Pak Boss Kepingin Kamera Profesional

Seorang teman yang kebetulan seorang kameramen senior di sebuah stasiun televisi, jadi pembicara sebuah seminar di sebuah kota di Indonesia. Panitianya kebetulan dari dinas pemerintahan, dan tamu yang diundang juga dari beberapa kantor dinas pemerintah lokal.

Setelah dia mengoceh beberapa saat tentang dasar-dasar membuat dokumentasi video, pada waktu coffee break, seorang peserta tanya bahwa kantornya ingin membeli kamera video. Sang pembicara ini dimintai rekomendasi merk kamera yang terbaik.

Teman saya tanya, kamera videonya mau dipakai untuk apa. Sang pegawai dinas itu tanya untuk shooting-shooting saja kalau ada keperluan. Teman saya tanya lagi, apa yang mau di-shooting? Pegawainya jawab, kalau ada tamu kenegaraan datang, mereka mau shooting. Kalau ada kunjungan kerja ke daerah-daerah, mereka mau shooting. Teman saya nyeringai campur bingung. Kamera untuk shooting Pak Presiden upacara dengan kamera untuk shooting Pak Tani sedang memacul sawah jelas beda jauh.

Akhirnya setelah diinterogasi lagi, teman saya menangkap sinyal bahwa seorang kepala dinas telah mengirim pegawainya untuk mencari rekomendasi kamera karena mereka mau membeli kamera. Alasan ingin membeli kamera adalah kepingin “punya-punyaan”. 😀

Pak Boss ingin anakbuahnya bisa seperti mas-mas ini. Kudu di-training di mana ya? Gambar diambil dari sini
Pak Boss ingin anakbuahnya bisa seperti mas-mas ini. Kudu di-training di mana ya?
Gambar diambil dari sini

Kota tempat seminar itu diselenggarakan, berada di kawasan Indonesia sebelah timur. Mungkin di sana belum ada komunitas videografi yang solid, jadi kemampuan untuk bermain kamera hanya dimiliki oleh segelintir orang yang tidak dikenal orang banyak. Maka ketika seorang boss ingin kantornya memiliki kamera, ia tidak tahu ke mana harus mengirim anakbuahnya untuk mempelajari kamera itu. Ia hanya tahu bahwa sepanjang ia punya budget, maka ia bisa membeli kamera. Perkara kameranya nanti mau dipakai apa, itu urusan belakangan.

Ketika sang teman menceritakan itu kepada saya, saya cuma ketawa.

Lalu saya bilang: “Enaknya lu buka usaha konsultasi videografi aja. Nanti lu kirim proposal ke kantor dinas si pegawai itu. Lu bilang tarif konsul lu segini-segini rupiah, dan dengan tarif itu lu bisa kasih tahu merk apa yang bagus untuk keperluan shooting-shooting mereka yang plan-nya masih semburat itu.”

Teman saya: “Gw? Minta bayaran cuman buat nyuruh mereka beli Sony Professional? Belum tentu juga mereka bisa beli, anggarannya belum tentu cukup.”

Saya: “Lho, perkara anggaran mereka nggak cukup, itu bukan urusan lu. Lu udah kasih nasehat ke mereka, itu lebih baek ketimbang mereka clueless sama sekali. Taruhan si Kadin nggak ngerti apa bedanya Sony Professional dengan Sony Handycam.” Mata saya mulai hijau.

Dasar temen saya bukan orang bisnis. “Kesian, Vic. Kalaupun rencana beli kameranya mau dieksekusi juga belum tentu bisa. Di sana lho nggak ada toko kamera. Mereka mau beli di mana? Minta sama Dirjen?”

Saya: “Siapa bilang harus beli di sana? Kan barangnya bisa dibeli online?”

Teman saya: “Maksud lu terus gw ajarin mereka online shopping gitu?”

Saya (nyengir devilish): “Akhir tahun ini bakalan ada mall online yang mau cuci gudang gede-gedean lho. Bisa ngirit anggaran! Dapat harga kamera profesional yang murah, why not?”
(Catatan: Beneran lho, bakalan ada cuci gudang. Infonya ada di link sini.)

Dan teman saya adalah orang yang memiliki empati besar. “Kalau mereka pikir masih kemahalan juga?”

Saya (sekarang pasang muka flat): “Sumber duit sudah ada. Itu kepala dinasnya mau kamera apa enggak?”

Pembicaraan saya dan teman saya ditutup dengan usul saya bahwa kalaupun kamera profesional itu tetap terasa mahal, mereka tidak perlu beli. Cukuplah sewa tenaga swasta untuk shooting-shooting Pak Jokowi upacara dan Pak Tani macul sawah itu, karena sewa tenaga swasta pasti lebih murah daripada beli kamera profesional sungguhan. Toh kalaupun mereka jadi beli kameranya, belum tentu juga mereka bisa merawat. Memangnya ngelap kamera bisa dengan kain pel doang?

Kalaupun tidak ada tenaga swasta yang bisa disewa untuk shooting-shooting-an, berarti ini kesempatan untuk wiraswasta lokal di sana untuk membuka bisnis jasa dokumentasi shooting profesional. Dia bisa punya klien dari pemerintahan, atau dari rakyat setempat yang kepingin acara-acara hajatannya di-shooting. Ya kan? Ya kan?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *