Yang Penting Anggarannya Habis

Dua hari terakhir ini saya dateng ke pameran fotografi di sebuah plaza di kawasan selatan Surabaya. Acaranya berupa pameran foto dan seminar tentang fotografi yang nampilin tiga fotografer sebagai pembicara. Sponsor utama dari acara ini adalah sebuah merk tinta printer.Sebetulnya acaranya menarik, tapi saya mau ngulas tentang penyelenggaraan acaranya.

Sebagai seorang mantan event organizer amatiran, saya ngerti bahwa bikin seminar terbuka di pusat perbelanjaan itu cukup sulit. Salah satu kendala gede mungkin dari pembiayaan, jadi saya ngerti kenapa klub fotografi penyelenggara pameran ini mutusin buat menggandeng merk tinta printer sebagai partner-nya. Logika saya, kalau pemilik merk sudah rela bayar banyak untuk ngadain event ginian selama dua hari di plaza yang gede, mestinya mereka memanfaatkan ini semaksimal mungkin.

Nyatanya, dari awal sampai akhir acara, kalau saya nggak perhatian, saya nggak akan ngeh bahwa sponsor utama acara ini adalah merk tinta printer. Saya cuman ngeliat booth-booth polos yang didominasi meja-meja panitia yang isinya cuman orang-orang ngerumpi di depan leptop. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah orang-orang ini adalah staf tetap dari perusahaan sponsornya atau cuman SPB/SPG pajangan yang cuman disuruh njagain pameran.

Saya kalau jadi manajer atau supervisor atau apalah dari merk ini pasti ngamuk kalau lihat kelakuan event organizer kayak gini. Mbok ya para penjaga booth ini bangun dari kursinya, terus bagi-bagiin brosur yang isinya produk-produk tinta yang kita jual. Kalau satu orang salesman berhasil menciptakan pembelian, saya bakalan kasih insentif. Karena saya selaku pemilik brand sudah bayar mahal buat sponsorin acara ini, jadi saya kepingin orang yang dateng itu ngeh bahwa di situ lagi dijual tinta. Bukan lagi jualan kamera. Karena sejauh yang saya amatin, pengunjung-pengunjung pameran itu rata-rata ngerumpinya adalah, “Foto ini bagus ya? Kira-kira pake kamera apa ya?” Bukan ngomong, “Foto ini kok bagus ya? Nyetaknya pake tinta apa ya?”

Tiga pembicara mengoceh di depan dan berulang kali saya terusik lantaran suara pembicaranya sering ilang dari sound system. Pembicaranya ngoceh ngalor ngidul, tapi penontonnya bingung lantaran nggak denger suara apapun dari amplifier. Panitia bolak-balik mondar-mandir membuat solusi-solusi semu dengan mengganti mikrofon, ngencengin kabel. Hari pertama suara banyak noise, hari kedua problem sama terulang. Saya ngeliatin panitia-panitianya, kok kayaknya nggak ada yang bisa benerin sound system dengan bener. What da heck? Nggak bisa nyewa soundman profesional?

Ada beberapa feature bikinan panitia acara yang nampaknya merupakan usaha untuk pemanis acara. Ada lomba foto on the spot berhadiah duit yang tujuannya bikin pengunjung supaya mau dateng ke booth. Ada juga fasilitas nge-print gratis untuk umum. Saya menduga mereka bikin fasilitas nge-print ini sebagai percobaan, mungkin untuk ngecek satu botol tinta bisa muat nge-print berapa lembar foto (karena saya nyoba fasilitas ini, dan ternyata hasil warna cetakannya rada kehijau-hijauan). Anehnya, antrean pengunjung berjubel untuk nge-print gratis, namun nggak ada pengunjung yang diprospekin buat beli tintanya. Perusahaan ini punya terlalu banyak tinta untuk dihambur-hamburkan.

Kalau saja investor perusahaan ini tahu bagaimana acara ini berjalan, mungkin dia akan nangis darah. Barangkali CEO-nya sudah terlalu jenuh lantaran duit perusahaannya terlalu banyak, sehingga mereka kehabisan ide untuk membuat suatu pameran bisa menghasilkan penjualan yang banyak. Saya berprasangka bahwa mereka punya segepok duit untuk anggaran promosi, dan sudah akhir tahun pun anggarannya belom habis, sehingga mereka kebingungan gimana ngabisinnya supaya laporan keuangan tahunannya tetap balance dan CEO-nya nggak digebukin sama para investor. Lalu dateng sebuah klub fotografi nyodorin proposal, dan bam! Terciptalah lahan buat ngabisin anggaran perusahaan.

Tapi nampaknya mereka sudah lupa caranya menjaga supaya merk mereka tetap diingat orang. Saya nggak yakin 50 persen pengunjung pameran ini tahu merk perusahaan yang sponsorin acara ini. Padahal sponsornya cuman satu.

Membangun usaha memang sulit. Mempertahankan perusahaan yang sudah cukup besar untuk tetap terkenal, ternyata lebih sulit lagi.

Saya nggak akan sebut merk perusahaannya. Terlalu malang untuk diingat.

http://georgetterox.blogspot.com

http://laurentina.wordpress.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

5 comments

  1. Eka Soepadmo says:

    kalau punya pegawai seperti ini perusahaan bisa ancur terlebih lagi sebuah negara kalau pegawainya cuman senang duduk-duduk sedikit kerja yang penting gajian wah repot banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *