Move On Itu Mulai dari Bersih-bersih

Saya lagi seneng bersih-bersih.

Ya know, mula-mula saya kirain cuman rumah aja yang perlu dibersihin dari barang-barang tak berguna. Tapi kemudian ternyata saya nemu hal yang lebih penting dan cukup mengganggu: the work station of mine yang ukurannya nggak lebih dari 10 inci ternyata juga perlu dibersih-bersihin. Guess what, netbook yang udah nemenin saya lebih dari tiga tahun ini ternyata penuh barang-barang bosok, mulai dari file-file makalah sekolahan sampai foto-foto yang pingin saya buang ke tempat sampah.
Semua dimulai dari mood saya ngeblog yang makin lama makin turun. Lha gimana nggak menurun, nyalain laptop ini aja leletnya bukan main. Mulai dari muncul layar wallpaper sampai buka layar Microsoft Word yang siap ngetik aja butuh waktu dua menit. Genderuwo macem apa yang nongkrongin laptop saya sampai-sampai mau buka MS Word aja berat banget?
Terus dalam keadaan sebal, saya melarikan diri dengan baca-baca artikel motivasi di internet. Bacanya pake HP, dengan font sekecil-kecil semut yang bikin mata saya ngantuk. Di tengah-tengahnya ngantuk, salah satu artikel itu menulis gini, bunyinya saya lupa, tapi intinya seorang pengusaha tajir selalu meluangkan waktunya untuk bersantai. Tiap hari Minggu, dos-q buka laptopnya lalu menyingkirkan useless stuffs: entah itu e-mail dari e-commerce, foto-foto, dan laporan-laporan keuangan yang sudah kadaluwarsa.
Dan itu membuat mata saya langsung melek.
Iya sih, bukankah kita punya kebiasaan nyimpen apapun yang kita upload itu di dalam Drive C? Pertanyaan kecilnya, seberapa sering file simpenan kita itu kita buka kembali?
Coba ambil contoh-contoh kecil ini:
1) Kita sering selfie pake HP. Tapi berapa persen dari foto-foto selfie itu yang kita jadiin wallpaper atau profile picture di social media?
2) Kita sering jalan-jalan dan motret-motret apa aja pake HP. Berapa persen dari foto-foto itu yang nggak pernah kita lihat-lihat ulang? Terus foto itu dijepret buat apa? Buat menuh-menuhin kartu memori di gadget?
3) Kita sering browsing situs-situs ilmiah dan baca jurnal. File-file PDF-nya kita upload untuk dibaca (dan biasanya dibacanya entah mau berapa tahun lagi). Berapa banyak dari file-file PDF itu yang memang kita baca dan kita ambil saripatinya, entah itu untuk dipraktekin atau sekedar dibagi-bagi ke orang lain?
4) Kita sering download lagu mp3 dari internet. Tapi berapa banyak dari lagu-lagu itu yang sering kita puter di playlist dan kita dengerin sampai habis, dan kita begitu nikmatinya sampai-sampai waktu ngedengerin pun kepala kita bergoyang-goyang ke kiri ke kanan?
Kalau ada 100 orang aja yang kayak saya, suka download ini-itu, jepret sana-jepret sini cuman demi menuh-menuhin disk/memory card di gadget, maka nggak heran tukang servis gadget selalu penuh dengan keluhan-keluhan customer yang bilang bahwa gadget-nya nge-hang.
Dan ketika tukang servisnya bilang, “Oke, ini saya servis, tapi semua data di sini berisiko hilang lho yaa..” maka muka customer-nya langsung cemberut.
Saya pernah menulis artikel tentang teknologi menyimpan data di awan, tapi saya sendiri belum praktekin. Karena saya nggak tahu gimana mempercayai mesin entah apa di negara mana untuk nyimpen scan-an paspor saya 😀
Tapi mungkin kita emang kudu mawas diri. Coz makin nambah umur kita, jumlah file yang kita simpen di dalam gadget pun ikutan nambah. Gadget mungkin bisa ganti, tapi apakah kita punya ruang yang cukup untuk nyimpen file-file apapun yang udah kita kumpulin semenjak kita pertama kali kenal gadget?
Itu satu. Dan ternyata ada pelajaran lain dari acara bersih-bersih saya ini. Bersih-bersih file bikin saya terpaksa buka file-file lama. File-file foto yang pernah saya jepret sesuka hati, dan ternyata sudah saya lupakan. Setiap data ternyata punya cerita senang, cerita sedih, yang sebagian sudah bisa saya lupakan. Dan saya melongo mengingat bahwa saya pernah berada dalam kondisi susah banget, tapi ternyata saya bisa move on. Saya melihat isi file ini lagi, lalu saya tekan klik kanan dan pencet icon “Delete”. Dan begitulah, masalah masa lalu pun (sebagian) terhapus.
Move on itu, ternyata bisa dimulai dari acara bersih-bersih.
Mungkin kita nggak butuh gadget baru supaya kerjaan kita lancar. Mungkin yang kita perlukan cuman bersih-bersih Drive C di laptop kita.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

12 comments

  1. mak beL says:

    saya milih utk mindahin di hard disk aja ketimbang dihapus2in. moment di poto, artikel yg susah dicari, dan lagu2 yg langka, suka bikin mood nambah ketimbang dibuang semua. saya ngaku gak bisa move on deh Vic ;p

  2. Eh, foto-foto saya nyepeda dan jalan2 itu dari tahun 2008 mpe sekarang udah nyampe 1 terra byte lho Bu Dokter dan itu sampai perlu 2 harddisk khusus buat nyimpennya, hihihi.

    Perihal dokumentasi saya sih nggak tanggung-tanggung dan karena itu drive saya abjadnya dari C sampai dengan M. 😀

  3. Asep Haryono says:

    Ada memang perbedaan cara pandang seseorang terhadap "masa lalu" dalam hal ini file file jaman jaman "susah" dahulu. Ada orang yabg tidak suka sentimentil dan ada pula orang yang tidak terrus menerus larut dalam masa lalu. Yang sudah ya sudah gitu deh. Hiehiehiehiehiee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *