Jalan Menjadi Pengusaha di Bazaar Gaul

Enak bener menjadi pengusaha di Surabaya. Kalau punya usaha kecil-kecilan, kini banyak banget jalannya buat berkembang jika pengusahanya mau rada kreatif dikit. Bazaar gaul itulah yang jadi sarana strategis buat para wiraswasta amatiran ini.

Sunday Market merupakan bursa yang sudah cukup punya nama di kalangan pengusaha muda di Surabaya. Diadakan di Sutos, bazaar ini selalu ditunggu-tunggu, baik oleh kalangan tenant, maupun kalangan konsumennya sendiri. Foto: Eddy Fahmi
Sunday Market merupakan bursa yang sudah cukup punya nama di kalangan pengusaha muda di Surabaya. Diadakan di Sutos, bazaar ini selalu ditunggu-tunggu, baik oleh kalangan tenant, maupun kalangan konsumennya sendiri. Foto: Eddy Fahmi

Di Surabaya, bazaar gaul alias pop up market ditandai kumpulan tenant dalam suatu area gaul (bisa berupa mall atau sekedar taman kota) di mana masing-masing tenant menjual produk-produk yang unik nggak pasaran. Penyelenggara bazaarnya umumnya masih para penaung usaha kreatif juga. Contohnya bazaar gaul ini antara lain Sunday Market yang identik dengan penyelenggaranya, mall Surabaya Town Square (Sutos), On Market Go oleh Alric Media Indonesia, dan yang terakhir ini, Hyperlink Project oleh media IDNtimes.com.

Kenapa mereka  mau repot-repot?

Sebetulnya, niatnya para penyelenggara tentu nggak jauh-jauh dari kepingin mempromosikan brand mereka sendiri. Sutos ingin lebih banyak pengunjung ke mall-nya, sementara IDNtimes ingin jadi website yang populer di kalangan anak-anak muda. Visi pendongkrakan awareness para penyelenggara ini kemudian berkembang: Mereka kepingin ikut mengembangkan industri kreatif yang dimotorin pengusaha-pengusaha muda Surabaya supaya nggak melulu cuman wara-wiri jualan di internet doang. Maka berkembanglah bazaar-bazaar gaul, supaya para pengusaha amatiran ini dapet lab untuk praktikum jualan, dan langsung berhadapan dengan pangsa pasar di dunia nyata.

Dalam beberapa bulan terakhir, fenomena baru mulai nongol. Bazaar nggak lagi cuman jadi tempat jualan. Tetapi penyelenggaranya menyisipkan acara-acara pendukung berupa workshop untuk pengunjung. Workshop ini nyediain kursus kilat berdurasi sekitar 3-4 jam, dengan materi yang sekiranya bisa dipakai buat bikin pesertanya menjadi pengusaha yang makin sip. Basha Market  (bazaar ini sendiri pernah saya tulis di sini) pada Agustus 2015 di Ciputra World ngadain workshop bikin buket kembang dan kursus kaligrafi, sementara Hyperlink Project pada November 2015 ini di Supermal Pakuwon ngadain workshop fotografi makanan. Akibatnya peserta pun kecipratan ilmu dan terinspirasi buat bikin usaha baru dari hasil join kursus ini.

Jie, merupakan pengusaha yang mengawali usaha penjualan kopinya dari kegemarannya terhadap minuman kopi. Foto saya ambil di Hyperlink Project.
Jie, merupakan pengusaha yang mengawali usaha penjualan kopinya dari kegemarannya terhadap minuman kopi. Foto saya ambil di Hyperlink Project.

Hyperlink Project, bahkan bikin gebrakan lain. Terinspirasi dari Ideafest  di Jakarta, mereka mengadopsi konsep yang sama untuk diadakan di Surabaya. Cuman bedanya, kalau Ideafest ini merupakan kumpulan talk show gaul yang untuk menghadirinya harus bayar tiket masuk, maka Hyperlink Project di Surabaya ini, talk show boleh ditonton secara gratis. Pengunjung di Hyperlink Project boleh nonton semua talk show yang ada sambil duduk-duduk ndeprok santai tanpa bayar. Penyelenggaranya, IDNtimes, cuman minta penontonnya men-download aplikasi IDNtimes di gadget Android masing-masing, dan mereka yang telah men-download boleh dapet minuman gratis. Siapa yang ngoceh di talk show ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah para pahlawan kekinian:para CEO dari start-up kondang yang kini dipakai oleh banyak orang, macam William Tanuwijaya dari Tokopedia dan Nadiem Makarim dari Gojek. Eiyaa.. (Ada apa aja di Hyperlink Project? Silakan lihat di sini)

Katherine, pengusaha The Halal Rice, tengah melayani pengunjung bazaar di Hyperlink Project.
Katherine, pengusaha The Halal Rice, tengah melayani pengunjung bazaar di Hyperlink Project.

Mencari penyelenggara untuk melamar ikutan bazaar gaul di Surabaya juga cukup gampang. Hampir tiap pekan selalu ada bazaar gaul. Event-event organizer-nya bahkan sudah woro-woro semenjak jauh-jauh hari melalui social media, baik di YouTube, Facebook, dan Instagram bahwa mereka akan menyewakan stand untuk bazaar. Para tenant yang kepingin jualan tinggal menghubungi kontak penyelenggaranya dan minta dikirimin proposal via e-mail. Kalau tenant sanggup bayar sewa booth sesuai harga yang dipatok panitia, maka deal, sang tenant pun tinggal siap-siap jualan di bazaar.

Anda baru mulai usaha kecil-kecilan, kepingin pasar yang banyak, kepingin brand-nya lebih beken, dan belajar menghadapi kompetisi industri kreatif? Coba investasikan modal dengan ikut bazaar gaul di Surabaya. Berani?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

16 comments

  1. mereka makin cerdas dan kreatif saja dalam mengolah ide bisnis termasuk usaha gaul ini deh. tapi juga punya efek menyingkir para pedagang yang kreatif dan miskin. kasihan sekali melihat yang miskin itu.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Saya mengharapkan pedagang yang miskin untuk tetap kreatif. Sebab kreativitas membuat orang yang semula miskin bisa menjadi maju. Tetapi jika pedagang tidak kreatif, pedagang tersebut akan mudah tersingkirkan.

  2. Ceritaeka says:

    Bazaar po-up ini bikin seneng karena jadi ada pilihan lain waktu ke mall. Tapiiii, kadang sebel kalo pengaturan booth-nya menganggu kenyamanan pengunjung 🙁

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Awal-awal diadakan, bazaar pop-up begini memang lebih mengejar keuntungan daripada kenyamanan pengunjung. Seiring dengan banyaknya panitia yang punya agenda terselubung di balik penyewaan booth, mereka mulai membangun booth yang lebih nyaman supaya pengunjung betah.

  3. Brillie says:

    makanan2 kekinian biasanya cuma laku di bazar.. tapi biasanya yg beli cuma karena penasaran dan bukan long term buy.
    padahal sebagai pelaku bisnis, pinginnya sih produk yang bisa bertahan minimal 5 tahun. aku pernah nyoba ambil franchise startup minuman, ternyata ngejalaninnya nggak mudah. butuh tim yang solid banget.

    eh, makanan2 di bazar surabaya ini kurang lebih sama seperti tangerang / jakarta. menurutku mahal kalau untuk ukuran surabaya, hehehe..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, aku ngerti maksudmu. Kalo ambil makanan-minuman sebagai produk bisnis, risikonya kudu dinamis mengikuti trend. Dan trend jajanan di Surabaya itu, turnovernya cepet banget. *jadi inget kue cubit, aku belom sempat nyobain, tapi trend-nya sekarang udah redup lagi*

      Ada sih minuman yang nggak redup sampai sekarang, Brill. Namanya teh. Di Surabaya ada Teh Gopek, Teh Rosela, terus ada macem-macem vendor yang jualan milk tea. Itu berlangsung lama sampai 5 tahun lebih.

      Aku sendiri rada selektif kalo mau ajak temen buat hore-hore di bazaar di Surabaya. Makanan yang dijual sangat variatif, tapi aku perkirakan sesorang harus merogoh minimal Rp 20k untuk seporsi snack. Belum lagi kalo makanannya berat, bisa lebih banyak lagi yang harus dibayar.

      Anehnya, hampir semua vendor yang jualan di bazaar ini seringkali out of stock alias
      kehabisan. Dan hampir semuanya buka stand lagi di bazaar lainnya. Bukankah ini pertanda bahwa demand terhadap produk mereka selalu ada? Dan, account Instahram dari masing-masing vendor ini selalu mengandung follower banyak. Saban kali posting foto, pasti aja yang nge-like banyak banget. Berarti kan produk mereka selalu diminta, meskipun mungkin harganya di atas rerata? Kemampuan berbelanja para pengunjung sepertinya sudah meningkat, Brill, meskipun harga di pasaran juga meninggi, hahahaa..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *