Belajar Manajemen Keuangan Pribadi Sejak Muda

Sering kali kita dibikin penasaran, kenapa orang itu bisa kaya padahal mereka masih muda? Apakah mereka itu turunannya Paman Scrooge?

Saya mengamati teman-teman yang tajir-tajir tapi masih muda ini, dan baru paham sesuatu hal yang cukup signifikan: Mereka ini pintar manajemen keuangan.

Ketika mereka memperoleh penghasilan, mereka tidak sekonyong-konyong menimbunnya di bank. Atau lebih parah lagi, menghabiskannya untuk beli sembarang apapun. Tetapi mereka membagi-bagi penghasilannya, sehingga pada saat mereka memerlukan uang untuk kebutuhan tertentu, mereka ambil uang yang sudah dibagi tersebut.

Saya kemudian meniru cara mereka dan sedikit demi sedikit saya jadi paham. Ya memang tidak sekonyong-konyong membuat saya jadi kaya, tapi setelah menggunakan cara ini, saya jadi hampir-hampir tak pernah merasa miskin. (Oke, saya cuma merasa miskin kalo stok Indomi di rumah tinggal 2 biji pada jam 2 malam, padahal yang mau makan Indomi ada 3 orang.)

Mengelola Uang dengan Rumus 1234

Untuk mengelola penghasilan yang saya dapatkan, saya memilih memakai rumus 1234. Rumus yang kedengerannya kayak rumus pelajaran anak TK ini mewakili berapa puluh persen saya bagi-bagi penghasilan saya.

manajemen keuangan
Manajemen keuangan yang saya kerjakan begitu memperoleh penghasilan: 10% gaji untuk bayar zakat dan menabung. 20% gaji untuk investasi. 30% gaji untuk membeli kebutuhan lifestyle. 40% gaji untuk membayar biaya hidup.

Manajemen Keuangan #1

Membayar Zakat dan Menabung

Kenapa membayar zakat?

Simply, karena saya muslim. Saya merasa hidup saya nggak akan tajir-tajir kalau saya belum memenuhi kewajiban saya sebagai warga makhluk Allah, dan karena Tuhan sudah suruh saya bayar zakat, ya saya kerjakan.
Tapi bukan cuman zakat fitrah yang jadi concern saya, melainkan juga zakat lainnya berupa zakat penghasilan. Dan tahukah kamu? Ternyata zakat penghasilan ini cukup andil buat membantu saya dalam urusan manajemen keuangan pribadi lho.

Bagaimana Zakat Penghasilan Merangsang Manajemen Keuangan

Jadi ternyata begini. Zakat penghasilan ini kan wajib buat dibayar oleh semua pemeluk Islam yang sudah berpenghasilan.

Menghitung Zakat Penghasilan

Rumus bayar zakat penghasilan per tahunnya adalah 2,5% dari penghasilan tahunan.

Maka tentu yang jadi pertanyaan, berapakah penghasilan tahunan kita supaya bisa diambil 2,5% untuk bayar zakat itu?

Pertanyaan ini mau nggak mau memaksa saya untuk menghitung total penghasilan saya. Begitu ketemu jumlah nominalnya, maka saya jadi terpikir apakah penghasilan ini sungguhan saya rasakan nominalnya, atau cuman numpang lewat berubah menjadi habis dibelanjakan? Jika akhirnya saya bisa merasakan seluruh penghasilan saya untuk saya nikmati, ya alhamdulillah. Tapi kalau penghasilan itu habis semua, tentu ini jadi bahan peringatan bagi saya bahwa saya tidak akan kaya-kaya kalau begini terus.

Manfaat Menabung

Fungsinya menabung untuk manajemen keuangan ini jelas, buat bikin sumber dana untuk memenuhi kebutuhan saya di masa mendatang. Baik itu kebutuhan 30 tahun lagi, 10 tahun lagi, atau sekedar kebutuhan bulan depan. Dan saya nggak menabung di dalam celengan, tapi saya lebih memilih menabung di tabungan online.

Alesan kenapa saya lebih suka menabung di tabungan online adalah karena ada uang saya akan tumbuh di tabungan online tersebut. Sekarang banyak lho tabungan online yang bikin uangnya bisa tumbuh lantaran mendapat bunga. Jadi contohnya nih, kalau kita menabung uang sejumlah Rp 1.000.000,- aja di tabungan online ini, dan skema bunganya 2% per tahun, maka kita akan dapat bunga sebesar 2% x Rp 1.000.000,- alias Rp 20.000,-.
(Bandingkan dengan menabung di celengan, uang yang ditabung sebesar Rp 1.000.000,- tentu tidak akan nambah-nambah.)

P.S. Saya sendiri memilih tabungan online yang pertumbuhan uangnya sebesar minimal 5%, yaitu IPOTPAY.

Manajemen Keuangan #2

Investasi

Investasi ini poin penting kalau memang saya serius kepingin kaya. Investasi artinya kita memutar uang pada suatu instrumen, dan diharapkan pemutaran uang ini bisa menambah nilai pada uang yang kita taruh di situ.

Contohnya, bila kita berinvestasi pada instrumen seperti menanam modal pada perusahaan, maka kita bertujuan supaya duit kita balik modal dan kita mendapatkan tambahan hasil berupa profit dari perusahaan tersebut.

Saya sendiri berinvestasi pada dua macam instrumen, antara lain saham dan reksadana. Kedua-duanya ini saya lakukan secara online.

Investasi Saham

Dengan menanamkan uang saya pada saham (misalnya sekitar Rp 500.000,-), lalu nilai saham itu bertambah sekitar 10%, maka saya akan mendapatkan profit sejumlah 10% x Rp 500.000,- alias Rp 50.000,-. Artinya uang saya akan kembali sejumlah Rp 500.000,- + Rp 50.000,-, totalnya jadi Rp 550.000,-. Jadi kaya kan?

Investasi Reksadana

Reksadana juga hampir sama mekanismenya di atas. Perbedaannya hanyalah jika investasi saham itu saya kelola sendiri, sedangkan investasi reksadana itu dikelola oleh manajemen investasi profesional. Profitnya sendiri macam-macam, ada yang 5%, ada yang 11%, ada yang sampai 16% juga. Yang jelas, jumlah penambahan uang yang saya peroleh masih lebih besar daripada menabung.

Untuk membeli 1-2 reksadana dari sekian banyak reksadana yang saya miliki, saya juga menggunakan IPOTPAY.

Sedikit Review IPOTPAY sebagai Pengatur Keuangan

Jadi IPOTPAY ini adalah tabungan online yang punya fungsi sebagai tempat menabung dan sekaligus tempat untuk investasi reksadana. Dengan memasukkan uang kemari, saya bisa menabung sebagian uang tersebut untuk mendapatkan bunga (sekitar 2%). Sedangkan sebagian lainnya diinvestasikan ke dalam reksadana untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih besar daripada bunga (yaitu sekitar 5-7%).

Manajemen Keuangan #3

Membeli Kebutuhan Lifestyle

Berusaha menjadi kaya tidak lantas bikin saya jadi super kikir macam Paman Scrooge. Saya bepergian ngetrip beberapa kali setahun. Saya memperbaharui smartphone saya beberapa tahun sekali. Saya juga beli baju baru beberapa bulan sekali.

Alesan utamanya bukan buat senang-senang. Saya cuma belanja lifestyle kalau hasil belanjaan itu bisa menghasilkan penghasilan (dan memperluas pengetahuan). Tiap kali saya bepergian, selalu aja ada pengetahuan anyar yang saya dapatkan tentang tempat tujuan yang saya datangi (dan itu memperluas wawasan bisnis dan cara berpikir saya). Smartphone itu saya perbaharuin karena yang namanya alat komunikasi itu pasti ada update-annya dari developernya, jadi untuk mempermudah berkomunikasi (alias mempermudah bisnis) tentu saya perlu ganti HP. Bahkan baju baru juga saya anggarkan, karena saya percaya baju adalah alat fashion, dan fashion adalah alat untuk berkomunikasi yang mempermudah saya menyampaikan isi pesan bisnis saya kepada orang lain.

peraturan Ciputra Waterpark Surabaya

Manajemen Keuangan #4

Membeli Kebutuhan Sehari-hari

Ada beberapa kebutuhan rutin yang saya penuhi, macam beli makanan untuk keluarga, pulsa HP, dan healthcare goods. Suami saya punya kebutuhan rutin tambahan juga berupa beli bensin untuk kendaraan dan biaya tol. Saya sebagai pebisnis blog punya biaya maintenance blog yang harus dibayar, dan ini masuk kebutuhan sehari-hari juga.

Praktek Rumus 1234 untuk Manajemen Keuangan

Dan untuk memenuhi keperluan-keperluan saya di atas, saya berusaha teguh pegang prinsip rumus 1234 saya. Jadi jika saya memperoleh penghasilan dari proyek saya sebesar Rp 2.000.000,- misalnya, maka saya pecah jadi:

10% untuk membayar zakat dan menabung
terdiri atas 2,5% untuk membayar zakat.
2,5% x Rp 2.000.000,- = Rp 50.000,-

dan 7,5% untuk menabung
7,5% x Rp 2.000.000,- = Rp 150.000,-.

20% untuk berinvestasi
20% x Rp 2.000.000,- = Rp 400.000,-

30% untuk membeli kebutuhan lifestyle
30% x Rp 2.000.000,- = Rp 600.000,-

40% untuk membeli kebutuhan sehari-hari
40% x Rp 2.000.000,- = Rp 800.000,-

Kamu mungkin punya cara lain sendiri untuk manajemen keuangan supaya kamu jadi lebih kaya daripada kemaren-kemaren. Ceritain dong caranya di kolom komentar bawah 🙂

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

48 comments

  1. maya rumi says:

    dulu aq masih potong zakat 2.5 % dari penghasilan tapi suatu hari ikut kelas ipphoright dan mengingatkan kalau mau berkah penghasilan lebih besar jangan tunaikan zakat sesuai standar tapi kasih yang lebih, jadi dari situ belajar untuk memberikan zakat penghasilan lebih dari itu.

    aq baru tahu nih ipotpay, harus baca2 lagi untuk tahu lebih jauh mengenai ipotpay karena aq ada rencana juga mau buka reksadana akhir bulan ini.

  2. Audia Azani says:

    Kalau saya susahnya manajemen keuangan itu kalau tiba2 boyband korea yang saya suka ngeluarin album atau ngadain konser. pasti langsung serbu tanpa liat saldo wkwk.

    selain itu juga masalah mood. saya sering banget tiba2 bad mood atau gimana trus akhirnya melampiaskannya dengan membelanjakan uang, entah buat makan atau beli apa kek yang penting lega. pas masih bujang aja udah susah ngatur keuangan gimana kalo nikah ya T.T

    terima kasih udah sharing mbak! (y)

    1. Jadi keinget satu kata mutiara yang tepat untuk bahasan keuangan ini:
      “Don’t put your eggs in one basket.”
      Kita memang harus pandai membagi penghasilan yang kita miliki untuk zakat, tabungan, investasi, dan kebutuhan harian. Jadi ngga semata-mata dapet duit terus dihabiskan untuk kebutuhan harian dan belanja ini-itu, eh tau-tau yang kerasa duit cuma numpang lewat.
      Aku juga masih belajar mengelola keuangan ini, Mbak. Postingannya bermanfaat banget. Cusss langsung kepoin ipotpay-nya.

      1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

        Elliza, kesalahan umum orang-orang itu mereka mengalihkan penghasilan mereka untuk membayar kebutuhan harian. Akibatnya, tabungannya nggak dapet, bayar zakat jadi nggak mampu. Apalagi mau investasi 🙂

    2. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Untung Audia di Bitung ya. Jadi jaranh ketamuan boyband Korea.
      Gimana coba kalau Bitung dikunjungin boyband Korea tiap hari, bisa modar itu dompet Audia :-))

  3. Ranger Kimi says:

    Mbak Vicky, aku belajar manajemen keuangan pribadi ini dari dulu tapi aku baru menerapkan nomor 1 itu tahun ini. Duh, aku jadi malu.

    Sebelumnya aku kalau bayar zakat langsung aja gitu dibayar setahun pakai duit yang ada. Sekarang aku tiap terima uang (gaji, honor, rejeki tidak terduga lainnya) langsung aku catat zakat yang harus aku bayar. Aku punya rekening khusus untuk bayar zakat ini. Jadi tiap bulan selalu mentransfer uang ke sana. Zakatnya aku bayarkan setahun sekali mendekati lebaran. Bagusnya memang pas kita terima uang ya? Tapi aku pikir yah biar sekalian banyak deh dikumpulin dulu setahun baru dibayarin zakatnya. Yang penting gak pernah lupa untuk mencatat.

    Dan memang benar lho pas udah rutin dijalanin jadi lebih plong aja gitu. Hati lebih tenang.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya memang nggak apa-apa juga kalau bayar zakatnya langsung dirapel pas mau Lebaran. Asal tahu aja dalam hati bahwa dana yang kita bayarkan itu sesuai dengan kewajiban kita.

      Kalau bayar zakatnya per terima penghasilan pun juga ada bagusnya. 2,5% langsung terpotong dari penghasilan kita dan kewajiban pun sudah tertunaikan. Persoalannya kan tinggal urusan: memangnya bisa ya inget untuk langsung otomatis motong penghasilan untuk bayar zakat? (bisa doong..)

  4. Suzannita says:

    Memang penting sekali ya untuk menjaga dan belajar tentang manajemen keuangan pribadi kadang banyak bocor di sana-sini yang akhirnya boros dan nggak nabung

  5. lendyagasshi says:

    Nuhun, kak Vick..
    Ini tulisan yang aku tunggu-tunggu.
    Biasanya kalau abis baca finansial literasi begini, aku langsung disiplin.
    Tapi yang penting itu konsistennya yaa..kak.

  6. Demia says:

    aaaa ini lengkap banget, tapi kudu baca berkali kali nih kalo soal itung2 kaya gini, semenjak resign dr accountant 2 tahun lalu udah jarang banget bersentuhan dengan itungan hihi

  7. Ida says:

    Aku tu secara teori pahamlah tapi kalau pas prakteknya suka ga komitmen sama planning huhu…kudu terus belajar bebenah diri nih..

  8. Nah, ini nih, selama ini masih awut2an saya dalam hal keuangan. Soalnya nggak pake belajar manajemen seperti ini. Itung2annya asal banget. Asal pengin aja belanja, seadanya uang hihiii.. Thanks lho mba untuk ilmunya yang bermanfaat ini.

  9. Farida Pane says:

    Mantap deh manajemen keuangannya. Asal disiplin dan tetap dijalani dengan hepi, insyaallah semua ada hasilnya ya.

  10. Tori says:

    Manajemen keuangannya mba vicky oke jg nih, ak blum zakat dan investasi XD , baru di menabung tp masih yg di bank yg bnyk potongan2 nya kwkwkwk , pngn pindah ke bank online jg jadinya

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Nanti aja bayar zakatnya, kalau penghasilannya sudah nisab. Tapi kalau kita mau manajemen keuangan dengan baek, salah satu efeknya adalah kita bisa langsung tahu apakah penghasilan kita sudah nisab atau belum 🙂

  11. Tami Oktari says:

    Langsung puyeng aku tuh mba baca mengenai keuangan gini wkwk tapi emang penting banget sih ini biar kita bisa mengelola keuangan. Aku masi belajar sih untuk ngurus ginian hehe

  12. Waaaah… Aku suka baca manajemen keuangan orang lain. Buat belajar kali aja caraku ada yang kurang. Ternyata kurang lebih udah sama 🙂 Tapi kayaknya aku lebih ribet karena belum pakai ipotpay. Kapan-kapan aku coba ah

  13. Ratnasari says:

    Pas banget nih aku mau belajar buat manajemen keuangan biar keuangan semakin berfaedah hihi
    Thanks for sharing tips dan ilmunya yaa Ka

  14. vebby says:

    management uang bener-bener bikin kita jadi gak hambur-hamburin seenaknya apalagi untuk hal-hal yang isa dibilang gajels cuma karena aper mata yah… musti banget kita ngemanage supaya si uang juga jelas kemana perginya hihi

  15. wadaw, bahasannya berat hahahaa aku selama ini nabung tapi selalu berakhir kebobolan 🙁 jadi selalu nabung lagi dari awal, mungkin bisa di terapkan ya tipsnya mbak vicky terutama bagian belanja kalau bisa dianggap investasi 🙂

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebetulnya risiko kebobolan itu pasti akan selalu ada. Cuman tinggal masalahnya adalah bagaimana kita mau konsekuen disiplin terhadap pilihan yang sudah kita ambil. Seperti yang kucontohkan di atas, jika aku sudah menerapkan bahwa budget untuk belanja lifestyle adalah 30% penghasilan, maka pada prakteknya ya jangan lebih dari itu sehingga sampai memboboli jatah tabungan yang padahal cuma 10% 🙂

  16. sabda awal says:

    sejauh ini saya ga ada kendala mbak dalam mengatur keuangan. Tahuun pertama kerja saya sukses menahan segala keingingan beli ini dan itu yang hanya sekedar memenuhi hasrat lapar mata, kini saaya semakin jago soal ngatur uang, disimplin dan mengendalikan nafsu terhadap belanja yang ga dibutuhkan.

    tinggal kedepannya saya lagi mikiran 3 hal besar yang saya rencananya, dalam 2 atau 3 tahun ke depan. Bangun rumah ortu paling ga butuh modal 30juta (karena bangun di kampung jadi lebih murah), nyicil tiket pesawat ke Azerbaijan PP 20 juta, dan nikah 50 juta. Hahahaha buanyaak banget sih. Ga tau nih mana yang akan kesampaian duluan. Kayaknya saya harus earn more deh.

  17. Aku setuju banget dengan statement yang ini: “Saya cuma mau belanja lifestyle kalau hasil belanjaan itu bisa menghasilkan penghasilan.” Ibaratnya belanja, tapi buat investasi kerjaan ya 😀

  18. Joe Tampan says:

    Apakah karena orang tuanya adalah Uncle Scrooge alias Paman Gober?

    enggak mungkin, mbak. selain nggak punya anak, malah paman gober juga belum nikah. padahal dia sudah tua…

Leave a Reply to Ranger Kimi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *