Tanda Sepatu Anak Ideal

Sering gemas saya kalau jalan-jalan dan lihat anak-anak berkeliaran di tempat umum dengan kaki nyeker alias tidak pakai alas kaki. Salah satu teman saya punya dua anak laki-laki, yang paling besar sudah berumur lima tahun, disuruh pakai sepatu itu susahnya minta ampun. Teman saya mencoba mendidik anaknya itu pakai sandal, susah juga dan seringkali sandalnya itu dicopot oleh si anak dan si anak pun berlarian dengan kaki telanjang. Tanpa sepatu. Saya tepok jidat melihatnya.

Anak saya sendiri baru berumur tujuh bulan, tapi saya sudah berusaha mendidiknya untuk pakai sepatu. Dia sedang belajar merangkak sekarang, maka saya memakaikannya kaos kaki yang ada feature anti selipnya supaya dia terbiasa memakai alas kaki. Namun saya sudah berusaha mencari tahu bagaimana mendidik anak supaya mau pakai sepatu. Karena ternyata bagi sebagian orang tua, itu pekerjaan susah.

“Anakku laki-laki,” kata teman saya itu beralasan. “Nggak bisa diam. Makanya susah kalau mau dipakein sepatu.”
Keluarga itu punya mobil. Kedua anaknya selalu disuruh membawa sepatunya kalau mereka mau pergi jalan-jalan, tapi begitu sudah masuk mobil, sepatunya dilepas dan kaki mereka naik ke bangku mobil. Biasa terjadi?

sepatu anak heytoo
Sepatu anak sebaiknya selalu membuat anak nyaman selama memakainya.
Gambar diambil dari sini

Well, kalau menurut saya sih, “nggak bisa diam” itu kodratnya anak-anak. Nggak ada hubungannya dengan jenis kelamin si anak. Justru kalau anaknya diam-diam aja, saya malah curiga. Jangan-jangan anaknya sakit perut?

Ada urusan yang lebih penting pada sepatu, daripada sekedar gaya-gayaan. Sepatu itu melindungi kaki. Kaki itu kunci kualitas hidup kita. Kaki yang nggak enak, berkontribusi besar untuk mengacaukan aktivitas kita. Tanda-tanda kaki yang nggak enak itu seperti ini:

  • Terasa berat, bisa terjadi karena ukuran sepatunya kebesaran.
  • Terasa sempit, bisa terjadi karena sepatunya kekecilan
  • Kaki nggak lentur, bisa terjadi karena sol sepatu yang kaku, atau justru solnya terlalu lemah
  • Terasa gatal, bisa terjadi karena kakinya jamuran, atau habis digigit cacing atau serangga

Anak yang mengalami hal-hal seperti ini di kakinya, tidak akan betah memakai sepatunya sendiri. Jadi kita yang menjadi orang tua mesti lihai dalam memilih sepatu untuk anak.

Joseph Stern, ketua perhimpunan dokter ahli kaki di Kanada, bilang di sini bahwa anak yang cocok dengan sepatunya, ketika jari-jemari kakinya diraba di ujung sepatunya, jari-jemarinya nggak berdempetan, apalagi sampai tumpang tindih. Solnya fleksibel di bagian telapak kakinya, sehingga solnya bisa ditekuk-tekuk. Tetapi sol di bagian tumitnya mesti kaku karena tumit menopang sumbu tubuh si anak, sehingga kalau berjalan dengan tumit yang kaku, si anak nggak akan merasa mau terpeleset. Malah disarankan kalau sepatu anak itu sebaiknya diikat dengan tali atau Velcro supaya tidak gampang copot. Karena memang kodratnya anak tadi, tidak bisa diam.

Nggak masalah sepatu yang dia miliki itu kebetulan ialah sepatu anak branded yang tidak murah, tetapi yang penting anak punya sepatu yang bisa dia pakai sehari-hari, termasuk untuk sekolah. Model sepatu anak mungkin macam-macam, ada yang low cut, ada yang mid cut, ada juga yang boot cut. Mau pilih yang mana? Silakan buka tulisan saya di sini..

 

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

14 comments

  1. @nurulrahma says:

    Anakku duluuuuu juga syusyah mbaaak. Gatel dan risih, katanya. Tapi terus yo aku edukasi sebisa mungkin lah. Alhamdulillah, sekarang kalo kluar2 ga pernah nyeker

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Be’e sepatu anakmu ada penunggunya, makanya bikin gatel, hahahaha..

      Aku lagi ngajarin anakku pakai sepatu nih, mumpung dia lagi belajar berdiri. Semoga dia nggak jadi risih juga.

  2. Keke Naima says:

    setuju, kalau anak gak bisa diam itu gak ada hubungannya dengan gender. Menurut saya, terbiasa memakai sepatu bisa karena kebiasaan juga. Saya punya keponakan yang susah banget dipakein sepatu karena gak pernah dibiasain. Kemana-mana selalu pakai sendal. Akhirnya, menjelang usia masuk sekolah, orang tuanya kerepotan karena anaknya susah sekali pakai sepatu. Selalu saja dilepas.

    Kalau saya dari kecil selalu dipakaikan sepatu. Bahkan menurut cerita orang tua saya, kalau belum dipakaikan sepatu, saya belum mau turun dari kasur hehehe. Suami juga terbiasa pakai sepatu. Jadi anak-anak saya juga terbiasa pakai sepatu.

    Setuju, kalau sepatu bukan untuk gaya-gayaan. Makanya saya dan suami cukup detil ketika memilih sepatu. Termasuk sizenya. Kayaknya enggak, deh, cari sepatu yang kekecilan atau kebesaran. Termasuk untuk anak-anak dimana banyak yang menyarankan kalau beli sepatu anak mending agak kebesaran biar lama dipakainya 😀

  3. paulasuseno says:

    Menurutku itu masalah kebiasaan. Kalo dari kecil diharuskan pakai alas kaki (sandal ataupun sepatu) diluar rumah, mereka akan terbiasa. Malah seharusnya dari saat anak belajar jalan. Karena anak pasti lebih suka nyeker kalo belajar jalan, kan lebih bisa merasakan tapak kakinya.
    Tapi aku setuju sepatu anak harus yang enak, empuk, lentur dan ga sakit.
    Ga harus mahal, banyak kok sepatu anak brand medium yang nyaman dipakai
    Sepatu anak saya tidak ada satupun yang bertali, karena berdasarkan pengalaman, gampang copot talinya, walaupun udah diiket dibuntel seerat mungkin. Kalo diiket sampe pendek, mamanya yang kesulitan kalo harus buka sepatu trus pasang lagi, laamaaa, ga efektif, anaknya keburu bete.
    Bisa juga dilihat di pasaran, sepatu anak kebanyakan ga pake tali, mereka pake sistem tempel lepas. Mungkin banyak ibu2 kayak saya yang protes dengan sepatu anak bertali.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sistem tempel lepas maksudnya Velcro ya?

      Paula benar. Saya lihat anak yang sudah biasa dipakaikan sendal sejak kecilnya, sampai besar akan lebih senang pakai sendal dan malah risih kalau pakai sepatu.

      Sebetulnya terserah masing-masing orang tua mau membiasakan anaknya pakai sepatu atau sendal. Tapi saya ingin menekankan pemahaman tentang kesehatan kaki. Dan sepatu yang suportif memberikan kontribusi yang besar untuk mendapatkan kaki yang sehat.

      1. paulasuseno says:

        Namanya velcro ya? hehehe

        Kesehatan kaki ya? Aku bacanya ga bener berarti hahaha

        Kakiku termasuk ga simetris. Seharusnya jempol kaki tuh sedikit lebih pendek dari telunjuk kaki ya yang bener? Jadi istilahnya jari kakiku tyuh rata miring dari jempol menurun sampe ke kelingking
        Kata mamaku itu soalnya aku pake sepatu kekekecilan pas kecil.

        1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

          Nah, itu maksudku tentang kesehatan kaki. Sepatu yang muat untuk kaki akan membuat jari-jemarinya kaki tumbuh leluasa. Bayangkan jika sepatunya kekecilan, tentu pertumbuhan salah satu jari kaki akan terhambat.

  4. Mugniar says:

    Anak-anak saya tidak sulit memakai sepatu meskipun tiga2nya terbilang aktif, Mbak.
    Memang harus memerhatikan kenyamanan mereka dalam bersepatu.

  5. mawi wijna says:

    Ini khusus untuk anak-anak, ataukah berpengaruh juga saat mereka dewasa bu Dokter? Soalnya, umumnya masyarakat kita kan masih memelihara budaya “nyeker”. Kalaupun di tempat umum, mayoritas lebih banyak yang memakai sandal. Kalau anak-anak dialihkan untuk memakai sandal bagaimana?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Kelebihan sepatu dari sandal adalah sepatu menjaga kaki si anak dari gangguan-gangguan seperti lecet, tergores, atau sengatan hewan-hewan kecil yang bisa melukai telapak kaki si anak. Gangguan macam luka tusuk hewan serangga saja bisa membuat telapak kaki kegatalan yang kemudian membuat tidak nyaman, apalagi sampai lecet atau tergores. Sayang kan kalau anak jadi sungkan bermain hanya karena kakinya tidak nyaman oleh penyebab di atas? Padahal bermain itu sangat perlu untuk meningkatkan kecerdasan si anak. Jadi sediakan sepatu yang pas untuk melindungi kaki si anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *