Adu Pamer Kegiatan CSR

Sewaktu saya main ke hutan mangrove di Wonorejo (artikelnya bisa dilihat di sini), saya ketemu beberapa batang pohon bakau dituliskan bahwa pohon-pohon itu ditanam sebagai hasil CSR atas nama bank Anu atau perusahaan Anu. Waktu itu saya bergurau dengan suami saya, ini pasti akal-akalan karyawan perusahaannya, berlagak ngajakin nyalurin dana CSR-nya perusahaan dengan nanam pohon bakau, padahal aslinya karyawannya kepingin piknik bareng sembari dibayarin perusahaan. :-p

Gambar diambil dari sini
Gambar diambil dari sini

Berbahagialah perusahaan-perusahaan yang senang pamer-pamerkan hasil CSR-nya ke media massa, karena ternyata rakyat sangat menyukai perusahaan yang demikian. Saya iseng baca risetnya Nielsen (laporannya bisa diunduh di sini), yang menyurvei penduduk di seluruh dunia tentang bagaimana kesan mereka terhadap perusahaan dari produk atau jasa yang mereka pakai. Ternyata eh ternyata, kalau perusahaannya kedapatan mempunyai tanggung jawab sosial, mereka lebih dicintai oleh para konsumen. 52% responden riset ini bersedia membeli produk/jasa mereka, setidaknya setiap enam bulan sekali.  55% responden malah dengan senang hati mau bayar lebih untuk membeli itu. Ini artinya, kalau saya punya bisnis dan perusahaan saya melakukan CSR, setidaknya separuh penduduk bersedia beli produk saya.

Kenapa bisnis yang melakukan CSR dicintai masyarakat, mungkin bisa dijawab secara sederhana. Konsumen kepingin produk yang mereka pakai itu berasal dari perusahaan yang “baik-baik saja”. Punya etika bisnis, nggak terlibat sogok-sogokan, taat hukum, usahanya nggak merugikan masyrakat. Siapa yang nggak kepingin rejeki yang barokah? Di lapangan ternyata agak sulit untuk mewujudkan itu. Contoh kecil, mau bikin usaha hotel kecil-kecilan, ternyata pompa air kita nyedot air sumur milik tanah tetangga. Mau bikin usaha kedai soto, ternyata limbahnya ngotorin selokan tetangga. Contoh gede, mau memperluas jalan tol, ternyata kudu membabat tanahnya warga. Yang repot ya yang lagi ngetrend ini, mau bikin kebun sawit, harus pakai acara barbeque-an di hutan sampai jadi kabut asap segala.

Makanya dibuatlah aturan tentang CSR. Sesuai sabdanya Undang-undang nomor 40/2007 tentang Perseroan Terbatas, ternyata setiap PT harus bikin CSR. Dengan adanya CSR, perusahaan nampak ikut memajukan karyawannya dan memajukan lingkungan juga, nggak cuma mempertebal kocek pemegang sahamnya doang. Kerusakan di lingkungan yang kira-kira timbul akibat perusahaannya, bisa dikompensaasi dengan adanya CSR ini. Itu sebabnya, CSR itu wajib.

Masyarakat ternyata nggak bego terhadap perusahaan yang nggak mau main CSR. Riset The Millennium Poll on Corporate Social Responsibility(1999)  yang dibikin oleh perusahaan riset Environics International (lihat artikelnya di sini) bilang, 20% respondennya malah bersikap memboikot produk kalau perusahaannya nggak mau ber-CSR. Padahal kalau konsumen punya persepsi negatif terhadap perusahaan itu, reputasi dan hasil penjualan yang sudah dibangun bertahun-tahun, bisa amburadul.

Di Indonesia, kita bisa dengan gampang menemukan perusahaan yang sudah menyisihkan profitnya untuk melakukan CSR. PT Mitra Adiperkasa (yang anak usahanya adalah Starbucks tempat kita biasa ngopi-ngopi, plus Sogo tempat kita biasa blanja-blanji), melakukan CSR dengan bikin aksi donor darah bareng PMI (lihat foto-fotonya di sini). Tandon air dan toilet-toilet umum plus tempat mencuci baju untuk warga desa di Serang, ternyata hasil CSR perusahaan milik Group Mahadasha yang jualan crane itu (lihat juga foto-fotonya di sini). PT Telkom bahkan menyalurkan dana CSR-nya untuk memberi pelajaran kepada guru-guru  tentang memanfaatkan social media untuk mengajar (sumbernya saya comot di sini).

Tidak semua kegiatan CSR itu berhasil menaikkan pamor perusahaannya. Beberapa kegiatan gagal menimbulkan efek populer karena memang bukan kegiatan yang dirasa dibutuhkan oleh masyarakat. Lihat di sini tentang kegiatan CSR yang paling banyak disukai publik.

Gimana dengan kantor tempat Anda bekerja? Boss Anda melakukan CSR dengan cara apa? Please jangan jawab, “Saya nggak tahu. Di kantor saya cuman tahunya kerja dan menunggu sampai waktunya hari libur/pensiun/mati kena serangan jantung di depan komputer..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

6 comments

  1. Keke Naima says:

    tapi waktu saya ngantor dulu *sekitar 10 tahun lalu*, gak tau lho CSR perusahaan saya tempat bekerja itu apa. Kayaknya dulu juga gak terlalu besar gaungnya yang namanya CSR 😀

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Wajar sih kalau Mbak Chi nggak tahu CSR itu apa. Jaman dulu CSR belum ketat dilaksanakan meskipun undang-undangnya sudah ada.
      Plus, CSR cuma dipandang sebagai menunaikan kewajiban, jadi pelaksanaannya hanya segelintir yang tahu. Tapi sekarang CSR dipandang sebagai peluang untuk menaikkan pamor perusahaan, sehingga pelaksanaannya dibuat lebih ramai. Karyawannya diajak terlibat, bahkan kalau perlu dibuat sedemikian rupa supaya CSR bisa dimanfaatkan oleh karyawannya juga.

  2. nayarini says:

    dulu kerja di pabrik (eh sampe sekarang juga masih buruh pabrik dink haha) pernah satu dua kali ikutan CSR di Bekasi dan sekitarnya (baca: dipaksa ikut lol). tapi baru ngeh kalo semua PT hukumnya wajib, kirain yg gede gede doank 😀
    anyway…rumah barunya keren…. tapi tombol ‘follow’ sebelah mana ya *gaptek*

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Dulu saya pernah diajakin CSR sama kantor, CSR-nya berupa ikut buka stand di pamerannya Pemda Kabupaten. Saya mangkir dari acara itu karena mau ikut simposium dokter. Sebetulnya saya males ikutan acara CSR kantor itu karena ogah nungguin stand-nya (ceritanya saya mau dipamerin di stand karena saya dokter. Padahal saya kan bekerja profesional, bukan buat show off, hahaha..), wkwkwk..

      Saya nggak pasang tombol Follow, Mbak. Lha buat apa, saya kan bukan blogger niche. Apa ada orang nge-follow saya demi nungguin curhatan saya yang campur-baur ini..?

      Tapi kalau mau follow, ya follow socmed saya aja. Itu tombol socmed-nya ada di kanan atas.

  3. ninda says:

    CSRnya cukup banyak sih mbak… lebih ke kegiatankegiatan sosial karena kantor tidak berkontribusi pada limbah, polusi dst. donor darah iya, dan alokasi kegiatan sosial per bulannya ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *