Lika-liku Mencairkan Dana untuk Hari Tua yang Bahagia

Pensiun dari kerja bukan berarti hidup mesti berhenti juga. Justru itu awal baru untuk hidup yang lebih baik. Untuk memulai awal baru, sebaiknya sudah bikin persiapan jauh-jauh hari.

Salah satu persiapan itu adalah dengan menabung. Repotnya, orang-orang yang masih jadi pegawai, masih rese kalau diajakin menabung. Gaji seringkali nggak bersisa, seberapa pun besarnya gaji itu ketika awal diberikan. Pemerintah sudah memperkirakan ini, makanya Pemerintah mendaulat semua pekerja supaya menjadi nasabah BPJS Ketenagakerjaan.

Prinsip BPJSTK ini sebetulnya simpel. Pemberi kerja wajib kasih upah/gaji ke pegawainya, namun gaji itu dipotong sebagian untuk bayar iuran BPJSTK. Iuran ini ditabungkan atas nama pekerja empunya gaji, lalu akan dibayarkan seluruhnya kalau sang pekerja sudah nggak bekerja lagi. Dengan begitu, kala sang pekerja mendadak jadi pengangguran, ia masih punya celengan hasil tabungan iuran BPJSTK-nya ketika ia bekerja dulu.

Dengan hasil iuran BPJSTK yang dicairkan ini, sang mantan pekerja bisa melanjutkan hidupnya kembali. Entah dengan membuka bisnis, atau pun sekedar biaya hidup untuk menghabiskan sisa usia.

jaminan hari tua
Hari tua yang bahagia bisa diciptakan bila kita mampu menyiapkannya sejak awal.
Gambar diambil dari artikel tentang jaminan pensiun.
Penolong Pasca Tragedi Musibah

Teman saya, Demus, 37, termasuk yang bersyukur gara-gara ia sudah pernah jadi nasabah BPJSTK. Setelah ia tidak bekerja lagi pada perusahaan tempatnya nguli bertahun-tahun lalu, ia kini punya simpanan cukup untuk biaya hidup diri dan istrinya.

Demus sudah rajin memantau urusan jaminan tenaga kerja ini semenjak kantor tempatnya bekerja masih berlindung di bawah PT Jamsostek. Sesuai aturan pemerintah, kantornya mewajibkan semua karyawan untuk ikut program jaminan tenaga kerja, dan ketika itu jaminan yang dipilihkan oleh kantornya ialah Jamsostek.

Semenjak pada tahun 2014 PT Jamsostek berubah nama menjadi PT BPJS Ketenagakerjaan, bagian finansial kantornya mengoper laporan tahunan jaminan tenaga kerja itu ke para karyawannya. Demus meneliti laporan tabungannya sendiri itu, dengan cara cek saldo BPJS Ketenagakerjaan online secara berkala, sehingga ia tahu berapa banyak saldo yang akan dihasilkannya pada saat dia berhenti bekerja suatu hari nanti.

Karena dia tahu kemampuan manusia terbatas, tidak mungkin manusia bisa menjadi pegawai terus seumur hidupnya. Yang repot, masa kerja bisa berhenti, tapi umur akan terus berjalan dan dia harus menghidupi dirinya sendiri.

Ternyata, apa yang sudah disiapkan Demus mesti diambil lebih cepat. Suatu hari, Demus jatuh dari menara ketika sedang bekerja dan pahanya patah. (Demus bekerja pada industri telekomunikasi dan pekerjaannya memang mengharuskannya memanjat menara BTS.) Demus harus dioperasi, namun setelah trauma itu ia masih saja mengalami neuropati, sehingga ia terpaksa mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Perusahaan tempatnya bekerja telah mengikutkannya pada program Jaminan Hari Tua dan Jaminan Kecelakaan Kerja pada PT BPJS Ketenagakerjaan. Setelah mengundurkan diri, Demus tinggal mengklaim simpanan hasil iuran BPJSTK-nya saja.

Proses mengklaim BPJSTK-nya terhitung sederhana. Demus membuka aplikasi BPJSTK di internet, mengisikan identitas pekerjaannya pada formulir aplikasi itu, lalu menyatakan ingin mengklaimnya. Demus melampirkan surat-surat yang diperlukan (surat-surat itu dipindai dulu dengan scanner, baru hasil scan-nya di-upload ke website BPJSTK).

Beberapa hari kemudian ia menerima email yang menyatakan bahwa berkas-berkasnya sudah disetujui oleh PT BPJSTK. Lalu Demus diminta datang ke kantor BPJSTK sambil membawa berkas-berkasnya yang asli.

Di kantor BPJSTK, berkas-berkas Demus diverifikasi, kemudian dinyatakan beres. Klaim pun cair, dan PT BPJSTK mengirimkan uang hasil iuran BPJSTK-nya ke rekening bank Demus. Dengan uang jaminan tenaga kerja itulah, Demus menghidupi dirinya dan istrinya hingga sekarang.

Kendala Website yang Cukup Mengganggu

Kawan saya lainnya, Turin, 34, juga mencairkan iuran program Jaminan Hari Tua PT BPJSTK-nya. Beda dengan Demus yang mengundurkan diri karena kesehatan, Turin mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai analis pemasaran lantaran ingin konsen mengasuh anak-anaknya di rumah.

Turin sempat kerepotan ketika mau mengklaim Jaminan Hari Tua-nya. Pertama kali ia mencoba klaim online, aplikasinya sempat ditolak. Pasalnya, ia tidak menyertakan scan surat paklaring (surat yang menyatakan bahwa ia bekerja pada perusahaan itu semenjak tahun sekian hingga tahun sekian), padahal surat paklaring itu merupakan persyaratan PT BPJSTK untuk memenuhi klaim nasabah.

Turin sendiri memang kesulitan memahami halaman di website itu karena di halamannya tidak ada kolom untuk melampirkan scan surat paklaring. Ia malah menemukan kolom untuk melampirkan surat dari Dinas Tenaga Kerja. Akhirnya ia pun kreatif mengedit gambar suratnya, yaitu ia surat paklaring dan surat dari Disnaker ditampilkan bersama dalam satu gambar JPEG. Baru ia upload kembali ke website itu.

Turin menunggu berminggu-minggu, tapi ternyata tidak ada balasan email dari PT BPJSTK. Ketika ia sudah menunggu sampai sebulan, ia makin waswas, sehingga ia menelepon sendiri ke PT BPJSTK untuk menanyakan apakah permohonan klaimnya sudah diterima.

Petugas PT BPJSTK malah bilang bahwa aplikasinya sudah disetujui dan mereka sudah mengirimkan email balasan ke Turin, meskipun Turin sendiri tidak merasa menerima. Akhirnya Turin pun datang sendiri ke kantor PT BPJSTK untuk verifikasi berkasnya. Seminggu kemudian, klaim Jaminan Hari Tua-nya pun ditransfer ke rekening banknya.

Belakangan, Turin baru tahu bahwa pada minggu-minggu itu sistem website PT BPJSTK sedang error lantaran server-nya down. Sehingga banyak email yang dikirim oleh perusahaan itu tidak terkirim ke nasabah-nasabah mereka yang sedang menunggu-nunggu mereka.

Kantor yang Overload

Rika, 34, kawan saya lainnya, punya cerita lain tentang mengklaim Jaminan Hari Tua PT BPJSTK-nya. Rika, seorang jurnalis televisi, memutuskan untuk mengundurkan diri karena ingin mengelola bisnisnya sendiri. Ia mendaftarkan klaim Jaminan Hari Tua-nya secara online, lalu berniat memverifikasi berkasnya di cabang kantor PT BPJSTK terdekat dari rumahnya di Bandung.

Pada hari ketika ia mau verifikasi berkas, saat ia menginjakkan kaki di kantor PT BPJSTK itu, ia hampir tidak bisa masuk karena antrean nasabah yang mengular mirip beras. Kantor itu semestinya cuma sanggup melayani 120 orang nasabah, padahal jumlah pengantrenya sampai tiga kali lipatnya.

Stress, tahu-tahu Rika ketemu seorang staf PT BPJSTK. Staf itu menjelaskan bahwa Rika tidak perlu mengantre verifikasi berkasnya di situ jika memang antreannya overload. Rika bisa mengantre di cabang kantor lain, yang mungkin sedikit lebih jauh dari rumahnya, tetapi cabang kantor itu lebih sepi pengunjung sehingga Rika bisa mengantre lebih cepat.

Rika akhirnya mengulangi lagi daftar online, dan menyatakan ingin verifikasi berkasnya di Cimahi. Kantor PT BPJSTK di Cimahi memang lebih sepi, tapi bangunannya cukup bagus dan bersih. Rika akhirnya hanya butuh menunggu sekitar 10 menit semenjak masuk kantor itu dan mengambil nomor antrean. Lalu ia pun diverifikasi selama sekitar lima menit, kemudian diberi resi yang dicantumi tanggal, sambil diwejangi oleh petugasnya bahwa mereka akan mengirim klaimnya paling lambat pada tanggal itu.

PT BPJSTK pun menepati janji, dan Rika mendapatkan cairan klaimnya seminggu kemudian.

“(Masalahnya..)” kata Rika kepada saya. “Masih banyak klien mereka yang belum paham cara klaim online, khususnya kaum blue collar. Mungkin karena level pendidikan kaum ini juga. Kasihan juga mereka ketika datang  dan harus pulang lagi karena yang (cepat) dilayani hanya yang (sudah) daftar online.”

Rika tidak bisa lupa bahwa di kantor PT BPJSTK di Bandung, nasabah yang ingin klaim tidak hanya dari Bandung, tetapi juga bahkan datang dari Ciamis dan Garut (sampai di sini saya langsung googling apakah PT BPJSTK punya kantor cabang di kawasan Priangan selatan). Terbayang orang-orang ini datang jauh-jauh dan mengantre lama-lama hanya untuk mencairkan uang yang mungkin tidak seberapa.

Persoalan menjadi lebih merepotkan karena ternyata uang klaim yang sudah diverifikasi tidak diberikan secara hard cash, tetapi ditransfer. Padahal masih banyak nasabah PT BPJSTK yang belum punya rekening bank (senggol bank-bank yang malas buka cabang di desa-desa terpencil. Senggol masyarakat yang ogah buka rekening di bank).

Masalah kegagapan ilmu juga jadi problem bagi sebagian nasabah. Selain tidak punya rekening bank, banyak dari nasabah PT BPJSTK yang sudah manula, sehingga cukup gaptek untuk daftar klaim online. Mereka nampaknya butuh pertolongan dari (semacam) customer service di kantor PT BPJSTK untuk mengajari mereka mendaftar secara online. Memang urusan transisi teknologi ini masih jadi problem bagi generasi X yang kini sudah mulai pensiun dan masih cinta dokumentasi manual, dan problem kegagapan teknologi pada manula ini juga terjadi di bidang-bidang lainnya.

Memudahkan Kesejahteraan bagi Para Pegawai

Semenjak PT Jamsostek berubah menjadi PT BPJS Ketenagakerjaan, memang pelayanannya cenderung jadi lebih baik. Kendati awal-awal sistem informasi PT BPJSTK masih terengah-engah, tetapi kini laporan website sulit diakses semakin berkurang. Aplikasi BPJSTK Mobile juga diluncurkan dan aplikasinya nampak lebih ringan dan kekinian.

Jaminan tenaga kerja ini juga tidak rumit bagi para pekerja yang trendnya belakangan ini makin sering gonta-ganti majikan. Kawan saya, Elang, 40, sudah berganti pekerjaan pada tiga perusahaan yang berbeda, dan ia hanya perlu meneruskan Jaminan Hari Tua-nya pada nomor nasabah yang sama, tidak perlu membuat nomor nasabah yang baru.

Iuran Jaminan Hari Tua ialah 5,7% dari upah sebulan.  Sedangkan iuran Jaminan Kecelakaan Kerja berkisar antara 0,24% hingga 1,74% dari upahnya sebulan. Rincian mengenai iuran program Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan program-program PT BPJSTK lainnya ini bisa dilihat di website PT BPJS Ketenagakerjaan.

Kita tidak bisa terus bekerja pada perusahaan selamanya. Ada saatnya kita harus berhenti, namun umur tetap akan berjalan sampai Yang Mahaesa memanggil. Dengan BPJS Ketenagakerjaan, hidup kita akan tetap berlanjut, dan kita tetap berkesempatan untuk berkarya, meskipun tak ada lagi orang yang menggaji kita.

Tulisan ini juga dapat Anda temukan di Blogdetik.



Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *