Penularan HIV/AIDS dan Publik yang Stigmatik

Meskipun kampanye tentang bahaya penularan HIV/AIDS sudah merebak di semua kalangan masyarakat, tetap makin banyak saja orang yang kena HIV dan bahkan naik pangkat menjadi penyakit AIDS.

Kesulitan memberantas penyakit AIDS ini tidak cuma dirasakan sendiri oleh (keluarga) penderitanya. Tapi sudah sampai ke level menguras uang negara lantaran penggunaan anggaran kesehatan yang nggak efisien. Penyakit ini tidak cuma bikin hidup penderitanya jadi rusak, tapi juga sudah membuang pajak yang dibayar orang banyak.

Saya belum melupakan malam ketika saya mesti menyelamatkan seorang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) sembilan tahun yang lalu. Tetapi yang tidak pernah saya lupakan adalah kesulitan yang saya alami pada hari-hari berikutnya akibat saya berusaha memperpanjang hidup pasien itu. Rumah sakit seringkali terlalu birokratis, karena manajemennya ngeri akan penularan HIV ini, sehingga dokter yang sudah merelakan hatinya untuk menolong penderita HIV/AIDS pun bisa terhambat langkahnya.

Padahal kengerian bisa dihapuskan dengan edukasi. Dan edukasi itu akan efektif kalau diulang terus-menerus. Itu sebabnya World Health Organization bikin peringatan Hari AIDS Sedunia saban 1 Desember. Bukan sekedar untuk menghormati mereka yang akhirnya menjadi penderita HIV/AIDS, tetapi juga untuk mengajari orang banyak supaya mereka tidak ikut tertular menjadi ODHA.

Hari AIDS Sedunia versi Kemenkes

Dan Kementerian Kesehatan pun juga mengkampanyekan peringatan Hari AIDS Sedunia ini. Tahun ini, lembaga tinggi yang satu ini memusatkan peringatan Hari AIDS nasional di Surabaya. Selain menggelar upacara rutin khas kementerian di Gedung Grahadi milik pemerintah Jawa Timur, siang ini Kemenkes juga bikin seminar tentang penyakit AIDS untuk blogger-blogger Jawa Timur.

Peringatan hari AIDS sedunia
Saya dan anak saya di peringatan Hari AIDS Sedunia siang ini di Surabaya.

Di seminar yang digelar di Hotel Tunjungan ini, Kemenkes berkisah tentang penyakit AIDS yang menyedot anggaran kesehatan dalam jumlah yang cukup banyak. Jawa Timur sendiri, yang menjadi lokasi pusat peringatan Hari AIDS Sedunia di Indonesia tahun ini, punya problem sendiri, karena lebih sulit memberantas penularan HIV daripada di provinsi lain (bahkan lebih sulit ketimbang provinsi Papua atau DKI Jakarta).

Padahal, pasien HIV adalah unsur paling penting untuk menghentikan penularan virus ini. Dan menjaga mereka supaya tidak sampai menularkan virusnya ke mana-mana itu lebih penting lagi. Lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang pro HIV/AIDS punya jasa besar untuk menjaga mereka, dan kebetulan salah satu LSM itu juga menyumbang pengalaman mereka di acara seminar peringatan Hari AIDS Sedunia ini.

HIV/AIDS di Indonesia pada Masa Kini

Anda mungkin sudah tahu bahwa pemerintah Indonesia di bawah kabinetnya Jokowi sekarang sudah kasih porsi anggaran yang lebih besar untuk kesehatan (daripada kabinet sebelumnya). Dananya diambil dari pajak, dan pajak ini diambil dari rakyat. Jadi Anda yang membaca blog ini sebetulnya sudah kasih kontribusi besar untuk mendanai orang-orang Indonesia supaya tidak sampai jatuh sakit.

Salah satu problem kesehatan besar buat orang Indonesia di masa depan ini adalah HIV/AIDS. HIV adalah virus yang menular dan menjangkiti banyak orang di segala usia dan segala lapisan ekonomi masyarakat. Tahun ini, kata Wiendra Waworuntu, Direktur Program Pemberantasan Penyakit Menular Kemenkes, biaya untuk mengobati HIV masih ditanggung oleh Global Fund. Tapi mulai tahun depan, dana untuk mengobati HIV akan sepenuhnya menjadi tanggungan Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Artinya, per tahun 2017, orang Indonesia sendiri yang bertanggung jawab membayari pengobatan para penderita HIV/AIDS di Indonesia.

Problemnya, jumlah ODHA ini tidak pernah berkurang, tetapi semakin lama semakin banyak saja. Sebetulnya kalau jumlah rakyat Indonesia yang ketahuan mengidap HIV itu semakin banyak, ya bagus. Persoalannya, yang ketularan HIV juga semakin banyak. Indonesia ini masih lebih banyak mengobatinya ketimbang mencegah penularannya.

Di Indonesia, sekitar 66% kasus HIV ditularkan via hubungan seks antar pria dan wanita (porsi penularan via homoseksual ternyata baru 3%, jadi kalian yang anti gay sebaiknya jangan nyinyir dulu di kolom komentar bawah). Dari porsi 66% ini, ternyata sebagian besar memang punya kebiasaan berhubungan seks dengan pasangan yang berbeda-beda.

Di Jawa Timur sendiri, menurut Ansarul Fahruda (Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Masalah Kesehatan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur), 70% penderita HIV/AIDS memang tertular akibat hubungan seksual pada pasangan heteroseksual (dan hanya 4% kasus yang diakibatkan oleh para homo).

Meskipun banyak dari penderita HIV/AIDS yang heteroseks ini tertular karena pernah berhubungan dengan orang yang bukan pasangan resminya, tetapi ternyata cuma 6,3% yang punya pekerjaan sebagai pelacur. Menurut Ansarul, presentase pasien HIV yang hanya seorang ibu rumah tangga ternyata 17,7%, alias dua kali lipat lebih banyak ketimbang para pekerja seks komersial.

Diam di rumah saja dan setia kepada suami ternyata tidak membuat dirinya aman dari penularan HIV.

Padahal, hubungan seks bukan satu-satunya cara penularan HIV/AIDS. Karena dasarnya HIV menular melalui darah dan sperma (dan cairan tubuh lainnya), maka HIV juga dapat menular melalui transfusi darah. HIV pun menular pada orang-orang yang tertusuk jarum, misalnya termasuk juga menular pada petugas kesehatan (seperti dokter dan paramedis). Bahkan, HIV juga menular di tempat-tempat yang tercemar cairan tubuh, misalnya pada salon manikur dan barber shop.

Nasib ODHA

Orang yang sudah terbukti mengidap HIV, alias ODHA, menghadapi masalah bertubi-tubi. Farid Hafifi, staf Yayasan Mahameru (sebuah LSM yang berusaha memberdayakam ODHA), bercerita bahwa ODHA sering mendapatkan stigma jelek pada masyarakat. Masyarakat masih mengira bahwa ODHA itu menular dengan berbagai macam cara, akibatnya banyak dari mereka yang tidak mau bergaul dengan ODHA.

ODHA juga ditimpa masalah ekonomi yang cukup berat. Seringkali seorang ODHA baru ketahuan mengidap HIV setelah dia diopname oleh karena gejala AIDS (dan dia tidak tahu bahwa sakitnya itu diakibatkan HIV-nya itu). Biaya opname itu menguras keuangan seluruh keluarganya, sehingga ia pulang dari rumah sakit Β dalam keadaan separuh miskin (plus pengetahuan baru bahwa ia ternyata mengidap HIV). Prosedur opname telah memaksanya cuti lama dari pekerjaannya sehingga gajinya akhirnya disunat (dan itu membuatnya jadi total miskin).

ODHA yang frustasi terhadap penyakitnya akan berusaha membuang stressnya dengan bermacam cara. Mungkin berusaha bunuh diri. Mungkin juga mogok tidak mau berobat (seorang ODHA harus minum obat anti HIV seumur hidup). Yang repot adalah kalau dia membuang frustasi dengan berhubungan seks dengan orang lain, dan ini akan menularkan HIV-nya itu kepada pasangan seksnya itu, sehingga menambah penderita baru.

Problem lainnya juga kalau ODHA ini ialah ibu yang sedang hamil. Seringkali ibu ini tertular HIV via suaminya sendiri. Suaminya yang juga seorang ODHA tanpa sadar ini, ternyata seringkali juga mengidap kuman-kuman lainnya, misalnya bakteri sifilis dan virus hepatitis B. Bisa dibayangkan repotnya kalau sampai ibu hamil yang mengidap HIV ternyata juga mengidap hepatitis B, karena obat anti hepatitis B sampai sekarang masih sangat mahal (malah lebih mahal daripada harga obat anti HIV).

Ibu yang hamil dan mengidap HIV, akan bisa menularkan HIV kepada janinnya jika dirinya sendiri tidak diobati. Kalau si janin sampai tertular HIV dan lahir, maka bayi ini harus minum obat anti HIV sampai seumur hidup. Memberi tahu anak ini bahwa ia mengidap HIV masih jadi masalah besar bagi para psikolog, karena bagaimana pun ia harus menjalani sisa hidupnya dengan mengetahui bahwa ia adalah seorang ODHA.


Pekerjaan Rumah Semua Orang

Semua orang butuh diberi penyuluhan ulang tentang HIV/AIDS ini. ODHA perlu diedukasi terus-menerus bahwa ia harus tetap hidup untuk jadi orang bermanfaat, tetapi dia tidak boleh sampai menularkan HIV-nya kepada orang lain.

Masyarakat juga perlu diberi penyuluhan agar bisa melindungi diri sendiri dari penularan HIV. Namun mereka juga perlu diberi tahu untuk tidak sampai mengucilkan para ODHA. Karena pada dasarnya, menyingkirkan ODHA dari pergaulan masyarakat merupakan tindakan yang tidak manusiawi.

Yang lebih penting lagi juga memastikan diri sendiri bahwa status HIV kita bersih. Karena saat kita bersih dari HIV, kita aman untuk berhubungan seks dengan orang lain, kita aman untuk punya keturunan, dan kita juga aman untuk menyumbangkan darah kita kepada orang lain.

Saya, dokter, istri, dan seorang ibu yang melahirkan pasca operasi, sudah memeriksakan status HIV saya. Saya bersih dari HIV.

Bagaimana status HIV Anda?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

18 comments

  1. Nining says:

    Efek frustasi yang terakhir itu yang aduh, gk kebayang…belum lagi ternyata tahun depan kita pake dana sendiri ya untuk AIDS/HIV ini. Baru tau…kupikir dari dulu sudah pake dana sendiri, thx infonya Mba.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Lhoo..ini semua obat anti HIV itu dibayarin negara lain.. *merunduk kesal*

      Negara-negara lain yang dermawan membuang uangnya ke lembaga Global Fund. Lembaga ini menyalurkan dana ini ke negara-negara yang penularan HIV-nya tinggi, termasuk Indonesia, karena alasan kemanusiaan. Tapi bantuan ini akan ada batas waktunya, dan sepertinya deadline bala bantuan sudah tiba.
      Makanya Bu Menteri Kesehatan minta supaya penularan HIV diredam. Supaya tidak timbul penderita-penderita baru yang harus dibantu diberi obat HIV. Karena kalau dananya dibayar sendiri oleh pemerintah Indonesia, ya belum tentu cukup..

  2. Penularan yang tak hanya melalui hubungan yang dimaksud, itu yang lebih ngeri mbak. Khususnya bagi yang tidak aneh2. aku dulu pas kuliah diingatkan dosen adanya resiko potong rambut diakhir menggunakan pisau untuk ngerok2 itu mbak, kalau kena bekas darah penderita bisa nular dan beliau antisipai bawak sendiri dari rumah.

  3. Mbaak ngeri ya ketika seorang ODHA frustasi, pelampiasannya gak main-main. Kayaknya pernah lihat film yang kisahnya seperti ini. Mereka sengaja mencari korban dengan cara kontak fisik agar memiliki teman senasib.

  4. cumilebay says:

    Iya selama ini yangdi gembor2 kan itu kalangan homosex yang menyumbang terbesar HIV tapi ternyata malah kaum hetero.
    Semoga banyak yang sadar akan bahaya nya jadi pilih aman

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebetulnya data itu tidak mengejutkan. Terbukanya fasilitas VCT di Jawa Timur untuk pengidap HIV membuat orang bersedia untuk memeriksakan diri. Sehingga pengidap HIV pun banyak yang berhasil terjaring.

      Di provinsi lain, belum tentu jumlah ODHA-nya setinggi ini. Karena banyak yang belum memeriksakan diri akan status HIV-nya toh?

  5. salam salute мϐÀ Vicky.., usia boleh muda tp ah.. sangat iri dgn kedewasaan tulisan mu.., β“’β’ β“œβ’œβ“β’’β“β’― β™‘ yaa

    All the best as always β™₯

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *