Admin Socmed, Kerjaan Sepele Namun Penting

Di jaman digital begini, kalau kita punya usaha, mau itu usaha kecil-kecilan atau gede-gedean, hal yang nggak bisa ditawar-tawar itu adalah bisnis kita harus punya account di sosial media. Karena yang kita tuju jelas adalah orang yang mau beli dagangan kita, sehingga kita harus aktif jemput bola alias jemput konsumen sendiri.

Persoalannya, kompetitor makin bejibun, sedangkan kita pasti kewalahan kalau masih pakai cara primitif macam sales door-to-door ke rumah-rumah atau nyodorin dagangan ke hidungnya konsumennya langsung. Cara ini mungkin masih bisa berhasil, setidaknya yang beli minimal ya tetangga sendiri atau separah-parahnya ya keluarganya sendiri, tetapi apakah bakal sustainable, berlangsung terus-terusan?

Mungkin usaha itu bakalan lebih panjang umurnya dan lebih banyak konsumennya kalau dilakukan branding. Kata Amalia Maulana, konsultan brand dari Etnomark itu, branding adalah kegiatan perusahaan yang dibangun untuk membesarkan brand, alias merk yang dimiliki perusahaan itu (lihat blog-nya dos-q di sini). Tak ada komunikasi terhadap konsumen, maka merk produk itu tidak akan beken. Cara branding-nya bisa macam-macam, tapi salah satu usaha yang cukup ampuh adalah dengan media sosial (atau kita lebih sering menyebutnya socmed).

Meskipun dirasa keberadaannya kurang nyata, tetapi sekarang lowongan admin sosmed tetap banyak menjamur. Gambar diambil dari sini
Meskipun dirasa keberadaannya kurang nyata, tetapi sekarang lowongan admin sosmed tetap banyak menjamur. Gambar diambil dari sini

Kenapa sosmed bisa jadi alat tokcer untuk membuat merk produk itu laris, bisa dilihat kalau kita mau mengurut dari data tentang jumlah pemakai internet di negeri kita. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia di sini, pengguna internet di Indonesia sudah ada 88,1 juta orang. Dan Wall Street Journal mencatat di sini bahwa sekitar 69 juta orang di antaranya adalah pengguna Facebook. Jobstreet.com malah mengeluarkan penelitian yang lebih mencengangkan lagi. Dari 14.000 karyawan di Indonesia yang mereka survei (hasilnya bisa dilihat di sini), ternyata sekitar 35% menghabiskan waktu sampai dua jam kerja mereka buat main sosmed (ini baru jam ngantor, apalagi di rumah, berapa jam yang mereka habiskan buat fesbukan dan twitter-an?) Sehubungan jumlah ini adalah konsumen target kita, maka kalau mau usaha kita dilirik oleh mereka (dan pada akhirnya produk kita dibeli oleh mereka), ya kita harus punya account sosmed.

Perkara persosmedan ini sebetulnya gampang, seandainya kita bisa menyelipkan waktu untuk ber-sosmed di antara kesibukan kita ngurusin kulakan modal, menentukan harga jual, dan merawat sisa stok barang. Tetapi merawat konsumen dalam sosmed ada keterampilannya sendiri, dan mungkin nggak semua di antara kita cukup lihai untuk itu. Apalagi perusahaan-perusahaan besar yang udah punya merk terkenal, tentu punya cara manajemen sendiri dalam mengelola konsumen. Maka di sinilah gunanya admin sosial media.

Kalau menurut teman saya, Morgan,  yang sudah malang-melintang memenangkan lowongan admin sosmed di banyak brand selama empat tahun, kerjaan admin sosmed umumnya di bawah divisi Digital Marketing dalam suatu brand. Mereka bikin konten untuk jadi update status dari account sosmed brand yang bersangkutan. Status-status update itu dijadwalkan, lalu mereka eksekusi update statusnya. Nanti kalau status itu dapet komentar, mereka yang para admin sosmed ini yang bertugas membalas komentar.

Kadang-kadang, sebuah account sosmed bisa berfungsi lagi menjadi customer care online versi digital. Kerjaan admin sosmed juga nggak jauh-jauh dari meladeni keluhan para konsumen tentang suatu produk dari brand itu. Kadang-kadang jawaban admin sosmednya nggak selalu memberikan solusi, tetapi setidaknya, mereka sudah merespons komunikasi dari penonton account sosmed brand tersebut.

Saya memperhatikan, brand yang punya account sosmed, biasanya produknya lebih laku daripada produk brand yang nggak punya account sosmed. Meskipun mungkin produknya belum tentu lebih murah juga. Tapi, di sini memang berlaku prinsip tak kenal maka tak sayang. Memiliki account sosmed jelas akan membuat brand ini lebih dikenal di masyarakat. Dan karena lebih dikenal itulah, orang cenderung lebih percaya terhadap brand tersebut, sehingga mereka lebih mau membeli produk brand itu daripada membeli produk yang nggak ada account sosmed-nya.

Mempunyai account sosmed juga ada konsekuensinya. Brand harus sering update status supaya follower-nya ingat terus pada brand yang bersangkutan. Kalau mereka jarang update, konsumen yang loyal pun lama-lama akan bisa lupa kepada brand itu. Parahnya, kalau brand pesaing punya update status yang lebih menarik, pelanggan setia pun bisa pindah ke lain hati. Makanya brand butuh admin sosmed untuk bikin konten-konten yang menarik pada update-an status socmed mereka.

Krusial banget ya pekerjaan admin sosmed ini? Lanjut baca di sini yuk, asyiknya kerjaan mereka yang cuman Facebook-an dan Twitter-an ini..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

2 comments

  1. ratusya says:

    Ahahaha iya penting ga penting ya. Kalo diliat kerjaannya cuma pesbukan, twitter an aja, itu kata orang jaman Dulu.
    Padahal sebenernya mereka yg reply2in komen ya supaya brand itu eksis terus di sosmed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *