Menolong Penderita HIV/AIDS yang Soleh(a)

Mengidap HIV-nya sendiri sudah cukup merepotkan. Tetapi serentetan masalah lainnya sudah menanti untuk menggelayuti para penderita HIV. Tidak cuma berhadapan dengan stigma jelek dari masarakat; karena akibat signifikan HIV adalah mereka menjadi jatuh miskin, sakit-sakitan, dan parahnya meninggal dalam putus asa. Bonus menularkan virus kepada orang lain, jika mereka tidak dirangkul.

Tanda Penderita HIV

Saya tidak pernah dihadapi oleh pasien yang mengeluh karena HIV. Penderita HIV/AIDS yang datang kepada saya itu hanya mengeluh hamil, atau batuk-batuk, atau jantung berdebar-debar. Dan hal-hal itu bukan disebabkan oleh HIV-nya.

Orang sering tanya kepada saya, “Dok, gimana sih gejala kena HIV itu?”

Saya selalu menggeleng karena memang gejala HIV itu tidak ada. HIV bisa datang masuk ke tubuh kita hari ini, tetapi bisa saja kita baru merasakan sakitnya dalam jangka 20 tahun kemudian.

Sedikit Info tentang HIV/AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan dua perkara yang sangat berbeda. HIV adalah semacam kuman virus yang bekerja menggerogoti sistem kekebalan tubuh.

Virus HIV ini bisa masuk ke tubuh kita dan diam saja sampai seumur hidup. Tetapi selama di dalam tubuh, virus ini juga bisa merusak sistem kekebalan tubuh kita dan menyebabkan kuman-kuman lainnya mudah masuk ke badan kita.

Ada banyak sekali kuman ganas lainnya yang mudah merusak tubuh kita jika sistem kita sudah dirusak oleh HIV ini. Kuman paling sering adalah Mycobacterium tuberculosis (bakteri penyebab penyakit TB). Kuman-kuman berikutnya yang juga sering dijumpai adalah virus hepatitis B dan virus hepatitis C (penyebab sakit liver). Kuman lainnya adalah jamur Cryptococcus (jamur penyebab radang selaput otak alias meningitis). Dan kuman-kuman lainnya yang bisa Anda googling sendiri.

Ketika kita sudah mengidap HIV, lalu HIV membobol sistem kekebalan tubuh kita, mengakibatkan kuman lain masuk ke tubuh kita, menimbulkan gejala-gejala gangguan pada tubuh kita, maka tahap ini yang dinamakan penyakit AIDS. Dan orang yang menderitanya disebut ODHA (orang dengan HIV/AIDS).

Jadi, orang bisa mengidap HIV tanpa penyakit AIDS. Dan dalam fase ini dia nampak sehat sama sekali, tidak seperti orang sakit. Sialnya, orang yang dalam fase begini ini banyak sekali jumlahnya. Dan mereka tidak sadar bahwa mereka mengidap HIV. Repotnya, karena mereka tidak tahu, tanpa sadar mereka bisa menularkan HIV-nya kepada orang lain.

Cara Penularan HIV Tidak Melulu Melalui Seks

Cara penularan HIV yang paling populer di kalangan masyarakat ialah melalui hubungan seks. Tetapi dari komentar-komentar yang datang pada tulisan saya tentang peringatan Hari AIDS Sedunia, tersirat bahwa banyak orang tidak tahu bahwa HIV bisa menular melalui metode-metode lain.

Tempat Cukur Rambut

Ketika petugas cukur memakai pisau untuk mencukur, lalu dalam prosedur itu kulit klien terkikis hingga berdarah, darah akan menempel pada pisau. Jika kebetulan darah klien ini mengandung HIV, lalu pisaunya dibersihkan hanya dengan metode a la kadarnya, maka jika pisau ini digunakan pada klien yang lain, HIV akan menular pada klien lain tersebut.

Salon Manikur/Pedikur

Cara penularan HIV
Salah satu cara penularan HIV juga bisa melalui alat manikur yang tidak steril. Gambar diambil dari sini.

Metode penularannya sama dengan pada tempat cukur. Intinya memang pada alat mani-pedi yang hanya dibersihkan a la kadarnya.

Pelayanan Gawat Darurat

Contoh kasus simpelnya, menolong orang terluka di jalan. Kita memegang tubuhnya yang terluka dan tangan kita telanjang tanpa sarung tangan (apakah Anda membawa sarung tangan setiap hari di tas Anda?). Jika kebetulan korban yang terluka ini penderita HIV/AIDS, dan kita tersentuh darah yang mengalir di kulitnya, maka kita bisa tertular.

Contoh yang lebih ruwet justru pada pelaku profesi medis seperti saya. Saya masih punya kolega-kolega yang cukup apes lantaran dipaksa bekerja di lembaga-lembaga yang tidak punya stok sarung tangan steril. Alasannya, klinik/rumahsakitnya sedang mengirit anggaran..

Dan dengan beragam cara penularan HIV di atas, begitulah sebabnya kenapa banyak orang tertular HIV, meskipun sebenarnya mereka soleh dan solehah (tidak menyuntik narkoba, tidak gonta-ganti pasangan, dan seterusnya).

Apa yang Terjadi Setelah Tertular HIV

Kebanyakan penderita HIV/AIDS yang soleh-soleha ini tidak bisa melacak bagaimana mereka tertular.

Drama yang paling sering saya hadapi adalah penderita HIV datang ke rumah sakit dalam keadaan sudah sakit berat, dan setelah kami “iseng” mengetes darahnya, ternyata darahnya positif mengandung HIV. Lalu kami mencoba memeriksa suami/istrinya, dan ternyata ketahuan bahwa pasangannya ini juga positif mengidap HIV (padahal pasangannya itu soleh pula).

Para penderita HIV yang masih sehat biasanya akan dikumpulkan di klinik khusus untuk pengobatan HIV/AIDS. Klinik ini akan menjelaskan mengenai cara mengobati HIV/AIDS kepada penderita dan juga akan memberikan obat HIV berupa obat ARV kepada para pengidap ini. Pengidap ini wajib minum obat ini seumur hidup. Obat ini tidak membunuh HIV, tetapi obat ini bekerja menghambat pertumbuhan HIV supaya si HIV tidak sampai berkembang. Jika HIV tidak berkembang, kita mengharapkan sang pengidap HIV tidak akan jatuh ke tahap penyakit AIDS.

Lha penderita yang sudah kadung jatuh kena penyakit AIDS, bagaimana? Wassalam. Penderita HIV/AIDS tetap menjalani pengobatan HIV berupa ARV juga, dan bonus obat-obat tambahan sesuai penyakit yang sudah mereka derita (contoh, jika mereka sudah sakit TBC, mereka akan diobati TBC-nya). Akan tetapi, karena mereka sudah mengidap HIV, biasanya mereka tidak bertahan hidup lama.

ODHA meninggal bukan karena HIV. Mereka tewas akibat penyakit tambahan yang menyerang mereka, dan penyakit ekstra ini terjadi karena dimudahkan oleh HIV yang mereka idap.

Masalah menjadi lebih ruwet kalau ODHA datang ketemu dokter dalam keadaan sudah mengalami gejala AIDS (yang juga sebetulnya gejalanya mirip dengan penyakit-penyakit lain). Ada yang sesak nafas. Atau tidak sadar. Ada juga yang datang karena mencret-mencret. (Seorang ODHA dengan TB yang menyerang usus, bisa mencret sampai lima kali per hari, selama sebulan.)

Penderita yang seperti ini biasanya harus diopname lama di rumah sakit. Opname lama akibat pengobatan HIV/AIDS ini jadi bencana ekonomi bagi ODHA, karena biaya perawatan rumah sakit jelas menyedot banyak biaya. Setelah keluar dari rumah sakit pun, mereka juga mendapatkan masalah baru di tempat kerja masing-masing, karena mereka harus sering cuti untuk berobat sehingga banyak dari mereka yang gajinya terpaksa disunat (dan pada akhirnya diberhentikan).

Problem lainnya adalah kendala berobat itu sendiri. Karena mereka wajib minum obat HIV seumur hidup, sedangkan obat ARV untuk pengobatan HIV ini hanya tersedia di klinik-klinik tertentu di Indonesia. Wiendra Waworuntu, Direktur Program Pemberantasan Penyakit Menular Kemenkes, memang bilang di acara ini bahwa obat ARV sudah tersedia di 34 propinsi. Tetapi obat ini memang baru tersedia di klinik rumah sakit tertentu, sedangkan tidak semua ODHA punya akses gampang menuju rumah sakit (misalnya karena rumahnya jauh, untuk ke rumah sakit itu harus menyeberang laut, dan sebagainya).

Dan tidak semua penyakit yang menyertai ODHA bisa disembuhkan. TBC bisa diobati, tetapi mengobati seorang ODHA dengan hepatitis masih sulit. ODHA yang sakit hepatitis, misalnya, masih bisa mendapatkan pengobatan HIV untuk mengurangi HIV-nya, tetapi ia sendiri kesulitan mengobati hepatitisnya lantaran obat hepatitis di Indonesia masih mahal. (Indonesia baru bisa mengusahakan HbIg untuk penderita hepatitis, dan obat ini hanya meningkatkan ketahanan tubuh sang penderita, tetapi tidak mematikan virus hepatitisnya). Bisa ditebak bahwa ODHA yang sakit hepatitis akan meninggal karena hepatitisnya, bukan karena HIV-nya.

Menolong ODHA

Untungnya, sekarang tidak sendirian, karena sekarang banyak lembaga swadaya masyarakat yang bersedia menolong ODHA. Salah satu LSM ini ialah Yayasan Mahameru, yang punya program kerja