Berburu Kebaya Modern untuk Pengantin Betawi

Setiap kali saya dapat undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan, saya sering tanya duluan, menikahnya pakai adat apa? Buat saya menonton adat pernikahan yang berbeda-beda asalnya, bikin pengetahuan saya semakin kaya. Saya paling semangat kalau lihat baju pengantin tuan rumahnya, sehingga asal adat dari sang pengantin akan membuat saya lebih tertarik untuk mengagumi kostumnya. Indonesia punya ratusan suku yang tersebar di seluruh negeri, jadi otomatis Indonesia punya ratusan cara untuk mendandani pengantin-pengantinnya. Bener kan?

Kebanyakan resepsi yang saya hadiri adalah resepsi adat Jawa dan Sunda, jadi buat saya kedua adat itu sudah nggak terlalu berkesan buat saya (saya sendiri menikah dengan adat Jawa, dan memakai baju pengantin berupa kebaya modern a la Jawa pula). Saya pernah menghadiri pernikahan adat Bali, dan kostumnya membuat saya semangat ingin memoto. Baru-baru ini abang saya menikahi gadis asal Flores, tetapi saya sedikit kecewa karena ternyata mereka memilih mengadakan pesta di kawasan Cibubur dengan berpakaian gaun pengantin Barat, padahal saya kepingin melihat mereka berkostum a la pengantin Flores. Barangkali susah menemukan vendor penyedia alat-alat menikah a la Flores di Jakarta.

Ngomong-ngomong soal kostum adat untuk menikah, ada salah satu kostum adat pernikahan yang rada mahal untuk saya saksikan, yaitu baju pengantin adat Betawi. Aneh banget saya punya banyak kawan di Jakarta, tapi mereka jarang menikah pakai adat Betawi (mungkin karena memang aslinya mereka orang Jawa, orang Batak, manapun pokoknya bukan orang Betawi). Payahnya kalau saya iseng menelusuri vendor-vendor pernikahan kelas premium di Jakarta, jarang banget yang mempromosikan kostum pengantin a la Betawi. Ada sih saya nemu satu-dua vendor yang melayani pernikahan Betawi lengkap dengan tim tanjidornya, tetapi tidak banyak yang terkesan premium. Kostum-kostumnya umumnya kelas ekonomi banget, mengingatkan saya kepada pernikahan si Pitung (padahal waktu si Pitung menikah, saya belum lahir :-p).  Seharian ini saya browsing Google dengan kata kunci model kebaya modern Jakarta untuk pengantin, dan kebanyakan artikel malah copy paste dari artikel yang lain sehingga saya bingung mana yang kira-kira paling original. Kesimpulan saya, memang jasa wedding planner premium untuk pernikahan a la Betawi itu adalah produk yang langka.

Padahal, baju pengantin a la Betawi nggak kalah ribetnya seperti kostum pengantin suku-suku lainnya. Kebaya pengantin Betawi dirancang dengan model kebaya mirip pengantin Tionghoa, berupa kebaya dari kain satin yang panjang sampai lutut (mereka menyebutnya kun), dengan model bawahan model rok panjang melebar mirip duyung (yang disebut tuaki). Kebaya ini masih ditutupi dengan kain khusus untuk menutupi dada, dan kainnya didesain sedemikian rupa dengan hiasan-hiasan dekoratif yang mirip tumbuhan teratai atau buah delima. Selop yang dipakai pengantinnya khusus, mirip perahu (mungkin karena suku Betawi begitu terkesan dengan kendaraan perahu yang dipakai suku Tionghoa untuk berdagang). Tapi yang paling ribet  adalah tatanan rambutnya. Sudah rambutnya harus disanggul dibentuk mirip stupa, sang pengantin masih harus memakai mahkota dengan cadar bling-bling. Itu belum termasuk bonus roncean melati, plus selusin dekorasi berupa kembang goyang, kembang rumput, dan empat ornamen berbentuk burung hong.

Kebaya pengantin Betawi yang klasik biasanya berwarna merah, meskipun kadang-kadang beberapa pasangan memilih warna hitam. Tetapi akhir-akhir ini saya juga beberapa kali menemukan foto pengantin Betawi kekinian yang memilih model kebaya modern dengan warna tidak konvensional seperti warna hijau, biru muda, atau putih. Jika Anda ingin menikah a la Betawi, menurut saya lebih baik Anda tentukan warna dekorasi pelaminannya saja dulu, baru tentukan warna baju pengantin. Karena percuma jika kostum Anda sudah bagus-bagus, tetapi begitu difoto, pengantinnya malah “menghilang” di antara glamour-nya dekorasi pelaminan yang warnanya sudah mencrang banget.

Ada banyak salon yang menyediakan jasa make up dan sewa kebaya modern untuk pernikahan a la Betawi di kawasan Jabodetabek, salah satunya Aluira Make Up and Kebaya. Tidak cuma menyediakan sewa baju pengantin Betawi, salon di kawasan Jatiwaringin ini juga menyediakan kebaya-kebaya encim a la Betawi dan aneka model kebaya modern lainnya untuk dipakai dalam acara formal.

 

Menggunakan kebaya untuk pernikahan sebetulnya bukan untuk melanggengkan budaya negeri sendiri, menurut saya sih. Karena pemakai kebaya pertama itu sendiri bukan orang Indonesia, melainkan imigran-imigran Tionghoa yang tinggal di Indonesia. Tetapi membuat acara pernikahan dengan memakai kostum adat sendiri merupakan pengalaman yang mengesankan untuk diceritakan, dan kita beruntung karena di dunia ini, nggak semua bangsa bisa mengalami itu.

Mau cari vendor pernikahan di sekitaran Jakarta? Silakan klik http://www.bridestory.com/indonesia/jakarta/bridal

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

6 comments

  1. Mutiara fajrin says:

    Makasih mbak vicky tulisannya menginspirasi banget, saya mungkin salah satu yg tertarik dan berencana menggunakan adat pernikahan betawi pada pernikahan saya nanti, kebetulan calon saya org betawi asli dan ibu saya jg asli betawi.. Tulisan mbak jd pengingat bgt nih buat berusaha cari vendor yg msh lengkap untuk adat betawi dijakarata.. Thanks a lot

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Halo Mutiara yang mau menikah, terima kasih sudah datang pada artikel ini.
      Senang banget masih ada yang mau menikah dengan adat Betawi, karena berarti masih ada yang ingin melestarikan adat orangtuanya.

      Bolehkah saya kasih saran? Nanti kalau Mutiara jadi menikah dengan pakaian adat Betawi, tolong upload foto Mutiara sambil kasih caption yang mengandung “kebaya pengantin Betawi” atau semacam itu? Supaya warga internet bisa tahu, oh kayak gini lho baju pengantin Betawi model jaman sekarang 🙂 Karena foto pakaian pengantin Betawi sekarang sudah langka banget.

  2. Mugniar says:

    Saya juga suka, Mbak liat kostum tradisional di acara pernikahan. Suka kecewa juga kalo ternyata pakaiannya pakaian moder, malah yang ala ala barat begitu. Aish. Padahal negara kita kan kaya banget, kan ya?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Beberapa orang ternyata memang nggak pantes pakai pakaian tradisional, Mbak.

      Contoh: Untuk menggunakan kostum pengantin a la Sunda, orangnya perlu pakai kain batik yang dililitkan di sekeliling pinggangnya. Salah satu teman saya ternyata nggak terampil berpakaian seperti itu, karena duduknya kangkang, orangnya jingkrakan, dan semacamnya begitulah. Sehingga sewaktu menikah, ia milih pakai pakaian a la pengantin Barat. Di balik kostum rok putih panjang, orang nggak akan tahu bahwa ia duduk kangkang.

      Iya, ini sebenarnya terkait masalah kebiasaan. Bagaimanapun sebagus apapun sebuah pakaian, nggak akan nampak cantik kalau pakaiannya nggak kawin dengan pemakainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *