Dari Pasar Modal Syariah Menuju Korea

Sama seperti Anda, saya juga senang jalan-jalan. Kalau ditanya apa investasi terbaik yang pernah saya lakukan, jelas saya akan bilang jalan-jalan alias travelling. Karena dengan jalan-jalan, saya akan dapat pengetahuan baru, belajar pengalaman baru, dan mendapat wisdom yang manfaatnya sendiri akan berlaku seumur hidup, dan itu semua tidak diperoleh dari bangku sekolah.

Sudah banyak tempat yang saya datangi, tapi ada satu tempat yang belum pernah saya injakkan kaki, yaitu negeri Korea. Jauh sebelum drakor-drakor merajalela di Indonesia, saya sudah tergiur ingin jadi backpacker ke Korea ketika guru saya mendongeng tentang negeri ini di kelas SMA saya 18 tahun yang lalu. Tentang orang-orangnya yang punya etos kerja bagus, manajemen negara yang tertata rapi, teknologi yang canggih, landscape negeri yang indah, dan sejarah negerinya yang cepat bangkit meskipun sudah diobrak-abrik oleh perang saudara.

Apa daya, saya belum punya cukup modal untuk ke sana sampai sekarang. Uang sih ada, tapi saya punya banyak prioritas lain yang saat ini lebih diutamakan ketimbang jadi backpacker ke Korea; saya punya anak yang masih bayi, saya sibuk mengurus bisnis penulisan saya, dan lain sebagainya. Namun saya masih pasang tekad bahwa saya ingin mengincipi liburan ke Korea maksimal #10TahunLagi, sehingga saya pun getol mengumpulkan modal tambahan untuk itu.

Merencanakan Keuangan

Dengar-dengar jadi backpacker ke Korea itu makan uang banyak, saya pun pasang amunisi. Yang pertama, saya berusaha baca-baca pengalaman orang lain yang sudah berada duluan di Korea. Salah satu referensi favorit saya adalah bukunya Claudia Kaunang (@ClaudiaKaunang), yang berhasil menerbitkan bukunya Rp 3 Juta Keliling Korea dalam 9 Hari. Selain itu, saya juga memantau harga tiket pesawat ke Korea dari newsletter agen-agen perjalanan yang saya langgani (sebagai pecinta piknik, saya langganan newsletter dari 3-4 biro travel online). Dari itu semua, saya berhasil menyimpulkan bahwa saat ini biaya backpacker ke Korea secara backpacking selama sembilan hari ialah sekitar Rp 11 jutaan. Sebagai bandingan, kalau kita liburan ke Bali, dengan pesawat Jakarta-Bali pp, menginap di hotel bintang lima untuk dua orang, harga Rp 11 jutaan itu hanya cukup untuk melancong selama tiga hari saja.

Karena saya ingin liburan ke Korea maksimal sekitar #10TahunLagi, jadi saya pun memulai perencanaan keuangan dengan mengumpulkan uang. Yang jadi problem, harga-harga pasti selalu naik setiap tahunnya kan? Saya kira-kira saja, jika rerata tiap tahun inflasi sekitar 10%, maka dalam 10 tahun lagi, bisa-bisa biaya backpacker ke Korea sudah melonjak ke angka Rp 23 jutaan.

Saya mungkin bisa mengumpulkan uang tabungan dengan bekerja. Tetapi tabungan deposito nggak akan bisa mengejar harga yang naik 10% setiap tahunnya, karena bunga deposito di bank paling-paling cuma 8%/tahun. Jalan keluarnya, saya pilih berinvestasi. Karena kalau saya bisa merencanakan investasi dengan bagus, saya bisa dapat profit minimal 12%/tahun. Sehingga inflasi 10%/tahun pun akan bisa saya lewati, dan akhirnya, saya pun bisa jadi backpacker ke Korea dalam #10TahunLagi, bahkan mungkin lebih cepat.

Cara Investasi a la Saya

Investasi, arti sederhananya sebetulnya adalah menggunakan aset untuk mengembangkan nilai dari aset tersebut. Contohnya, saya punya uang sejumlah Rp 100k, maka saya berinvestasi menggunakan uang itu supaya saya bisa mendapatkan uang yang lebih banyak dari Rp 100k. Bisa juga saya punya mobil senilai Rp 150 jutaan, lalu saya investasi dengan membuka usaha sewa mobil menggunakan mobil itu, maka saya akan dapat penghasilan dari mobil yang saya sewakan itu.

Saya sendiri melakukan investasi karena saya merasa menabung saja nggak akan cukup. Uang tabungan lama-kelamaan akan habis, minimal dipakai untuk beli beras seumur hidup. Bahkan kalau pun cuma saya diamkan di bank pun juga akan malah berkurang, karena ketika saya cairkan nantinya, nilai nominalnya tidak akan bisa menyamai barang-barang kebutuhan yang mesti dibeli, karena harga barang-barangnya juga sudah naik melebihi nilai tabungan itu. Analoginya seperti dulu ketika kecil, saya punya uang Rp 500,- dan saya merencanakannya untuk memakai uang itu untuk beli es krim cone di McDonald (jangan ketawa! Harga es krim cone itu memang segitu). Sekarang harga es krim sudah naik jadi Rp 5000,- dan uang yang saya tabung itu masih tetap saja Rp 500,-. Jangankan beli es krim, tukang parkir McDonald saja ngamuk kalau dibayar cuma Rp 500,- kan?

Jadi saya pun putar otak, bagaimana caranya berinvestasi supaya uang yang saya dapat dari penghasilan bisa berkembang lebih banyak daripada sekedar ditabung di deposito. Saya pun berinvestasi secara riil, yaitu dengan bikin usaha penulisan melalui blog. Modal saya hanya beli domain dan hosting, dan dengan ini, saya membuka jasa menulis untuk brand-brand yang membutuhkan review produk mereka. Lumayan, semenjak saya membuka usaha ini, sekarang modal yang saya keluarkan untuk beli domain dan hosting pun sudah kembali, dan sekarang penghasilan saya pun bertambah.

Selain dengan membuka usaha, saya juga berinvestasi di pasar modal syariah. Di pasar modal ini, saya menanamkan uang untuk membeli efek (saham), lalu efek itu akan dipakai sebagai bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Ketika harga efek ini naik, saya menjualnya. Dan dari selisih harga jual terhadap harga beli,  saya mendapatkan profit yang menjadi hasil investasi itu.

Saya sering ditanya apa bedanya antara menanam modal pada pasar modal dengan membuka perusahaan sendiri, toh sama-sama memberikan uang dan menunggu profit kembali. Menurut saya sih, membuka perusahaan sendiri berarti memberi saya beban tambahan untuk mengurus perusahaan itu (menggaji karyawan, mengurus legal, mempromosikan produk, memelihara logistik, dan lain sebagainya). Tetapi kalau saya menjadi pelaku pasar modal, saya cuma perlu setor modal untuk membeli saham dan menunggu saat yang tepat untuk menjual sahamnya. Kalau di tengah jalan saya melihat laporan keuangan perusahaannya tidak menunjukkan laba yang signifikan (saya mematok bahwa perusahaan sebaiknya membuat laba minimal 20%/tahunnya), saya tinggal menjual saham perusahaan itu dan saya pindahkan uang saya untuk membeli saham perusahaan lain yang lebih bagus. Ini lebih cocok buat saya yang sibuk, tidak punya banyak waktu untuk mengurus bisnis yang njelimet, dan lebih penting lagi, saya bisa melakukannya secara online.

Enak?

Kenapa Pilih Pasar Modal Syariah?

Saya muslim, dan agama saya melarang praktek-praktek bikin bisnis yang bertentangan dengan agama Islam. Yang namanya bisnis alias berdagang, kadang-kadang mengandung beberapa hal yang terlarang, sedangkan saya tidak ingin menanamkan modal saya pada perusahaan yang melakukan hal-hal haram tersebut. Contoh bisnis yang dilarang itu antara lain perjudian, jual-beli barang haram, jual-beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian. Jasa keuangan yang mengandung unsur riba pun dilarang. Makanya, saya nggak pernah beli saham-saham non-syariah, contohnya saham dari perusahaan perbankan karena bank di Indonesia masih mengandung riba. Nggak beli saham perusahaan asuransi juga, karena asuransi kan jualan risiko ketidakpastian. Saya juga nggak beli saham perusahaan perhotelan kalau hotelnya saya tahu menyediakan kasino. Apalagi saham perusahaan rokok, wah..sudah dicoret nomor satu dari daftar saham incaran saya.

Ajaibnya, karena saya selalu memilih beli saham syariah, saya nggak pernah melihat perusahaan yang saya miliki sahamnya itu tercekik utang sampai berlebihan. Sebab di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Pihak Penerbit Daftar Efek Syariah (DES) mematok syarat bahwa perusahaan yang memang syariah nggak boleh punya hutang berbasis bunga yang nilainya melebihi 45% dari total asetnya. Perusahaan yang kedapatan punya hutang melebihi nilai itu akan dicoret dari DES. (DES ini diupdate tiap enam bulan, dan saya selalu menelitinya dalam Indeks Saham Syariah Indonesia tiap bulan Juni dan bulan Desember, untuk memastikan apakah perusahaan yang sahamnya saya miliki masih berada di dalam daftar itu atau sudah dikeluarkan.)

Memang kadang-kadang perusahaannya masih menanam modal pada bank, dan dari penanaman modal itu mereka memperoleh bunga dan bunga ini mungkin masih termasuk pendapatan non-halal. Tetapi pendapatan non-halal ini sendiri pun juga minim banget, karena menurut aturan dari OJK dan DES, pendapatan non-halal nggak boleh sampai melewati 10% dari total pendapatannya. Sehingga saya pun lebih tenang karena saya merasa saham perusahaan yang saya miliki selalu dipelihara untuk supaya sebersih mungkin dari pendapatan yang dilarang menurut prinsip keuangan syariah.

Sebetulnya nggak cuman saham syariah yang saya pakai sebagai investasi di pasar modal syariah. Saya juga memiliki reksadana saham, dan lagi-lagi yang saya pilih pun reksadana saham syariah. Saat ini dua instrumen pasar modal itu saja yang saya kelola, karena dua instrumen ini yang saya paham banget. Ke depannya, kalau saya punya waktu, saya kepingin juga belajar instrumen-instrumen yang lain, misalnya sukuk dan ETF syariah.

Bagaimana Investasi Pasar Modal Syariah Bisa Mewujudkan Rencana Liburan ke Korea?

Rencana liburan bisa tercapai kalau ada dana. Dana yang dituju bisa terkumpul jika tidak diinterupsi oleh keperluan-keperluan lain, maka di situlah fungsinya investasi. Investasi yang bisa memberikan nilai pengembalian modal yang terbanyak tentu saja adalah investasi di pasar modal. Dan dengan investasi pasar modal syariah, prinsip agar investasinya tetap amanah, minim dari pendapatan-pendapatan non-halal pun tetap terjaga. Sehingga insya Allah pendapatan saya dari investasi pun tetap barokah.

Sudah bertahun-tahun saya berinvestasi pada pasar modal syariah, terutama pada saham syariah dan reksadana syariah, jadi saya sudah merasakan profit yang signifikan. Secara berangsur-angsur investasi pun menjadi gaya hidup saya. Dalam prakteknya, setiap kali saya mendapat penghasilan, sekitar 30% saya ambil untuk investasi, sebagian saya masukkan untuk menambah modal membeli saham, dan sisanya saya belanjakan untuk membeli unit reksadana.

pasar modal saham syariah
Melihat grafik perjalanan harga saham ini adalah kegemaran saya sehari-hari.
Saya membaca pola pergerakan harga dan indikator.
Fibonacci dan trendline adalah teman baik saya dalam urusan memperkirakan pergerakan harga saham.

Cara berinvestasi di pasar modal syariah ini mudah sekali lho. Saya membeli saham syariah ini secara online melalui perusahaan sekuritas anggota Bursa Efek Indonesia. Kelakuan saya tiap pagi adalah membuka software online trading di smartphone saya, memasukkan harga beli yang saya inginkan pada saham yang saya incar, lalu menunggu sampai harga saham tersebut di bursa mencapai harga yang saya inginkan dan saham pun terbeli secara otomatis. Setiap malam seusai perdagangan di BEI, saya memeriksa apakah saham-saham yang saya miliki sudah naik harganya. Jika saya merasa harga saham-saham tersebut sudah setinggi yang saya inginkan, maka saya jual dan di situlah saya memperoleh keuntungan dari investasi saya. Berkali-kali trading, saya mendapat keuntungan rerata 10-12% pada saham-saham yang profitable, jauh lebih banyak daripada bunga ketika saya masih hanya menabung pada deposito.

Instrumen pasar modal lainnya, yakni reksadana saham, pun saya beli secara online. (Malah tidak hanya reksadana saham yang saya miliki, saya juga punya reksadana pasar uang dan reksadana campuran. Semuanya reksadana syariah.) Setiap bulan, saya melakukan top up pada reksadana-reksadana yang saya miliki, dengan cara membeli pada websiteperusahaan manajer aset yang menjual reksadana tersebut. Bertahun-tahun memiliki reksadana, saya hanya pernah menjual sedikit unitnya, yaitu untuk membiayai kelahiran anak saya. Kini modal yang sudah saya tanamkan pada reksadana pun sudah berkembang sampai 11% setiap tahunnya, dan masih saya top up selalu. Saya berencana mau mencairkan reksadana ini bila nanti seluruh modal investasi saya sudah mencukupi biaya untuk liburan ke Korea.

Saya Rasa..

Menabung pada deposito itu bagus. Tetapi berinvestasi pada instrumen pasar modal akan memberikan hasil yang lebih banyak daripada bunga deposito. Selain menguntungkan diri sendiri sebagai investasi, menjadi pelaku pasar modal pun berarti meminjamkan modal kepada banyak perusahaan, sehingga perusahaan-perusahaan tersebut akan produktif dan negara kita pun lebih maju. Akan ada banyak tenaga kerja yang terserap di seluruh negeri, sehingga secara tidak langsung pun investasi kita akan mengurangi pengangguran nasional. Artinya, dengan berinvestasi, kita ikut memberikan lapangan pekerjaan dan ikut memajukan negeri.

(Dan ini sudah terbukti. Di negara-negara yang penduduknya banyak menjadi pelaku pasar modal, semisal Amerika Serikat, Inggris, atau Singapura, ternyata pertumbuhan ekonominya pun juga cukup tinggi, daripada negara yang penduduknya jarang berinvestasi.)

Pasar modal syariah memberikan nilai tambah bagi investasi pasar modal itu sendiri. Faktor syariah membuat modal yang ditanamkan oleh pelaku pasar modal itu tetap amanah. Investor pun tenang karena ia merasa bahwa modalnya tetap berkembang tanpa digunakan dalam perdagangan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Saya mempelajari cara berinvestasi di pasar modal secara otodidak. Masyarakat juga bisa belajar sendiri lho, karena sumber-sumber belajarnya tersebar acak di internet. Malah Bursa Efek Indonesia sendiri sudah menyediakan Sekolah Pasar Modal bagi masyarakat yang ingin belajar gratis tentang cara investasi di pasar modal, bahkan ada kelas khusus Sekolah Pasar Modal Syariah segala. Saya sendiri sudah memegang sertifikat dari Sekolah Pasar Modal.

Kalau ingin rencana jangka panjang kita terwujud, sebaiknya berinvestasi pada pasar modal mulai dari sekarang. Jika ingin investasinya amanah menurut prinsip keuangan syariah, maka langkah yang terbaik ialah berinvestasi pada pasar modal syariah.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

10 comments

  1. Lisdha says:

    Saya sedang belajar investasi dan senang sekali membaca tulisan mbak vicky ini.
    Saya sudah invest reksadana dan sedang mulai lirik2 saham. Tapi masih belum berani action karena pengetahuannya masih minim banget. Thanks sharingnya mbak. Salam kenal

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Salam kenal balik, Mbak Lis. Selamat ya sudah jadi bagian dari sedikit orang Indonesia yang membeli reksadana.

      Mbak Lis, memang kalau pengetahuan tentang sahamnya masih minim sekali, lebih baik belajar dulu sampai bisa memahami dengan betul. Minimal paham kapan waktu yang tepat untuk menjual. Kapan-kapan saya mau nulis tentang ini.

      Makasih ya sudah mampir kemari 🙂

  2. Mengucapkan selamat atas prestasinya menjadi juara ke-3 lomba blog ACKS. Saya juga ikut tapi gak menang. Juara-1 juga orang Surabaya. Saya sebagai tetangga Surabaya (tinggal di Lamongan tapi aktivitas di Sby) ikut bangga. Jujur nih..saya pingin sekali bisa diajari ngeblog yang bisa menghasilkan uang, teman, relasi dsb. Dari yang paling dasar dulu, apakah blog gratisan pasti kalah dengan blog berbayar dalam menjaring pembaca/SEO.? Terimakasih tips & triknya

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Hai Mas Prima, terima kasih.
      Semoga Mas Prima juga menang lomba pada lain kesempatan.

      Mas, blog gratisan maupun blog domain berbayar punya kesempatan yang sama besar untuk menjaring pembaca.
      Persoalannya, bagaimana cara memancing pembaca mau datang ke blog kita?

      Gini, Mas, ada tiga sebab kenapa orang mau datang ke blog kita:

      1) Kita yang langsung minta pembaca untuk datang. Saya sering bilang sama tetangga saya lho Mas, “Eh sampeyan buka dong http://www.vickyfahmi.com. Ada info lho soal harga hotel bintang lima di Bali yang cuma Rp 500k-an. Katanya bulan depan sampeyan mau ke Sanur toh?”

      2) Orang mencet back link yang pernah kita tinggalkan di website lain. Saya sering nih Mas komentar di website lain, dengan sengaja saya atur supaya komentar saya itu menarik perhatian pembaca lain. Akibatnya pembaca website itu jadi ingin tahu siapa saya dan malah jadi berkunjung ke blog saya.

      3) Artikel blog kita nongol di halaman satu Google Search. Saya bikin artikel itu pakai cara-cara SEO, Mas, supaya artikel saya bisa jadi rujukan untuk orang-orang yang mengetik kata tertentu di Google Search. Termasuk artikel yang sedang Mas Prima komentari ini juga ditulis dengan Cara SEO.

      Gitu ya, Mas..

  3. Yanwar Paniga Rosyid says:

    Mbak, untuk jual beli saham itu apakah sama dengan trading? Apakah jual beli saham itu halal? Adakah jual beli saham secara syariah, kalo boleh tahu dimna?

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Jual beli saham bisa dilakukan dengan bermacam cara, salah satunya adalah trading. Silakan lihat macam-macam cara jual beli saham di http://vickyfahmi.com/2016/07/02/saham-syariah.

      Saya merasa jual-beli saham ini halal. Karena saham yang saya jual-beli kan adalah saham yang terdaftar di Daftar Efek Syariah. DES ini disusun oleh Otoritas Jasa Keuangan yang sudah dikonsultasikan dengan Dewan Syariah Nasional.

      Berjual-beli saham bisa dilakukan jika kita terdaftar sebagai nasabah dari suatu perusahaan sekuritas. Perusahaan ini haruslah menjadi anggota dari broker-broker yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Saya akan menulis tentang cara mendaftarkan diri menjadi nasabah sekuritas ini kapan-kapan, supaya bisa menolong kawan-kawan yang ingin berjual-beli saham (syariah) dengan legal.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Kalau untuk saham dan reksadana, bisa dibaca bukunya Ryan Filbert. Foto bukunya ada di link atas ini “Meet Ryan Filbert, Penulis Reksadana”.

      Tapi kalau untuk khusus syariah, aku nggak punya rekomendasi. Karena aku baca faham syariah dari Sekolah Pasar Modal dan dari forum-forum investor di internet aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *