Alasan Blogger Absen Ngeblog

Seorang jemaah ngingetin saya bahwa saya udah sebulan mengabaikan blog ini. Dos-q kangen. Saya nyengir. Aduh, seandainya aja sang jemaah ngerti kenapa saya ngilang dari jagat blogosphere ini.

Gambar diambil dari sini
Gambar diambil dari sini

Saya yakin yang absen nggak cuman saya. Ada ratusan blogger lainnya yang milih mundur. Ada yang mundur sebentar, ada yang mundur selamanya. Alasannya macem-macem.

1) Sudah mulai pilih-pilih topik.
Dulu, ada bermacam cara ngeblog. Ngeblog bisa ngomong seenaknya sendiri. Apa aja pun bisa diomongin. Mulai dari tema serius kenapa di Mojokerto belum juga ada MRT, sampai tema remeh kenapa kucing piaraan kita nggak doyan makan indomi.

Tapi seiring dengan nambahnya umur, nambahnya pengalaman, blogger mulai ngerti bahwa nggak semua persoalan bisa diomongin seenak perut. Apalagi kalau persoalan itu menyangkut rahasia. Misalnya ada blogger yang sekarang udah diangkat jadi polisi, pasti pikirannya tiap hari ya tentang kerjaannya sebagai polisi. Lha kalau kerjaannya itu mengandung banyak rahasia jabatan, mosok itu mau diangkat ke blog yang bisa dibaca banyak orang?
(Sedangkan dos-q sudah bosen ngomongin kucing makan indomi.)

2) Ada masalah pencitraan.
Ini nggak jauh-jauh dari sebab nomer 1). Sang blogger sudah mulai nyadar bahwa blognya adalah citranya. Sialnya, citra itu bisa mempengaruhi penghasilan. Dos-q harus pilih-pilih topik yang terkesan profesional. Karena kalau dos-q terus-menerus mengangkat hal remeh, citranya sebagai profesional juga akan diragukan. Pernah pikir kenapa Prabowo Subianto di jaman kampanye capres nggak pernah ngeblog tentang kenapa kucing nggak makan indomi? Nah, kira-kira begitu.
(Sayangnya, ide-ide topik profesional tidak muncul saban hari.)

3) Pasar pembaca kritis sudah mulai menyusut.
Jaman dulu gampang banget nemu blog yang satu artikel bisa berubah jadi forum diskusi yang anget (dan kadang-kadang angot). Karena komentatornya juga kritis-kritis, kalau nulis komen pun isinya berbobot. Sekarang, nemu komentator yang berbobot makin susah. Sebab, seiring dengan banyaknya blogger yang hobi kejar setoran blogwalking, makin banyak blogger yang kalau ninggalin komentar isinya cuman basa-basi doang. Contoh komen basa-basi itu kayak gini, “Saya setuju deh, Mbak..” Atau “Oh, jadi kalau itu harus begini ya Mbak?” Keliatan banget kalau komentator ini nggak mikir, tapi cuman jadi burung beo doang, hihihi..
Blogger ya males nulis kalau rata-rata komentatornya cuman nulis komentar kayak gini.

4) Ada prioritas lain.
Menurut saya, blogger sungguhan akan tetap nulis. Meskipun nggak menulis di blog. Bisa jadi tulisannya tetap beredar, mungkin diprioritaskan di tempat lain, entah di forum media massa, atau di social media yang lain. Di Path, saya masih sering lihat orang posting panjang-panjang. Di Twitter, saya nemu kultwit yang lebih panjang lagi. Dan selalu ada alasan kenapa orang lebih seneng nulis panjang-panjang di socmed itu daripada di blog. Path mengandung private sharing, artinya dia memang sengaja memaksudkan tulisannya dibaca hanya oleh orang-orang tertentu. Di Twitter, dia bikin kultwit coz ingin mention seseorang. Di notes Facebook, karena dirinya gaptek dan nggak menguasai platform socmed lain. Dan lain sebagainya.

Itu namanya siklus hidup. Ada kegiatan yang dulunya booming, ada yang sekarang tenggelam. Nggak perlu merasa ketinggalan jaman, ikutin aja trend yang ada. Kalau perlu ya bikin trend baru.
Blog nggak pernah mati kok, dia hanya berkembang dan kadang-kadang berubah jadi bentuk yang lain. Sama kayak Anda lah 🙂

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

25 comments

  1. Akarui Cha says:

    Saya menggaris-bawahi “hobi kejar setoran blogwalking” ini saya rada setuju mba. Karena blogwalking sadar atau nggak sadar kan mendatangkan pengunjung juga ke blog kita, istilahnya saling timbal balik lah. Tapi memang ada beberapa orang yang baca postingan kita tapi ga tau harus komen apa sampai komennya ya gitu doang. Semoga dengan begitu, ujung-ujungnya ga bikin jadi malas nge-blog ya mba, terutama buat saya.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Apakah semua bacaan harus dikomentarin? Enggak kan? Kalau nggak ngerti ya nggak usah komen, beres toh?

      Eh ya, saya nggak pernah melakukan kunjungan balik ke komentator yang komennya cuman basa-basi 😀

  2. M Ramdhani says:

    Kalo aku kadang bingung mau posting apa. Takutnya nanti jadi lebay kyk anak2 alay yg suka gonta-ganti status BBM. Kasih saran dong dari Mb Vicky biar ga bingung mau posting apaan. Thx b4

  3. depz says:

    blog punya keasikannya sendiri
    walo ada ig, tuiter, fb dll
    syukurnya gw masih menikmati blogging
    juga syukurnya lg bu dok masih ngeblog dan rajin posting, so gw bs komen trs di sini 😀

  4. galihsatria says:

    Jangankan pembaca kritis, pembaca biasa saja mungkin juga menyusut, sehingga blogger lebih memilih bikin kultwit yang audience-nya banyak. Bagaimanapun juga kultwit kan juga karya tulis.

  5. pipit says:

    ribet ngurusi pindah kerjaan baru, kosan baru, sampe nikahan, akhirnya gak sempet posting 🙁 bisa BW pun sudah syukur….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *