Hidup Rese Seorang Admin Sosmed

Saya udah cerita tentang asyiknya menjadi seorang admin sosmed di sini, tapi saya belum cerita bahwa pekerjaan admin sosmed ini bisa membuat emak-emak tukang pijet manapun menjadi ikutan makmur.

Morgan (inget dia? Saya ceritain tentang dia di sini) cerita ke saya, bahwa bahwa tweet-tweet yang diketik oleh admin sosmed itu nggak sembarang nge-tweet. Tweet-tweet itu (atau istilah mereka: konten) sudah direncanakan jauh-jauh hari. Mereka sudah ngejadwalin hari ini mau kasih konten apa di update statusnya, dan jadwal itu sudah dibikin selama dua minggu.

Menjadi admin sosmed itu sebetulnya melelahkan. Gambar diambil dari sini
Menjadi admin sosmed itu sebetulnya melelahkan. Gambar diambil dari sini

Proses Kreatif yang Minim

Untuk bikin konten, para admin sosmed sudah dapet “riset” duluan tentang perusahaan yang menyewa mereka, dan terutama tentang produk yang mau mereka promosikan. Kira-kira semacam product training gitulah. Ini maksudnya supaya para admin sosmed nggak asal ngebacot waktu mereka dapet mention dari penonton socmed nantinya. Tapi pada prakteknya, admin-admin dadakan ini nggak diseminarin dulu oleh sang perusahaan penyewa. Sering banget mereka cuman dikasih brief singkat tentang produknya, kadang-kadang malah dikasih brosur doang, atau lebih sinting lagi, adminnya disuruh cari sendiri di internet. :-p

Mismanajemen Waktu

Yang seringkali bikin rese kerjaan admin sosmed, adalah ketika konten masih dalam tahap penggarapan alias belum di-upload untuk jadi update status. Sering banget perusahaan yang jadi klien itu cuman kasih waktu sebentar kepada sang admin sosmed untuk bikin konten. Ketika kontennya udah dibikin rapi jali oleh sang admin dan dikirimkan kepada sang klien untuk diminta persetujuan, tahu-tahu sang klien minta direvisi. Yang nyebelin, kliennya kirim pesan minta revisi itu secara mendadak, pada jam-jam ketika sang admin lagi tidur malem atau pada hari libur.

Admin sosmed umumnya memang nggak pernah masuk kantor agensinya. Kalaupun iya, mungkin satu-dua kali sebulan hanya untuk meeting dengan klien. Tapi handphone yang nggak pernah mati dan penuh dengan permintaan revisi dadakan dari klien seringkali membuatnya nggak bisa tidur nyenyak dan nggak bisa menikmati sekedar hari Minggu.

Isi Konten yang Asal-asalan

Saya juga udah cerita kan di sini, para admin sosmed kadang-kadang harus bertindak sebagai customer service online. Sering lihat di Twitter kan, konsumen mengomel ini itu mengenai keerroran produk kepada admin sosmed, dan adminnya cuman jawab dengan jawaban “seadanya”? Itu karena admin sosmed yang bersangkutan memang cuman sedia jawaban template yang hanya bertujuan menenangkan konsumen, dan mereka memang bukan customer service sungguhan dari perusahaan bersangkutan.

Kadang-kadang malah apa yang diucapkan oleh sang admin sosmed dengan praktek nyata sang perusahaan pun nggak sinkron. Contohnya, ada penonton ngomel via mention di Twitter ke sebuah perusahaan telekomunikasi bahwa internetnya lemot. Sang admin sosmed lalu menghibur sang penonton dengan saran-saran template, antara lain nyuruh sang penonton ganti handset, refresh jaringan, sampai bersihin cache dalam browser sang penonton. Aslinya, memang koneksi sang perusahaan lagi di-maintenance oleh teknisinya karena mau diganti dengan format yang baru, saking aja itu nggak dikasih tahu kepada sang admin sosmed :-p (Kalau Anda dulu pelanggan Sp**d*, Anda pasti ngerti maksud saya)

Makanya, seorang admin sosmed umumnya merahasiakan pekerjaannya kepada orang-orang. Mereka punya semacam kode etika bahwa mereka nggak akan bilang bahwa mereka adalah admin sosmed dari brand Anu, karena itu merupakan rahasia perusahaan. Plus lagian nggak selalu admin sosmed bisa mengeksekusi ide-idenya yang bagus untuk brand yang digarapnya, karena kadang-kadang kemauan klien juga berlainan dengan ide sang admin.

Menjadi admin sosmed, biarpun kerjaannya cuman fesbukan dan twitter-an seperti yang pernah saya ceritakan di sini, ternyata tidak santai sama sekali.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

2 comments

  1. @nurulrahma says:

    Embyeeerrr mbak, aku juga pernah dicurhatin ama admin socmed. Kesannya sering diremehin orang, wong cuma FB-an twitter-an dll gitu, padahaaaaaaal engga segampang itu juga keleussss

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Aku dulu juga meremehkan mereka. Karena alasan itu. Sampai kemudian aku menginterview sendiri admin socmed-nya, dan mulai paham bahwa kerjaan admin socmed itu sangat repot.

      Sebenarnya mau diremehkan atau enggak, tergantung kita sebagai pembawa dari pekerjaan itu. Kalau isi Twitter-nya ya cumak halo/selamat pagi/siang dan sebangsanya, ya bener sih sepele banget. Tapi kalau isi statusnya rada bermutu dan membuat brand itu naik, maka kerjaannya jadi penting.

      Sayang juga aku belum bisa menyebut brand mana yang isi sosmed-nya bermutu. Mungkin kalau ada penghargaan terhadap engagement-nya brand melalui admin socmed, pekerjaan admin socmed akan dipandang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *