Betulkah GOJEK Rawan Disalahgunakan?

Menjaga aplikasi supaya nggak sampai disalahgunakan itu penting banget. Termasuk juga ini disadari oleh pengelola aplikasi paling populer di Indonesia saat ini: GOJEK.

Nadiem Makarim, founder Gojek, berada di antara para driver Gojek
Nadiem Makarim, founder GOJEK, berada di antara para GOJEK Driver.
Gambar diambil dari sini

Pendiri GOJEK, Nadiem Makariem, sepertinya mati-matian menjaga driver-nya supaya nggak ada konsumen yang dirugikan. Mulai dari perekrutan GOJEK Driver, sampai bikin pelatihan GOJEK Driver-nya sendiri supaya mereka sendiri aman ketika bawa penumpang.

GOJEK Driver nggak boleh sembarangan

Contohnya aja, untuk daftar ke sebuah lowongan GOJEK Driver, seorang calon supir kudu menyerahkan surat berharganya ke kantor manajemen GOJEK. Surat itu boleh berupa akte kelahiran, kartu keluarga, buku nikah, atau ijazah. Kalau di KTP-nya ada tulisan bahwa si calon driver adalah S1, yang diserahin harus ijazah S1-nya yang asli, bukan kopian, apalagi cuman nyerahin ijazah SMA.

Belakangan, GOJEK Driver kudu ikutan pelatihan segala. Mulai dari pembagian manual book tentang panduan menjadi GOJEK Driver, program TrikNgetrip, sampai pelatihan RDL GOJEK.

Soal pelatihan GOJEK Driver ini bisa dibaca di tulisan saya tentang RDL GOJEK Driver.

RDL GOJEK

Singkatan apa sih tuh RDL GOJEK? RDL GOJEK ini adalah kolaborasi GOJEK dengan lembaga pendidikan berkendara Rifat Driving Labs. Iya, kursus nyetirnya Rifat Sungkar itu. DI RDL GOJEK ini, driver-driver diajari tentang cara membelokkan motor yang aman anti ketabrak, cara nyetir dengan aman sambil mengantisipasi pejalan kaki yang lewat, dan semacamnya. Sounds light memang, tapi nyatanya banyak driver yang baru ngeh hal-hal begituan.

GOJEK Driver Kudu Pandai Jaga Diri

GOJEK Driver juga kudu pintar menjaga dirinya dari kesulitan. Banyak GOJEK Driver mengeluh bukan karena badannya remuk sampai kepingin dipijet lantaran ngojek seharian. Tapi kambing hitamnya adalah penumpang-penumpang berbadan big size.

Siyalnya, di aplikasi GOJEK, para driver cuman bisa terima notifikasi bahwa ada penumpang membutuhkan GOJEK driver minta dijemput di jalan anu kordinat anu. Tapi mereka nggak dapet data apakah penumpangnya jelek atau cakep, cowok atau cewek, bodinya gede atau mungil. Alhasil, kalau driver-nya kebetulan badannya sekurus pohon cabe, dan dapet penumpang segede gaban, itu apesnya sang driver. Lebih parah lagi, kalau pas sudah dibawa naik motor, terus badan si penumpang ternyata limbung. Berjuanglah si driver sepanjang jalan untuk mempertahankan keseimbangan.

Temen saya, Alexis, yang kemaren saya ceritain jadi tukang ojek itu di sini, berusaha nggak pulang malem supaya nggak sampai jadi korban pelecehan seksual oleh penumpangnya (maklum, dos-q kan cewek). Tapi yang lebih parah sebetulnya ada lagi.

Feature GOJEK, instant courier, rawan buat disalahgunain nganterin benda-benda nggak jelas. Konsumen umumnya pakai feature ini buat minta GOJEK Driver untuk ngambilin benda di suatu tempat dan nganterin benda itu ke lokasi si konsumen. Bendanya apa, GOJEK Driver jelas nggak tahu. Biasanya bendanya sudah dibungkus rapi, dan driver-nya tinggal ambil dan anterin. Coba bayangin kalau sebetulnya bungkusan itu berisi hewan buas, atau sebetulnya jenazah, atau sebetulnya narkoba?!

Alexis curhat ke saya bahwa dos-q pernah dapet pesanan instant courier seperti ini. Semula dos-q curiga kenapa si konsumen cuman nyuruh anterin ke Jalan Morowudi tapi nggak kasih tahu Jalan Morowudi nomer berapa. Ngeri sebetulnya itu pesanan berisi narkoba dan takut tiba-tiba dos-q ditangkap pulisi laper di jalan, dos-q nelfon ke konsumennya minta spesifikasi alamat. Si konsumen ngeyel nggak mau kasih tahu.

Alexis lalu pura-pura bilang bahwa bannya gembos dan minta konsumennya cancel. Si konsumen mengelak, bilang HP-nya yang dipakai buat pesan GOJEK sudah ketinggalan. Alexis kemudian nekat nelfon ke Unit Darurat GOJEK dan menjelaskan ketakutannya. Unit Darurat GOJEK kemudian mencoba menelepon sang konsumen. Ternyata teleponnya malah ditutup!

(Manajemen GOJEK kemudian membatalkan pesanan ini, dan Alexis pun merasa aman. Soal ini, Alexis kasih tips supaya para GOJEK Driver lainnya jangan sungkan nelfon Unit Darurat jika merasa ada yang tidak beres dengan kerjaan mereka, supaya mereka juga terlindungi. Tetapi ternyata banyak GOJEK Driver yang mengeluh bahwa kadang-kadang nomer Unit Darurat memang sering sibuk waktu ditelfon.)

Mau cobain jadi GOJEK Driver?

Pekerjaan GOJEK Driver ini mungkin menarik. Tapi memang nggak sembarangan orang yang bisa jadi driver-nya GOJEK. Aplikasi ini masih tetap menghargain orang untuk kerja keras supaya bisa dapet penghasilan, namun juga lebih penting lagi, kerja cerdas.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

4 comments

  1. ratusya says:

    Iya sih itu kepikiran juga sama aku, gimana kalo nantinya yg minta dianter nya narkoba, atau bom?
    Kan kesian drivernya ga tau apa2.
    Salam dari gojekholic #halah

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Atau binatang buas.. why not? Temenku yang jadi driver-nya Gojek cerita, aturannya Gojek tuh, barang pesenan cuman diambil dan diantarkan oleh driver dalam keadaan utuh, nggak boleh rusak. Lha biasanya barang yang udah dipack itu diterima oleh drier dalam keadaan udah dibungkus plastik item rapet. Driver-nya nggak mungkin bisa buka-buka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *