Bisnis Cafe, Pahlawan Ekonomi

Pahlawan adalah sebutan bagi mereka yang berjasa untuk memberikan sesuatu yang berharga. – Anonymous, 2016
Ada suatu masa ketika yang disebut pahlawan adalah serdadu yang berperang dengan alasan mempertahankan kedaulatan suatu bangsa atau suatu wilayah. Karena buat orang-orang tertentu, identitas kebangsaan maupun sekedar patok batas teritori wilayah adalah hal yang berharga untuk dipertahankan.
Di bidang lain, kita mendengar istilah pahlawan tanpa tanda jasa yang sering dilekatkan pada profesi guru. Alasannya, guru memberikan ilmu dan ilmu itu dianggap berharga.
Dan masih banyak lagi pekerjaan-pekerjaan lainnya yang sering dijuluki pahlawan.
Tapi buat saya, gelar pahlawan saya sematkan pada para pemilik bisnis cafe.
Lho, kok bisa?

Selamat datang di tahun 2016, era ketika penduduk berusia produktif meningkat pesat, sedangkan kebutuhan ekonomi setiap orang juga meningkat, namun tidak dibarengi angka lapangan pekerjaan yang masih segitu-segitu saja.

Saat ini bermunculan pengusaha-pengusaha baru yang memiliki bisnis dalam skala kecil, berupaya membuat lapangan pekerjaan untuk dirinya sendiri (dan kalau bisa, untuk orang lain juga). Para pengusaha start-up ini hanya bermodalkan berusaha dari rumah, mereka bergerilya mencari pelanggan, klien, dan investor sendiri, dengan membangun komunikasi bermodalkan gadget dan sinyal internet. Anda mungkin salah satu di antara mereka.

Dengan cara ini, mereka menciptakan penghasilan. Tanpa harus bekerja di kantor, atau menyewa bangunan untuk jadi lokasi kantor. Para pebisnis start up ini menghemat modal, menghemat lahan, bahkan menghemat uang. Sisi bagusnya, karena sebagian besar pekerjaan mereka lakukan hanya berdasarkan koneksi internet, mereka mampu menjalankan perusahaan mereka hanya dari rumah tempat keluarga berada. Sehingga, mereka menjadi sangat dekat dengan anak dan pasangan mereka, dan mampu menghabiskan waktu bersama keluarga mereka sebanyak mungkin.
Akan tetapi, ternyata pertemuan empat mata masih tetap dibutuhkan untuk kelangsungan usaha. Klien tetap ingin bertemu langsung, dan investor ingin mengobrol akrab tanpa harus bergantung kepada Skype. Namun tak adanya lokasi perusahaan bukan hambatan.

Maka bermunculanlah cafe-cafe, yang semula hanya dimaksudkan untuk menikmati hidangan, menjadi tempat untuk pertemuan bisnis. Bisnis cafe tidak lagi hanya menjalankan bisnis kuliner secara tradisional, tapi mereka berubah menjadi bisnis solusi lokasi meeting. Para pemilik cafe ini menyediakan hidangan, meja makan, dan yang penting: koneksi wi-fi. Beberapa cafe bahkan melengkapi ruang makan mereka dengan sofa yang santai, dan rak berisi lusinan buku bacaan yang bermutu, untuk menemani tamu yang sedang menunggu appointment relasi mereka.

Tamu yang datang pun umumnya tidak menuntut porsi makanan yang banyak. Mereka hanya ingin secangkir kopi atau teh, dan mungkin sepiring kecil kue, namun mereka berlama-lama duduk di sana sambil menyimak presentasi relasi mereka yang dijalankan melalui koneksi wi-fi.
bisnis cafe supermal karawaci
Sudut cafe Cuppa Coffee di Supermal Karawaci.
Gambar diambil dari sini.

Transaksi mungkin akan berlangsung di tempat itu juga, pemilik start-up akan mendapatkan tarifnya dan sang klien memperoleh jasanya. Semua senang dan bisnis pun lancar. Dan itu semua hanya terjadi di dalam sebuah cafe.

Dan di situlah terasa manfaat para pelaku bisnis cafe. Mereka membuat banyak orang menghemat lahan, energi, dan terutama waktu, demi membuat perekonomian tetap berjalan.
Bisnis cafe ini membuat banyak orang tetap punya quality time untuk jadi diri mereka sendiri dan membesarkan anak-anak mereka di rumah. Mereka membuat banyak orang tetap memiliki waktu, sesuatu yang mungkin cukup mahal pada zaman sejarang.

Para pemilik bisnis cafe ini, adalah pahlawan masa kini.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

6 comments

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Gw sih kurang efektif kalau kerja di kafe. Sebab gw baru efektif kalau gw sudah kenyang. Kafe itu buat meeting, bukan buat makan kenyang, hahahah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *