauan pak polisi gitu, nantinya tiap bulan bakalan akan ada pak polisi yg dateng utk sekedar mengingatkan akan perlunya menjaga keamanan dan kesadaran warga sebagai pelaku usaha utk berpartisipasi dlm mendukung kerja pak kepolisian..

  3. Hmmm, sepintas kantor Gameloft yang berlokasi di Wirobrajan itu memang terkesan "agak mencurigakan" bu Dokter, hahaha. Nggak terkesan itu bangunan kantor. Misalnya, nggak ada papan nama dan hampir 24 jam selalu kelihatan motor terparkir di sana.

    Malah kesannya warnet. Tapi di dalamnya memang mirip warnet kok bu Dokter. Banyak komputer, dan tiap komputer diberi akses internet. Lha yo mirip komputer di warnet toh? 😀

    Nggak cuma Gameloft aja. Dulu saya pernah nimbrung kerja di penerbitan. Kantor mereka pun mirip sama rumah biasa. Nggak ada papan nama, banyak motor parkir. Rawan juga untuk "digrebek" tapi mungkin giliran mereka masih lama, hehehe.

    Lagipula perilaku kerja di Gameloft kan "agak tidak umum" juga. Misalnya, pakaian kerja bebas, ada yg kerja nyaris 24 jam, dan kerjaannya memang merancang game. Jadi menurut saya lumrah bilamana dicurigai, hehehe.

    Tapi yang saya sayangkan itu adalah sikap pihak kepolisian yang kurang santun saat "menggerebek" Gameloft. Tapi namanya juga "penggerebekan" ya dadakan. Sama seperti razia di jalan raya kan juga dadakan. Tapi pas razia umumnya kan polisi bersikap lebih santun.

    Kalau menurut saya sih, di jaman sekarang ini apa-apa semakin rentan untuk dicurigai. Apalagi dengan adanya internet. Kan internet memungkinkan orang untuk melakukan apa pun dari mana pun. Makanya orang-orang jadi waspada, terus curiga, dan muncul hal-hal seperti di atas ini.

    1. Memang, kalo orang nggak pernah piknik, akan menyangka itu warnet. 😀

      Sebenernya banyak banget perusahaan yang berdiri di dalam bangunan rumah biasa, bukan bangunan kantor. Mereka nggak pasang plang, bisa jadi karena nggak memprioritaskan untuk membuat anggaran bikin plang. Atau sengaja supaya nggak diidentifikasi oleh kantor pajak. 😀

      Makanya saya bikin tips #2 di atas: pasanglah plang.

      Tapi yah yang keterlaluan yang menimbulkan isu bahwa tempat itu adalah sarang judi. Semoga orang yang menimbulkan isu itu, mulutnya diberi pelajaran.

      Polisi memang harusnya lebih sopan. Tindakan memukuli satpam itu bukan tindakan orang baik-baik. Kalau saya jadi satpamnya, saya juga akan bertindak serupa. Ada orang tamu nggak diundang, nggak tunjukkan kartu identitas, maksa kepingin masuk rumah kita. Apakah tidak rasional kalau saya bertanya, "Ada perlu apa?" Kok jadi dibogemmentahi?

      Orang sebaiknya lebih banyak piknik supaya nggak gampang curigaan. Internet berfungsi supaya orang lebih banyak piknik. Yah, mudah-mudahan kepolisian dan tetangga di sekitar Gameloft belajar lebih banyak dari peristiwa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *