Memilih Smartphone Android, iPhone, BlackBerry, atau Windows Phone?


Bagi kalangan pengusaha, memilih sebuah smartphone itu hampir setali tiga uang dengan memilih pasangan hidup. Smartphone adalah alat untuk bekerja, sehingga setiap spesifikasi di dalamnya harus dipertimbangkan seefisien mungkin. Isu yang paling sering ditanyakan oleh para calon konsumen tentang smartphone saat ini ialah lama kerja baterai smartphone-nya, dan baterai lebih sering ditanyakan ketimbang kameranya. Isu lainnya yang juga mulai trending akhir-akhir ini ialah isu keamanan bertransaksi via smartphone, sering dengan makin banyaknya kejadian pembobolan rekening bank para nasabah melalui kartu kredit yang nomor CVC-nya diinputkan dalam transaksi online. Lucunya, menurut sebuah riset, 33% kemudahan menggunakan smartphone masih menjadi faktor kunci untuk membeli sebuah smartphone, dan 83% konsumen masih merasa kesulitan dalam menggunakan smartphone mereka sendiri. Nampaknya smartphone yang gampang masih jadi pilihan bagi banyak orang, saat ini.

Sekarang ini di pasaran kita bisa menemukan empat macam smartphone berdasar sistem operasinya, yaitu Windows Phone, BlackBerry, iPhone, dan Android. Masing-masing sistem ini punya kelebihan yang bisa membuat produktivitas penggunanya meningkat pesat, sehingga konsumen mesti jeli memilih sistem operasi smartphone mana yang paling cocok untuknya. Sebaliknya kekurangan pada masing-masing sistem justru bisa menjadi kelebihan yang unik untuk penggunanya, oleh karena itu tidak ada smartphone yang jelek, yang ada hanyalah penggunanya yang tidak cocok untuk smartphone tersebut.

Apa kegiatan utama yang kita kerjakan dengan smartphone? Jawaban pertama pasti kirim pesan dan menelepon, bukan motret. Motret bisa dikerjakan dengan kamera, tapi kirim pesan pasti dengan smartphone, kecuali kalau Anda masih beriman kepada burung merpati pos. Karena itu memilih interface untuk smartphone sebaiknya yang bisa langsung memudahkan kita melihat icon Phone, icon Text, atau icon WhatsApp.

Windows Phone smartphone terbaik
Tampilan interface smartphone Windows Phone. Perhatikan barisan icon didominasi aplikasi yang paling sering digunakan oleh penggunanya, yaitu cuaca, berita, kalender, dan Facebook. Gambar diambil dari sini.

Sekarang bayangkan jika kita punya smartphone Android, begitu membuka interface pertama kita langsung puyeng tidak bisa menemukan WhatsApp dalam dua detik pertama, seharusnya itu tanda bahwa kita memang tidak cocok menggunakan Android. Di Android, semua aplikasi dianggap sama, karena itu semua icon sekilas akan nampaknya sama. Tapi coba gunakan Windows Phone, maka kita akan melihat sederetan ubin berisi icon, dan ada ubin yang nampaknya menonjol lebih besar ketimbang ubin yang lain. Di sinilah kelebihan Windows Phone, interface-nya memahami bahwa penggunanya punya skala prioritas, sehingga sistemnya akan mengatur supaya aplikasi yang paling sering digunakan akan nampak lebih menonjol daripada aplikasi yang jarang dipakai. Bahkan bila menelepon dan kirim-kirim pesan bukanlah prioritas kita, kita masih bisa mengatur supaya interface kita menonjolkan icon aplikasi yang lain, misalnya icon Weather (jika pekerjaan kita adalah pilot), icon MSN News (jika pekerjaan kita adalah producer acara berita), atau bahkan icon Amazon (jika pekerjaan kita adalah supplier barang impor). Untuk seorang pengusaha yang sibuk, mengedepankan manajemen waktu, dan menghargai waktu sampai hitungan detik, Windows Phone sangat cocok.

(Saya suka: Microsoft Lumia 950 dan Lumia 640 XL Dual SIM.)

Tampilan aplikasi BlackBerry Hub dalam sebuah BlackBerry Leap. Nampak deretan pesan berturut-turut berupa pesan BBM (Amy Ross), pesan dari socmed Linked In (Andrew Paterson), direct message dari Twitter (Paul Turner), pesan dari forum Marketing Review, E-mail ber-attachment (Megan Acheson), E-mail yang sudah dibuka (Hisham Athas), dan lain-lain. Gambar diambil dari sini.
Tampilan aplikasi BlackBerry Hub dalam sebuah BlackBerry Leap. Nampak deretan pesan berturut-turut berupa pesan BBM (Amy Ross), pesan dari socmed Linked In (Andrew Paterson), direct message dari Twitter (Paul Turner), pesan dari forum Marketing Review, E-mail ber-attachment (Megan Acheson), E-mail yang sudah dibuka (Hisham Athas), dan lain-lain.
Gambar diambil dari sini.

Mungkin sebagian dari kita punya karakteristik ingin mudah langsung dihubungi, baik itu melalui SMS, aplikasi messenger, e-mail, ataupun melalui mention dan direct message di sosmed. Tetapi melihat semua pesan berderetan di kolom notifikasi kadang-kadang terlalu ruwet, karena bercampur-baur dengan pemberitahuan update aplikasi, baterai yang menjelang drained, dan entah apa lagi yang seharusnya jadi prioritas belakangan. Di sinilah kelebihan BlackBerry, karena aplikasi Hub-nya menampilkan langsung semua pesan yang berdatangan dari berbagai sumber. Halaman Hub ini hanya satu swipe saja dari interface utama BlackBerry, membuat posisinya strategis untuk kita yang ingin langsung bisa dihubungi oleh partner maupun klien kapan saja. Untuk pengguna yang baru belajar menggunakan smartphone, sebetulnya BlackBerry ini paling mudah dipelajari daripada sistem-sistem yang lain.

(Saya suka: BlackBerry Leap dan BlackBerry Classic.)

Hasil gambar yang dibidik dengan kamera iPhone. Gambar diambil dari sini.
Hasil gambar yang dibidik dengan kamera iPhone. Gambar diambil dari sini.

Jika kita lebih pandai bicara dengan gambar ketimbang kata-kata, saya rasa lebih tepat jika kita menginvestasikan dana untuk membeli smartphone yang punya kemampuan optimal dalam kamera. Kamera belakangan dengan kemampuan minimal 12 MP cukup baik untuk mengambil gambar yang bisa membanggakan bila dicetak dalam ukuran besar. Kamera depan dengan kemampuan minimal 5 MP akan jadi alat yang bagus untuk wefie (saya akan bicarakan manfaat wefie untuk networking ini, kapan-kapan). Spesifikasi video juga perlu diperhatikan, karena saat ini menampilkan video untuk keperluan bisnis ternyata meningkatkan action yang cukup signifikan dari konsumen. iPhone sejak dulu sudah beken dengan reputasinya sebagai smartphone kamera yang mampu memotret gambar dengan sangat baik di bawah cahaya matahari yang terik maupun di malam yang gelap, dan Apple sebagai produsennya pun melengkapi feature kegiatan potret-shooting ini dengan menyediakan iCloud berkapasitas besar dan sistem operasi kencang yang bisa di-update setiap saat. Feature Live Photos milik Apple bahkan mampu merekam sebuah foto semenjak 1,5 detik sebelum kita memencet icon Capture, sehingga foto pun bisa berubah menjadi film pendek. Bayangkan Anda membuka camera roll dan deretan foto Anda berubah menjadi seperti korannya Harry Potter yang gambarnya bergerak-gerak. Nah, Anda akan mengerti maksud saya.

(Saya suka: iPhone 6s+.)

Oppo R7s Android Smartphone tahan lama
Memilih smartphone Android hendaknya memperhatikan versi OS yang mampu bekerja merekam video dengan durasi yang cukup panjang. Gambar diambil dari sini.

Jika kita dinamis dalam mengikuti trend, ogah ketinggalan aplikasi yang sedang booming dan tidak sudi mati gaya cuma gara-gara kehabisan daya, maka sistem operasi Android memang berjodoh dengan kita. Hampir semua aplikasi yang trending saat ini dikembangkan oleh penggemar Android, antara lain Path, Waze, Face time, dan sebagainya. Jika smartphone Android Anda mengalami gangguan, banyak orang yang bisa menolong Anda karena pengguna Android merupakan mayoritas di Indonesia daripada sistem-sistem yang lain. Seiring dengan berkembangnya versi Android yang lebih baru (Lollipop) dan kapasitas baterai smartphone-nya yang melebihi 3.050 mAh, bekerjanya pun lebih efisien dan smartphone jarang perlu di-charge ulang dalam sehari.
(Saya suka: Samsung Galaxy A8 dan Oppo R7s).

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

4 comments

  1. jensen says:

    Ramenya pilihan smartphone sekarang malah bikin sulit cari hape biasa. Saya lebih suka hape bertombol qwerty tuk nelpon dan smsan. Kebiasaan mungkin. Smartphone buat internetan saja.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sama! Saya juga lebih senang HP Qwerty. Tapi BlackBerry yang paling canggih sekarang pun meninggalkan keyboard QWERTY fisiknya dan beralih ke keyboard virtual, bikin saya merasa rindu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *