Kenapa Harga Edit Video Layak untuk Mahal

Jika kita bisa mengobrak-abrik dapur seorang profesional, maka kita akan mengerti kenapa mereka memasang tarifnya mahal.

Ada suatu masa ketika saya ditodong bikin film untuk kepentingan sekolah, dan itu bikin saya mesti nyeberang sebentar ke dunia perkomputeran. Saya kirain bikin film itu gampang, cuman bikin scenario, syuting, mainkan. Bikin scenario sih mudah, seni mengarang indah itu cemen buat saya. Perkara syuting saya delegasikan ke teman, coz dia lebih becus pegang-pegang kamera, jauh dari saya yang masih suka ketuker-tuker mana tombol Rec dan mana tombol Off, wkwkwkwk.. Mainkan kan tinggal play di Movie Player-nya aja toh?

Tetapi ternyata, begitu saya memutar ulang film yang saya sutradarain sendiri, film sepanjang 45 menit itu bikin saya sakit mata, sehingga saya langsung menggumam bak Voldemort digigit Nagini, “Ulang lagi syuting-nya.”

Tentu saja saya nggak sungguhan mengucapkan itu, coz kalau beneran, maka seluruh crew akan menghajar saya dengan handycam. (Yes, kami menggunakan video camera amatiran yang suka dipake orang-orang buat nyuting keluarga yang lagi liburan.) Untungnya, seorang kawan membisiki saya begini, “Kalem aja, gw punya temen yang bisa ngedit video.”
Singkat cerita, kami pergi ke rumah seorang kolega yang juga sesama dokter tapi kebetulan punya passion di bidang perkomputeran. Untuk menyembah dia supaya mau ngedit video kami. Atau setidaknya, membuat film yang sudah kami syuting susah-payah supaya layak untuk ditonton, setidaknya nggak bikin penonton kabur dari teater dalam tiga menit pertama.. :p

Sang editor amatiran mengerjakan dengan gratis. Asalkan kami temenin selama dia lagi ngeditnya. Lha selama saya kawal proses editing itu, saya nungguinnya sampai gempor. Gila, ternyata ngedit video itu ribet banget. (Sudah tahu kan prosesnya ngedit video itu kayak apa? Saya pernah menulisnya di sini.)

 

Harga edit video
Harga edit video yang terbilang murah bisa jadi karena mereka hanya rough cutting doang.

Dan saya langsung ngerti kenapa begitu sulit menemukan orang yang sungguhan bisa mengedit film yang enak ditonton. Editing video itu beneran skill yang butuh passion, dedikasi, dan .. hardware yang pas.

Kau nggak bisa ngedit video yang remarkable kalau laptopmu cuman ngandalin Intel Core i3 pada layar yang cuma 11 inci, apalagi dengan storage RAM yang sesempit rumah sangat-sederhana-selonjoran-saja-susah, jangan harap! Semua video editor dan bahkan desainer grafis bicara sama saya bahwa kerjaan seniman digital tingkat tinggi gini butuh spesifikasi yang tinggi juga.

RAM
First thing first, aplikasi untuk video editor saja sudah berukuran gede. Kalau RAM-nya minus dari 8 GB, laptop bisa cepat panas dan cepat nge-hang. Nge-hang inilah yang jadi musuh utama para editor video karena merusak konsentrasi ketika sedang bekerja ngedit.

Storage
File video pasti besar-besar. Jadi ya perlu kapasitas penyimpanan yang banyak. Biasanya butuh minimal storage sebesar 1 TB.

Processor
Yang namanya mengedit, sering banget user-nya harus buka banyak aplikasi dalam saat bersamaan. Padahal buka banyak program bisa potensial banget bikin computer nge-hang. Solusinya ya gunakan laptop dengan processor yang core-nya banyak. Minimal i7 bisa bikin kerjaan laptop lebih efisien sewaktu editornya membuka banyak aplikasi sekaligus.

Kartu grafis
Graphic card adalah komponen utama yang bikin laptop seorang video editor lebih rumit daripada laptop profesional lainnya. Bayangkan, ketika profesi lain sudah cukup puas dengan VGA card bawaan Intel, seorang video editor butuh graphic card ekstra untuk melengkapi kartu grafis bawaan Intel sekalipun. VGA card NVidia Geforce termasuk yang sangat diincar untuk bikin sebuah laptop editing video kerja mumpuni, antara lain karena faktor tampilan grafisnya yang nampak lebih hidup ketimbang bawaan Intel tunggal.

Baterai
Baterai jelas minta yang tahan lama. Biarpun pada prakteknya sang laptop lebih sering ditancepin ke charger, tapi tidak menutup kemungkinan penggunanya bisa kerja di sembarang lokasi, nggak cuman di sudut kamarnya yang berantakan doang. Editor video biasanya orangnya kreatif, ledakan ide bisa terjadi setiap saat dan di mana pun ia berada, jadi nggak asyik kalau pas lagi kreatif-kreatifnya ia nggak bisa nyalain laptop cuman gegara lagi kehabisan batre.

Desain
Penampilan laptop boleh jadi prioritas urusan belakangan, tapi tetap aja faktor yang satu ini masih tetap jadi pertimbangan. Karena editor video sekarang senang bekerja di mana aja, maka ia bisa dipastikan akan membawa laptopnya ke mana aja. Makanya mereka lebih suka laptop yang ringan, yang kalau dibawa berasa seperti lagi megang file binder note doang. Belum lagi kalau dia juga frontliner yang tugasnya nego sama klien, ia harus bisa mempresentasikan proyek videonya setiap saat kepada klien. Kalau laptopnya dari awal sudah kelihatan cantik bahkan sebelum dinyalakan, dan ketika dinyalakan pun loadingnya nggak sampai setengah menit, niscaya kliennya bakalan terkesan banget biarpun filmnya jadinya masih gombal.

Pantas kan kalau video editor itu tarifnya mahal? Karena laptopnya aja udah mahal, apalagi skill yang mereka punya pun masih terbilang langka.

Sekiranya anak saya nanti menunjukkan gelagat senang nyuting-nyuting video, saya bakalan nabung buat beliin dia laptop yang bagus sekalian supaya dia bisa belajar ngedit video. Karena kalau pun nanti dia nggak jadi video editor profesional, skill editing video masih bisa dia pakai untuk menunjang pekerjaan yang lain dan itu memberi dia nilai tambah yang sangat besar.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *