Mereka Menerbitkan Buku: Menulis Kreatif hingga Desain Cover Sendiri

Kepingin menaikkan omzet jualan? Tulislah buku. Kepingin nama lebih tenar? Bikinlah buku. Kepingin bikin curriculum vitae makin kinclong? Bikin saja buku.

Orang yang bisa menjadi penulis dan kreatif menerbitkan buku itu seksi. Sampai-sampai James Altucher, pendiri biro desain Reset dan pengarang Choose Yourself, The Power of No, bahkan bilang di sini bahwa dari sekian banyak pedagang pada suatu komoditas, konsumen mungkin akan lebih memilih pedagang yang pernah menulis buku daripada yang tidak nulis buku. Alasannya, menulis buku (tentang barang dagangannya, tentu) membuat sang pedagang nampak ahli dengan barang tersebut, betul tidak?

kreatif Eka menjadi penulis
Eka Situmorang bersama suaminya, Adrian Sir dan buku novel karangannya, Labirin Rasa. Desain cover dari Labirin Rasa diseleksi dari tiga alternatif yang diusulkan tim layout dari penerbit. Eka menggelar polling di blognya untuk membiarkan pembaca memilihkan mana desain cover yang terbaik.

Ingat minggu lalu saya bilang bahwa kartu nama kreatif pengusahanya bisa menaikkan penjualan? Saya berubah pikiran, buku lebih menaikkan penjualan. Kata Altucher, kalau Anda ngoceh-ngoceh sebagai pembicara di seminar, lalu khotbah Anda mengundang banyak keprokan, kemudian ada penonton yang menyalami Anda sambil minta kartu nama, maka daripada Anda keluarkan kartu nama, mendingan Anda sodori buku Anda dan bilang, “Ini buku saya. Buat Anda.”

Menerbitkan pada Penerbit vs Menerbitkan Sendiri

 

kreatif Tia menulis buku
Sari Agustia, bareng buku novel karyanya, Love Fate. Dia pasrahkan urusan editing, layout, desain cover, dan promosi serta tetek-bengek penerbitan lainnya kepada PT Elex. Karena dia percaya penerbit lebih tahu bagaimana membuat buku novelnya mudah terjual.

Di Indonesia, kebanyakan penulis masih lebih senang menerbitkan buku karangannya kepada penerbit. Teman saya, Sari Agustia, yang baru menjadi penulis pemula, baru berani menulis buku novel sendiri, tapi untungnya Elex Media Komputindo bersedia menerbitkan buku yang dia juduli Love Fate itu. Tia memilih menitip kepada penerbit, karena dia belum percaya diri untuk berjualan sendiri. Dia merasa belum punya pembaca setia yang akan membeli bukunya. Sedangkan agensi dan penerbit sudah punya tempat tujuan untuk promosi sehingga bisa jadi perangkat untuk menjual bukunya.

Teman saya lainnya, Eka Situmorang, sudah bertahun-tahun malang-melintang jadi blogger kreatif. Tapi buku novel karangannya, Labirin Rasa, masih dia percayakan untuk diterbitkan kepada penerbit. Soalnya, kalau dia menjadi penulis yang menerbitkan indie, dia harus siap marketing sendiri. Padahal dia nggak punya cukup waktu dan tenaga untuk melakukan itu. Eka ini pegawai negeri sipil dan ibu dari seorang balita.

kreatif Cholik menulis buku
Abdul Cholik dan bukunya, Dahsyatnya Ibadah Haji. Menurutnya, laris dan tidaknya buku tergantung berbagai faktor, antara lain nama penulis dan manfaat buku.

Bahkan Abdul Cholik, blogger yang sudah 20 kali menjadi penulis buku, masih lebih demen menerbitkan pada penerbit, terutama Sixmidad dan Elex. Pakde, begitu dipanggil akrabnya, masih memprioritaskan modalnya untuk urusan lain daripada menggunakannya untuk menerbitkan sendiri. Lagipula beliau merasa emoh mengurus tetek-bengek penerbitan seperti membuat cover buku, editing, izin ini-itu, dan lain-lain.

Ika Mitayani, blogger lainnya, mungkin satu dari sedikit pengarang yang sudah pe-de menerbitkan bukunya sendiri. Bukunya, Easy Blogging, 7 Langkah Mudah Sukses menjadi Blogger, dia layout sendiri, dia cetak sendiri, dia jual sendiri via blognya. “Ada idealisme dari saya yang nggak bisa dicover penerbit,” katanya. Dia tidak takut pembelinya lebih sedikit hanya karena dia tidak menerbitkannya kepada penerbit. “Kalau asal menerbitkan pun, pasti akan laku sendiri. Letak tantangannya, gimana kita bisa membuat sebuah buku bisa menarik untuk dibeli dan bermanfaat.” Dia sendiri menyelipkan bonus kreatif dalam eksemplar bukunya untuk membuatnya lebih menarik.

Altucher sendiri melihat bahwa orang makin senang memilih untuk menjadi penulis dan menerbitkan bukunya sendiri daripada menitip ke penerbit. Alasannya:

  1. Konten internet yang gratis makin banyak. Lebih sering orang browsing internet daripada beli buku. Penerbit buku rupanya melihat ini, jadi mereka cenderung mengurangi rekrutmen penulis untuk membuat buku baru. (Altucher benar. Dengan begini produksi para penerbit lebih efisien. Tapi kesempatan para penulis baru untuk dilirik penerbit jadi semakin kecil.)
  2. Pengarang yang sudah punya massa akan membuat buku lebih mudah laris. Jadi penulis pemula diprioritaskan belakangan.

Bagaimana Cara Menerbitkan Buku Sendiri?

Problem menerbitkan buku selalu dimulai dari awal menulis karena kebingungan.

  1. Tidak tahu cara menulis buku.

Pakde, Eka, dan Ika, sudah terampil menjadi penulis karena sudah kreatif ngeblog selama bertahun-tahun. Makanya mereka santai-santai saja ketika menulis buku. Sedangkan Tia memulai buku novel Love Fate-nya, gara-gara dia dapat PR dari Indscript Creative, sebuah kursus menulis tempatnya belajar cara membuat novel. Waktu itu targetnya, yang penting naskahnya selesai. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Indscript kemudian menawarkan naskah itu kepada penerbit.

  1. Tidak tahu siapa yang akan membeli bukunya.

Saya rasa, mengetahui target pembaca akan membuat kita bisa menyusun apa yang mau kita tulis. Contoh buku karangan Pakde, Dahsyatnya Ibadah Haji yang menjadi best seller, ditulis lantaran ia melihat bahwa setiap tahun pasti ada yang naik haji. Ia sendiri sudah berpengalaman naik haji, jadi ia tuliskan bukunya itu berdasar pengalamannya sendiri dan bukunya ia lengkapi dengan tips aplikatif yang kreatif. “Soal tersesat saja saya jelaskan,” katanya.

Sedangkan Ika, melihat bahwa banyak sekali yang bertanya-tanya tentang menjadi penulis blog, karena itu ia menulis Easy Blogging.

  1. Tidak sempat menulis

Saran kreatif dari Altucher adalah menyewa ghostwriter. Apa, nggak punya sewa waktu buat sewa ghostwriter? Eh, itu sama seperti pengusaha kepingin usahanya maju tapi nggak punya waktu untuk interview karyawan baru. Buku itu alat pemasaran, bukan piala.

  1. Tidak bisa mengedit buku.

Di penerbit, ada editor yang bertugas menyunting supaya buku jadi terdengar menarik. Tapi kalau kita malas bagi-bagi royalti dengan editor, sekarang ada aplikasi gratis untuk mengedit naskah sendiri lho.

  1. Tidak tahu cara membuat desain buku.

Desain cover buku yang menarik akan membuat bukunya nampak stand out di antara jejeran buku di toko. Beruntunglah Ika, soalnya dia menodong suaminya sendiri yang desainer grafis untuk mendesain covernya. Tapi kalaupun nggak punya suami yang desainer grafis pun (karena alinea ini bisa mendongkrak popularitas para mahasiswa desain grafis di dunia perjombloan), masih banyak aplikasi membuat cover buku secara kreatif, bahkan sekaligus menyediakan contoh layout, misalnya website ini.

Ssst.. Joanna Penn, pengarang buku Author 2.0 Blueprint, How to Write, Publlish, Sell and Promote Your Book kasih tips untuk cara membuat cover buku di sini: Sebaiknya desain cover itu sederhana. Bikinlah gambar sebagai fokus. Jangan buat cover yang terlalu ramai. Berikan warna utama yang matching. Lebih baik mengandung dua warna sebagai warna utama. Ia bahkan memberi tahu tentang situs-situs yang mau membagi-bagikan gambar-gambar ciamik secara gratis untuk dijadikan cover buku, termasuk untuk cover buku novel.

  1. Tidak tahu cara menerbitkan bukunya sendiri.

Kita bisa meniru gaya Ika dan Eka yang kreatif membagi-bagikan penjualan bukunya via blog dan social media. (Itu Facebook dipakai sebagai lapak, bukan sebagai sarana nyinyirin pemerintah.) Pakde bahkan sering bikin giveaway via blog untuk membagi-bagikan bukunya. Malah sekarang banyak aplikasi Android untuk menjual buku karangan sendiri.

Ayo kreatif menulis buku. Supaya brand kita naik.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

4 comments

  1. budiono says:

    ahahaha… dari dulu pengen bikin buku blm klakon. lagian rasanya jaman sekarang ini apa masih ada ya orang beli buku cetakan? saya bayangkan, jika targetnya keuntungan financial, menulis ebook dan dipasarkan melalui jaringan super affiliate akan jauh lebih menguntungkan ketimbang dicetak dan disebar ke toko buku. tapi jika targetnya bukan keuntungan financial, ya mungkin beda lagi strateginya

    kawan saya penulis buku yang sebenarnya tidak begitu laris, menjadi sangat terkenal, dan selalu memperkenalkan diri sebagai penulis buku anu dan anu. sering diundang ke seminar kepenulisan juga jadinya hihi…

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hahahaha.. Mungkin sebenarnya dia memang bukan pengarang yang laris, tapi karena dia memainkan word of mouth untuk branding dirinya sebagai pengarang, lama-lama orang percaya bahwa dia pengarang besar.

      Saya terakhir kali beli buku cetak dua minggu lalu. Setelah saya baca, saya rasa nih buku lebih cocok jadi e-book, karena isinya membosankan. Tapi saya nggak cocok beli e-book, karena bayi saya selalu merebut gadget saya (aduh!). Cuma mungkin kalau dijadikan e-book, nanti prestisenya nggak sebesar buku cetak. Di Indonesia, buku cetak masih dianggap lebih keren daripada e-book, mungkin karena kebanyakan e-book masih digarap asal-asalan. Saya aja baca e-book masih berasa mirip baca tesis. Soalnya e-book-nya nggak ilustratif :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *