Hari-hari Momen Makan Pertama Anakku bersama MP-ASI

Tantangan buat saya sebagai ibu yang merawat bayi itu sama saja seperti mamah-mamah muda lainnya: membuat bayi mau makan.

Ketika anak saya, Fidel, menginjak umur enam bulan, mendadak semua kelelahan saya selama dia menyusui eksklusif menjadi tidak ada artinya. Kalau selama enam bulan pertama Fidel hanya perlu menyusui dan tugas saya hanyalah tinggal buka baju dan membiarkannya minum sepuasnya, sekarang tugas saya pun bertambah karena saya harus mau membuatnya makan makanan selain ASI. Dan itu tidak gampang, karena dia harus berkenalan dengan metode makan selain mengisap cairan, beradaptasi dengan tekstur makanan baru, dan rasa makanan yang mungkin beda sama sekali dengan yang biasa dikonsumsi olehnya.

First Bite Day

Saya setuju bahwa yang namanya pengalaman pertama kali makan itu sebaiknya dirayakan. Jika selama menyusui eksklusif bayi cuma kenal makanan bernama ASI dan makanan ini hanya perlu dihisap, maka MP-ASI adalah tantangan baru yang bisa bikin bayi jadi “naik kelas” alias lebih pintar.

Itu juga yang terjadi pada Fidel, ketika saya memberinya menu MP-ASI pertama berupa bubur bayi. Tekstur bubur yang jelas beda jauh dari cairan ASI membuatnya terpaksa beradaptasi. Reaksi adaptasinya beragam, mulai dari terkejut ketika mengisap bubur pertamanya, lalu melepehnya. Tapi kemudian mencoba mengisapnya lagi, lalu berusaha mengunyahnya pelan-pelan (meskipun dia jelas belum punya gigi untuk mengunyah!). Lalu karena ia kelelahan mengunyah, ia jadi tidak mau makan lama-lama, padahal saya sudah menyiapkan semangkok penuh bubur dan saya pun jadi gondok ketika dia tidak mau menghabiskan buburnya 😀

Semula saya berpikir, mungkin saya ibu yang terlalu ambisius dan anak saya belum siap makan bubur. Atau saya yang salah membuat bubur bayi, akibatnya rasa dan teksturnya tidak sesuai untuk Fidel yang masih pemakan kelas pemula. Atau saya yang tidak tahu porsi makan bayi enam bulan yang tepat. Atau mungkin anak saya kekurangan kalsium sehingga giginya belum cukup banyak, jadi dia belum bisa makan bubur. Dan seribu satu alasan lainnya untuk membenarkan kenapa Fidel tidak mau makan selahap minum ASI.

Tapi saya tetap ingin mendidik anak saya untuk mau makan dan tidak hanya bergantung kepada ASI. Sebab saya ingat salah satu quote dari Attila Dewanti, seorang dokter anak ini, “Masalah perawakan pendek (stunting), tidak berhenti di tinggi badan Si Kecil. Dalam jangka pendek, kekurangan zat besi dan asam amino berdampak terhadap tumbuh kembang, daya tahan tubuh dan fungsi kognitif. Tanpa asupan nutrisi yang cukup, dalam jangka panjang, kekurangan zat besi, yodium, zinc, dan vitamin A, bisa mengakibatkan terjadinya penurunan IQ dan risiko penyakit seperti obesitas, diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis.” Singkatnya, apa yang saya berikan kepada bayi pada umur sekecil ini, ternyata dampaknya bisa mencegah bencana yang baru akan terjadi pada saat dia sudah berusia tua nanti.

Dan mendidik anak supaya mau makan tidak bisa ditunda lama-lama, tidak bisa menunggu sampai dia rada lebih besar sedikit (dengan harapan pada saat usia itu, temperamennya sudah mulai bisa diatur). Karena kalau mau mengutip dari quote-nya Brand Manager dari Kalbe Nutritionals, Christofer Lesmana, saya pun paham bahwa, “Nutrisi yang cukup selama periode emas atau 1000 hari pertama pertumbuhan Si Kecil berperan penting dalam mengantisipasi dampak dari masalah gizi kompleks. Karena pada periode emas, otak, otot dan tulang rangka berkembang pesat dan ketika Si Kecil genap berusia 2 tahun, perkembangan otaknya sudah sama dengan 80% otak orang dewasa.” Artinya saya cuma punya waktu dua tahun untuk membuat pertumbuhan dasar anak saya normal. Lewat dari umur itu, perkembangan anak mungkin akan tertinggal dari umur anak sebayanya; kalah tinggi, kalah gesit, kalah pintar.

ASI saja pada usia enam bulan nggak cukup untuk memenuhi kebutuhan energi sang bayi, maka memberikan menu MP-ASI itu mutlak wajib. Bahan-bahan nutrisi yang disebut sejawat saya Attila tadi pegang peranan penting untuk pertumbuhannya, dan bahan-bahan ini mesti diperoleh nggak cuman dari ASI, tetapi juga dari MP-ASI. Plus lagi, usia ini adalah saat yang tepat untuk bayi berkenalan dengan bermacam-macam rasa makanan, dan kalau saya bisa mendidik anak supaya dia mampu beradaptasi dengan beragam perbedaan rasa, maka ketika dia besar nanti dia nggak akan jadi anak picky eater alias anak yang kalau mau makan harus memilih-milih makanannya dulu.

Menu MP-ASI yang Mana?

Bubur Bayi Organik

Salah satu produk makanan bayi yang cukup inovatif itu ialah bubur bayi organik yang disenangi Fidel, terutama bubur beras merahnya. Saya bilang inovatif karena bubur bayi organik ini terbuat dari bahan alami organik pilihan. Faktor keorganikannya penting, mengingat bubur bayi ini dibikin dari bahan-bahan pangan organik yang digarap secara alami dengan sistem pertanian yang bebas dari bahan-bahan kimia dan pengawet, sehingga aman untuk kesehatan organ-organ tubuh bayi. Karena proses produksi buburnya juga alami, maka kandungan gulanya pun tetap tinggi, sehingga rasa alamiah buburnya pun tetap terjaga. Bayi pun juga merasa lebih enak ketika mencicipinya, sebab seolah-olah ia merasakan bahan makanannya yang asli.

Biskuit Bayi

 

Selain bubur, menu MP-ASI lain yang juga sering saya berikan kepada Fidel adalah biskuit bayi. Biskuit ini punya fungsi ganda buat Fidel; selain sebagai sumber nutrisi bagi pertumbuhannya, juga sebagai alat stimulasi kecerdasan untuk perkembangannya. Pada usia enam bulan Fidel sudah mulai senang menggigit-gigit barang, selain karena untuk memuaskan rasa ingin tahunya, juga karena ia ingin melampiaskan rasa tidak nyamannya akibat giginya yang sudah mulai tumbuh. Maka saya pun memberinya biskuit, dan dia cukup happy ketika mengetahui bahwa biskuit yang digigitnya itu bisa ditelan dan rasanya enak. Biskuit seperti ini bahkan punya relief berbentuk angka, sehingga menyuapi Fidel bisa sekaligus sambil mengajarinya tentang angka.

Pudding

 

MP-ASI bayi belajar makan
Fidel ngeyel mau memotong puddingnya sendiri.
Jadi saya berikan dia sendok dan garpunya sendiri untuk memuaskan rasa penasarannya.

Ada lagi menu MP-ASI yang juga saya sediakan untuk Fidel, yakni pudding. Tekstur pudding yang mirip gelatin yang kenyal membuat Fidel penasaran untuk menikmatinya. Fidel yang baru punya gigi seri bisa menggigit pudding dengan mantap, tapi karena ia belum punya geraham, maka ia harus menggunakan gusinya supaya bisa menghancurkan pudding ini di dalam mulutnya. Pudding ini cocok lho sebagai bahan latihan mengunyah. Dan karena kenyal dan gampang hancur di dalam mulut, pudding ini jarang bikin Fidel tersedak kalau dia sedang terlalu bersemangat untuk makan.

Mendidik Anak Supaya Senang Makan

Sama seperti ibu-ibu lain, saya juga memikirkan seribu ide kreatif supaya anak saya mau makan makanan dan tidak hanya minum ASI melulu. Selain karena saya kepingin anak saya dapat nutrisi yang cukup untuk tumbuhkembangnya, saya juga ingin menanamkan ide padanya bahwa makan adalah kegiatan yang sangat menyenangkan, bukan sebagai suatu kewajiban yang menyebalkan.

Ini cara-cara saya membuat anak saya mau makan:

  1. Anak saya selalu makan bersama orangtuanya. Di meja yang sama, pada saat yang sama. Saya memarkir kursi makan Fidel persis di sebelah saya. Saya menyuapi Fidel, dan setelah dia melahap suapan saya, saya langsung menyuapi diri saya sendiri. Itu membuat Fidel merasa tidak makan sendirian, dan dia pun betah karena tidak merasa bosan menjadi pusat perhatian (iya, bayi ternyata tidak suka jadi center of attention lama-lama).

 

  1. Kadang-kadang perhatiannya gampang teralihkan ketika makan, sehingga ia jadi kehilangan selera makan. Misalnya ketika neneknya lewat, atau ada kucing lewat. Saya mengakalinya dengan menyediakan mainan untuk membuat tangannya sibuk selama saya menyuapinya. Kadang-kadang saya membacakannya dongeng dari buku cerita, atau memutarkannya video dari handphone saya (dia paling senang menonton video berisi dirinya sendiri!).

 

  1. Saya memberinya makan dengan jadwal pemberian MP-ASI yang teratur, pada jam yang sama setiap hari. Jam tujuh ketika sarapan, jam 12.00 ketika makan siang, jam 18.30 ketika makan malam. Ini cara sederhana saya untuk mengajarinya tentang disiplin. Ternyata cara itu juga menciptakan ritme biologis yang teratur dalam tubuhnya, termasuk menciptakan saat yang teratur untuk merasa lapar. Saya sendiri sudah mengalami, ketika dia terlambat makan dari jam yang teratur, dia jadi luar biasa rewel lantaran kelaparan. Dan alhamdulillah Fidel jarang rewel karena lapar, lantaran dia selalu makan pada waktu yang sama setiap hari.

 

  1. Saya membawa bekal berupa camilan setiap kali kami mau jalan-jalan keluar rumah. Berjalan-jalan buat Fidel ternyata adalah stimulasi yang bisa bikin dia cepat lapar, meskipun berjalan-jalan itu cuman sebatas main ke rumah tetangga, misalnya. Cemilan yang saya bawakan biasanya berupa biskuit bayi. Kalau Fidel sudah mulai lapar, dia akan cenderung lebih rewel, dan bila saya sudah menyogoknya dengan biskuit, dia akan diam dan sibuk mengunyah. Seperti di video berikut ini, saya menyuapinya biskuit sambil jalan-jalan ke taman.

 

  1. Saya berusaha variatif dalam memberikan makanan untuk Fidel. Buburnya kadang-kadang saya campur dengan susu, supaya rasanya semakin gurih. Kadang-kadang saya cuma menyeduh buburnya dalam jumlah sedikit saja, tapi saya jadikan buburnya sebagai cocolan untuk biskuit bayi. Kadang-kadang pudding pun saya berikan dengan susu sebagai vla. Malah beberapa kali saya suapi Fidel dengan pudding sekaligus bersama-sama dengan potongan buah segar.
  2. Fidel sama seperti bayi-bayi lain: cepat bosan dan senang barang baru. Saya mengakalinya dengan menyediakan sendok makan dan piring yang beda warna tiap hari. Itu membuat moodnya jadi bergairah karena setiap hari serasa selalu ada petualangan baru.

Dampak First Bite Day, Kini

Fidel sekarang sudah berumur 14 bulan. Kemampuan makannya sudah semakin pesat. Saat ini dia doyan makan dengan memakai sendok logam seperti yang biasa saya pakai. Akibatnya kalau saya mau memberi dia makan, saya terpaksa menyediakan sebuah sendok untuk saya pegang sendiri, dan sepasang sendok garpu untuk dipegang Fidel. Plus sebuah piring mainan untuk Fidel juga. Kadang-kadang skenarionya berubah. Makanan Fidel saya taruh di piring saya, bersamaan dengan makanan saya sendiri (kadang-kadang piring saya berisi salmon tumis dan bubur bayi sekaligus :-D). Saya menyuapi Fidel dengan sendok saya, persis setelah dia melihat saya menyuapi mulut saya sendiri. Cara begitu membuatnya lebih senang, dan lebih banyak makanan yang bersedia dia lahap. Dan saya pun happy. J

Sewaktu saya menulis artikel ini, anak saya sudah tertidur setelah kami suap-suapan makan malam. Iya, suap-suapan. Saya menyuapinya, dan dia juga memegang sendoknya untuk menyuapi saya dengan bubur. Cara memegang sendoknya masih miring-miring, tapi dengan upayanya berusaha memasukkan ujung sendok ke mulut saya, saya menyadari bahwa dia berusaha meniru saya, sebagai pertanda bahwa fungsi kognitif otaknya sudah berkembang pesat.

Anak saya adalah anak sehat, jarang banget sakit, dan dia pintar. Dan mungkin, itu karena saya sudah memberikan MP-ASI yang tepat semenjak hari-hari pertama momen makan pertamanya.

 

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

2 thoughts on “Hari-hari Momen Makan Pertama Anakku bersama MP-ASI

  • August 26, 2016 at 8:10 pm
    Permalink

    Kayaknya saya harus coba menyiapkan makanan di depan anak supaya ia semangat makan.

    Reply
    • August 27, 2016 at 3:28 am
      Permalink

      Iya, betul. Melihat proses membuatnya lebih tertarik untuk menikmati hasilnya 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *