4 Langkah Belajar Manajemen Keuangan Pribadi Sejak Muda

Apa kunci utama menjadi kaya semenjak usia muda? Apakah karena orang tuanya adalah Uncle Scrooge alias Paman Gober? Atau karena setelah lulus langsung dapat kerjaan di perusahaan besar? Atau karena kawin dengan anggota keluarga Trump?

Ternyata bukan. Teman-teman saya yang kaya sebelum usia 30 tahun, ternyata punya kesamaan: pintar manajemen keuangan pribadi.

Definisi saya tentang kaya di sini bukan berhasil menumpuk penghasilan yang melebihi Rp 100 juta setiap tahunnya. Tetapi yang saya maksud kaya adalah bisa berkurban setiap kali Idul Adha. Bisa mentraktir orangtuanya piknik keluar kota setiap tahun. Bisa bikin usaha sendiri (dan mengembangkannya) tanpa harus cari mencicil pinjaman modal. Dan nggak takut hamil karena juga nggak takut ditodong biaya persalinan Cesar.

Pendeknya, nggak takut masa depan suram karena nggak punya uang 🙂

Manajemen keuangan pribadi kedengerannya membosankan, tapi ternyata itu jadi dasar kalau mau hidup tenteram. Apa sih susahnya mengelola keuangan pribadi? Itu uang sendiri, gampang ngaturnya, toh?

Nyatanya nggak semudah itu. Ketika orang baru terima gaji pertama dari pekerjaan pertamanya saja, dia sudah mendapatkan masalah pertama: ditodong traktiran oleh kolega-koleganya. Ketika sudah mendapatkan gaji ke-10 atau ke-20, dia mendapatkan masalah baru; ingin jadi social climber, yang ditandai kepingin punya smartphone baru, foto-foto selfie di Maldives, dan mungkin malah kepingin beli mobil baru. Naik sedikit, dia kepingin menikahi pacarnya a la fairytale di Disneyland persis Sandra Dewi. Lha kalau dituruti, kapan kayanya?

Tapi memang begitulah bedanya orang yang punya mental kaya dengan mental miskin. Mental kaya akan mengurus pengelolaan uang miliknya sebagai alat untuk mendapatkan keinginannya, bukan menganggap uang sebagai hasil akhir.

Padahal, kemampuan untuk belajar manajemen keuangan pribadi, adalah dasar untuk mengelola urusan keuangan di skala yang lebih luas. Jika orangnya sudah menikah nanti, dia sudah tahu cara mengatur keuangan keluarga. Jika orangnya bekerja di sebuah perusahaan, dia bisa dipercaya karena dia tahu cara mengelola keuangan perusahaan itu. Bahkan kalau dia terjun ke kehidupan bermasyarakat, dia bisa dipercaya untuk pengelolaan uang dari dana komunitas.

(Dan itu menjawab kenapa di sekitar kita banyak keluarga-keluarga yang sering terbelit hutang, atau banyak toko yang bangkrut, atau bahkan kelompok komunitas kecil-kecilan yang pecah karena berubah menjadi sindikat arisan gelap).

Saya sendiri sudah belajar manajemen keuangan pribadi bahkan semenjak umur saya baru 6 tahun. Orang tua saya memberi saya uang sebagai hadiah kalau saya baru menorehkan prestasi (misalnya bawa pulang kertas ulangan di sekolah dengan nilai 10). Ketika memberi saya uang, saya diberi pesan, “Ini uang ada Rp 200,-. Yang Rp 100,- buat beli Krip-krip, yang Rp 100,- lagi buat masukkan celengan.” Itu adalah cara sederhana untuk mengajari saya supaya membagi penghasilan saya menjadi konsumsi dan tabungan.

Tapi kita sudah dewasa begini, tentu lebih banyak keperluan kita dalam pengelolaan uang ketimbang sekedar memasukkannya ke tabungan atau sekedar membeli mie krupuk. Di masa depan, saya punya banyak sekali agenda yang mesti dicapai: naik haji, beli rumah sendiri, mengirim anak ke bangku kuliah, dan menenggak cocktail di Afrika Selatan (karena liburan ke Maldives terlalu mainstream..). Jadi saya pun mencari cara mengelola keuangan pribadi, supaya semua keinginan (yang sebenarnya nggak muluk-muluk juga) itu bisa tercapai.

Kira-kira beginilah 4 langkah yang saya kerjakan dalam mengatur keuangan bulanan:

  1. Bayar Zakat
  2. Mengisi Celengan
  3. Bikin Investasi
  4. Belanja
manajemen keuangan pribadi
Cara mengatur keuangan bulanan yang saya lakukan dimulai dengan membagi penghasilan menjadi pos zakat, pos tabungan, pos investasi, pos asuransi, dan pos belanja.
Gambar diambil dari financehandler.com

Bayar Zakat

Karena saya muslim, maka saya merasa menunaikan zakat akan membuat hati saya lebih tenteram. Saya percaya kalau saya sudah membayar kewajiban saya kepada Tuhan, Tuhan akan membuat aliran rejeki saya lebih deras. Dan rejeki itu termasuk naik haji, kasih rumah sendiri, menyekolahkan anak, dan beli tiket liburan ke Afrika Selatan.

Teman-teman saya yang bukan muslim, dan kebetulan sudah kaya, ternyata juga punya agenda yang mirip. Oke, mereka nggak bayar zakat, tapi mereka selalu mengeluarkan duit untuk kegiatan ibadah mereka masing-masing. Dan besarnya biaya urusan ibadah itu nggak pernah tanggung-tanggung, meskipun sekilas mungkin itu hanya sesajen. Bagi mereka, hati selalu adem kalau sudah beribadah.

Belakangan saya baru tahu bahwa hati yang tenteram membuat mental kita lebih nyaman untuk menjalankan kegiatan-kegiatan kita yang lain.

Mengisi Celengan

Maksudnya menabung. Entah itu dalam bentuk celengan semar, hingga yang lebih sistematis berupa menabung dalam bentuk tabungan di bank.

Buat saya, fungsi tabungan sebetulnya lebih banyak untuk urusan darurat. Misalnya, ketika keluarga jatuh sakit dan butuh pengobatan darurat, ada tabungan yang tinggal diambil di ATM. Ketika salah satu bisnis keluarga terpaksa mandek dan kita perlu membangun bisnis lagi di bidang yang lain, ada tabungan yang bisa dipinjam sebagai modal usaha. Jadi tidak akan sampai jatuh kelaparan kalau sedang bokek, karena selalu ada bantuan darurat bernama celengan.

Perhatikan bahwa saya memberikan efek miring kepada kata dipinjam, karena memang saya memperlakukan tabungan pribadi sebagai sarana pinjam uang. Yang namanya sarana pinjam uang, berarti saya punya perasaan bahwa saya harus mengembalikan uang itu untuk mengisi tabungan itu kembali. Dan ini membuat mental saya terlatih untuk tidak gampangan menggunakan uang demi kegiatan yang percuma.

Bikin Investasi

Tujuan investasi adalah mengembangkan aset (uang) kita untuk melebihi nilai awalnya. Saya pasang investasi di pasar modal dalam bentuk reksadana maupun saham syariah. Selain itu, saya juga pasang investasi riil dalam bentuk domain pribadi yang kemudian saya gunakan sebagai blog untuk mencari penghasilan.

Alhamdulillah, semenjak saya punya reksadana, reksadana ini sudah berkembang melebihi nilai bunga tabungan saya di bank. Saham saya malah berkembang lebih banyak lagi, keuntungan yang dicapai sangat pesat ketika market sedang bagus. Tiap bulan, begitu ada penghasilan, selalu ada beberapa persen yang saya sisihkan untuk reksadana maupun saham.

Sementara website saya, vickyfahmi.com ini sudah membuahkan penghasilan yang melebihi modal membeli domain ini. Sebagian penghasilan dari proyek-proyek saya sebagai blogger saya sisihkan; sebagian untuk menyicil zakat tahun depan, sebagian saya masukkan tabungan, sebagian saya pakai untuk top up investasi saya, dan sebagian lagi saya pakai untuk menyicil tiket ke Afrika Selatan.

Belanja

Ya, mengatur keuangan bulanan juga termasuk shopping. Belanja yang saya maksud adalah belanja berdasarkan prioritas. Saya dulu punya prioritas untuk belanja sebagai berikut: 1) belanja pulsa telepon, 2) belanja makan, 3) belanja transportasi, 4) belanja lifestyle.

Kenapa saya berikan urutan prioritas demikian?

Pulsa telepon saya dahulukan, karena prinsip saya, kalau saya lapar, minimal saya masih bisa cari bantuan via telepon untuk memasakkan saya makanan. Berikutnya saya harus makan, karena selama saya kenyang, saya akan bisa berpikir untuk beraktivitas sehari-hari, minimal untuk mikir tentang kendaraan apa yang akan saya pakai hari ini untuk bekerja.

Belanja lifestyle adalah istilah saya untuk segala pengeluaran demi kegiatan bersenang-senang, misalnya liburan, kencan sama teman, atau sekedar beli alat make up. Saya prioritaskan belanja transportasi lebih dahulu ketimbang belanja lifestyle, karena alasan simpel: percuma punya duit untuk dugem di Starbucks tapi nggak punya duit untuk naik kendaraan umum ke Starbucks..

Problem Manajemen Keuangan

Semakin dewasa, kebutuhan saya semakin banyak, sehingga mengatur keuangan bulanan pun semakin sulit. Contoh: saya sering ditelepon sales kartu kredit, yang mengimingi saya discount untuk jadi anggota VIP jaringan hotel tertentu seandainya saya jadi anggota kartu kredit mereka. Atau sebagai jamaah tukang piknik, saya kepingin pergi ke tempat hangout yang kekinian tetapi anggaran belanja masih tipis. Teman-teman saya malah punya masalah yang lebih pelik dengan cara mengatur uang bulanan; gajian cepat habis dan mereka nggak punya cukup buat ditabung.

Tentang ini, sebetulnya kunci dari cara mengatasi masalah keuangan ialah 4 langkah belajar manajemen keuangan pribadi yang saya sebutkan di atas. Tips agar bisa menabung itu sederhana saja. Selama setia pada prioritas, pasti akan ada bagian dari penghasilan kita yang bisa ditabung tiap bulannya, meskipun mungkin cuma beberapa recehan. Persoalannya, apakah kita mau setia menyisihkan berdasarkan prioritas itu, atau mau melepaskan semuanya untuk belanja?

Dan saya juga maklum tentang keinginan kita untuk selalu tampil kekinian dengan lifestyle trendy. Jadi saya pun tetapkan aturan pengelolaan uang buat diri saya sendiri: saya cuma mau belanja lifestyle kalau hasil belanjaan itu bisa menghasilkan penghasilan. Contoh: beli alat make up untuk dijadikan review di blog. Makan di restoran supaya bisa jadi review di social media (dan mengiming-imingi kompetitornya untuk minta saya review mereka juga).

Dan tentu banyak dari kita yang mungkin sudah punya kartu kredit. Menurut saya sih, kartu kredit itu bagus, asalkan dipakai untuk usaha, misalnya kulakan barang dalam jumlah banyak untuk bikin online shop (karena kadang-kadang beberapa supplier tidak sudi dibayar tunai). Tapi kalau kartu kreditnya untuk urusan lifestyle, harus diupayakan supaya bayar tagihan tepat waktu untuk menghindari bunga. Malah kalau perlu pilih kartu kredit yang biaya tahunannya gratis, supaya kita tidak ketiban pengeluaran yang tidak perlu. Pendek kata, kalau nggak jadi produktif, nggak usah berutang deh!

Belajar manajemen keuangan pribadi, adalah modal dasar untuk bisa jadi kaya. Semakin muda usia kita untuk terampil mengelola keuangan pribadi, maka nggak perlu tunggu usia tua supaya bisa hidup mapan.

Apa kesulitan Anda dalam mengatur keuangan Anda?

 

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

12 comments

  1. Audia Azani says:

    Kalau saya susahnya manajemen keuangan itu kalau tiba2 boyband korea yang saya suka ngeluarin album atau ngadain konser. pasti langsung serbu tanpa liat saldo wkwk.

    selain itu juga masalah mood. saya sering banget tiba2 bad mood atau gimana trus akhirnya melampiaskannya dengan membelanjakan uang, entah buat makan atau beli apa kek yang penting lega. pas masih bujang aja udah susah ngatur keuangan gimana kalo nikah ya T.T

    terima kasih udah sharing mbak! (y)

  2. Joe Tampan says:

    Apakah karena orang tuanya adalah Uncle Scrooge alias Paman Gober?

    enggak mungkin, mbak. selain nggak punya anak, malah paman gober juga belum nikah. padahal dia sudah tua…

  3. Ranger Kimi says:

    Mbak Vicky, aku belajar manajemen keuangan pribadi ini dari dulu tapi aku baru menerapkan nomor 1 itu tahun ini. Duh, aku jadi malu.

    Sebelumnya aku kalau bayar zakat langsung aja gitu dibayar setahun pakai duit yang ada. Sekarang aku tiap terima uang (gaji, honor, rejeki tidak terduga lainnya) langsung aku catat zakat yang harus aku bayar. Aku punya rekening khusus untuk bayar zakat ini. Jadi tiap bulan selalu mentransfer uang ke sana. Zakatnya aku bayarkan setahun sekali mendekati lebaran. Bagusnya memang pas kita terima uang ya? Tapi aku pikir yah biar sekalian banyak deh dikumpulin dulu setahun baru dibayarin zakatnya. Yang penting gak pernah lupa untuk mencatat.

    Dan memang benar lho pas udah rutin dijalanin jadi lebih plong aja gitu. Hati lebih tenang.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya memang nggak apa-apa juga kalau bayar zakatnya langsung dirapel pas mau Lebaran. Asal tahu aja dalam hati bahwa dana yang kita bayarkan itu sesuai dengan kewajiban kita.

      Kalau bayar zakatnya per terima penghasilan pun juga ada bagusnya. 2,5% langsung terpotong dari penghasilan kita dan kewajiban pun sudah tertunaikan. Persoalannya kan tinggal urusan: memangnya bisa ya inget untuk langsung otomatis motong penghasilan untuk bayar zakat? (bisa doong..)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *