Efektivitas Produk Tabir Surya di Pasaran

Apakah Anda sudah menggunakan produk tabir surya sebagai cara mencegah kanker kulit? Selamat, Anda sudah berada di jalur yang tepat.

Bagaimana kalau Anda masih belum menggunakan produk tabir surya untuk sehari-hari? Tenang, di Indonesia ini ada ratusan juta orang yang seperti Anda. Sama-sama miseducated. :-p

Tabir Surya di Kalangan Awam

Pengetahuan tentang kematian sebagai bahaya kanker kulit memang masih samar-samar. Maka tidak heran kalau banyak orang belum paham tentang kegunaan produk tabir surya.

Tabir surya lebih populer di kalangan populasi konsumen yang sering piknik. Terutama mereka yang senang jalan-jalan ke pantai. Inbox saya seringkali dihinggapi pertanyaan dari kawan-kawan tentang apa merk produk sunblock untuk wajah yang bagus untuk bermain di laut. Lucunya teman-teman jarang bertanya apa merk produk tabir surya yang bagus untuk hiking. Seolah-olah naik gunung nggak bikin kulit sama hitamnya dengan berjemur di pinggir pantai.

Soal tidak populernya produk tabir surya ini, saya juga menyalahkan pabrik kosmetik. Mereka menjual produk-produk mereka yang mereka namai sebagai sunblock itu, dengan harga yang dianggap mahal bagi kebanyakan orang. Akibatnya orang malas beli tabir surya lebih karena mereka sangka produk sunblock terbaik itu harus mahal.

Padahal, banyak sekali produk kosmetika yang sudah beredar di pasaran, yang harganya jauh lebih murah, tetapi sudah mengandung manfaat sebagai tabir surya. Dan kosmetik-kosmetik seperti ini sekarang harganya tidak lebih dari Rp 30k/botol.

Antara Tabir Surya, Sunblock, dan Sunscreen

Apakah Anda masih kesulitan membedakan ketiga istilah ini? Istilah-istilah ini hampir serupa, tapi tidak sama.

Lebih gampang memahami bedanya tabir surya, sunscreen, dan sunblock, kalau kita tahu bagaimana dampak radiasi sinar ultraviolet membahayakan kulit manusia.

Peter Soekmadji (@peternugraha), dokter ahli dermatologi dari Rumah Sakit Immanuel Bandung, memberi tahu saya tentang bahaya sinar ultraviolet dalam interview saya dengannya. Sinar ultraviolet dapat dibagi menjadi sinar ultraviolet A (UVA), sinar ultraviolet B (UVB), dan sinar ultraviolet C (UVC). Dalam perjalanannya menyinari bumi, radiasi sinar ultraviolet ini akan menembus lapisan ozon dulu. Setelah itu, baru sinar ini sampai di bumi dan terserap oleh kulit kita.

Tapi tidak seluruh sinar akan terserap kulit, karena hanya radiasi sinar ultraviolet A dan B yang akhirnya memang sampai di bumi. Sedangkan sinar ultraviolet C, lebih banyak memantul di ozon dan akhirnya tidak sampai menimpa kita. Tinggallah sinar UVA dan UVB, yang jika sampai terserap kulit kita dalam batas berlebihan, maka dapat menimbulkan beragam kelainan kulit.

Untungnya, saat ini sudah banyak ditemukan zat-zat kimiawi tertentu yang mampu melindungi kulit kita dari bahaya sinar ultraviolet A dan B itu. Zat-zat ini disebut sunscreen. Tabir surya adalah terjemahan bahasa Indonesia untuk sunscreen ini.

Menurut Peter, ada banyak sekali zat yang termasuk dalam sunscreen ini. Tetapi secara garis besar, menurut cara kerjanya, zat-zat sunscreen ini bisa dibagi dua macam, yakni golongan chemical absorber dan golongan physical blocking agent.

Chemical absorber bisa berupa macam-macam, tetapi umumnya ada lima macam golongan kimiawi yang termasuk golongan ini, antara lain PABA, cinnamate, benzophenone, salicylate, dan golongan lain.

Sementara physical blocking agent itu sendiri bisa berupa titanium dioxide dan zinc oxide. Khusus tentang physical blocking agent ini yang kemudian seringkali diistilahkan sebagai sunblock.

(Sampai di sini, saya kemudian mencari lotion-lotion di pasaran yang mengandung zat-zat di atas. Dan gampang banget menemukannya.)

 

Produk tabir surya untuk wajah dan tubuh
Produk tabir surya untuk wajah dan tubuh dapat ditemukan di toko terdekat dengan harga yang terjangkau.

Belum Pahamnya Orang Indonesia

Ada perbedaan pengetahuan tentang tabir surya antara negara Indonesia dengan negara lain.

Kebanyakan orang Indonesia masih percaya bahwa sunscreen itu full protektif. Itu sebabnya kenapa produk-produk sunblock bisa laris di kalangan teman-teman yang mau berjemur di Pecatu atau bahkan di Flores. Mereka sangka dengan mengoleskan Banana Boat subuh-subuh, itu jadi asuransi kimiawi untuk menjaga mereka dari dampak radiasi sinar matahari. Padahal menurut Peter, sampai hari ini belum ada produk sunscreen yang bisa melindungi diri dari sinar ultraviolet secara 100%.

Negara-negara lain sudah mengantisipasi urusan konsumen yang kurang pengetahuan ini. Berhubung banyak konsumen masih mengira bahwa bahaya sinar ultraviolet bisa ditekan seluruhnya dengan sunblock, maka banyak negara yang bikin regulasi yang lebih tegas: pabrik kosmetik nggak boleh menulis istilah sunblock di produknya. Ketika saya mengetikkan kata sunblock pada search engine online shop asal mancanegara, saya sulit sekali menemukan produk sunblock yang saya cari.

Mencari Tabir Surya di Pasaran

Seperti yang saya bilang, ada banyak sekali produk yang mengandung chemical absorber maupun sebagai physical blocking agent di supermarket.

Contohnya seperti gambar-gambar produk berikut. Saya sampai bela-belain memotret lotion-lotion beserta ingredients masing-masing untuk mencari zat tabir surya di dalamnya.

Produk tabir surya yang bagus
Produk tabir surya buatan PT Unilever ini mengandung salicylate.
Salicylate merupakan salah satu chemical absorber yang berfungsi menghambat bahaya sinar ultraviolet terhadap kulit kita.
Produk tabir surya untuk wajah
Produk tabir surya untuk wajah buatan PT Yasulor Indonesia.
Salah satu bahan produk ini ialah ethylhexyl methoxycinnamate yang memiliki fungsi untuk menangkal radiasi sinar ultraviolet.

Tetapi ternyata, nggak semua pabrik memakai zat itu sungguh-sungguh sebagai bahan pelindung dari dampak radiasi sinar matahari. Titanium dioxide dalam kosmetik, misalnya. Meskipun dalam alinea sebelumnya saya sudah menulis bahwa titanium dioxide termasuk physical blocking agent, akan tetapi pada produk bedak tertentu, senyawa ini malah difungsikan oleh pabriknya sebagai penstabil produk, bukan sebagai tabir surya untuk wajah. (Bahwa kemudian pabriknya mengklaim pada iklannya bahwa bedak ini membuat kulit tidak gampang kusam, bisa saja memang betul. Tapi bukan berarti bedak ini berfungsi melindungi kulit dari sinar matahari hanya karena mengandung titanium dioksida.)

Pasalnya, para ahli yang sudah disewa oleh pabrik kosmetik pun tahu bahwa tidak ada zat tabir surya yang bisa melindungi 100% dari sinar ultraviolet. Untuk itu, pada produknya, mereka pun menambahkan zat antioksidan, yang juga berfungsi melindungi kulit dari zat radikal bebas akibat sinar matahari.

Jika kita ingin menilai apakah suatu produk tabir surya yang hendak kita beli itu merupakan tabir surya yang bagus, kita bisa mencari apakah produk itu mencantumkan skala SPF atau sun protecting factor. SPF adalah skala pengukuran kemampuan perlindungan terhadap dampak radiasi matahari.

Kalau lagi gentayangan di supermarket, Anda mungkin akan sering menemukan lotion tabir surya yang ditandai SPF 15, SPF 24, SPF 30, dan sebagainya. Di toko kosmetik premium bahkan Anda akan menemukan lotion yang SPF-nya 110.

Yang harus diingat, setinggi-tingginya skala SPF ini, tetap skala SPF hanya berlaku untuk sebagai skala kemampuan perlindungan terhadap sinar UVB. Tidak termasuk mengukur kemampuan perlindungan terhadap sinar UVA lho.

Menurut Peter, belum ada skala perlindungan yang baku untuk UVA. Pasalnya, penelitian tentang zat yang melindungi dari UVA itu susah banget. Pemeriksaannya susah, makan waktu lama, biayanya lebih banyak daripada nilai manfaatnya. Repotnya lagi, belum ada standar yang sama antar negara-negara tentang penelitian UVA ini (padahal suatu produk untuk anti UVA nggak ditujukan untuk dijual di negara tertentu saja, tapi harus bisa dipakai oleh segala umat manusia di semua lokasi).

Akhirnya, untuk memudahkan, beberapa negara menerapkan aturan bahwa suatu produk yang ingin dipasarkan sebagai pelindung dari sinar UVA harus bisa melindungi dengan kadar minimal 1/3 dari SPF anti sinar UVB.

Dan kemudian ini membuat para pabrik berlomba-lomba membuat produk sunblock terbaik dengan SPF yang angkanya besar-besar (di atas 50). Karena mereka mengharapkan, semakin besar angka SPF yang mereka hasilkan, maka semakin besar kemampuan SPF-nya untuk menangkal dampak sinar UVB. Dan ini juga paralel dengan kemampuan produknya untuk melindungi dari sinar UVA pula.

Cara Menilai SPF

Bila Anda bertanya, “Produk tabir surya untuk wajah yang saya miliki ini bertuliskan SPF 18, itu maksudnya apa?

Angka SPF pada suatu produk menunjukkan berapa lama dikalikan 10 menit produk ini akan bekerja pada kulit kita.

Contoh: Sebuah lotion sunblock untuk wajah bermerk X menulis di labelnya bahwa produknya adalah SPF 15. Maka waktu efektifnya adalah 15 x 10 menit = 150 menit. Jadi setelah dipakai selama 2,5 jam, lotion ini tidak bisa menangkal sinar UV lagi. Alias harus dioleskan ulang.

Bisa dibayangkan, lotion dengan SPF 50 akan manjur selama 500 menit setelah dioleskan. Cocok untuk mereka yang cuma bisa oles-oles lotion subuh-subuh, sibuk bekerja selama 8 jam kemudian, dan baru sempat oles-oles lagi setelah itu.

Peter juga memberi peringatan, bahwa setinggi apapun SPF-nya, tetap saja produk ini akan hilang dari kulit setelah beberapa jam. Karena luntur oleh keringat! (dan cairan lainnya, terutama air.)

Jadi kalau sudah memakai suatu tabir surya, sebaiknya oleskan lagi dua jam kemudian. Atau langsung oleskan setelah melakukan kegiatan berkeringat atau kegiatan basah lainnya. Dan harus dioleskan secara rutin.

Dari penelitian yang sudah dilakukan para ahli, orang-orang yang mengoleskan produk ber-SPF 30 atau lebih, umumnya sudah dapat perlindungan sampai 95% terhadap sinar UV. Produk yang ber-SPF cuma sampai 15 pun sebetulnya juga sudah dapat perlindungan, meskipun cuma sampai 92%.

Berapa Angka SPF pada Produk Tabir Surya Anda?

Produk tabir surya umumnya berupa lotion. Sedangkan produk tabir surya untuk wajah bisa ditemukan dalam bentuk yang lebih beragam: BB cream, bedak, bahkan lipstik. Tinggal menentukan zat apa yang tertera sebagai bahan tabir surya pada produk itu.

Dan juga, berapa angka SPF yang tertera pada produk tabir surya itu. Dan lebih penting lagi, setelah mengoleskan produk itu, kapan produk ini luntur dari kulit, sehingga tiba waktunya untuk mengoleskan ulang.

Kalau mau mikir berapa angka SPF tabir surya yang cocok dengan kebutuhan kita, lihat penjelasan beauty blogger Michelle Phan pada video berikut ini ya. Sementara itu, aturan memakai tabir surya dan cara memilih tabir surya yang terbaik bisa dilihat di sini.

Jadi, berapa lama waktu yang sudah Anda gunakan untuk menghabiskan sebuah produk tabir surya? 🙂

 

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

4 thoughts on “Efektivitas Produk Tabir Surya di Pasaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *