Dengan Bermain, Bayi Belajar Integritas

Anak saya, Fidel, baru berumur enam bulan. Dia lagi senang-senangnya belajar guling-guling. Saya sedang berusaha merangsang dia untuk belajar merangkak. Tidak gampang, karena sepertinya dia punya kemauan sendiri untuk bermain-main di zona nyamannya (mainan favoritnya adalah jempol kakinya sendiri, yang dia kulum sendiri dalam mulutnya.. :p), dan dia ogah disuruh-suruh untuk berpindah-pindah sendiri kalau dia sedang tidak berminat.
Jadi saya mencoba menggodanya dengan bola mainan. Bola ini dari plastik berwarna-warni, ada kerincingnya di dalamnya, sehingga akan berbunyi kalau memantul-mantul. Fidel tertarik, dan dia senang memandangi bola itu yang membal ke sana kemari. Kalau Fidel sedang memegang bola ini, dia akan mendekap bolanya lalu menggerogotinya dengan mulutnya. Saya nggak tahu mana yang lebih lucu, Fidel-nya atau bolanya.. :-p

Sekarang, permainan yang sedang sering saya mainkan adalah “Ayo Coba Ambil Bolanya”. Fidel saya tengkurapkan. Saya duduk di depannya sambil memegang bolanya. Bolanya saya goyang-goyangkan sehingga bergemerincing persis di depan matanya. Fidel yang tertarik, akan berusaha menggapai bola itu. Setiap kali tangannya sudah hampir menggapai, bolanya saya tarik sedikit sehingga menjauhi dia. Dia akan gemas berusaha mendapatkan bola, dan dengan cara itu dia akan berusaha merangkak, hihihi..

Untuk bisa memperoleh bola yang diinginkan, Fidel harus kerja keras menggapainya dulu.
Untuk bisa memperoleh bola yang diinginkan, Fidel harus kerja keras menggapainya dulu.

Untuk anak sekecil ini, berusaha berpindah tempat demi mendapatkan mainan, adalah tantangan susah. (Apalagi ditambah saya yang super jahil menggeser-geser bola sambil terus-menerus mengiming-iminginya.. :-p) Permainan ini bisa menguras keringatnya, memaksanya menggunakan semua sumber daya yang dia punya (baca: tangan, kaki, dan insting). Kadang-kadang dia kecapekan, bolanya tidak dia dapatkan, dan ujung-ujungnya dia menangis kencang banget. Kalau sudah begini, saya cuma ketawa dan menggendongnya, lalu menepuk-nepuk punggungnya dan berkata, “Nak, memang kalau mau dapet yang asyik itu harus kerja keras dulu..”

Bagi saya sebagai mama, permainan ini tidak gampang buat saya. Ingin sekali saya langsung memberikan bolanya kepada Fidel supaya dia segera menunjukkan ekspresi muka kesenangan. Tidak ada ibu yang tega melihat anaknya kesulitan, kan? Tapi saya berpikir, kalau dia tidak diajari untuk berusaha keras, bagaimana kalau dia sudah besar nanti dan saya tidak ada di sampingnya? Kalau dia terbiasa apa-apa dimudahkan, begitu dapat yang sulit, dia akan mengeluh dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Cuma sekedar main bola, tapi Fidel belajar banyak selain nilai kerja keras. Ketika dia berusaha menggapai bola, dia belajar sabar untuk memindahkan sumbu badannya yang mungkin masih terasa berat itu. Ketika akhirnya dia menangis dan saya langsung menggendongnya, saya mengajarinya bahwa saya masih peduli ketika dia kesulitan. Ketika dia sudah bosan bermain, saya tetap menggendongnya sambil membereskan mainannya, dan dia melihat sendiri bahwa saya memasukkan mainannya ke kantong penyimpan. Sambil saya mengajarinya bahwa kita punya tanggung jawab untuk membereskan mainan bila sudah selesai bermain. Kantong penyimpan itu bukan jenis kantong khusus mainan yang sering dijual orang-orang di toko mainan mahal, tapi saya menggunakan kantong bekas bungkus tas yang merupakan hadiah dari salah satu teman. Di sini saya mengajari Fidel bahwa apa-apa itu tidak selalu harus dibeli, gunakan saja apa yang ada. Sederhana, kan? Dan karena saya melakukan ini berulang-ulang secara teratur, lama-lama Fidel hafal urut-urutannya: bermain -> selesai -> bereskan mainan, dan karena saya mencontohkan keteraturan ini dia belajar tentang disiplin.

Dengan nilai-nilai itu, Fidel sudah belajar tentang integritas, bahkan semenjak dia masih seorang bayi. Saya percaya, kalau saya mengajarkan integritas ini secara konsisten, anak saya akan membawanya sampai ketika dia sudah besar nanti. Dan nilai-nilai itu, akan dia pakai untuk menghadapi setiap tantangan: ujian sekolah, cari pekerjaan, membuka usaha, memilih calon istri, mengumpulkan aset, dan lain-lain di semua sendi kehidupannya.

Nggak pakai susah untuk kasih anak bekal pendidikan anti korupsi. Dengan cara sederhana pun bisa. Dan mendidiknya tentang itu semenjak masih bayi pun, bisa.

Foto oleh Eddy Fahmi

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

14 comments

  1. Dunia Ely says:

    Setuju sekali mbak agar anak diajari sejak usia dini untuk berusaha keras, juga nggak dibiasakan mudah mendapatkan yang diinginkan biar nggak terbiasa mengeluh hinngga anak akan terbiasa mandiri ya mbak.

    Btw, saya baru tahu kalau mbak Vicky sudah dikarunia Fidel yang cakep, selamat ya mbak 🙂

  2. Papapz says:

    wah keren mbak anak bayi sudah diberikan pendidikan anti korupsi hehe, lagi lucu-lucunya y mbak anak usia 6 bulan.. anak saya yang kedua 1,5 tahun sudah mulai lincah 😀 anak yang pertama usia 3,5 tahun selalu dan selalu saya belajari kalau udah main itu harus dibereskan memang gak gampang dan cukup sekali mbak.. habis itu berantakan lagi deh hehe

  3. arman says:

    vic, kok gua baru tau blog lu yang ini ya? hahaha.

    iya emang mainan favorit bisa buat memacu anak biar berusaha untuk ngambil biar melatih jadi mau merangkak ya. 😀
    inget2 dulu gua mancing pake blackberry biar emma mau merangkak. hahaha.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Man, kok cerita lu aneh-aneh ya? Andrew dirangsang ketawa pake duit, terus Emma dirangsang merangkak pake juwet item? Sekarang gw jadi penasaran, lu dirangsang pake apa sama bokap lu supaya mau berdiri? :-p

      Oh ya, ini emang domain gw yang baru. Gw baru beli domain sendiri, supaya gw nggak numpang Blogspot melulu, hihihi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *