Ketika Permintaan Melebihi Penawaran

Saya dan my hunk tahu-tahu dipusingkan gegara pelanggan minta beli beras basmati kami. Mestinya kami seneng karena berarti barang dagangan kami laku. Tapi buah simalakamanya, kami ini lagi kehabisan stok.

Kiat menjadi pengusaha Vicky Laurentina
Kiat menjadi pengusaha: Usahakan agar penawaran selalu bisa menemui permintaan.

Kami nggak ngira penjualan beras kami bakalan melonjak segini tinggi. Baru bulan lalu my hunk masih menatap waswas ke stok beras kami yang masih ada di storage, lantaran sudah lama belinya kok belom laris juga. Tahu-tahu minggu ini, demand buat stok beras yang ini melonjak. Yang request pun bukan end user, alias pembelinya bukan beli ini untuk dimakan sendiri. Melainkan yang mau beli ini adalah pengusaha muda bidang kuliner, yang memakai beras ini buat dijual dalam bentuk nasi biryani atau nasi kebuli. Karena mau dijual lagi itulah, makanya mereka minta belinya banyak.

Tantangan nih. Persoalannya, saya dan my hunk takut kalau kami nggak bisa memenuhi permintaan pelanggan, mereka akan milih cari toko lain. Kehilangan kepercayaan pelanggan itu lebih mahal ketimbang jumlah biaya yang mesti kami keluarin untuk beli modal barang, menurut saya sih.

Saya ngeh bahwa yang kesulitan nyocokin prediksi permintaan dengan merencanakan stok barang nggak cuman kami. Marshall Fisher nulis di Harvard Business Review kalau kebanyakan organisasi (atau mungkin lebih spesifiknya, perusahaan) nggak cukup becus memadukan urusan prediksi demand dengan urusan perencanaan supply. Mereka ngerti mereka nggak bisa meramalkan dengan persis berapa orang yang mau beli produk mereka, oleh karena itu mereka juga nggak bisa merencanakan berapa persisnya mereka mau sediakan barangnya. Ada yang sudah jualan bertahun-tahun, tapi nggak tahu caranya bikin ramalan penjualan (“Kita beli modal segini aja deh, ntar berapa yang laku biar gimana nanti”). Ada juga yang lantaran demand-nya melonjak drastis, dan pengusahanya gagal adaptasi dengan pelonjakan (“Kami nggak ngira yang beli bakalan sebanyak ini. Biasanya nggak segini kok yang beli”)

Si Fisher sebetulnya kasih beberapa alternatif pendekatan supaya prediksi demand yang diinginkan pengusaha nggak jomplang-jomplang amat dengan supply yang mereka buat. Antara lain, 1) Bikin stok berdasar penjualan di awal musim, 2) Bikin stok berdasarkan permintaan pre-order. Tapi saya sendiri kesulitan kalau saran-saran ini saya adopsi ke bisnis kami. Why?

Yang nggak bisa disangkal, kami ini masih pengusaha baru. Kami masih belajar berapa paket beras basmati yang kudu kami stok, gimana mengantisipasi supaya semua produk laku terjual, dan gimana caranya supaya semua permintaan konsumen bisa terpenuhi (kami bahkan belom berani menyebut mereka pelanggan, belom tentu juga mereka bakalan beli secara teratur).

Saya baca tulisannya Graham Oakes tentang macam-macam demand, dan berasumsi bahwa mungkin demand yang sedang kami hadapin ini adalah unmet demand. Ini jenis permintaan di mana konsumen kepingin barang sejumlah tertentu, tapi kami sebagai pemilik toko nggak bisa nyediain barangnya sebanyak itu. Tapi pada saat yang bersamaan kami juga lagi berhadapan dengan unknown demand. Unknown demand ini adalah permintaan yang bahkan konsumennya sendiri nggak tahu kalau mereka bisa minta ini.

Toko kami jualan beras basmati premium merk X, merk Y dan merk Z. Tiap beras ada keunggulannya sendiri, baik itu dari segi kualitas, segi harga, maupun segi popularitas. Nah, saat ini stok beras X di toko kami lagi habis (karena supplier-nya memang belom ngeluarin stok batch yang baru). Dan siyalnya, konsumen kami lagi kepingin beras X dan dalam jumlah banyak pula. Dia tidak menginginkan beras Y atau beras Z. Saya rasa, beras X ini dalam unmet demand. Sementara itu, beras Y dan Z dalam unknown demand.
Bapak Oakes bilang, kalau kasusnya memang unknown demand, bisa diatasi dengan reedukasi konsumen bahwa mereka bisa beli barang itu. Artinya, saya bisa kasih saran ke konsumen kami yang kepingin beras X itu, bahwa dia bisa memilih beras Y dan Z sebagai alternatif. Tapi saya setengah hati kalau milih saran ini. Soalnya kalau menyuruh konsumen mengubah seleranya ke beras Y dan Z berarti saya nyuruh dia down grade dari beras kelas premium ke beras kelas ekonomi. Padahal dia jelas-jelas pilih toko kami karena toko kami memang jualan beras premium.

Mau gimana lagi? Untuk permintaan yang minta buru-buru dieksekusi, hanya ini yang bisa kami sarankan supaya pelanggan nggak kabur. Untuk ke depannya, ada sih beberapa hal yang bisa kami lakukan supaya kejadian supply gagal ketemu demand ini nggak terulang lagi:

  1. Main pre order. Konsumen dikasih tahu bahwa dia boleh memesan sebelum barangnya dateng di toko kami. Cuman risikonya, kalau pas barangnya sudah ada, konsumennya batal beli. Maka saya harus mengatasinya dengan pakai beras itu untuk saya makan sendiri.
  2. Belajar mengenali kapan high season dan kapan low season. Kapan permintaan beras ini datar-datar aja dan kapan permintaannya melonjak. Ini sulit juga, soalnya akibat ke-newbie-an kami, kami belom ngerti kapan orang betul-betul menginginkan beras basmati sehingga kami harus naikin jumlah stok di storage.
  3. Diversifikasi supplier. Artinya kami nggak boleh bergantung kepada supplier yang itu-itu aja. Kalau nggak, kejadiannya bakalan kayak gini lagi, supplier kehabisan stok, kami yang kelimpungan.

Pada akhirnya, ada pelajaran yang lebih penting lagi dalam menjadi pengusaha: Ikhlas.

Pengusaha mestinya ikhlas bahwa mereka nggak mungkin bisa selalu memenuhi kebutuhan konsumen.

Mungkin ini ujian dari Tuhan buat kami. Mungkin ini cara Dia kasih kami kiat menjadi pengusaha supaya lebih siap dalam menghadapi jumlah permintaan yang lebih tinggi. Siapa tahu, Dia sedang beri kami jalan untuk menaikkan harga jual, supaya perilaku konsumen lebih terkendali dan pada akhirnya kami memperoleh profit yang lebih efisien.

<span data-iblogmarket-verification=”pErjusMsrW2W” style=”display: none;”></span>

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

11 comments

  1. warm says:

    ntar dulu, ini blog baru pindahan bukan? , saya telat apdet 🙁 *update feed reader*
    dan saya baru denger ttg beras basmati itu, dann… ijinkan saya ngikik bentar liat yg malah ngiklan di atas, diladenin pula, baik sehati njenengan ki hihi

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, ini baru pindahan. Blog saya di blogspot mau saya hentikan, dan sebagai gantinya saya punya domain baru ini. Silakan masukkan http://www.vickyfahmi.com ke reader-nya, Mas..

      Itu yang ngiklan di atas kudu diladenin. Kalo nggak diladenin, hasil penjualannya nggak dikasih ke dapur saya, hahaha..

  2. Iskael says:

    memang terkadang harus ikhlas, haha
    jadi inget dulu waktu merintis jualan baju semacam butik, karena dibikinin kalo ada yang request
    namun, yang bikin kecewa adalah penjahitnya kurang sabar dan kualitas jahitannya mendadak jelek, akhirnya saya akhiri sebelum konsumen udah pesen tapi dapet kualitas jelek

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hihihi..sayang ya, Mas. Padahal kita pasti sudah ngitung nanti bakalan dapet profit berapa persen dari pesanan baju itu. Tapi jika kita memprioritaskan kualitas daripada sekedar mengejar untung, tentu rasanya lebih ikhlas kalau kita memilih membatalkan order untuk baju yang cuma dikerjakan asal-asalan.
      Semoga untuk pesanan baju yang batal ini, ada gantinya ya, Mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *