Bikin Bayi Lulus ASI Eksklusif

Alhamdulillah, sekarang anak saya Fidel sudah berumur tujuh bulan dan dia masih saja menyusu. Saya bangga banget kalau bicara tentang kegiatan saya mengurus bayi ini, karena Fidel sudah lulus ASI eksklusif (jika Anda belum tahu, ASI eksklusif adalah memberikan makanan kepada bayi berupa ASI saja selama enam bulan pertama kehidupannya, tanpa dicemari oleh makanan/minuman lain termasuk air putih). Banyak sekali teman yang sesama ibu tanya kepada saya, bagaimana caranya saya tahan memberi Fidel cuma ASI, tanpa susu formula barang satu tetes pun. Di masa kini, itu kedengarannya sulit dilakukan, karena sepertinya ide itu tidak masuk akal. Pasti ada saja bisikan-bisikan tidak simpatik yang menggoda iman untuk memberikan susu formula kepada bayi kita: “Nanti berat badan bayinya susah naik lho..”, atau “Nanti payudara ibunya lecet karena nyusu terus..”, atau “Nanti anakmu nggak kenyang-kenyang kalau dikasih ASI doang..”, atau Nanti bayinya ketergantungan sama ASI, padahal ibunya kan juga butuh me time, bekerja, jalan-jalan ke mall, etc..” sampai yang kayak gini, “Kalau bayimu dikasih ASI doang, lha terus SPG susu bayi nanti mau makan apa..?”

Baju ibu menyusui
Memulai komitmen untuk menyusu eksklusif bisa dimulai dengan memiliki baju yang dirancang untuk menyusui. Saya biasanya memilih baju yang memiliki lubang tersembunyi di bagian dada, supaya sewaktu-waktu bayi bisa mengakses mammae saya tanpa saya harus membuka seluruh baju. Baju dengan lubang seperti ini membuat saya bisa tetap nampak gaya ketika sedang menyusu di tempat umum.
Gambar diambil dari sini.

Hahaha..untunglah untuk urusan menyusui ini saya sungguh-sungguh keras kepala, mulai dari menyumbat kuping sampai men-delete contact BBM dari para provokator anti ASI. Mosok harus saya jelaskan lagi di sini apa gunanya memberikan ASI eksklusif kepada bayi sih? Sebetulnya memberikan ASI selama enam bulan tanpa embel-embel susu formula, bubur halus, air putih, dan entah apa lagi itu sangat mudah sekali, asalkan kita punya kemauan (bukan cuma kemampuan) yang kuat. Komitmen untuk memberikan ASI eksklusif sudah saya paku rapat-rapat di otak saya bahkan semenjak saya belum hamil. Saya ingat waktu saya masih berdua saja dengan suami, saban tahajud malam-malam, saya selalu berdoa, “Ya Allah, nanti kalau Kau kasih saya anak, saya ingin kasih ASI saja selama enam bulan, nggak usah yang lain-lain..” Mungkin Tuhan dengar doa saya itu, jadi Dia berikan saya kehamilan. Selama sembilan bulan hamil itu, saya menghabiskan waktu untuk menyiapkan menyusui, mulai dari ikut kelas-kelas singkatnya Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, sampai browsing macam-macam baju ibu menyusui di toko-toko online. Pada usia lima bulan kehamilan saya, badan saya membengkak dan saya terpaksa membeli baju ibu hamil, saya sengaja pilih baju hamil yang bisa dipakai untuk menyusui, dan baju itu masih saya pakai hingga sekarang. Saya menikmati proses menyiapkan menyusui ini (saking asyiknya, saya malah lupa menyiapkan persalinannya :-p), dan perasaan nikmat itu membuat saya akhirnya siap menyusui eksklusif. Dan Fidel akhirnya mendapatkan ASI-nya saja tanpa dicemari yang lain-lain, sampai enam bulan. Manis sekali. 🙂

Apakah selama memberikan ASI eksklusif itu saya tidak mengalami kendala? Oh, tentu saja saya banyak dapat tantangan, Saudara-saudara, dan saya sering frustasi karenanya. Pada hari Fidel lahir, masalah sudah datang karena dia rada malas menangis sehingga dokter anaknya terpaksa mengobservasinya di kamar bayi, sehingga saya tidak bisa tidur sekamar dengannya (padahal seperti yang saya tulis di sini, setiap ibu yang baru lahir butuh tidur bersama bayinya untuk mendatangkan naluri untuk menyusui kan?). Seperti halnya ibu-ibu yang baru melahirkan pertama kali, ASI saya seret bukan main sampai-sampai saya harus memompanya supaya mau menetes (dan menetesnya mirip kran di musim kemarau di Gurun Sahara. Alirannya pelit!). Fidel sempat hipoglikemia dan dokter anaknya minta saya mencarikan donor ASI karena ASI saya yang seret, sehingga saya blingsatan mencari donor ASI perahan (dan berkat persaudaraan ibu-ibu AIMI, saya pun mendapatkan 3 liter ASIP donor untuk Fidel). Bulan pertama, Fidel dan saya masih sering salah posisi menyusui, sehingga dia seringkali menggigit puting saya sampai-sampai suami saya terpaksa blingsatan keliling Surabaya demi cari krim kamilosan (laki-laki mana yang tahan dengar istrinya menjerit setiap kali menyusui?). Lalu karena ini anak pertama, saya masih bodoh untuk mengenali tanda-tanda bayi mengecap-ngecapkan lidah karena kelaparan, sehingga seringkali Fidel baru mendapatkan minumnya setelah dia sudah menangis lama, dan saat itu saya sudah saking stresnya mendengar tangisannya sampai ASI saya jadi seret. Ketika saya sudah bosan di rumah terus bersama bayi dan ingin jalan-jalan ke mall, saya baru menyadari tidak semua mall cukup friendly untuk bayi yang ingin menyusui setiap saat (beberapa mall hanya menyediakan ruang ganti popok, tapi tidak ada ruang khusus menyusuinya). Menjelang Fidel lima bulan, ia kena diare (karena saya iseng makan kari udang), sehingga bobotnya menyusut sekitar 3 ons, lalu neneknya mem-BBM saya dan bilang, “Sudah, Vicky, kasih aja susu formula supaya beratnya naik lagi” (dan itu membuat saya kepingin banting HP).

Mengapa baju menyusui banyak dianjurkan yang bercorak? Karena setiap kali selesai menyusui, ibu cenderung menggendong bayi di bahunya. Ada kemungkinan bayi akan mengeluarkan air susu yang diminumnya dan air susu ini akan menodai baju ibu. Dengan mengenakan baju yang bermotif dan berwarna dasar senada dengan warna susu, noda bayi yang tumpah di baju ibu akan dapat tersamarkan. Gambar diambil dari sini.
Mengapa baju menyusui banyak dianjurkan yang bercorak? Karena setiap kali selesai menyusui, ibu cenderung menggendong bayi di bahunya. Ada kemungkinan bayi akan mengeluarkan air susu yang diminumnya dan air susu ini akan menodai baju ibu. Dengan mengenakan baju yang bermotif dan berwarna dasar senada dengan warna susu, noda bayi yang tumpah di baju ibu akan dapat tersamarkan.
Gambar diambil dari sini.

Tapi alhamdulillah, Tuhan ternyata kasih saya rejeki. Saya dikelilingi teman-teman sesama mama muda yang juga kepingin memberikan ASI eksklusif kepada anak-anak mereka. Kami sama-sama masih hijau, masih newbie dalam menjadi orang tua, dan lucunya, kami juga sama-sama ditekan lingkungan sana-sini untuk mencemari anak kami dengan susu formula. Untungnya kami saling menguatkan satu sama lain, saling memberi semangat untuk tetap dengan komitmen ASI eksklusif kami, saling memberi tips jika salah satu di antara kami merasa kesulitan. Sepupu ayah saya mengirimi saya baby-wrap supaya saya bisa menyusui Fidel sambil wara-wiri di mall. Teman saya menasehati saya supaya nonton film Korea kalau ASI saya sedang terasa berkurang (saya tidak nonton Lee Min Ho, tapi sebagai gantinya saya download video-video stand up comedy :-D). Ketika teman saya mengeluh karena bayinya yang baru berumur dua bulan menangis terus setiap kali disusui dengan miring, saya membantu mengajarinya membenahi posisi tangannya dan menjaga supaya kepala bayinya jangan menjuntai ketika sedang disusui. Dan sebagainya.

Menurut saya, membuat bayi supaya bisa lulus ASI eksklusif itu gampang sekali.

  • Komitmen kuat

Jika dari diri kita sendiri sebagai ibu sudah berkomitmen kuat untuk itu. Saya merasakan ketika saya percaya diri, saya bisa menghalau lingkungan sekitar saya yang tidak pro-ASI. Bergabung bersama forum orang tua pendukung ASI eksklusif di internet, adalah langkah yang strategis untuk itu.

  • Memilih rumah sakit, dokter kandungan, dan dokter anak yang pro-ASI

Minggu-minggu menjelang saya melahirkan, kami sudah sibuk menyeleksi rumah sakit untuk jadi tempat bongkar muatan, karena kami ingin rumah sakit yang ruang bayinya tidak mengandung susu formula sama sekali. Sampai hari ini pun, saya masih mempercayai dokter anak yang sama untuk mengimunisasi Fidel, karena dokter ini tidak pernah menyuruh saya mengganti ASI dengan susu formula.

  • Minta suami menjadi ayah ASI

Saya bisa memberi tahu suami saya bahwa anak kami berhak dapat ASI eksklusif, sehingga suami mempercayai saya dan memutuskan untuk ikut pasang badan menjadi ayah ASI ketika sewaktu-waktu fisik saya mulai lemah (demi Fidel, di rumah pun ia menjadi koki, shopper assistant, dan buruh laundry sekaligus). Suami saya berusaha supaya saya senang, karena ketika saya senang, ASI saya pun mengalir deras.

  • Menyesuaikan hidup dengan ASI
Memilih motif pola garis vertikal membuat badan nampak lebih langsing. Cocok untuk ibu yang badannya cenderung melebar setelah melahirkan. Gambar diambil dari sini.
Memilih motif pola garis vertikal membuat badan nampak lebih langsing. Cocok untuk ibu yang badannya cenderung melebar setelah melahirkan. Gambar diambil dari sini.

Kami pun mengatur ulang hidup kami, berusaha menghabiskan lebih banyak waktu untuk bertiga saja, dan kalau mau piknik pun kami hanya pergi ke tempat yang kira-kira nyaman untuk menyusui (saya sampai hapal semua tempat menyusui di semua mall di Surabaya).

  • Beri tahu semua orang bahwa kita senang menyusui bayi

Suami saya memamer-mamerkan foto anaknya di semua social media, bilang bahwa Fidel cuma dapat full ASI, membuat semua orang ikut bahagia melihat kami bertiga.

  • Telaten, dan nikmati setiap prosesnya

Menyusui membuat saya mengembalikan berat badan saya seperti saat sebelum hamil. Fidel pun tumbuh sesuai dengan kurva Denver, dan perkembangannya sama dengan anak-anak seumurannya. Semua mitos yang bilang bahwa anak ASI itu kurang baik jika dibandingkan dengan anak yang mendapat susu kaleng, pun patah.

Anda ingin bayi Anda mendapatkan ASI eksklusif? Bisa. Berkomitmenlah dulu dengan bayi Anda, maka kalian berdua akan bisa jadi pasangan yang hebat untuk ASI eksklusif.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

14 comments

  1. emang tantangannya banyak… jayden lahir di bawah normal, di rumah sakit dikasih susu formula… tapi begitu pulang, saya ngotot untuk full asi… dengan keyakinan, pasti anaknya akan sehat… akhirnya ampe sekarang 1 tahun 2 bulan dia masih nyusu… tapi saya sempet pengen nyerah waktu dia mulai gigit-gigit… sakitnya ampun ampun deh hehehehe…

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Thanks a lot, Mel. Berat bayi yang di bawah kurva rerata sering dijadikan alasan yang mengada-ada untuk melepaskan bayi dari ASI, tetapi sikap Melissa yang kukuh ingin full ASI bisa memberi inspirasi kepada ibu-ibu lain bahwa bayi berat lahir rendah bukan kalangan untuk full ASI.

      Aku juga nangis keras waktu Fidel gigit-gigit, Mel, tapi aku maksa tetap nyusuin. Dalam kesakitan aku nyusuin dia sambil tanganku pencet-pencet HP browsing cari merk krim untuk mammae yang lecet. Suamiku segera beli krimnya dan aku rajin pakai selama kesakitan kalau digigit.

      Sekarang aku balas komentar Melissa ini sembari nyusuin Fidel. Kalau inget perkara mammae kesakitan itu rasanya aku mau ketawa-ketiwi aja, hahahaha..

  2. fm says:

    Kak vicky, saya masih remaja sih, tapi ingin tanya juga, kalau bayi nanti udah lewat asi eksklusif itu, dia tetep asi sampe 2 tahun, pendampingnya makanan aja (yg makin lama makin padat) atau sufor juga boleh? Mohon sarannya ya Kak haha terimakasih banyak semoga Fidel sehat selalu dan jadi anak baik & cerdas =)

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hai Fabiola, saya senang Fabiola sudah meminati ASI eksklusif ini meskipun mungkin Fabiola belum punya anak.

      Semua bayi dianjurkan untuk mendapatkan ASI sampai umurnya dua tahun, Fab. Sampai umur 6 bulan sebaiknya ASI saja tanpa yang lainnya. Namun setelah umur 6 bulan, ASI ini juga didampingi dengan makanan (organisasi WHO menyebutnya Complimentary Food alias Makanan Pendamping ASI). MP-ASI ini mula-mula cair encer dulu, kemudian secara bertahap diberikan yang lebih mental, dan pada akhirnya yang sepadat makanan orang dewasa.

      Bayi di atas umur 6 bulan sebetulnya boleh diberikan sufor untuk mendampingi ASI (bukan menggantikan ASI). Tujuannya adalah menambah energi yang diperlukan bayi untuk aktivitas tumbuhkembangnya. Namun jika sebelum umur 6 bulan, ASI saja sudah bisa memberikan gizi untuk tumbuh-kembang bayi secara lengkap, tanpa disertai sufor.

      Terima kasih buat doanya untuk Fidel ya =))

  3. Jessie M. says:

    Sangat setuju dengan semua yang kau tulis, Vick. Saya termasuk beruntung karena asi keluar lancar dan mertua saya mendukung dengan membuatkan kacang hijau setiap hari (bayangin, tiap hari) supaya ASI lancar. Dan anak saya yang kedua termasuk agak montok sehingga mentok2 org yg lihat dan mau komentar soal asi, sufor, dsb cuma tanya: “Ini cuma ASI?” Dan biasanya saya mengiyakan dengan bangga. Be happy always, Vicky!

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sulit dipercaya komentar “Ini cuma ASI?” menjadi komentar yang sangat ngehits pada jaman sekarang. Tapi bisa menjawab “ya” untuk komentar itu sangat membanggakan.

      Waktu Fidel lahir, saya dikadoin tas termos untuk botol susu. Alhamdulillah sampai hari ini belum saya pakai. :))

      Gimana rasanya dimasakin bubur kacang ijo setiap Hari, Jes? Mertuamu sungguh baik. Semoga mertuamu sehat selalu ya. 🙂

  4. Mugniar says:

    Waah ikut senang Mbak Vicky bisa lulus ASI eksklusifnya. Banyak yang menyerah karena masalah2 seperti itu, lho. MAsalah2 yang Mbak Vicky alami sering dijadikan kambing hitam utk ngasih sufor ke bayi.

    Saya ikut senang kalo ada ibu2 yang sukses ngASI anaknya. Anak saya tiga2nya juga ngASI. Saya juga keras kepala. Suami saya juga untungnya keras kepala. Penentang terbesar saya adalah kedua orang tua saya dan saya tinggal serumah dengan mereka. Itu penyebab utama stres saya dulu. Untungnya saya pasang niat kuat2 bahwa “ASI saya pasti cukup”. Dan alhamdulillah, tidak sampai seret. Tapi tidak berlimpahan seperti mama2 lainnya. Selalu cukup sampai anak2 saya yang berhenti sendiri (kecuali si tengah, disapih baru berhenti. Dua anak laki2 saya berhenti atas kemauan sendiri hihihi).

    Semoga sampai dua tahunnya Fidel, bisa terus semangat nyusuinnya yaa

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, memang tantangannya terbesar kadang-kadang justru datang dari orang tua kita sendiri. Banyak sekali ketidakcocokan antara saya dan orang tua saya mengenai cara pengasuhan anak yang membuat saya juga stres seperti Mbak Mugniar. Keinginan besar untuk memberikan yang terbaik kepada anak kita, kadang-kadang harus bersinggungan dengan dogma “Kalau kamu nggak mau patuh pada orang tua, kamu anak durhaka”. Padahal cara orang tua tidak selalu merupakan cara yang baik.

      Memang keras kepala adalah kuncinya, Mbak. Dan suami adalah partner setiap para istri untuk memberi ASI eksklusif. Masa 6 bulan pertama kehidupan bayi adalah masa yang tidak stabil untuk pasangan suami istri, jadi kompaklah untuk sama-sama rasional dalam memberi makan bayi.

      Toss ya kita, Mbak Mugniar. Saya masih berjuang supaya Fidel bisa lulus ASI dua tahun 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *