4 Langkah Belajar Manajemen Keuangan Pribadi Sejak Muda

Kenapa sebagian orang di dunia ini bisa cepat kaya meskipun usia mereka masih muda? Apakah karena memang mereka dapat penghasilan yang bagus dari pekerjaannya? Atau apakah karena orangtuanya adalah Paman Scrooge alias Paman Gober? Ternyata, jawabannya simpel: orang-orang yang cepat tajir ini sangat paham cara mengatur keuangan pribadi.

Pelajaran tentang mengatur keuangan di Indonesia sebetulnya sudah ada semenjak di jenjang SMP, setidaknya itu yang saya dapatkan waktu sekolah putih biru dulu, namanya Tata Buku. Tapi mungkin lantaran pelajaran itu lebih fokus bikin tabel-tabel yang rumit, sehingga nggak banyak murid bisa menyerap ilmu itu dengan baik. Alhasil, terbawa ketika dewasa, saat mereka mencicipi penghasilan pertamanya, hampir nggak berasa karena penghasilannya cepat habis.

Saya sendiri sudah diajari orang tua saya untuk mengatur keuangan semenjak saya masih kecil. Saya ingat pelajaran pertamanya adalah “bangga punya tabungan”. Ada saat-saat tertentu ketika orang tua saya tahu-tahu menghadiahi saya beberapa keping koin, yang kata mereka untuk dimasukkan celengan. Dan saya selalu bangga mengisi celengan saya yang makin hari makin penuh itu. Feeling haru yang hangat ketika celengan berat itu saya buka, ditukar dengan duit kertas, untuk disetorkan masuk rekening tabungan di bank.

Waktu itu orang tua saya mengajarkan, “Kalau duit tabungan kita banyak, bisa kita pakai untuk beli tiket pesawat buat liburan.”

Itu benar, tapi nggak selamanya benar. Di masa dewasa, orang ternyata nggak kunjung jadi kaya bukan karena gajinya kurang banyak. Tetapi lebih tepatnya, karena nggak pintar mengatur keuangan. Mereka, kalau bukan terlalu banyak belanja, ya batal kaya karena terlalu banyak menabung.

Lho kok lho kok?

Yes, sebab mereka gagal menyesuaikan keuangan mereka dengan kemajuan perekonomian. Saat harga barang makin tinggi, orang-orang tidak berbakat kaya ini malah sibuk membekap duit mereka dalam bentuk tabungan. Padahal, orang-orang yang berbakat kaya, malah sibuk berpikir bagaimana supaya modal duit mereka sekarang bisa dipakai untuk membantu mereka mengimbangi harga barang-barang yang makin tinggi.

Dan di situlah fungsinya belajar mengatur keuangan pribadi. Supaya jadi kaya. Kaya di sini, maksud saya bukan punya penghasilan Rp 100 juta lebih per bulannya. Tetapi kaya ya artinya bisa sedekah, bisa bayar sekolah, bisa makan dengan kenyang, bisa jalan-jalan, tanpa ujung-ujungnya jadi dililit hutang.

Cara Mengatur Keuangan Pribadi a la Saya: Mengelola Uang dengan Rumus 1234

Saya sendiri, jika mengatur keuangan pribadi, cenderung mengelola uang pakai rumus 1234 (+2,5%).

1 = 10% untuk tabungan.
2 = 20% untuk investasi.
3 = 30% untuk belanja lifestyle.
4 = 40% untuk belanja sehari-hari.

Dan, ada 2,5% untuk bayar zakat, karena saya sendiri muslim.

Bayar Zakat

Prakteknya, begitu saya memperoleh penghasilan saya yang pertama, saya sisihkan untuk bayar zakat. Soalnya, di agama saya diajarkan, bahwa dalam setiap pendapatan yang kita miliki, ada haknya orang-orang miskin. Jadi, dari tiap penghasilan itu, selalu saya sisihkan 2,5% untuk saya operkan ke badan amal zakat.

Teman-teman saya yang tajir-tajir dan kebetulan agamanya bukan Islam, ternyata juga melakukan hal yang sama. Memang mereka nggak bayar zakat, tetapi selalu ada sisihan dari penghasilan mereka yang mereka taruh di kotak-kotak amal, atau bisa juga sebagai “sesajen”. Konon, kata mereka, beramal itu bikin hati mereka lebih adem. Sama sih itu pinsipnya kayak saya.

Hikmah Zakat

Dengan hati yang adem, ternyata kita lebih bersemangat menjemput rezeki. (Rezeki itu memang sudah diatur, tugas kita tinggal menjemputnya.)

Menabung

Ada sekitar 10% dari penghasilan saya yang saya masukkan untuk tabungan. Fungsi tabungan ini sebetulnya lebih untuk keperluan darurat, yang bisa dipinjam sewaktu-waktu untuk kepentingan mendesak. (Misalnya kalau sampai harus keluar biaya jika jatuh sakit. Atau jika mendadak HP rusak sehingga harus beli HP yang baru.)

Perhatikan bahwa saya memberi efek miring untuk kata dipinjam. Karena memang tugas kita harus memastikan bahwa tabungan ini selalu terisi lagi setelah digunakan. Tabungan ini yang membuat kita tetap hidup meskipun dalam keadaan kepepet.

Investasi Cerdas Menuju Kekayaan

Post ini jadi penting, karena ini post yang signifikan untuk ditujukan supaya kita menjadi kaya. Fungsi investasi ini adalah mengembangkan uang yang semula hanya bernilai tertentu, menjadi bernilai lebih banyak. Cara investasi ini, uang diputarkan dalam suatu alat tertentu, misalnya dalam bentuk modal usaha, atau dalam bentuk emas atau obligasi.

Saya sendiri lebih senang menginvestasikan uang saya dalam bentuk modal usaha, karena hasil peningkatannya lebih banyak ketimbang pada alat-alat investasi yang lain. Dalam hal memodali usaha ini, saya pilih investasi dalam bentuk saham dan reksadana.

Sengaja saya atur prosentase penghasilan yang saya alirkan dalam bentuk investasi ini lebih banyak (20%) daripada dalam bentuk tabungan (10%). Karena memutarkan uang dalam bentuk usaha tentu lebih besar hasilnya daripada menaruh uang dalam bentuk tabungan.

Belanja Lifestyle

Post belanja ini saya bikin untuk membuat hidup saya tetap “waras”. Saya pakai belanja di sini untuk hal-hal yang nggak terlalu prinsipil dalam hidup, tapi sekedar membuat hidup saya lebih lengkap. Misalnya nih, cicilan untuk liburan ke Toraja (karena liburan ke Maldives sudah terlalu ekstrim). Atau belikan mainan untuk anak saya. Atau merawat baju saya di laundry.

Belanja lifestyle ini sebetulnya bukan belanja senang-senang, tapi terutama karena alasan supaya hidup saya lebih produktif. Saya cuma mau belanja lifestyle kalau hasil belanjaan itu bisa menghasilkan penghasilan. Dengan pergi liburan, biasanya liburan ini saya pakai untuk bikin konten yang ujung-ujungnya demi meningkatkan produktivitas pekerjaan saya sebagai content creator. Membelikan anak saya mainan berarti memberi alat stimulasi belajar untuk anak saya itu. Dan laundry adalah usaha saya untuk merawat barang tertentu yang tidak bisa saya kerjakan sendiri.

Saya sendiri masih merasa bahwa post sebesar 30% untuk lifestyle ini masih terlalu besar dan mestinya saya alokasikan lebih banyak untuk investasi. Tapi kadang-kadang saya pikir bahwa saya nggak boleh terlalu pelit untuk menyenangkan diri saya sendiri. Lifestyle itu untuk menyenangkan diri sendiri di masa sekarang, sedangkan investasi itu untuk membuat diri tetap bahagia di masa depan.

Belanja Sehari-hari

Post ini sudah jamak buat orang banyak, termasuk buat kalian juga, tentu. Di sini ada biaya belanja untuk makan, beli pulsa dan paket data seluler, bayar GOJEK untuk transportasi sehari-hari, dan bahkan cicilan untuk sekolah anak saya.

Saya pasang 40% penghasilan saya di sini, dan jujur aja, ini masih terlalu sedikit. Saya mesti pintar-pintar mengirit supaya bagian 40% ini tercapai.

Belanja sehari-hari itu saya prioritaskan belakangan dalam mengatur keuangan saya, karena urusan religius (zakat) itu wajib, menabung kas darurat itu penting untuk urusan nyawa, investasi itu penting untuk masa depan. Kadang-kadang post lifestyle saya harus mengalah jika post belanja harian saya nggak cukup. Tapi tak aka-apa, karena menyisihkan post lifestyle masih jauh lebih gampang ketimbang membayangkan hidup miskin di usia tua lanraran nggak punya investasi.

Kesulitan Mengatur Persentase Pembagian Gaji

Teorinya, membagi-bagi penghasilan menjadi 10-20-30-40% kedengarannya gampang. Tetapi pada prakteknya, post tabungan dan investasinya sering tergerus. Ada 2 macam penggerusnya ini yang sering saya dengar, antara lain hutang dan lifestyle.

Gagal Menabung karena Terlilit Hutang

Banyak teman saya yang terjerembab hutang, sehingga tiap kali dapat penghasilan, mereka lebih berkonsentrasi untuk membayar hutang ketimbang menabung. Jika hutangnya produktif alias meminjam uang karena untuk operasional usaha, umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Seiring dengan berjalan lancarnya usaha, maka hutang-hutang produktif tadi biasanya akan terbayar.

Bahaya Berhutang

Persoalannya lebih rumit jika hutang itu terjadi karena hutang konsumtif. Hutang yang terjadi karena perlu membayar pengeluaran sehari-hari atau bahkan pengeluaran lifestyle ini, perlu dihindari karena bisa menggerus kualitas hidup penghutangnya. Hutang konsumtif ini yang bisa bikin miskin, frustasi, dan kadang-kadang, berakibat kehilangan nyawa.

Cara Menyelesaikan Hutang yang Melilit

Jika hutangnya adalah hutang produktif, kita perlu memperhitungkan kembali setiap bulannya, apakah kegiatan kita memang sungguhan berkontribusi produktif atau hanya menambah-nambah hutang saja. Jika ada kontribusinya, maka kita cuma butuh menjadwalkan kembali momen untuk membayar hutang. Namun jika kegiatan operasional kita tidak berkontribusi positif, maka kegiatan ini perlu ditunda dulu supaya kita bisa berkonsentrasi menyelesaikan hutang yang melilit.

Jika hutangnya adalah hutang konsumtif, maka mau tidak mau, belanja konsumtif sehari-hari harus diturunkan, dan belanja lifestyle mesti ditiadakan. Kadang-kadang, investasi juga perlu dikurangi.

Gagal Berinvestasi karena Lifestyle

Saya sendiri juga punya problem yang sama sih. Kemudian, saya mencoba mengatasinya dengan menggunakan alat pengatur keuangan.

Pengatur Keuangan

Ada banyak aplikasi masa sekarang yang berfungsi sebagai pengatur keuangan. Aplikasi ini mencatat berapa penghasilan kita, dan berapa pengeluaran kita. Lebih teliti lagi, yang dicatatnya juga dari mana saja asal penghasilan kita, dan ke mana saja tujuan pengeluaran kita. Ini memberi kita wawasan tentang keuangan kita ini bocor halus di mana saja.

Salah satu aplikasi keuangan kesukaan saya, yaitu Cashflow, keluarannya Commonwealth Bank.

Nah, dengan menggunakan pengatur keuangan tadi, saya mengatur keuangan saya berdasarkan prinsip skala prioritas.

Pertama, begitu ada penghasilan, sebanyak 2,5% langsung saya “selamatkan” dengan mentransfernya ke badan zakat. Saya beruntung banget karena pada masa kini, banyak e-commerce telah berubah menjadi petugas pengumpul zakat yang tinggal saya transferi secara elektronik. Itu membuat saya terhindar dari tatapan matre amilin mesjid yang kadang-kadang bikin saya malu tatkala saya cuman bayar sekitar Rp 10k-20k saja. (Yang penting beramal itu kan telaten terus-menerus, bukan cuma pada occasion tertentu doang.)

Kedua, begitu zakat sudah tertunaikan, saya sisihkan 40% penghasilan ke dompet. Saya anggap aja bahwa biaya makan-pulsa-transportasi harus cukup semua dari situ; kalau sampai nggak cukup, berarti itu pasti karena saya keseringan nambah nasi di warung bebek goreng.

Ketiga, sekitar 20% pendapatan itu langsung saya pakai untuk top up saham dan top up reksadana saham saya.

Keempat, sebanyak 10% lagi saya diamkan di rekening bank. Buat tabungan darurat.

Kelima, kan sisanya tinggal 30% untuk keperluan lifestyle. Ini saya taruh di aplikasi tabungan online yang sekarang lagi trending. Aplikasi tabungan online kesukaan saya sekarang adalah IPOTPAY.

IPOTPAY: Aplikasi Tabungan Online keluaran IPOT

Kenapa ditaruhnya di tabungan online, bukan di rekening tabungan biasa di bank? IPOTPAY sendiri punya keunikan di mana sebagian dana menjadi tabungan biasa, sementara sebagian dana lagi menjadi reksadana pasar uang. Jadi, uang yang saya taruh di IPOTPAY bisa dapat profit lebih besar ketimbang sekedar mendapat bunga bank.

Cara Daftar IPOTPAY

Cukup dengan mempunyai account di IndoPremier Online Trading, maka kita sudah punya Rekening Dana Nasabah untuk menabung di IPOTPAY.

Membuka Rekening Online Gratis

Untuk membuka rekening pada tabungan online, umumnya sekarang tidak ditarik biaya, karena yang diperlukan pengelola rekeningnya hanya upload-an KTP kita dan persetujuan tentang di bank mana kita ingin dibuatkan rekening. Umumnya, bank yang bisa dijadikan lokasi pembuatan rekening adalah Bank BCA, Bank Mandiri, dan Bank Permata, tergantung bank mana yang bekerja sama dengan aplikasi rekening tabungan onlinenya.

Prinsip cara mengatur keuangan a la saya di atas bisa jadi kalian tiru, meskipun mungkin angka presentasenya nggak persis-persis amat. Tapi, dengan lihai mengatur keuangan pribadi, menjadi kaya sebetulnya bukan impian yang sulit jadi kenyataan. Gimana dengan kalian? Gimana kesulitan kalian dalam mengatur keuangan?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

14 comments

  1. Audia Azani says:

    Kalau saya susahnya manajemen keuangan itu kalau tiba2 boyband korea yang saya suka ngeluarin album atau ngadain konser. pasti langsung serbu tanpa liat saldo wkwk.

    selain itu juga masalah mood. saya sering banget tiba2 bad mood atau gimana trus akhirnya melampiaskannya dengan membelanjakan uang, entah buat makan atau beli apa kek yang penting lega. pas masih bujang aja udah susah ngatur keuangan gimana kalo nikah ya T.T

    terima kasih udah sharing mbak! (y)

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Untung Audia di Bitung ya. Jadi jaranh ketamuan boyband Korea.
      Gimana coba kalau Bitung dikunjungin boyband Korea tiap hari, bisa modar itu dompet Audia :-))

  2. Joe Tampan says:

    Apakah karena orang tuanya adalah Uncle Scrooge alias Paman Gober?

    enggak mungkin, mbak. selain nggak punya anak, malah paman gober juga belum nikah. padahal dia sudah tua…

  3. Ranger Kimi says:

    Mbak Vicky, aku belajar manajemen keuangan pribadi ini dari dulu tapi aku baru menerapkan nomor 1 itu tahun ini. Duh, aku jadi malu.

    Sebelumnya aku kalau bayar zakat langsung aja gitu dibayar setahun pakai duit yang ada. Sekarang aku tiap terima uang (gaji, honor, rejeki tidak terduga lainnya) langsung aku catat zakat yang harus aku bayar. Aku punya rekening khusus untuk bayar zakat ini. Jadi tiap bulan selalu mentransfer uang ke sana. Zakatnya aku bayarkan setahun sekali mendekati lebaran. Bagusnya memang pas kita terima uang ya? Tapi aku pikir yah biar sekalian banyak deh dikumpulin dulu setahun baru dibayarin zakatnya. Yang penting gak pernah lupa untuk mencatat.

    Dan memang benar lho pas udah rutin dijalanin jadi lebih plong aja gitu. Hati lebih tenang.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya memang nggak apa-apa juga kalau bayar zakatnya langsung dirapel pas mau Lebaran. Asal tahu aja dalam hati bahwa dana yang kita bayarkan itu sesuai dengan kewajiban kita.

      Kalau bayar zakatnya per terima penghasilan pun juga ada bagusnya. 2,5% langsung terpotong dari penghasilan kita dan kewajiban pun sudah tertunaikan. Persoalannya kan tinggal urusan: memangnya bisa ya inget untuk langsung otomatis motong penghasilan untuk bayar zakat? (bisa doong..)

  4. sabda awal says:

    sejauh ini saya ga ada kendala mbak dalam mengatur keuangan. Tahuun pertama kerja saya sukses menahan segala keingingan beli ini dan itu yang hanya sekedar memenuhi hasrat lapar mata, kini saaya semakin jago soal ngatur uang, disimplin dan mengendalikan nafsu terhadap belanja yang ga dibutuhkan.

    tinggal kedepannya saya lagi mikiran 3 hal besar yang saya rencananya, dalam 2 atau 3 tahun ke depan. Bangun rumah ortu paling ga butuh modal 30juta (karena bangun di kampung jadi lebih murah), nyicil tiket pesawat ke Azerbaijan PP 20 juta, dan nikah 50 juta. Hahahaha buanyaak banget sih. Ga tau nih mana yang akan kesampaian duluan. Kayaknya saya harus earn more deh.

  5. Aku setuju banget dengan statement yang ini: “Saya cuma mau belanja lifestyle kalau hasil belanjaan itu bisa menghasilkan penghasilan.” Ibaratnya belanja, tapi buat investasi kerjaan ya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *