Gendong Bayi ke Candi Gedong Songo

Kesalahan awal saya sebetulnya adalah menyangka bahwa Candi Gedong Songo adalah sekedar candi-candi Hindu yang lain. Padahal prestasi terbesar saya dalam menjelajahi candi Hindu baru sampai ke Pura Besakih. Jadi saya santai aja ngajakin suami dan anak saya ke salah satu candi di Jawa Tengah itu. Maka ketika saya tiba di venue, celingak-celinguk dan menyadari bahwa kalau mau ke candinya itu harus hiking segala, dan saya bawa bayi, saya langsung tepok jidat.

Oh my God, jalannya terjal penuh pasir batu, dengan kemiringan jalur setapak sampai 60 derajat. Sangat tidak stroller-friendly! Sementara anak saya, Fidel, 14 bulan, baru bisa jalan dan sedang dalam fase nggak jelas apakah mau dibopong dalam stroller terus-menerus atau mau melatih jalannya yang masih sempoyongan. Akhirnya saya dan suami pun sepakat: Kami tetap masuk ke kompleks candi. Kami akan mengelilingi lembah bukit terjal itu sampai menemukan semua candinya. Fidel akan digendong suami saya selama mendaki bukit. Dan tugas saya adalah menggendong tas dan memanggul tongsis!

Venue yang Berbukit

Candi Gedong Songo, hakekatnya adalah suatu kompleks berisi candi-candi Hindu yang berjumlah sembilan (Jawa: Gedong = bangunan, Songo = sembilan). Candi-candi ini didirikan menyebar di perbukitan kawasan Bandungan, Semarang. Untuk berjalan dari satu candi ke candi lainnya, saya mesti mendaki jalan perbukitan terjal selama masing-masing kira-kira 15-20 menit.

Candi Gedong Songo outbound training
Jalur setapak di perbukitan Candi Gedong Songo dengan kemiringan nyaris 60 derajat.

Sepanjang mendaki, Fidel berayun-ayun dalam gendongan suami saya. Saya memanggul tas punggung (yang cuma berisi apron menyusui dan air mineral 650 cc) sambil sesekali motret landscape.

Perbukitan tempat wisata di Bandungan ini dihiasi pemandangan kebun dan hutan yang menghijau. Letak bukit ini yang berada di lereng gunung bikin hawa juga berasa sejuk. Kawasan candi ini sudah dikelola oleh Perhutani, jadi untuk menelusurinya sudah ada jalur setapak yang cukup bersahabat buat hiker ecek-ecek macam saya. Malah ada jalur khusus kuda segala. (Memang di kompleks ini disediakan kuda, untuk para turis yang nggak kuat jalan kaki. Untuk mengelilingi kompleks candi ini, kita bisa menyewa kuda bareng jokinya dengan tarif Rp 80k. Hanya untuk penumpang berbobot paling berat 80 kg).

Gedong Songo yang Cuma Lima

Sewaktu saya nulis ini, saya sendiri masih heran kenapa Pemerintah masih menyebutnya Songo, padahal jumlah candi yang ada tinggal lima.

Alkisah sewaktu Indonesia masih dijajah, pemerintah kolonial Inggris pimpinan Raffles yang menemukan candi-candi Hindu ini dan mencatatnya sebagai bangunan bersejarah. Beberapa candi sudah rusak karena dimakan waktu, lalu penjajah berikutnya, Belanda, merestorasinya supaya candi tetap terawat.

Ketika Indonesia sudah merdeka, Pemerintah sempat memugar candi-candi ini dan mendandani lingkungan sekitarnya supaya lebih tourist-friendly. Dari kesembilan candi yang sudah diteliti oleh tim arkeologi Belanda, tinggal lima candi yang masih utuh sehingga masih bisa dikelola pemerintah Indonesia. Pada kelima candi, setiap candi diberi plang nama: Candi Gedong I, Candi Gedong II, dan seterusnya sampai Candi Gedong V. Tiap candi juga dihiasi taman-taman yang cukup asri.

Sepanjang berjalan di antara candi, saya bolak-balik ketemu masyarakat desa yang nampaknya ditugaskan buat bersih-bersih rerumputan di perbukitan candi. Rata-rata umur juru bersih-bersihnya sudah 40-50 tahunan. Saya sendiri takjub mereka masih mau mendaki sejauh ini hanya untuk bersih-bersih rumput sekitar candi.

Kuil Batu di Atas Bukit

Candi Gedong Songo punya penampilan yang mirip tipikal candi-candi Hindu umumnya: kumpulan gundukan batu berbentuk tinggi langsing. Mirip candi di Jawa Tengah lainnya, yaitu Candi Prambanan, atau candi-candi di Bali.

Candi Gedong Songo candi di Jawa Tengah
Fidel Fahmi berdiri di depan Candi Gedong II pada Candi Gedong Songo

Ada anak tangga yang dibangun untuk masuk ke candi, dan di dalam candi ada selasar pendek yang makin meneguhkan fungsi candi sebagai venueuntuk kegiatan pemujaan. Di dinding candinya sendiri ada ukir-ukiran berbentuk mirip kembang dan beberapa bentuk yang mungkin mirip hewan.

Saya sendiri heran kenapa jaman dulu ada banyak orang mau mendaki bukit terjal setinggi ini hanya untuk menyusun gundukan batu setinggi lima meter dan mengukir-ngukirnya segala, yang ujung-ujungnya cuman dipakai buat tempat bertapa. Kalau lagi nggak bersemedi, orang-orang ini mandi di mana? (Mosok nggak mandi sih?)

Sejarah Candi Gedong Songo

Menurut arkeolog Belanda yang meneliti candi ini, disinyalir Gedong Songo masih merupakan peninggalan kerajaan Majapahit. Pada fase kerajaan itu, memang banyak kaum rohaniawan yang doyan membangun candi untuk alasan ibadah. Selain untuk jadi lokasi meditasi, fungsi candi juga untuk membakar orang yang meninggal atau membakar sesajen. Memang di area candi Gedung Songo ini saya juga menemukan gundukan batu yang besar dan rendah di depan candi utamanya, yang sekilas rada mirip arena barbeque-an.

Kenapa lokasi yang dipilih untuk membangun candi adalah lokasi bukit yang tinggi-tinggi? Konon orang-orang jadul percaya bahwa gunung-gunung adalah tempat tinggal para dewa, sehingga semakin ke atas, rasanya semakin dekat ke kahyangan. Maka preferensi mereka terhadap perbukitan sebagai tempat untuk membangun arena pemujaan, termasuk sebagai lokasi untuk memuliakan orang yang sudah meninggal, pun sangat kuat.

Gedong Songo Hari Ini

Candi Gedong Songo sekarang sudah jadi tempat wisata alam di Semarang yang cukup populer. Landscape perbukitannya membuat fungsi candi berkembang menjadi arena main yang cukup populer buat para konunitas pecinta alam, dan ini disambut Perhutani dengan bikin fasilitas permainan outbound training di sana.

Selain bikin arena flying fox, antara Gedong IV dan Gedong V juga ada lapangan besar yang nampaknya dibikin untuk kegiatan team building buat kegiatan outbound. Ada juga kawasan tertentu yang dibangunkan bangunan sarana penginapan untuk kelompok.

Tapi sewaktu saya kemari, saya bukan ketemu pecinta alam. Saya malah ketemu pasangan yang lagi foto-fotoan prewed! 

Salah satu gimmick yang juga dibangun Perhutani untuk menggairahkan wisata di Bandungan ini ialah fasilitas berendam air hangat. Setelah jauh mendaki, saya menemukan bangunan semacam pondok kecil berisi kolam yang diperuntukkan buat turis yang kepingin merendam kakinya. Kolam ini digenangi air yang mengalir dari sungai kecil di dekatnya, dan bau belerang menyengat tajam dari dalam sungai itu. Saya sendiri kurang tertarik berendam di sana, selain karena takut Fidel jadi kecipak-kecipak padahal saya nggak bawakan baju ganti, tarif perorangnya pun cuma Rp 5k dan kolamnya nampak biasa-biasa aja dan sepi (nggak ada pelayan ganteng berkeliaran sambil bawain lemon tea hangat).

Membawa Bayi ke Gedong Songo

Fidel tentu saja belum paham-paham amat tentang candi. Tapi saya ngeyel membawanya kemari karena ingin mencoba jaket baru memperkenalkannya kepada hawa dingin dan alam liar. Ternyata berhasil; sepanjang jalan dia ketemu kuda, capung, kadal, dan kaki seribu. Dia diam aja selama digendong suami saya sambil mendaki. Kadang-kadang ketika kami sedang beristirahat duduk-duduk di candi sambil foto-fotoan, suami saya menurunkan Fidel dari bahunya dan saya mengajak bocah ini jalan-jalan keliling undak-undakan. Alhamdulillah dia nggak merengek rewel selama mendaki bukit ini. Saya rasa sebetulnya dia senang, hanya saja dia kedinginan (dan ini memberi saya pelajaran supaya lain kali saya ingat untuk memakaikannya sarung tangan untuk balita). Jarang-jarang saya mengajaknya ke tempat berhawa dingin, karena kami berdomisili di Surabaya.

Gambar Candi Gedong Songo V
Mencapai Candi Gedong Songo V setelah sekitar 1,5 jam.
Fidel kedinginan, saya ajak senyum menghadap ke kamera, tapi dia malah berdiri memeluk kaki saya.

Ini juga menguji pengalaman saya dalam urusan hiking membawa bayi. Ketika kami sudah naik ke Gedong III, kabut turun dan hawa semakin dingin. Saya sempat kuatir akan turun hujan padahal saya nggak siapkan jas hujan untuk Fidel. Kami tetap melanjutkan pendakian karena Accu Weather di handphone suami saya cuma menunjukkan cloudy dan sunny, bukan parameter rainy atau stormy.

Kami akhirnya mencapai Gedong V, candi terakhir, setelah sekitar 1,5 jam mendaki. Kabut sudah makin tebal, jadi foto-fotoan pun makin buram. Rasanya lega banget bisa menaklukkan bukit ini, dan lebih bangga lagi lantaran bisa bawa bayi sampai sejauh ini, hihihi. Untung deh candinya tinggal lima, jadi saya nggak perlu mendaki lebih jauh lagi..

Video berikut ini adalah penampakan Candi Gedong V itu..

 

 

Candi Gedong Songo Bandungan Semarang
Saya dengan suami dan anak di depan Candi Gedong III di Candi Gedong Songo.
Kabut di belakang candi merebak di antara sekelebat pemandangan lembah Ambarawa.

Lokasi Candi Gedong Songo

Mencapai candi ini sebetulnya bisa dengan angkot dari terminal Ambarawa. Namun saya milih bermobil dari Semarang melalui jalur tol Semarang-Bawen, masuk ke Ambarawa dan menembus ke jalan arteri di daerah pasar Ambarawa. Bandungan-Ambarawa sendiri cuma bermobil 10 menit.

Cukup banyak hotel di sekitar daerah ini yang bisa diinapi. Hills Joglo Villa punya banyak kamar yang pas untuk tamu-tamu keluarga besar, sementara Balemong Resort Ungaran punya fasilitas convention hall yang sering dipakai untuk rapat corporate. Hotel C3 Ungaran juga cukup nyaman dengan harga yang lebih terjangkau.

Lokasi Candi Gedong Songo: Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.

Harga tiket: Rp 6k/orang (warga negara Indonesia), Rp 50k/orang (warga negara asing)

Tiket pesawat menuju Semarang bisa diperoleh di sini

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

6 comments

  1. mawi wijna says:

    Klo katanya ortu dulu, pas aku balita juga pernah diajak ke candi, tapi di Dieng yg lebih berkabut & lebih dingin. 😀

    Fidel diajak naik kuda senang kali Bu Dokter. 😀

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Aku yakin dia akan senang naik kuda, tapi aku tunggu dulu sampai dia mau duduk tenang, Na. Sekarang aku masih susah ngajarin dia duduk yang manis di mobil aja.

      Sebetulnya aku udah ngincar ke Dieng, tapi Mas Fahmi belum cukup berenergi untuk nyetir ke Wonosobo. Mungkin suatu hari nanti ya, diusahakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *