Hobi Bikin Video yang Menguntungkan

Suka ngumpulin video lucu dari YouTube? Kenapa nggak coba upload video bikinan sendiri?

“Saya kan nggak lucu, Sis,” mungkin itu jawaban Anda.

Lalu saya mesem-mesem. Pertama, saya nggak suruh Anda bikin video lucu. Saya cuma suruh Anda bikin video sendiri. Kedua, nama saya bukan Sis. Saya bukan admin online shop.

Lupakan.

Video sedang booming akhir-akhir ini. Dengan adanya Wi-Fi gratis di tempat-tempat umum, jadi sering di-bully orang buat upload video bikinan mereka ke YouTube. (Kalau pakai kuota milik sendiri sih emoh. Abisnya kan paket data masih mahal.. #SuaraPelit)

Tapi saya sendiri belum punya channel langganan serius di YouTube. Sebabnya, saya belum nemu kawan yang bisa bikin video yang bermutu, enak dilihat, enak didengar. Saya sendiri kalau nyuting pun masih amburadul. Nyuting anak saya sendiri pun saya masih canggung. Kalau saya mbuntutin anak saya yang lagi demen merangkak sambil nyuting, pasti kameranya goyang-goyang. Selalu ada adegan ketika saya nggak sengaja malah nyuting lantai, nyuting langit, gambar jadi miring, dan semacamnya, cuman gegara saya lupa tekan tombol pause.

“Lho, kan ada aplikasi edit video?”

Iya, betul. Sebut aja Adobe Premier, AVS, Viva Video, Windows Movie Maker yang berat banget itu. Dan aplikasi edit video yang gratis itu banyak. Tapi saya belum mencantumkan belajar aplikasi editing video dalam skala prioritas saya. Mungkin karena saya, dan kebanyakan orang Indonesia, masih menganggap bikin video itu hanya sekedar hobi.

Edit video
Aplikasi edit video kini semakin banyak dan bila dicermati dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan.
Gambar diambil dari sini

Padahal, bikin video merupakan salah satu contoh hobi yang menghasilkan uang. Saat ini, kebutuhan akan (orang yang bisa mengedit) video kini semakin melunjak. Video yang bisa menjadi iklan TV, lebih kuat memicu penonton membeli sesuatu daripada sekedar membaca iklannya di majalah. Di acara-acara diskusi di tempat umum, video adalah ice breaker yang efektif daripada sekedar mendengarkan opening dari MC-nya yang penuh bunga-bunga membosankan. Jika Anda adalah pengusaha yang ingin memperkenalkan produk kepada konsumen, konsumen lebih tertarik melihat presentasi produk melalui video daripada disuruh membaca brosurnya.

Persoalannya, video bukan sekedar shooting belaka. Video butuh editing supaya video yang sudah dishooting itu menjadi video yang enak untuk dilihat dan bisa menyampaikan pesan dengan baik. Kemampuan untuk mengedit video inilah yang sekarang masih jarang dimiliki orang, biarpun jumlah software aplikasi editing video yang gratis itu sudah bejibun. Proses cara editing video sendiri terhitung rumit:
1) pasca shooting, menghasilkan file video yang formatnya harus bisa dibaca oleh computer/handphone manapun
2) rough cut, memotong adegan-adegan yang kira-kira nggak sesuai dengan scenario yang diinginkan (mosok adegan kamera acak menghadap lantai mau dimasukin?)
3) final edit, menyusun struktur rangka video berdasarkan adegan yang sudah di-shoot (karena bukan tidak mungkin pengambilan gambar bukan dilakukan secara kronologis)
4) trimming, memotongi adegan yang berlebihan supaya jalannya cerita video menjadi halus
5) memasukkan sound dan musik untuk latar belakang
6) rendering, menyatukan semua material untuk menjadi sebuah video yang utuh dan bisa dipresentasikan dengan nyaman

Ribet? No wonder. Sebuah video yang shootingnya sampai tiga hari, setelah diedit pun durasi akhirnya cuman tiga menit 😀

Untuk kompetensi mengedit video, saluran resmi di Indonesia masih sedikit. Kuliah tentang editing video diselipkan di fakultas-fakultas komunikasi, informatika, dan desain grafis. Di Institut Kesenian Jakarta, saya nemu S1 jurusan video editor di Fakultas Film dan Televisi. Tapi jujur, kalau saya ditanyai siapa orang yang berprofesi sebagai video editor, sampai hari ini saya nggak tahu. Lebih gampang kenal nama sutradara daripada nama video editor.

Padahal kemampuan video editor bisa jadi sumber rejeki yang bagus kalau dimanfaatkan untuk biro-biro production house dan biro iklan, apalagi stasiun tv. Bahkan kalau kita tidak berminat untuk berkarier di perusahaan penyiaran atau perusahaan film milik orang lain, kita bisa memanfaatkan hobi yang menguntungkan ini untuk bikin biro desain grafis yang menjual jasa premium berupa bikin video company profile untuk konsumen korporat (kerja bikin video untuk konsumen korporat itu kayak apa? Lihat di sini ya). Kalau kita adalah pekerja kantoran seperti orang kebanyakan, dan kebetulan sering ditodong oleh boss untuk bikin presentasi, presentasi kita jauh lebih menarik jika menghadirkan video, asalkan videonya sudah diedit dengan baik, tentunya.

Edit video bisa memakai software aplikasi gratisan. Yang penting, untuk bisa mengedit dengan baik, kita perlu banyak berlatih mulai dari video yang kita shooting sehari-hari. Kalau sudah lihai mengedit video kecil-kecilan, baru kita mulai melirik hardware mana yang pas untuk mengedit video bikinan kita. Mengedit video mungkin memusingkan, tapi sudah menjadi salah satu cara menghasilkan uang banyak. Namanya mungkin cuma mengedit video, tetapi potensi bisnis dari editor video ini lebih besar daripada sekedar menginstall Windows Movie Maker gratisan di laptop kita.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

4 comments

  1. Jarwadi MJ says:

    makanya pakai iphone 6s plus, bisa shoot, edit dan publish langsung dari iphone, ngga perlu ribet transfer dan edit di komputer dulu, hihi

    editnya pakai imovie, kereen

  2. ninda says:

    admin onlen shop sekarang sudah berubah nama jadi mimin mbak, gitu min.. eh mbak 😀
    nonton video lucu selalu menyenangkan, juga video tutorial entah memasak atau makeup gitu… tapi ya gitu sama seperti kebanyakan orang, saya lebih seneng nonton daripada bikin video.

    kalau mau praktis ala gaptek bisa editing di ponsel mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *