Mengapa Orang Segan Membuat Kartu Nama?

Coba cek dalam dompet Anda, apakah di dalam sana ada kartu nama bertuliskan nama Anda?
Kalau iya, coba cek, apakah kartu nama itu sudah menimbulkan tujuan yang Anda inginkan?
Tapi kalau belum ada kartu nama, coba tanya diri sendiri, kenapa Anda belum membuat kartu nama?

Ada banyak alasan kenapa orang masih sungkan untuk membuat kartu nama. Penyebabnya macam-macam, tapi umumnya karena hal berikut ini:

Merasa kartu nama sudah digantikan kontak HP
Banyak yang merasa nggak butuh membuat kartu nama karena alasan simpel: Pada jaman digital begini, ketika identitas orang tinggal dicatat saja di dalam HP, ngapain sih butuh kartu nama? Kartu nama itu kertas, sedangkan kita sudah hampir-hampir nggak suka menyimpan kertas sekarang. Kartu nama sangat mudah hilang, orang belum terbiasa memiliki card name holder. Makanya bagi kalangan pengrajin dompet, dompet kartu nama bukan barang yang mudah laris. Masih lebih gampang jual dompet STNK daripada jualan dompet kartu nama.

Tapi gini aja, mari kita studi kasus sedikit. Anggap saja saya kenalan sama seseorang, lalu orang itu minta nomor HP saya. Kemungkinan gestur yang terjadi adalah dia mengucapkan pertanyaan minta nomor telepon itu sambil tangannya dengan lincah mengeluarkan HP-nya sendiri dari saku celananya. Tapi..saya nggak yakin dia akan segesit itu. Pasti ada jeda waktu sekian detik untuk mengeluarkan HP, menyalakan tombol Standby, melakukan gerakan Swipe untuk Unlock, lalu mengetuk menu Contact, lalu mengetuk icon Add Contact, lalu mengetik nama, dan akhirnya baru mengetik nomer telepon..aah..kelamaan! Belum lagi kalau dia salah ketik, atau Autotext membuat keyboard-nya salah simpan.

Tapi coba bayangkan apa yang akan terjadi jika saya langsung berikan saja kartu nama saya, maka memori tentang diri saya akan langsung dia miliki di dalam saku celananya, hanya dalam satu detik. Bahwa dia nantinya akan menyalin isi kartu nama saya ke kontak Gmail-nya, itu urusan dia. (Dan saat dia sedang menyalin isi kartu nama saya, memori tentang diri saya akan semakin kuat terpatri di kepalanya. Itu prinsip psikologi lho. Tulislah tentang sesuatu, maka kita akan ingat hal itu lebih baik. Tulislah tentang seseorang, maka kita akan lebih hafal akan orang itu.)

Sifat low profile yang berlebihan
Ada lho orang yang nggak punya kartu nama karena terlalu low profile. Katanya, “Ngapain sih punya kartu nama? Emangnya ada ya yang butuh nyimpen nomer HP saya? Kalau merasa butuh, nih saya kasih. Nomer saya 081xxxxx..”

Atau, jawabannya begini, “Saya nggak punya kartu nama, soalnya orang jarang nyariin saya. Saya hanya seorang … (isi dengan jabatan pekerjaan Anda yang sepertinya hanya staf biasa-biasa saja)

Begitulah, apalagi di kalangan birokrat, saya jarang nemu pegawai negeri sipil punya kartu nama, kecuali kalau dia menjabat sebagai kepala divisi atau kepala kantor dinas sesuatu. Dan biasanya yang minta kartu nama beliau adalah orang yang kepingin dilancarkan untuk urusannya, misalnya melancarkan proyek, atau memasukkan anak jadi PNS baru.

(Tahu siapa orang yang saya inginkan kartu namanya? Pak RT-nya rumah saya, hihihihi. Karena saya nggak tahu nama Pak RT-nya siapa, rumahnya di mana. Saya kan pernah menulis itu di sini. Mungkin dia pernah datang memperkenalkan diri ke rumah, tapi saya lupa. Padahal mungkin saya lebih ingat jika waktu itu dia memperkenalkan diri sambil bawa kartu nama. Kartu nama yang menyatakan bahwa dirinya adalah “Ketua RT”.)

Oleh sebab itu juga, populasi pemilik kartu nama justru lebih sering saya dapatkan dari kalangan pengusaha. Mereka menyebar-nyebarkan kartu nama mereka kepada saya dengan harapan bahwa suatu hari saat nanti, jika saya butuh membeli produk atau jasa sesuatu, saya akan mengontak mereka. Intinya supaya jualannya laku.

Berpengalaman puluhan tahun jadi konsumen, saya ngaku saja, saya lebih hafal pengusaha yang kasih kartu nama daripada yang enggak. Cari penata rambut yang bisa dipanggil ke rumah? Saya lebih hafal sama penata rambut yang pernah kasih kartu nama daripada mereka yang enggak punya kartu nama.

Kalau saya datang ke pameran properti, di mana puluhan pedagang ribut menjajakan apartemen mereka dan sepertinya semua apartemen sama saja, saya lebih cepat hafal sama salesman yang kasih kartu nama daripada mereka yang nggak pernah kasih kartu nama. Sebagus-bagus apapun dagangannya, produk yang mereka punya, kalau mereka nggak kasih saya kartu nama mereka, saya lebih cepat lupa.

Ingat saya pernah menulis di sini tentang bagaimana saya datang ke bazaar gaul dan semua pedagang booth sepertinya menawarkan makanan minuman yang sama? Tapi saya hanya ingat pedagang mana yang memberikan kartu nama. Begitulah peran sebuah kartu nama bagi usaha seseroang.

Membuat kartu nama
Membuat kartu nama dapat memberi kesan profesional pada diri kita. Gambar diambil dari Custombagus

Contoh lainnya, banyak teman yang jadi sales asuransi. Sebagai teman yang baik, saya selalu dengerin kalau mereka lagi presentasi produk mereka (meskipun saya jarang banget mau beli, tapi saya hanya ingin jadi pendengar yang lebih baik). Namun, begitu saya tanya, ke mana saya harus kontak mereka kalau suatu hari nanti saya butuh beli polis? Mereka selalu jawab, oh telpon aja gw. Itu membuat saya ragu, “Kamu ini sales resmi dari pereusahaan asuransi itu atau bukan?” Kalau mereka nggak kasih kartu nama mereka yang ada cap perusahaannya, atau yang ada logo perusahaannya, atau apalah itu yang menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari perusahaannya, saya emoh mengingat mereka sebagai sales itu karena saya nggak percaya bahwa mereka sungguh-sungguh mewakili produk yang mereka presentasikan. Justru sebaliknya, kalau saya disodorin prospek oleh sales yang bisa kasih kartu namanya, saya mungkin akan mengingat mereka, dan menjadi tujuan pertama saya kalau saya sewaktu-waktu butuh polis, meskipun mereka nggak punya hubungan nepotisme dengan saya di masa lampau. Karena bagi saya, mereka yang membuat kartu nama atas produk yang mereka jual, punya kesan lebih profesional.

Bikin brosur vs membuat kartu nama
Bahkan bagi kalangan wiraswasta kekinian, terutama yang masih berkutik di area budget dalam membesarkan usahanya sendiri, masih gagap dalam area pemasaran. Buat mereka, lebih baik berinvestasi dengan membuat brosur ketimbang membuat kartu nama. Toh sama-sama mengandung kontak kan?

Tapi saya sendiri mikir, kenapa tidak menggabungkan keduanya saja sekalian?

Sebagian orang, bahkan sudah melangkah lebih jauh bareng kartu nama mereka. Nggak cuman sekedar memberi kesan profesional dan memberi kesan diingat, mereka membuat kartu nama mereka menjadi alat yang lebih promotif. Tahu produk kartu nama lipat? Kartu nama ini punya penampakan empat halaman seolah mirip brosur mini. Halaman depan (cover) seperti biasa dipakai untuk nama dan alamat et cetera. Sedangkan halaman dalamnya dipakai untuk memajang produk-produk yang mereka jual.

Ada lagi yang membuat kartu namanya dengan desain model rip cut. Jadi kartu namanya seperti kartu nama lipat gitu, tapi bagian lipatannya bisa dirobek dan digadaikan jadi kupon discount di toko mereka. Ini seperti mau bilang “Simpanlah kartu nama gw, nanti kalau kau bawa kartu nama ini, lu dapet discount di kedai gw.”

Jadi, Anda sedang mulai bikin usaha sendiri? Atau Anda seorang freelancer? Atau Anda pekerja mediocre di kantor yang kepingin naik kasta? Coba buatlah diri Anda lebih mudah diingat dengan menginvestasikan sedikit waktu untuk membuat kartu nama keren. Gampang kok, nggak susah.

 

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

16 comments

  1. Molly says:

    Dulu pas masih punya usaha salon, aku punya kartu nama. Etapi sekarang, ga kerja lagi, ga punya deh. Tapi bener juga ya mba, perlu mem branding diri sendiri. Disitulah pentingnya sebuah kartu nama :).

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Itu langkah yang cerdas lho. Orang sering kali bingung bagaimana yang mau dia tampilkan di dalam kartu namanya, apakah produk dari perusahaan tempatnya bekerja atau dirinya sendiri. Kapan-kapan aku mau nulis ini lebih dalam ah 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      *ngakak keras-keras*

      Hai Mbak Lidya..
      Aku sudah lama bertanya-tanya kapan kira-kira Mbak Lidya mau nyasar ke sini, dan ternyata akhirnya Mbak tahu juga kalau aku sudah pindah alamat..

      Aku sehat, makasyi..

      Kapan-kapan aku minta kartu namanya Mbak Lidya ya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *