Reservasi Kamar Hotel “Last Minute”

Ini terjadi tahun lalu, sewaktu suatu hari Senin saya mendadak dilarikan suami saya ke rumah sakit karena saya merasa akan melahirkan. Suami saya menelepon orang tua saya di Bandung, dan seketika mereka langsung menyiapkan backpack mereka ke bandara dan terbang ke Surabaya. Mereka tiba malam itu juga di rumah sakit, menonton saya sedang mengerang-erang kesakitan karena kontraksi.

Persoalannya, ayah dan ibu saya kan sudah lansia, jadi mereka butuh istirahat malam itu. Sedangkan ruang tunggu rumah sakit sama sekali nggak ideal bagi mereka untuk istirahat, dan menurut saya sudah nggak pantas deh membiarkan mereka berpura-pura jadi backpacker dengan mengemper di ruang tunggu kamar bersalin yang dingin. Mana bukaan saya nggak kunjung melebar, jadi sepertinya masih berjam-jam lagi bayinya akan lahir. Dan saya sangat kesakitan. Diputuskanlah ayah dan ibu saya untuk menginap di hotel terdekat dari rumah sakit. Mereka mau menginap di kamar hotel yang murah saja, tidak perlu terlalu glamour, yang penting bisa meluruskan punggung di ranjang tidur.

Namanya juga booking hotel mendadak, kami rada eneg dengan harga kamar hotel yang terpaksa dibayar orang tua saya lantaran hotelnya pasang tarif yang cukup tinggi. Padahal seandainya kami booking kamar jauh-jauh hari, tentu kami akan dapat tarif yang lebih murah, ya kan? Tapi kan kedatangan orang tua saya ke Surabaya ini adalah karena ingin menemani saya melahirkan, dan yang namanya melahirkan kan nggak bisa diprediksi ya, jadi booking kamar hotel hanya untuk menemani saya melahirkan jelas mustahil.

Singkat kata akhirnya saya melahirkan Selasa siangnya secara operasi. Kalau saya ingat-ingat waktu itu, saya suka rada nyesel. Yaah..tahu si Fidel lahir jam 12.30 siang, mending ayah dan ibu saya datang aja pakai pesawat Selasa pagi tadi, nggak usah datang Senin kemaren pakai pesawat malam. Jadi kan nggak perlu duit mubazir karena dipakai nginep di kamar hotel pada Senin malam, cukup nginepnya mulai Selasa ini aja, hahahaha..

Fenomena Last Minute Hotel

Tapi begitulah situasi yang mungkin sering juga kita temui. Ada saja alasan ketika kita mendadak membutuhkan kamar hotel. Karena musibah keluarga di luar kota jatuh sakit atau meninggal, sehingga kita butuh menginap di hotel. Atau mendadak dikirim oleh kantor tempat kita bekerja untuk bertugas ke luar kota. Atau sebetulnya kita sedang berada di luar kota, malam ini mestinya kita pulang dengan pesawat, tetapi mendadak penerbangannya dibatalkan sehingga kita terpaksa menginap di kota itu karena penerbangan selanjutnya baru ada besok pagi.

Genevieve Brown (@GSBrownABC), editor travel-nya ABC News, bilang di sini, di States sana, fenomena orang terpaksa booking kamar hotel mendadak masih saja sering terjadi, betapapun gampangnya sekarang orang merencanakan perjalanan. Sebuah penginapan murah bisa saja adem-ayem dengan kamar-kamar yang sepi, tapi mendadak dua hari kemudian mereka kebanjiran telepon dari para calon traveller yang kepingin menginap di hotel itu pada malam itu juga. Orang-orang yang ingin menginap malam itu juga, 70% bikin booking hanya melalui telepon. Dan ternyata itu juga terjadi di Indonesia. Menurut Gaery Undarsa (@gaery), bossnya PT Global Tiket Network yang sering menjual voucher hotel, di Indonesia, 70% booking kamar justru terjadi pada H-2 atau bahkan H-1.

kamar hotel backpacker
Anak saya, Fidel, kini juga senang menginap di hotel. Dan kami senang staycation.

Kenapa orang lebih sering booking kamar hotel mendadak daripada booking jauh-jauh hari? Saya sendiri pernah diceritakan oleh seorang boss agen perjalanan lainnya, bahwa ada lima macam alasan kenapa orang booking mendadak:

  • Dia melakukan perjalanan dinas atau perjalanan bisnis.

Misalnya karena disuruh kantor. Di kantor-kantor pemerintahan, surat perjalanan dinas seringkali dirilis mendadak, sehingga PNS yang kena SPD ini juga diutus mendadak untuk keluar kota. Atau bisa juga dia seorang pebisnis yang mesti meeting dengan investor di luar kota, dan ternyata urusannya tidak bisa selesai dalam kurun waktu yang direncanakan sehingga dia terpaksa menginap di kota itu lebih lama. Wajar kan kalau dia baru booking kamar hotelnya sekarang?

  • Dia ini flashpacker.

Mirip backpacker, cuman tampangnya nggak bawa ransel, tapi bawa koper seukuran 20 liter. Orang tua saya yang bela-belain terbang hanya demi menemani saya melahirkan, atau orang-orang yang dipaksa prolonged karena pesawat yang terlambat terbang termasuk kategori ini. Bisa juga alasannya karena ada keluarga yang meninggal di luar kota, sehingga terpaksa cari kamar hotel dadakan. Alasan yang lebih gila lagi malah sering terjadi di Jakarta. Kerja di Jakarta, tapi rumah di Bogor. Mau pulang, tahu-tahu dengar bahwa jalan menuju pulang kena banjir. Terpaksalah ia menginap di penginapan murah sampai setidaknya besok kalau banjirnya sudah surut..

  • Dia ini memang doyan minggat pada waktu weekend, atau waktu dapat cuti

Mendadak kepingin menginap di luar kota, mumpung weekend, karena bosan tinggal di rumah. Kepingin ganti ranjang tidur biarpun cuma semalam saja. Atau bisa juga mendadak ia dapat libur dari kantor. Karena kalau pergi snorkling keluar kota itu kejauhan, jadi dia pilih memanfaatkan cutinya dengan jadi backpacker dan booking kamar hotel di luar kota.

  • Dia ini maniak tukang ngejar diskon.

Ada yang sering menyebut ini sebagai deal hunter. Orang seperti ini punya dana menganggur yang cukup banyak, dan hobinya adalah memelototi website-website yang jual kupon diskon. Begitu melihat sebuah hotel lagi promo, tanpa ambil pusing dia langsung ambil deal-nya.

  • Dia ini hobi staycation.

Kalau orang lain hobi piknik ke mana gitu, maka orang ini hobinya adalah menginap di hotel. Biarpun hotelnya masih di kota tempat tinggalnya sendiri pun, pokoknya dia senang tidur di kamar hotel. Nggak berbekal koper, kadang-kadang cuma jadi backpacker doang berbekal ransel berisi underwear bersih. Nggak bawa perlengkapan mandi juga, karena dia sudah yakin semua perlengkapan sudah disediakan hotel. Dia sengaja merencanakan ingin menikmati seluruh fasilitas hotel, mulai dari fasilitas kolam renangnya sampai fasilitas spanya juga. Saking cintanya pada hobi ini, dia nggak suka kalau rencananya menginap di hotel yang dia incar ini gagal. Kenapa dia senang booking hotel mendadak? Karena kalau dia booking jauh-jauh hari, seringkali tarif yang ditawarkan itu biarpun murah tetapi tidak boleh refundable!

Lantaran banyak sekali populasi karakter orang-orang penggemar booking mendadak ini, maka banyak hotel pun aji mumpung. Ketika telepon di hotel mereka bolak-balik berdering akibat kebanjiran pesanan, mereka langsung pasang tarif tinggi. Karena itu, tercipta anggapan umum di kalangan backpacker, bahwa kalau booking mendadak itu lebih mahal daripada booking jauh-jauh hari.

Padahal, nggak selalu booking kamar hotel mendadak itu lebih mahal. Karena sebetulnya ya, biaya operasional untuk hotel itu tinggi banget, bahkan untuk penginapan murah sekalipun. Semahal-mahalnya tarif sewa kamar hotel, paling bagus adalah okupansi di hotel itu terisi sepenuh mungkin. Kamar yang kosong itu sebetulnya bikin biaya operasional jadi mubazir, kan? Makanya hotel punya trik, pada saat-saat terakhir, mereka mau lho sebetulnya menyewakan kamar hotel yang “kurang laris” dengan tarif yang cukup rendah (tidak begitu rendah bagi konsumen kelas backpacker, tapi setidaknya cukup untuk menutupi biaya operasional hotelnya).

Nah, supaya citra hotel nggak jatuh, hotelnya tidak pasang tarif murah ini sebagai published rate, namun hotelnya cuma memberitahukan tarif ini pada kalangan tertentu. Kalangan yang beruntung mendapatkan informasi tarif murah ini antara lain tamu-tamu yang sudah jadi anggota klub jaringan hotel itu (see, makanya punya keanggotaan bagi jaringan hotel tertentu itu perlu banget!), atau konsumen yang jadi anggota aplikasi booking hotel tertentu (dan tarif ini sering mereka namai sebagai Secret Deals, Secret Price, dan sebangsanya).

Tapi, tapi, tapi..saya kan bukan anggota klub anu..

Berapa banyak jaringan hotel yang mesti kita miliki membership-nya, atau berapa aplikasi yang mesti memenuh-menuhi smartphone kita hanya supaya kita bisa dapat harga murah kalau mau booking kamar hotel mendadak? Nah, di sinilah perlunya aplikasi yang bisa membantu kita untuk booking hotel mendadak, atau yang seringkali disebut aplikasi “last minute hotel deals” . Aplikasi ini sudah trending banget di Amerika Serikat semenjak lima tahun lalu, dan nama aplikasinya pun bermacam-macam. Bagian asyik dari aplikasi ini adalah, tarif hotel yang tertera di aplikasi ini bisa jadi 25% lebih rendah daripada published rate dari website hotelnya sendiri.

Jadi, sekarang nggak ada lagi ceritanya backpacking dadakan a la gembel dengan menginap di lobby bandara atau lebih parah lagi mengemper di mesjid. Travelling yang nyaman, tidur enak di kamar hotel yang bersih mestinya jadi prioritas yang lebih utama. Saya senang perjalanan yang menyenangkan, Anda juga, kan?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

6 comments

  1. Cenny FL says:

    Mbak, sy mau ke semarang awal september. Rencananya bertiga dengan baby 14bln saya. Tlg carikan dunk budject hotelnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *