Kontrol Suara

Sewaktu saya nulis ini, saya lagi di dalam sebuah kereta api dari Surabaya menuju Bandung. Isi gerbong cuman tinggal separuhnya, coz separuh gerbong sudah turun di Jogja. Saya melihat keluar jendela dan kereta sudah sampai di sebuah stasiun kecil di daerah bernama Cipeundeuy. Kalau Anda nggak tahu di mana Cipeundeuy, itu berada di antara Tasik dan Bandung.

Di tengah-tengahnya menikmati perjalanan kereta, saya dengar penumpang lain di gerbong ini terima telepon di HP-nya. Suara bicaranya keras banget. Nada suaranya masih terdengar sabar, tapi saya menduga dos-q sedang dimarahi orang di HP-nya ini. Saya rasa dos-q pengusaha kayu. Ada masalah dengan seorang konsumen mengenai pengiriman kayu yang tidak dikehendaki konsumennya. Dan nampaknya kejadian ini karena salah paham, melibatkan seseorang bernama Tohir atau kurir atau supir atau apalah. Dan saya tercengang sendiri kenapa saya begitu kepo ngupingin pembicaraan nggak enak ini.

Nguping? Ih, siapa juga yang nguping? Ngomongnya si bapak ini lebih keras daripada burung kakatua piaraan Grandma saya.

Si bapak mungkin seorang pengusaha yang pekerja keras dan selalu berusaha menjual kayu-kayu yang berkualitas bagus, tapi pembicaraan ini mengesankan dos-q seolah-olah dos-q pengusaha yang brengsek. Alasannya? Ya dari tuduhan sang konsumen tak puas yang meneleponnya itu.

Tuduhan ini mungkin cuman persepsi saya. Tapi mungkin nggak cuman saya yang punya cara pandang gitu. Coz di gerbong ini nggak cuman kami berdua, tapi juga ada penumpang-penumpang lain yang mau nggak mau ikutan mendengarkan konflik ini. Konflik yang sebetulnya bukan urusan penumpang-penumpang lain kecuali urusan sang pengusaha kayu.

Jarang ada pengetahuan tentang etika menerima telepon di tempat umum. Di sekolah formal itu nggak ada. Saya nggak ngerti apakah anak SMA jaman sekarang sudah diajarin etika menerima telepon di tempat umum. Yang saya tahu, ke sekolah itu nggak boleh bawa HP, apalagi kalau lagi ujian.

Kelakuan orang ketika menerima telepon di tempat umum sangat ditentukan oleh kualitas handset, sinyal, dan kebiasaan orang itu sendiri.
1) Kualitas
Ada yang handphone-nya bisa meredam noise. Jadi misalnya kasusnya kalau saya lagi di-blow di salon, terus saya nerima telepon. Si penelepon nggak akan tahu saya lagi di salon, karena HP yang saya pakai bisa meredam suara berisik hair dryer yang lagi nge-blow rambut saya.
2) Sinyal
Misalnya saya lagi ada di konsernya Linkin’ Park. Chester Bennington nyanyi-nyanyi berisik. Tahu-tahu saya nerima telepon. Telinga saya akan kebingungan karena harus berusaha mendengarkan suara orang yang nelfon saya, tapi di saat yang sama saya juga harus dengerin Chester yang jelas nggak akan mengurangi volume suaranya.
3) Kebiasaan
Kalau orangnya punya kebiasaan ngomong dengan volume keras, maka dos-q akan nerima telepon dengan volume suara keras juga. Kadang-kadang kebiasaan ini ditentukan dari kemampuan telinga juga. Perhatikan deh, orang-orang yang udah rada budeg (misalnya karena usia tua) umumnya ngomongnya keras banget kayak lagi di sawah.

Saya sendiri nggak suka terima telepon di tempat umum kalau nggak genting-genting amat, jadi saya lebih suka dikirimin pesan via messenger atau SMS. Karena saya takut orang yang tidak saya kenal akan menilai saya yang jelek-jelek cuman gara-gara nggak sengaja ngupingin suara saya ketika menerima telepon. Apalagi kalau ternyata isi pembicaraan teleponnya berbau nggak enak.

“Vicky, kenapa kunci rumah nggak ditaruh di bawah keset seperti biasanya?”
“Bu Vicky, kenapa Bu Vicky tidak merespons SMS-SMS kami tentang penawaran kavling hutan jati di Situbondo?”
“Vicky, kenapa kamu ndak mau periksa ke dokter kandungan temannya mama biar gratis?”

Dan topik-topik lainnya yang bikin saya kepingin melempari penanyanya dengan sendal jepit.

Saya nggak naruh kunci rumah di bawah keset coz semua maling tahu bahwa orang bego menyimpan kunci di bawah keset.
Saya nggak tertarik beli hutan coz modal saya belom cukup.
Saya nggak mau periksa ke dokter temannya mama, coz dokter yang itu bukan pendengar yang baik. Saya mendingan periksa ke dokter lain, biarpun mbayar yang penting omongan saya didengerin.

HP saya bukan tipe high end yang bisa meredam noise. Dan saya sering berada di tempat yang desibelnya di atas 100 dB. Dan karena nyokap saya bersuara keras, dan pada dasarnya saya orang yang periang, itu bikin suara saya jadi terbawa keras juga. Bisa dibayangkan kayak apa suara saya kalau terima telepon di tempat umum.

Bisa dibayangkan kalau ada orang nelfon saya ternyata buat ngajak berantem, seperti apa yang dialami sang pengusaha kayu di sebelah tempat duduk saya di kereta ini. Bagaimana saya meladeninya dan bagaimana orang menilai cara saya berbicara, yang pada akhirnya bagaimana orang akan mendapatkan kesan tentang saya?

Coba Anda tutup halaman blog ini dan mikir, bagaimana Anda nerima telepon di tempat umum?

Eh, tapi sebelum nutup halaman ini, komentar dulu yaa..

http://georgetterox.blogspot.com

http://laurentina.wordpress.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

19 comments

  1. enaknya ga punya sodara tinggal di satu negara, ga ada yang nelpon ke hp karena muahal haha. dan nomer hp ga dibagi2 ke siapa saja. paling yg nelpon suami itupun jarang.

    jam kantor hp ga ada sinyal, terbebas dari telpon marketing. suami kalo perlu penting nelpon ke meja kantor.

    kalo di tempat umum, hp di dalam tas dan disetting silent! habis perkara, hahaha….

    *komen selfish* – bukan pengusaha kayu soalnya :-p

    1. Karena aku pk hape cuma untuk emergency, kartuku sebulan cuma bayar £7.50, sekitar 150ribu, super murah dan irit. Itu paket 500 menit nelpon 500 sms kalo ga salah, yg mana emang jarang kepake.

      padahal anak anak abg sini pake nya paket iPhone terbaru dg 1500menit dan sms yg sebulan minimal bayar £35an sampe £50, 700ribu sampe sejutalah.

      aku mending duitnya buat yg laen, beli berlian misalnya, lol…

  2. warm says:

    saya ini termasuk yg ngomong kenceng kalo nerima telepon, sadar ataupun ga sadar hehe jadi ya biasanya kalo ada telpon masuk di tempat umum, saya berusaha mlipir nyari tempat yg sepi atau minimal tak ada orang disekitar saya, kalaupun kepaksa harus nerima, saya berusaha bisik2, kalo ga bisa jg ya kepaksa sms, atau saya matikan sekalian 😀

  3. Saya sih punya prinsip bu Dokter, klo misal lagi di perjalanan atau di tempat yg nggak memungkinkan untuk menerima telepon dengan jelas ya saya diamkan saja itu panggilan masuk. Kalau misal panggilan masuknya berkali-kali itu baru saya respons dengan SMS. Jadi ya sebisa mungkin saya nggak mengangkat telepon di tempat yang tidak sepi. Urusan itu telepon apa ya belakangan lah, hahaha.

    1. Sama, Na. Saya juga cenderung nggak nerima telepon kalo lagi di perjalanan. Satu-satunya telepon yang mungkin bersedia saya terima adalah dari keluarga, dan sebaiknya itu hanya untuk urusan darurat yang mengancam nyawa. Makanya saya lebih seneng dikirimin pesan tertulis daripada telepon. Karena nggak ada orang mengabarkan ancaman nyawa via SMS.

  4. iya yah aku juga keganggu kalo ada orang yang ngomongnya keras banget di telpon. kadang sampe aye sindir dengan berdeham keras-keras atau berdecak gitu atau tak pelototin haha. aku juga sama sih kalo yang nelpon suaranya keras, aye juga ikutan keras, tapi overall aye berusaha ngga keras2 ngomong di telpon. Malu orang sebelah nguping hahaha

  5. 21inchs says:

    oke saya komen ya..
    saya akan berusaha menjauh dulu dari kerumunan orang atau dari orang yg kemungkinan bisa mendengar percakapan saya via HP..
    dalam kasus seperti cerita di atas, saya akan menuju ke tempat restorasi atau di sambungan kereta atau di toilet atau dimana tempat sekiranya minim orang bisa ikut terlibat mendengarkan pembicaraan saya..

    *gila gw rajin bgt ya komen di sini*

    1. Iya ya, lu rajin bener komen.. Padahal gw nggak tau nama lu.. *gw kok jadi sungkan*

      Saya rasa juga lebih baik saya menyepi, supaya orang lain nggak sampai (nggak) sengaja ngupingin pembicaraan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *