Kegiatan CSR yang Ditunggu Masyarakat

Sewaktu dulu saya masih tinggal bareng orang tua dan menumpang baca koran langganan ayah saya, halaman Kompas yang paling sering saya lewatkan adalah halaman foto-foto seremonial dari perusahaan-perusahaan yang diliput Kompas. Kolomnya itu paling-paling cuma 1/3 halaman, isinya cuma enam foto dari enam perusahaan yang diliput. Kenapa saya lewatkan, karena isi fotonya biasanya begini: “Perusahaan X melakukan peringatan Hari Y dengan kegiatan amal Z”, atau “Perusahaan P memberikan sumbangan kepada korban bencana alam Q”, atau “Dalam rangka K, perusahaan L menyantuni panti asuhan M dengan sumbangan sebesar N.” Saya melihatnya itu bosan banget, kesannya perusahaannya sok pamer, dan bau formalitasnya sangat tajam.

Plus lagi kalau saya iseng-iseng tanya kepada karyawannya, “Itu boss lu kemaren ngapain masuk koran sambil salaman senyum-senyum ke kamera?” Pasti jawabannya, “Nggak tau (dan gw nggak mau tau jugak. Itu si boss tahu nama gw pun enggak.)” Begitulah kalau perusahaannya terlampau besar.

Begitulah CSR di mata publik waktu itu, cuma jadi formalitas belaka (karena seperti yang saya tuliskan di sini, CSR itu ada undang-undangnya) supaya perusahaannya nggak benjol. Kadang-kadang karyawannya sendiri tidak tahu bahwa perusahaannya melakukan CSR. Jadi sepertinya CSR cuma jadi urusan petinggi perusahaan, sekedar melakukan kewajiban, tidak terasa manfaatnya untuk karyawannya (apalagi untuk publik).

Padahal dana yang digelontorkan untuk CSR juga tidak sedikit. Rapat untuk melakukan anggaran CSR bisa memakan waktu berhari-hari yang alot, karena pemegang saham perusahaan pasti lebih suka kalau uang kas perusahaannya dipakai untuk ekspansi, untuk menambah-nambah dividen, daripada untuk kegiatan amal yang tidak jelas juntrungannya. Coba bayangkan, kalau perusahaannya sudah sering-sering menyumbang uang untuk korban bencana banjir misalnya, tapi masih saja dimaki rakyat sekitar pabriknya karena pompanya menyedot air tanah untuk sumur rakyat, ya apa gunanya?

Maka dipikirkan ide supaya CSR diadakan dengan kegiatan yang lebih terasa bermanfaatnya buat masyarakat, bukan cuma sekedar menaikkan pamor direkturnya. Badan riset Nielsen menghelat penelitian Doing Well by Doing Good yang isinya mencari tahu kegiatan CSR macam apa yang disukai masyarakat, dan riset ini dilakukan pada 30.000 responden di 60 negara.

Salah satu kegiatan CSR Pertamina, membantu anak-anak yang mengalami kelainan jantung bawaan untuk dioperasi gratis. Gambar diambil dari sini
Salah satu kegiatan CSR Pertamina, membantu anak-anak yang mengalami kelainan jantung bawaan untuk dioperasi gratis. Gambar diambil dari sini

Hasilnya seperti yang bisa dilihat di link ini, bahwa ternyata masyarakat lebih senang kalau perusahaan-perusahaan ini membuat kegiatan-kegiatan yang manfaatnya bisa terasa untuk jangka panjang dan memberdayakan masyarakat itu sendiri, bukan cuma sekedar momentum doang. Contoh kegiatan yang terasa manfaatnya itu seperti penyediaan air bersih dan perbaikan sanitasi. Ini sudah dilakukan oleh PT Samsung Electronics Indonesia (2015) yang bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia untuk bikin tangki air untuk air bersih dan sarana dan mandi-cuci-kakus di Kalimantan Timur. Masyarakat ternyata juga menyukai perusahaan-perusahaan yang peduli untuk mengatasi kelaparan dan kemiskinan. Misalnya merk margarin Blue Band yang berkolaborasi dengan World Food Programme-nya Perserikatan Bangsa-bangsa (2010) menyediakan bantuan makanan sekolah untuk anak-anak yang kekurangan makanan di keluarganya. Isu lain yang juga jadi favorit orang-orang adalah pencegahan kematian anak. Pertamina menjawab ini dengan membayari operasi jantung pada anak-anak di Lampung dan Aceh yang punya kelainan jantung sejak lahir (2010).

Memang kegiatan semacam begini jelas lebih terasa manfaatnya bagi masyarakat, setidaknya untuk karyawannya sendiri. Karyawan mungkin senang kalau diajak melakukan amal yang manfaatnya terasa jangka panjang, dan pada saat yang bersamaan baktinya itu juga bisa terlihat oleh atasannya. Dan para pemegang perusahaan saham perusahaannya juga pasti sumringah melihat uang yang mereka gelontorkan untuk mendanai perusahaan itu dipakai untuk kegiatan-kegiatan yang investatif, baik itu untuk perusahaannya, untuk karyawannya, dan untuk masyarakat juga.

Jadi, jadi, gimana dengan kantor Anda? Kegiatan CSR apa dari kantor Anda yang sudah Anda rasakan sendiri kegunaannya?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

6 comments

  1. ninda says:

    yang aku suka sih donor darahnya… hihi. untuk bisnis unit sendiri per bulannya ada kegiatan sosial. kalau corporatenya malah nggak tau apa aja *LOL. tahunya cuma kalau puasa dan lebaran ada acara bagibagi uangsaku dan makan bareng anak-anak panti asuhan. selain itu gatau saya kak :)))) mungkin karena jarang baca media internal, bacanya blog temen2 muluk :)))

  2. Aprie says:

    Paling banter ikutan palang merah aja di tempat saya. Eh, tapi, blog yang sering ngadain Giveaway itu bisa dibilang bagian dar CSR juga ya. 😀

  3. mawi wijna says:

    tarif ngiklan di kolom seremonial klo g salah sampai jutaan rupiah lho bu Dokter. Uang segitu itu apa ya dananya diambil dari dana CSR juga ya?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Jutaan rupiah, padahal nggak ada yang baca juga. Yang ditulis di situ adalah nama perusahaannya. Pasti iklannya ditujukan untuk memberi tahu Pemerintah bahwa perusahaannya sudah melaksanakan kewajiban. Sebab jika iklannya ditujukan kepada konsumen untuk membeli produk, pasti iklannya juga menyebutkan merk produknya, toh?

      Sebegitu besar dana CSR yang diluncurkan hanya untuk memberi tahu Pemerintah. Alangkah lebih baik lagi kalau bentuk CSR-nya dimodifikasi supaya lebih bisa dikenang oleh masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *