Gurihnya Peluang Bisnis Wisata Halal

Judul buku: Laris Manis Bisnis Wisata Halal

Pengarang: Cheriatna, Desi Namora

Tahun terbit: 2016

Jumlah halaman: 87

Format: E-book PDF

Bisnis wisata semakin marak dalam beberapa tahun belakangan. Ide bisnis ini didorong oleh semakin mudahnya bepergian dengan itinerary yang bisa diatur sendiri. Ditambah dengan meluasnya akses informasi akan berbagai tempat tujuan wisata.

Wisata, atau lebih luasnya lagi, travelling, menjadi kebutuhan yang prioritasnya makin tinggi, seiring dengan kesadaran orang bahwa travelling memberikan lebih banyak pengetahuan daripada yang diajarkan di bangku kuliah.

Ide bisnis wisata halal, adalah bagian dari dunia usaha pariwisata yang akhir-akhir ini juga menarik banyak perhatian. Filosofi halal yang diusung oleh agama Islam menjadi menarik, seiring dengan makin maraknya pemberitaan tentang umat Islam dalam 10-15 tahun belakangan.

Filosofi halal juga merebak ke industri pariwisata, seiring dengan makin banyaknya turis yang ingin bepergian ke tempat-tempat unik, tanpa harus mencemaskan kehalalan makanan di tempat tujuan. Atau bahkan keterpaksaan untuk mengikuti aktivitas lokal yang bertentangan dengan nilai religius pribadinya.

Dan ternyata, jumlah operator yang memulai usaha wisata halal ini masih sedikit. Padahal jumlah peminat produknya banyak. Sehingga, ini menjadi peluang besar bagi para pelaku dunia usaha travel untuk mendulang profit dari investasi bisnis wisata syariah ini.

Buku Laris Manis Bisnis Wisata Halal ini merupakan testimoni dari Cheriatna, pelaku bisnis sukses yang berkecimpung dalam bidang wisata syariah di Indonesia. Dalam buku ini, ia bercerita tentang bagaimana ia menggali potensi ceruk bisnis yang masih luas ini. Buku bisnis ini dapat menjadi akses bagi Anda yang tertarik untuk menjalankan ide bisnis wisata halal di Indonesia.

Penampilan Buku

Saya membaca buku ini dalam bentuk format PDF e-book yang didownload dari blog Cheriatna. File bukunya tidak terlalu besar, hanya sekitar 4 megabyte. Saya menyelesaikan membaca bukunya dalam dua jam saja melalui smartphone saya.

Buku di-lay-out pada halaman berlatar belakang warna ungu muda. Bukan warna putih, sehingga mengurangi kesan bosan seperti yang biasa saya rasakan jika sedang membaca e-book. Warna ungu muda juga memberi kesan cantik dalam e-book yang sebetulnya berpenampilan monoton ini.

Tidak ada daftar isi. Dari Kata Pengantar, Cheriatna langsung melompat ke isi buku. Saya tidak memperoleh gambaran besar tentang isi bukunya pada awal membaca. Saya justru baru mendapatkan gagasan utama Cheriatna dalam buku ini setelah menyelesaikan halaman terakhir.

Tidak disusun dalam bab per bab juga. Cheriatna mulai dengan menceritakan siapa dirinya, berlanjut tentang mengapa ia senang travelling. Kemudian ia memaparkan tentang ide bisnis wisata halal di tingkat global, lanjut ke gambaran dunia usaha piknik syariah ini di tingkat nasional.

Lalu ia membentuk biro wisata bernama Cheria Wisata Tour Travel, dan mulai memberangkatkan tamunya untuk wisata ke luar negeri. Ia merekapitulasi testimoni tamu-tamunya, dan memanfaatkan testimoni itu untuk menjual jasanya.

Dan akhirnya, di e-book ini, ia bercerita tentang bagaimana ia bergabung menjadi anggota komunitas bisnis wisata halal di Indonesia.

Paparan itu diceritakannya begitu saja dari halaman ke halaman, tanpa memberikan petunjuk bahwa ia baru saja berpindah topik. Saya harus cermat membaca e-book ini untuk tetap fokus, karena buku ini memang tak ada babnya.

Untungnya, e-book ungu muda yang monoton ini mengandung banyak ilustrasi. Pada paparan tentang gambaran bisnis, Cheriatna menyajikan banyak diagram. Diagram-diagram ini membantu saya paham tentang dunia usaha travelling, terutama potensi pangsa pasar wisata halal di level global. Diagram ini juga menggambarkan besarnya jumlah turis asal Indonesia di bisnis ini.

Sementara ketika Cheriatna memaparkan tentang prestasi yang sudah dicapai oleh biro wisata miliknya, ia banyak menyajikan foto tamunya. Foto-foto ini berhasil memberikan sedikit ilustrasi, bahwa nampaknya bisnis wisata syariah sama menariknya dengan bisnis wisata umumnya.

Persoalannya, saya sendiri kesulitan mencermati diagram ini. Isi buku ini ditulis dengan bahasa Indonesia, tetapi bahasa dalam diagramnya masih berbahasa Inggris. Untungnya cara berpikir saya bilingual, jadi saya paham diagramnya. Tetapi saya tetap merasa isi bahasan tidak sinkron dengan diagramnya, akibat perbedan bahasa.

Diagramnya sendiri terpaksa ditampilkan dengan ukuran yang terlalu besar karena detail-detail di dalamnya terlalu banyak. Banyak sekali diagram yang harus saya zoom agar saya bisa memahaminya, padahal saya ingin bisa membaca diagram ini hanya dengan sekali pandang saja. Mungkin ini salah saya juga, karena saya membaca e-book ini hanya melalui layar smartphone sesempit lima inci. Barangkali diagram dalam e-book ini lebih nyaman dibaca melalui layar tablet selebar minimal 10 inci.

Cara Pengarangnya Menulis Buku

Jika saya seseorang yang masih bermental karyawan dan sedang ingin jadi boss bagi diri sendiri, saya pasti akan langsung menyukai buku ini dan menelan semua curhat pengarangnya bulat-bulat. Karena nampaknya Cheriatna memang menuliskan bahwa ide bisnis ini mudah, dan bisnis wisata halal itu sendiri sangat mudah untuk dijalankan. Baca saja tulisannya, “…yang penting kita bisa bayar orang profesional yang mau bekerja. Biarkan staf kita sibuk bekerja dan bosnya jalan-jalan.” (halaman 2).

Dia menulis bahwa Inodnesia merupakan urutan keempat negara tujuan wisata halal (setelah Malaysia, Persatuan Emirat Arab, dan Turki), yang berarti Indonesia merupakan objek wisata potensial untuk bisnis ini. Indonesia juga banyak menyumbangkan konsumen wisata ke luar negeri, nampak pada halaman 9 bahwa turis asal Indonesia naik sekitar 15% dalam tiga tahun terakhir. Jadi profit dalam investasi bisnis ini masih akan terus meningkat. Menarik, kan?

Tetapi saya terlalu kritis, karena saya kesulitan menemukan hal-hal yang sudah lama bikin saya penasaran dalam dunia usaha wisata. Misalnya, Cheriatna tidak menuliskan bagaimana ia mendapatkan tamu-tamu pertamanya yang bersedia mempercayainya untuk ia kirimkan ke tempat tujuan mereka. Ia juga tidak memaparkan bagaimana ia mendidik guide untuk membimbing tamunya selama sedang tour muslim Jepang, atau ketika mengantar tamunya naik balon udara di Cappadocia.

Laris manis bisnis wisata halal
Salah satu keluarga yang menjadi klien Cheriatna, tampil dalam e-book tentang wisata halal ini.

Cheriatna juga tidak mengungkapkan bagaimana ia bisa mengatasi kompetitornya untuk memenangkan konsumen. Padahal kalau hanya sekedar piknik ke luar negeri tanpa makan di restoran yang mengandung babi, sudah banyak kompetitor yang lebih berpengalaman (dan lebih populer) daripada Cheria Wisata Tour Travel untuk melakukannya.

Buku bisnis ini akan banyak dipertanyakan oleh para pembaca yang sudah berpengalaman dalam dunia usaha. Seringkali kesulitan terbesar dari sebuah bisnis sukses ialah mempertahankan kepercayaan konsumen, menjaga loyalitas karyawan, dan mengerem biaya operasional di tengah meningkatnya inflasi. Cheriatna masih menulis buku ini seolah-olah pembacanya ialah “pengusaha baru”, bukan menulis untuk pembaca yang merupakan CEO berpengalaman.

Dan tidak mengherankan, karena penampilan e-book ini juga mencerminkan keamatiran itu. Dengan kualitas editing yang masih biasa-biasa saja, penempatan tanda baca yang meleset di sana sini, bikin mata saya yang grammar-Nazi ini cukup siwer.

Juga terlalu banyak kalimat yang terlalu panjang, lantaran mengandung anak kalimat yang sudah terlalu panjang pula. Sebetulnya pembahasan buku ini masih nyaman bagi saya, karena saya memang peminat buku bidang entrepreneurship dan bidang travel. Tetapi kalau pembacanya tidak berminat pada niche travelling business, mereka bisa kebosanan dengan paragraf-paragraf yang gemuk dan kalimat-kalimat yang gemuk pula.

Tetapi seharusnya saya juga tidak terkejut dengan performa e-book ini. Cheriatna maupun Desi tidak mencantumkan nama editor maupun proofreader untuk e-book ini.

Kesan Setelah Membaca Buku

Saya senang Cheriatna telah menuliskan buku ini, karena memberi saya ide bisnis bahwa memulai usaha wisata syariah itu memang mudah. Dan peluang profit usahanya memang besar tanpa harus mengeluarkan terlalu banyak biaya operasional. Dengan mengikuti komunitas Halal Travel Konsorsium dan Asosiasi Travel Halal Indonesia, keinginan berbisnis travel itu bisa terwujud.

Ia juga menyoroti kemudahan mendirikan bisnis travel tanpa harus berinvestasi pada terlalu banyak sumber daya. Lihat tulisannya di sini, “Saya ada pengalaman teman dimana modalnya besar bisa sewa tempat mahal, bisa bayar karyawan tapi jamaahnya sedikit, inimah bukan bisnis namanya tapi sedekah buat karyawan.” (halaman 50).

Namun, buku ini masih lebih banyak didominasi kisah sukses biro Cheria Holiday (atau Cheria Wisata Tour Travel) milik Cheriatna. Masih sedikit informasi tentang tantangan yang harus dihadapi dalam memulai usaha wisata halal itu sendiri.

Buku ini malah lebih mengesankan dirinya sebagai material untuk soft promotion Cheria Wisata Tour Travel dan Halal Travel Konsorsium. Lampiran mengenai keenam program tour Cheria Wisata Tour Travel pada halaman paling belakang e-book ini, yang nampaknya dijiplak mentah dari media promosi biro Cheria, menegaskan promosi itu.

Cheriatna juga masih terburu-buru dalam merekapitulasi kepuasan tamunya. Ilustrasi testimoni di e-book ini diambil langsung dengan cara screenshoot social media para konsumennya. Membuat saya teringat akan cara marketing para juragan online shop. 😀

Dan impresi yang saya dapatkan tentang isi buku ini adalah, wisata halal itu sama saja dengan paket tour yang umum dijual para biro travel. Hanya saja minus bir dan babi, dan nampaknya disertai petunjuk tentang mesjid terdekat dengan tempat wisata yang sedang dikunjungi 😀

Pertanyaan besar buat saya, apakah untuk mengadakan wisata halal ini memang harus dengan mengikuti Halal Travel Konsorsium dan Asosiasi Travel Halal Indonesia? Apakah kedua komunitas itu eksklusif hanya untuk pengusaha travel yang beragama Islam? Apakah bisnis wisata halal ini hanya boleh dijalankan oleh pengusaha yang beragama Islam?

Pada akhirnya, saya maklum dengan upaya keras Cheriatna untuk membuat e-book ini. Ia baru pertama kali menerbitkan e-book, jadi memang masih baru belajar usaha menulis buku. Ia adalah pebisnis, bukan penulis (atau setidaknya belum mendalami kepenulisan buku, sedalam pengetahuannya tentang bisnis travel).

Perbaikan Selanjutnya untuk Pengarang

Untungnya Cheriatna masih membiarkan e-book ini mampu diakses oleh publik, sehingga kekurangan-keurangan di dalam buku bisnis ini dapat terselamatkan. Cheriatna maupun Desi masih punya banyak PR kalau sampai ingin memonetisasi e-book ini.

  1. Memperbaiki gaya bahasa untuk mendapatkan kesan sebagai eksekutif yang profesional. Ini bisa diperoleh dari membaca buku-buku yang ditulis oleh guru-guru seperti Rhenald Kasali, Hermawan Kartajaya, atau Eileen Rachman.
  2. Menyewa editor dan proofreader profesional, untuk menata tanda baca, menyusun bab dan heading, menggunakan Insert Break pada aplikasi Microsoft Word untuk menandai perpindahan pokok bahasan, agar menjadikan e-book ini lebih nyaman dibaca.
  3. Memperbaiki diagram supaya nyaman dibaca melalui smartphone, dan memastikan bahasa diagramnya sinkron dengan bahasa tulisannya.
  4. Meneliti semua link untuk membuat semua link bisa langsung dibuka dari e-book ini.

Yang lebih penting lagi, jika Cheriatna dan Desi memang merencanakan buku ini sebagai buku bisnis, sebaiknya mereka mengemukakan dengan jujur tentang tantangan yang harus dihadapi dalam dalam membuka bisnis wisata halal. Antara lain, terkait dengan keperluan operasional perusahaan, ialah berapa modal yang dikeluarkan? Berapa karyawan yang dipekerjakan dan bagaimana mengevaluasi performa karyawan?

Lalu terkait dengan meraih kepercayaan konsumen, berapa orang tamu dalam rombongan terbesar yang pernah menjadi kliennya? Dan untuk mempertahankan kualitas pelayanannya, bagaimana mereka mendidik guide yang sejatinya merupakan garda terdepan dalam bisnis wisata ini?

Epilog

Membuat buku bisnis tidak semudah membuat blog bisnis. Buku dalam format e-book pun tetaplah buku yang harus diedit profesional, bila ingin memuaskan menginspirasi pembaca. Saya berharap, e-book ini membuka jalan bagi Cheriatna untuk menyebarkan semangat kewirausahaannya di bidang travelling. Dan semoga banyak pembaca yang memperoleh hikmah untuk menuliskan pengetahuannya dalam bentuk e-book juga.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

8 thoughts on “Gurihnya Peluang Bisnis Wisata Halal

  • February 6, 2017 at 6:24 am
    Permalink

    aku udah baca, buku ini emang to the point banget 🙂 Tapi sangat mudah dicerna

    Semoga juaraaaaa mba 🙂

    Reply
  • February 8, 2017 at 10:03 am
    Permalink

    Saya belum baca bukunya, tapi kalau baca dari cerita mba, nampaknya pembuatan bukunya terlalu buru2.. Tapi saya apresiasi juga karena sudah berhasil rampung
    Btw saya juga lagi nyusun buku investasi dengan bahasa yang gampang, mudah-mudahan bisa diterima kelak.. ternyata susah euy, menjaga semangatnya terutama

    Sedikit OOT dari topik buku, berkaitan dengan bisnis syariah, terutama model investasi syariah, setelah dianalisis sekilas nampaknya memang kuat banget fundamentalnya..

    nanti coba saya buat ah di blog..

    Salam hangat

    Reply
    • February 8, 2017 at 10:29 am
      Permalink

      Baca aja dulu buku bisnis wisata halal ini. Cheriatna susah payah bikinnya berdua bareng Desi Namora. Memang nggak gampang kok bikin buku itu. Makanya saya salut juga Andhika mau bikin buku sendiri pula.

      Tema investasi ya? Weww..selamat berjuang deh. Saya yang sudah beli macam-macam buku investasi bikinan pengarang Indonesia aja masih siwer kalau baca isinya. Harus baca bolak-balik supaya ngerti. Mungkin baru Ryan Filbert dan Ellen May aja yang rada simpel.

      Jangan lupa pake editor :))

      Reply
      • February 8, 2017 at 10:13 pm
        Permalink

        mudah-mudahan bisa rampung..
        Buku investasi yang beredar saat ini kemungkinan besar masih sangat akademis ya, tapi memang susah karena banyak istilah yang mau ga mau harus masuk.. Let’s see later deh
        Wahaha,, iya editor ya.. Betul betul

        Reply
        • February 8, 2017 at 10:19 pm
          Permalink

          Padahal sedikit dari para penulis investasi yang memang punya latar belakang akademis sebagai lulusan kampus ekonomi.

          Investasi seharusnya sederhana, sesimpel membuka rekening di bank.
          Good luck, Andhika 🙂

          Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *