Aura Awet Muda yang Menular

Ketika perempuan sudah mulai berumur 35 tahun, maka itu waktunya “turun mesin”.

Yang ngomong begitu itu ialah guru saya di sebuah sekolah kepribadian dalam pembahasan tentang brainbeauty, and behavior. Tetapi di tangan profil yang mau saya ceritakan ini, jarum jam seperti tidak pernah berdetak, waktu seperti tidak pernah berjalan.

Kenalkan, ini kakak sepupu saya. Namanya Yani, umurnya 36 tahun. Lihat fotonya, dia tidak seperti usia itu, kan? Dia seperti mbak-mbak kantoran yang suka cengengesan haha-hihi. Yang menghias kubikelnya dengan asesoris bertema kembang warna-warni. Yang handphonenya penuh dengan aplikasi belanja online lengkap dengan notifikasi tawaran diskon. Yang tiap jam selalu meluangkan menit untuk mengheningkan cipta dan merenung, “Bagaimana cara melunturkan pasukan lemak di sirloin perutku ini, ya Allah?

(Poin terakhir itu betul, tapi poin-poin sebelumnya cuma karang-karangan saya saja..)

Sepupu Favorit Saya

Saya ingin menceritakan dia dulu dari sudut pandang seorang sepupu yang perbedaan usianya cuma dua tahun darinya. Kami berdua sepantaran, satu nenek, tapi beda ayah dan beda ibu. Sewaktu kecil, kami sama-sama kurus, sehingga sering diasosiasikan mirip. Saking dekatnya, kalau lagi liburan bareng, kami sering disuruh tidur bareng di tempat tidur yang sama. (Semula saya mengira itu adalah modus ibu-ibu kami untuk mengirit kasur. Belakangan ternyata itu adalah strategi ibu-ibu kami untuk mengkonsentrasikan titik-titik sumber cekikikan di lokasi yang sama.)

Hobinya ialah baca komik. Sampai remaja pun dia lebih suka baca komik ketimbang baca novel. Bahkan malam sebelum ia menikah (saya tidur di sebelahnya pada malam midodareninya), dia tertidur sambil menggenggam komik (sementara saya nonton Indonesian Idol #4). Dan dia masih baca komik sampai sekarang, sambil mengeloni anaknya, Keenan.

Mbak Yani adalah orang yang sangat santai. Di keluarga besar kami, dia adalah anggota keluarga yang mesti diantisipasi seksama karena dia …kalau mandi itu luamaaa.. (ngetik gini sambil ngacungin stopwatch yang batrenya sampai habis). Sewaktu kecil, kalau mandi dia paling sering digedori supaya jangan mandi lama-lama (karena kamar mandinya mau dipakai, karena sumber pompanya mau dipakai untuk nyiram kembang, and so on). Padahal nggak jelas juga apa yang dia gosoki di kamar mandi. Sebab baik sebelum masuk dan sesudah keluar dari kamar mandi pun, warnanya ya sama saja (ya warna badannya, ya warna tegel kamar mandinya juga sih).

Sebagai seorang sophisticated, saya selalu menyangka keleletannya dalam urusan mandi itu akan membawa problem di kariernya. Ternyata kemudian, terbukti saya salah besar..

Karier yang Cemerlang

Dia lulus kuliahnya dengan cepat. Cum laude, malah. Ketika para fresh graduated sibuk kirim CV sana-sini, dia malah sudah diincar perusahaan tempat dia magang ketika dia kerja PKL. Dia tidak pernah berburu pekerjaan; pekerjaanlah yang memburunya.

Seperti cewek-cewek berkarier cemerlang pada umumnya, Mbak Yani melewati masa fresh graduation-nya dengan lancar jaya. Setelah sempat diterima jadi asisten manajer di unit research and development sebuah perusahaan konsumsi, dia menerima gaji bergepok-gepok plus tunjangan rumah, mobil, dan asuransi. Tapi kemudian dia pindah ke perusahaan kompetitornya, dengan jaminan income yang lebih besar dan posisi yang lebih tinggi.

Dan income itu tidak cuma berupa slip gaji yang banyak angka nolnya, tapi bossnya juga mencintainya. Ketika ayah Mbak Yani (pakde saya) meninggal, dan Mbak Yani terpaksa cuti untuk pulang kampung, bossnya mengiriminya kembang papan turut-berduka-cita segede-gede gaban, plus santunan tunai yang cukup banyak untuk bude saya sebagai tanda kasih sayang.

Mbak Yani membayar kariernya itu dengan kerja seperti kuda. Dia manusia kantoran yang jarang mendekor kubikelnya, karena waktunya lebih banyak habis untuk mondar-mandir ke seluruh Indonesia. Pekerjaannya sebagai eksekutif muda R and D urusan bahan pangan memaksanya memimpin sepasukan anak buah untuk selalu bikin revisi dari produk-produk perusahaan.

Karena pembawaannya yang bisa menyederhanakan persoalan (aset kemampuan yang ternyata tidak dimiliki banyak orang), kantornya mengizinkannya cuti bertahun-tahun untuk kuliah master di bidang teknologi pangan di University of South Wales. Dan pulang dari sana, ia pun jadi rebutan para headhunter industri bahan konsumsi di negeri ini.

Saya yang awam di bidang itu (maklumlah latar akademik saya kan beda banget), sering bertanya, “Sebetulnya kerjaan lu di kantor itu ngapain sih, Mbak?”

Dan dia hanya menjawab, “Mmmh..kerjaanku adalah mencicip-cicipi makanan..”

pribadi yang menyenangkan
Mbak Yani bersama putra tunggalnya.
Selalu ketawa kalau lihat kamera.

Karena para headhunter memburunya dengan tawaran gaji besar, kantor Mbak Yani mengelus-elusnya dengan macam-macam tunjangan yang diimpikan sejuta umat eksekutif muda. Ketika orang-orang umur segini masih kepayahan mengkredit rumah tinggal, Mbak Yani sudah bisa beli rumah dua lantai sendiri di lokasi kota yang cukup strategis; dan sekaligus merombaknya. (“Aku butuh satu kamar lagi, kalau ada tamu nginap. Dan Keenan perlu area yang lebih luas untuk tiga mobil-mobilannya.”)

Rumahnya yang nyaman jarang ketamuan orang. Karena kalau ada orang kirim What’s App untuk minta izin mau bertamu, dia sering jawab begini, “Ngg..tanggal berapa?” ,”Oh..aku nggak ada di rumah tanggal segitu. Aku mesti pelatihan kantor 10 hari di luar kota.” Kalau dikomentarin, “Huaa..lama amat. Emangnya pelatihan di mana sih?” Sering jawabannya adalah.. “..di Perancis.

Kantor tempatnya bekerja sekarang adalah perusahaan konsumsi asal Paris.

The Real Humble

Tapi menjadi eksmud nggak bikin dia ambisius jadi socialite. Tempat belanja favoritnya hanyalah sebuah mal mediocre di dekat Kebun Raya Bogor, karena memang cuma itu mal paling representatif di kota tempatnya tinggal. Itu pun dia jarang ke sana, karena alasan simpel, “Bogor kalau weekend pasti macet..

Setiap kali dia pulang ke rumah ibu saya di Bandung untuk berlibur, ibu saya sering komentar, “Yan, kamu duitnya banyak, kok ndak pakai baju yang rapi seh? Koyok cah cilik ae..” (Karena Mbak Yani lebih suka pakai celana pendek ketimbang celana panjang rajutan a la boss.)

Mbak Yani nggak pernah jawab, dia hanya nyengir, dan malah lari ke rak buku tempat adik saya menyimpan komik-komiknya. Apanya yang mirip eksekutif muda?

Semakin tinggi kariernya, tapi gaya hidupnya nggak berubah. Soal ke mana-mana cuma pakai shorty itu hanya contoh kecil. Dia nggak suka dandan, kecuali definisi dandan adalah sebatas pakai bedak dan sedikit lipstik warna merah kecokelatan.

Awet muda alami
Mbak Yani bersama suaminya.
Alhamdulillah, laki-laki ini sholat.

Orang lain ramai ngegosip tentang klinik kecantikan mana buat perawatan, tapi Mbak Yani nggak pernah pusing untuk ngantre peeling pakai emas atau ribut ngecat rambut. Rahasia awet muda dan cantik yang dilakukannya cuma cuci muka pakai sabun. Dan itu kebiasaannya yang ditularkan kepada saya semenjak umur saya masih 10 tahun. Sampai hari ini dia masih tercengang kagum lihat saya bisa pasang bulu mata sendiri, padahal basic banget kan ya?

Yang Penting itu Mengejar Value

Saya pernah iseng menggodanya karena dia terlalu sering ganti boss. Kantornya gonta-ganti, dengan posisi yang makin lama makin tinggi. Belakangan dia akhirnya cerita kenapa dia hengkang dari kantor lamanya dan pindah ke kompetitor.

“Mosok di kantorku yang lama itu, ternyata aku melahirkan Keenan itu nggak ditanggung (oleh kantor). Ya aku cabut dong.” (Dia akhirnya memilih employer baru yang mau menghargainya lebih, ketimbang setia pada employer yang nggak peduli tentang keselamatan ibu melahirkan.)

Tapi kantor berikutnya pun dia tinggalkan. “Di kantor yang ini aku nggak dapet pelatihan-pelatihan tambahan. Tapi kalau di kantor baru, aku bisa dapet limu-ilmu baru yang kasih nilai tambah bagi diriku sendiri.” (Buatnya lebih penting menjadi makin pandai, daripada stuck di tempat keren tapi ya-begitu-begitu aja.)

Mungkin umur segini orang sudah stress karena merasa tua, tapi Mbak Yani enggak. Sikap easy-going-nya menjadikannya tetap jadi orang yang sederhana. Prioritasnya sekarang cuma bikin anak tunggalnya tumbuh besar dan berkembang. “Aku kirim Keenan ke EF, bukan supaya dia bisa pintar bahasa Inggris. Tapi supaya dia bisa lebih berani bicara pada orang lain.” Sebelumnya, ia gelisah karena bocah berumur tiga tahun itu sangat pemalu dan jarang bergaul.

Anak tunggalnya yang segala-galanya buatnya itu membuatnya rela kerja 9-5 di Jakarta. Bonus macet empat jam pulang-pergi di jalan, karena rumahnya di Bogor. Tapi sebagai gantinya, ia tidak mau ditelepon urusan kantor pada hari Sabtu-Minggu. “Ini kan hari libur,” cetusnya sambil meladeni Keenan yang ingin main mobil-mobilan di waktu weekend.

awet muda dan cantik
Saya (kanan) bersama Mbak Yani sedang melahap kue.
Kegiatan favorit kami adalah ngemil bersama sembari cerita-cerita tentang hal-hal nggak penting, yang saking nggak pentingnya bikin Anda merasa buang waktu mendengarkannya.

Dan pada akhirnya, sama seperti prioritas seluruh keluarga kami lainnya, Tuhan adalah segala-galanya. Saya ingat ada masa ketika pacarnya mengajaknya ke rumah orang tua laki-laki itu sebelum menikah. Pulang dari sana, Mbak Yani rada sungkan ketemu si pacar itu lagi, dan akhirnya putus (kemudian ia menikah dengan orang yang jadi suaminya sekarang). Di kemudian hari, akhirnya ia berterus terang kepada keluarga kami kenapa ia mencampakkan pemuda tak beruntung itu. “Keluarganya itu..sepertinya, keluarganya jarang sholat.”

She is Timeless

Mbak Yani ialah pribadi yang menyenangkan. Dan auranya itu menular.

Dia berumur 36 tahun, tapi bersama dia, saya merasa masih seperti berumur 26. Ketika kami ketawa bareng, saya merasa kembali berumur 16. Dan kalau kami sedang ngemil kue bareng, saya selalu merasa masih jadi anak 6 tahun. Dan dengan itu, waktu seperti berhenti, selamanya.

Usia hanyalah sebuah angka. Kenapa hidup kami harus dikendalikan olehnya?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

10 thoughts on “Aura Awet Muda yang Menular

  • November 24, 2016 at 1:23 am
    Permalink

    saya suka bagian terakhirnya… age is just a number… Ada masa2 ketika kita ingin jadi diri sendiri tanpa ada yg usil ngomong…eh, kamu sekarang udah umur sekian and so on ^_^

    Reply
    • November 24, 2016 at 1:31 am
      Permalink

      Hahahaha..kalimat itu terpikir oleh gw persis sebelum gw pencet tombol publish.

      Masalahnya, kita masih hidup dalam komunitas yang menganut sistem nilai bahwa pada umur sekian kita harus “begini” dan “begitu”. Kalau nggak kepingin diusilin pendapat orang lain, ya nggak usah hidup di dalam komunitas itu..

      *terus kita pindah aja ke planet Mars, bukan begitu?*

      Reply
  • November 24, 2016 at 8:38 pm
    Permalink

    Kalau aku yang jadi juri lomba, tulisan ini pasti kumenangkan. Tulisan ini punya segala hal yang menjadikannya berkualitas; kelengkapan informasi, kisah yang mudah dipahami, inspirasi yang terselip secara halus, kalimat yang tertata baik, dan sudut pandang yang unik, hingga closing yang kuat.

    Tapi siapalah aku ini? Sebagai pembaca, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk tulisan yang baik ini. 🙂

    Reply
    • November 25, 2016 at 3:37 am
      Permalink

      Mas, bikinlah lomba menulis. Nanti aku ikut, dan pilihlah aku jadi pemenangnya ya 😀

      Reply
  • November 28, 2016 at 1:24 pm
    Permalink

    Sempat bubgung dengan caption “Alhamdulillah, laki-laki ini sholat.” hihihi ternyata…subhanallah. Kriteria tsb menjadi #1 untuk menjadi imam mba Yani.
    Senyumnya manis, kek yg nulis hehehe 😀

    Reply
  • January 28, 2017 at 7:26 am
    Permalink

    emang tersenyum dan banyak ketwa bisa bikin awet muda ya

    Reply
  • February 9, 2017 at 7:03 am
    Permalink

    Baru pertama kali datang ke blog Mak Vicky, uda bolak-balik baca beberapa postingannya haha abis ngalir banget kayak mata air dari pegunungan *wuat?*
    Tapi, inspiratif dan sense of humornya juga ada. Kudu masuk di bookmarks nih hehe

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *