Markobar, Satu Lagi Makanan Enak di Surabaya

Demam kue terang bulan aneka rasa sebetulnya sudah lama menjadi epidemi kuliner di Surabaya, tetapi invasi martabak Markobar Gibran Rakabuming Raka bikin martabak manis ini naik kelas.

Yang tadinya martabak manis alias kue terang bulan itu cuma makanan enak kelas jalanan, kini bisa dinikmati sambil diskusi di cafe keren nan sejuk sembari wifi-an. Dear Martabak Holland dan para pembebek martabak Bangka yang selama ini telah menjadi makanan favorit di Surabaya, waspadalah.

Martabak Markobar Gibran Rakabuming Raka

Sewaktu saya dengar Gibran Rakabuming Raka memasang martabak Markobar sebagai salah satu food stall di pesta pernikahannya beberapa bulan lalu, saya sempat mengiranya sebagai lelucon. Saya kirain usaha Markobar Gibran itu cuman sebagai bisnis sampingan, sebagai selingan saja. Karena saya tahu dia sudah punya bisnis katering sebagai mata pencahariannya.

Dan saya heran waktu itu kenapa cowok ini harus memilih martabak manis untuk melampiaskan ide investasinya. Martabak manis itu makanan kelas gerobak, you know. Mau topping-nya green tea kek, mau topping-nya red velvet kek, tetap saja itu street snack. Nggak bisa dinikmati di tempat.

Maksud saya, you can’t purpose a girl for getting married by buying her a pan of martabak (or frittata kalau mau sok Itali-nya, terserah deh). Anda nggak bisa membuat tamu Anda dari Jepang yang mau berinvestasi di perusahaan Anda itu terkesan hanya dengan mentraktirnya martabak. No, no, no, no. Karena martabak selalu harus dibawa pulang ke rumah.  Tidak ada kafe khusus nongkrong hanya demi makan martabak.  Begitulah reputasi martabak.

Sampai kemudian saya dengar martabak Markobar Gibran ini sudah tiba di kota ini dan menjadi salah satu kuliner di Surabaya. Dan saya pun kepingin nyoba. Bukan cuman karena saya penggemar fanatik martabak manis dan saya pikir “Oh, it’s just another terang bulan premium”.

Tetapi saya penasaran bagaimana putra Jokowi mengelola bisnisnya. Apakah dia bisa memanajemen sebuah food stall dengan baik. Mengingat dengan bermacam-macam vendor martabak manis premium yang menjadi unggulan kuliner di Surabaya, pada akhirnya hanya vendor-vendor tertentu yang sanggup bertahan. Sisanya selalu dicaci-maki, umumnya karena para stall makanan favorit di Surabaya ini lebih bersemangat promosi martabak mereka di Instagram ketimbang mencari lahan parkir untuk customer. Akibatnya terjadi antrean calon pembeli yang membludak, lalu customer marah-marah karena mereka nggak kebagian lahan parkir, sehingga yang tadinya kepingin beli jadi batal beli, dan siklus pun berlanjut menjadi sang vendor pun gulung tikar lantaran dijauhi pembeli yang jelas-jelas pada naik mobil (dan kebetulan nggak kenal Uber atau Go-jek).  Cuma mau makan kue terang bulan seharga Rp 100k aja kok bisa nggak kebagian parkir?

Martabak Markobar di Surabaya

Saya dan suami plus bayi kami pun pergi sore ini ke TKP. Suami saya sudah siap siaga akan menyisiri setiap food stall yang berada di Gubeng dengan baik, supaya mobil gerobak yang membawa martabak Markobar Gibran itu tidak terlewat oleh kami. Tapi ternyata, menemukan Markobar itu gampang banget.

Eddy Fahmi - martabak Markobar - kuliner di Surabaua
Plang martabak Markobar nampak menjulang di depan halaman Toko Motoritz.

Penjual martabak Markobar masih berupa food stall. Tetapi stall-nya berupa rombong besar yang nongkrong di lahan parkir Motoritz, sebuah toko suku cadang sepeda motor yang kebetulan juga ada kafe-nya. Rombong martabak Markobar dijaga oleh 3-4 staf berseragam yang ramah, dan membuat martabak manis langsung di dalam rombong itu.

Eddy Fahmi - gambar martabak Markobar
Gambar martabak Markobar tersaji serasi bersama teh pesanan kami di Motoritz. Kami pesan martabak delapan rasa.

Biarpun Markobar Gibran nggak sedia meja-meja berpayung a la cafe untuk pembeli, tetapi pembeli boleh duduk di dalam cafe Motoritz dan staf Markobar akan mengantar martabak pesanan pembelinya ke sana. Maka jadilah sore itu saya pesan martabak Markobar sambil foto-fotoan di dalam cafe. Minumannya saya pesan dari Motoritz.

Sebetulnya kafenya Motoritz ini tidak terlalu beken (thanx to Wifi-nya yang lelet), tetapi orang jadi terpaksa duduk di situ (dan memesan minuman) sambil menunggu martabak Markobar datang. Oh ya, cuman 10 menit saja waktu yang dibutuhkan Markobar untuk memasakkan kue pesanan saya itu.

Satu Lagi Makanan Enak di Surabaya

Eddy Fahmi makanan enak di Surabaya - martabak 8 rasa
Martabak delapan rasa bikinan Markobar Gibran, cocok untuk para penggemar kuliner di Surabaya.

Menu Markobar Gibran Rakabuming Raka ini bisa dipilih dari tiga macam varian ini: martabak delapan rasa, martabak empat rasa, dan martabak 16 rasa.

Berhubung mereka baru buka empat hari, mereka belum bisa sediakan topping premium macam green tea, Ovomaltine, Toblerone putih, Toblerone hitam, dan Hershey. Jadi kali ini mereka baru bisa sediakan martabak delapan rasa dulu.

Dengan pesan martabak delapan rasa, dalam satu loyang besar saya bisa mendapatkan topping keju Kraft, coklat Dairy Milk Cadbury, coklat Kit Kat, selai Nutella, misis Ceres, coklat Toblerone, coklat Delfi, dan coklat Silver Queen. Cocoklah buat penggemar martabak coklat keju yang kepingin merasakan macam-macam produk coklat sekaligus.

Sepanjang saya menikmatinya, saya bisa santai menelusuri, oh ini ya rasanya Kit Kat, oh ini ya rasanya Toblerone. Kulit martabak Markobar ini nggak tebal, tapi juga nggak tipis-tipis amat. Untuk selera saya, ini pas.

Saya mengapresiasi Markobar yang nggak latah seperti gerai martabak lainnya yang bikin terang bulan mini. Para pendirinya nampak bersikukuh bahwa mereka kepingin konsumen datang untuk merasakan bermacam-macam rasa sekaligus dalam seloyang martabak. Kue terang bulan berukuran mini hanya akan mengacaukan ide aneka rasa itu. Memangnya bisa kita menikmati delapan rasa dalam martabak sekecil upil? Kalau loyangnya kecil, kita belum puas menikmati setiap rasa, dan sudah keburu habis karena kita “terpaksa” dengan porsi masing-masing rasa yang terbatas juga.

Plus, saya juga nggak terlalu kecewa biarpun sepanjang saya makan kue ini nggak sambil wifi-an, biarpun saya ada di kafe sekalipun. Absennya Wi-fi memaksa kita menaruh gadget masing-masing, sehingga saya dan suami terpaksa berkonsentrasi untuk menikmati martabak. Menikmati makan. Memang mestinya kita di meja makan itu ya kerjaannya makan kan, bukan upload foto kue terang bulan ke Instagram ? (toyor diri sendiri)

Plus lagi, saya senang tempat kuliner di Surabaya yang satu ini karena saya nggak perlu resah mikirin tempat parkir kalau saya kepingin beli martabak. Tidak dapat parkir itu sangat menghancurkan selera makan. Pesan via kurir? Doh, kuenya keburu dingin waktu sampai di rumah.

Mungkin bagian yang nggak saya sukai dari martabak Markobar ini adalah mereka nggak punya varian rasa cream cheese dan red velvet, hihihi..

Martabak manis Markobar ini bukan milik Gibran sendirian. Pemilik aslinya adalah Arif Setyobudi, seorang wiraswasta kaki lima asal Solo, dan Gibran punya share di bisnis ini (please baca cerita selengkapnya di artikel Marketeers tentang martabak Markobar). Sekarang, franchise Markobar sudah ada di Solo, Jakarta, dan Manado.

Alamat Markobar Surabaya

Eddy Fahmi martabak manis kue terang bulan
Wajah bahagia mamah muda yang baru melahap martabak.
Abaikan wajah bayi yang baru bisa makan biskuit.

Update (Agustus 2016): Makanan terkenal di Surabaya yang satu ini kini tidak lagi beroperasi di depan Motoritz, namun telah pindah. Alamat Martabak Markobar yang baru kini berada di Pucang Anom Timur 4 nomor 4, Surabaya.

Jam buka: 17.00-22.00

Mau ke sini? Share dulu halaman ini ke socmed teman Anda dan ajak bareng 🙂 Jangan makan sendirian, eneg nanti, hahahaha..

Semua foto oleh Eddy Fahmi

 

BliBli
Use me!

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

31 comments

  1. paulasuseno says:

    Kelihatannya enak. Aku suka martabak manis yang gak eneq. Kalo yang merah2 yang skrg lagi ngetrend, to sweet for me.
    Dan sekarang yang pertama kali mendobrak martabak manis dengan warna merah sudah ga antri lagi looo, walaupun aku pernah menikmati rasanya antri sejam demi nama penasaran rasanya kayak gimana atau demi nama ‘biar eksis’?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ah, terang bulan red velvet cream cheese itu :))
      Aku sering pesan varian itu di segala vendor. Dan selalu minta cream cheese-nya dibanyakin, karena aku penggemar keju. Soal red velvetnya, itu hanya karena supaya kesannya “wah” sewaktu difoto, hahahaha..

      Si terang bulan 99 itu udah nggak overload lagikah? Aku nggak pernah ngantre di sana, aku suruh Gojek aja buat beliin. Abisnya kejauhan dan belum tentu dapet parkir..

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya Mey, soalnya kalau nungguin Markobar buka di Malang mungkin kudu ngajuin proposal lokasi dulu..
      Mey dulu dilamar pakai apa? Jangan-jangan pakai martabak..

  2. Wood Pellet says:

    itu martabak bikin ngiler itu.. pasti enak nih mbak.. makan sepotong aja kayaknya udh kenyang nih… tapi kalo saya makan martabak yg asin bisa habis sendiri.. kalo yg manis mngkn perlu bantuan kali ya.. hehe…

  3. kurang suka martabak manis, tapi penasaran juga sih mau coba yang ini… Tp krn sekarang lagi in banget di Jakarta, mending ntar2 aja ya kl gak terlalu rame… Puyeng saiah nunggu martabak kl smp antri2… Topping cream cheese boleh tuh diusulin sama yg punya 🙂

  4. kresnoadi DH says:

    Hahahaha tapi itu setuju banget sih mbak soal yang parkir bisa mengacaukan segala mood sebelum makan. :)) AKu belum nyoba markobaaaar. Karena kalo makan martabak pasti nggak pernah habis karena keburu eneg duluan. \:p/

  5. ninda says:

    aku rasa alasan si mas gibran bisnis ini karena dia suka makan martabak manis sih mbak :p yah daripada beli beli mulu mending punya sendiri sekalian larisin dagangan kan. mungkin masnya juga pemegang prinsip bisnis itu harus di tempat2 yang disuka.

    *tebaktebak buah manggis*

  6. galihsatria says:

    Di Jakarta aku belum coba Markobar, selain mahal juga antrinya ga sante meskipun sudah pakai Gojek. Juga kurang suka model martabak ala-ala pizza begini, masih suka yang model dilipet dengan tepung dan margarin tebal 😀

  7. risda says:

    sampai sekarang aku blm pny nyobain martabak manis aka terang bulan premium ataupun martabak mozarella yglagi hits..karna memang belum begitu tertarik.. kadang pengennya cuma martabak kacang yg klasik..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *