Cara Mudah Menaikkan Semangat Kerja di Kantor

Ketika kafenya Howard Schultz memutuskan untuk membuka cabang di gedung kantor Intiland Tower, saya tepuk tangan. Bukan saja karena Starbucks sudah memilih lokasi yang sustainable untuk mengeruk pasar, tapi karena faktor kesehatan: jaminan bahwa tidak ada lagi karyawan di sana yang kelaparan cuman gegara terlalu sibuk bekerja.

Sebelum membuat penilaian kinerja karyawan, lebih baik evaluasi dulu apakah karyawan ini sudah bahagia dengan apa yang kita fasilitasikan untuk jadi tempat kerja. Gambar diambil dari sini
Sebelum membuat penilaian kinerja karyawan, lebih baik evaluasi dulu apakah karyawan ini sudah bahagia dengan apa yang kita fasilitasikan untuk jadi tempat kerja. Gambar diambil dari sini

Persoalannya, para pengusaha setengah mati mencari beribu cara untuk membuat karyawan mereka semangat bekerja. Ketika mereka kecewa lantaran penilaian kinerja karyawan mereka tidak seperti yang diharapkan, mereka sibuk cari-cari alasan, apakah gajinya kurang, atau sistem kerja tidak efisien, dan lain-lain. Tapi jarang sekali yang mengevaluasi,
apakah karyawan itu bahagia bekerja? Paling jawabannya, “Bahagia sih, tapi..” Tapi mungkin sehari-harinya tidak. Dan kadang-kadang saya cuma melempar pertanyaan sederhana, “Apakah perutmu kenyang selalu?”
Sungguh lucu, jawabannya seringkali: “Tidak.”

Jadi saya penasaran, apa yang sebaiknya kita lakukan supaya pengusaha selalu ingat untuk menjaga karyawannya supaya selalu kenyang. Karena, tidak ada perusahaan yang berjalan baik kalau pegawainya kelaparan. Repotnya, kelaparan itu ancaman yang lebih berbahaya daripada inflasi, tapi laten. Nyata, tapi tidak kelihatan.

Kok bisa pegawai yang kelaparan itu mengganggu kinerja perusahaan? Biar saya ceritakan ini. Saya menulis ini gegara baca risetnya ahli fisiologi Ancel Keys dan psikolog Josef Brozek tahun 1944 (link-nya baca di sini). Waktu itu, di Minnesota, ada 36 pemuda sukarelawan disuruh diet selama sembilan bulan. Selama itu, mereka cuman boleh makan kentang, umbi-umbian, roti, dan makaroni. Tugas mereka adalah bekerja di laboratorium selama 15 jam/minggu, jalan kaki sepanjang 22 mil/minggu, dan belajar selama 25 jam/minggu. Kalau sudah waktunya lapar, mereka akan diperiksa oleh para penelitinya.

Hasilnya, ternyata dengan bekerja seberat itu dan makan makanan yang cuma segitu, mereka mengeluh stamina jadi bobrok dan gairah seksnya menurun. Kondisi kejiwaannya ternyata juga terimbas. Kelelahan jelas, tapi mereka juga cenderung jadi gampang tersinggung. Banyak yang menjadi depresian. Sebagian besar malah cenderung cuek, apatis.

Pekerja yang lapar ternyata tidak bahagia. Saya bayangkan kalau saya punya pabrik yang pegawainya letoy, jutek, dan lemot, karena perutnya lapar, percuma juga kalau saya naik-naikkan gajinya setinggi apapun. Saya bisa memberi uang, tapi tidak bisa menjaga mereka supaya tetap kenyang ketika bekerja. Memangnya uang bisa dimakan?

Ada yang lucu lagi dari hasil riset itu. Kelaparan ketika bekerja ternyata membuat para responden riset menjadi sering mengkhayalkan makanan. Mereka menjadi senang bicara dan membaca tentang makanan. Ketika mereka akhirnya ketemu makanan, mereka makan porsinya dua kali lipat dari biasanya. Kelaparan membuat pekerja menjadi gendut? (Soal ini saya bicarakan saja lain kali.)

Beras basmati
Pastikan perut karyawan dalam keadaan kenyang sebelum kita menuntut mereka memberikan kinerja yang terbaik. Gambar diambil dari sini

Mungkin saya mau berbagi saja bahwa menjaga perut manusia sekantor supaya tetap kenyang itu gampang banget. Asalkan semua pihak mau bersikap dewasa untuk makan teratur dan menjaga supaya kolega-koleganya punya kebiasaan makan yang tertib.

1. Sering memilih menu yang sehat untuk makan. Terutama karbohidrat yang tinggi serat dan protein akan membuat kita kenyang lebih lama.

2. Kerjakan tips nomer 1 ketika sarapan. Dan selalu (bukan sering) sarapan sebelum bekerja. Sarapan akan menghilangkan ilusi tentang kelaparan ketika bekerja.

3. Kerjakan juga tips nomer 2 ketika makan siang. Dan selalu (bukan sering) makan siang pada waktunya. Kalau Anda pengusaha, Anda punya peluang untuk mengatur supaya semua orang tertib meninggalkan kubikelnya masing-masing pada jam makan siang (dan bukan sok cari muka dengan bekerja lembur). Kenapa makan siang penting? Karena makan siang mengembalikan energi untuk otak dan tubuh yang hilang selama bekerja.

4. Fleksibel untuk bisa sediakan cemilan dan minuman di tengah-tengah waktu bekerja. Kelaparan bisa terjadi setiap saat, bahkan sebelum jam makan siang tiba. Cemilan menyelamatkan itu. Dan minuman juga menghilangkan ilusi tentang kelaparan.

Boss, jangan lapar. Tapi lebih penting lagi, jangan biarkan pegawaimu lapar.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

4 comments

  1. Keke Naima says:

    dulu, saya betah banget ngantor. Gak ada deh yang namanya I Hate Monday karena kantor memang bikin betah. Suasana kekeluargaannya itu yang bikin senang walopun perusahaan besar. Sayangnya, perusahaan saya bekerja itu diambil alih. Peraturannya langsung kaku. Saya merasa kerja jadi tegang banget. Sikut-sikutannya jadi berasa. Yang tadinya betah, berganti jadi malas. Untungnya udah mau resign

  2. mawi wijna says:

    Nah ini, aku malah bingung. Di kantor yang sekarang nyebrang jalan sudah bisa ketemu warung indomie (nama lain warung bubur kacang ijo). Di sebelahnya ada minimarket, warung gado-gado, warung sambal penyetan, warung padang, dsb. Pokoknya, kalau sudah urusan perut dijamin nggak ada masalah. Tapi, masalahnya ya sehabis makan itu. Biasanya ngantuk, terus semangat kerjanya kendor. Dilematis kan Bu Dokter? 😀

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Betul, banyak makan di sekitar kantor membuat perut kita kenyang selalu. Tapi kenyang tidak berarti harus mengantuk, Na. Kuncinya adalah memilih makanan berkalori tinggi dalam porsi yang cukup. Saya biasanya mengintrospeksi, apakah porsi makanan dari warung itu cukup atau justru kebanyakan karbohidrat? Lalu karbohidrat makanannya itu jenis yang menetap lama di lambung atau gampang diubah jadi energi? Begitu lho, Na..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *