Curhat Seorang Blogger Sibuk

Padahal kerjanya cuma nulis-nulis curhat doang, kok ya bisa-bisanya jadi sibuk ngalah-ngalahin eksekutif kantoran.

Blogger Sibuk

Sebetulnya sedapat mungkin saya menghindari kata sibuk untuk mendeskripsikan kerjaan saya. Karena kata itu sering dianggap belagu.

Tapi saya harus mengakui saya memang sibuk. Yang ngomong begitu bukan saya, melainkan suami saya.

“Kamu sibuk,” katanya dengan nada sebal ketika dia menjumpai tumpukan setrikaan menjulang setinggi Himalaya di belakang kamar kami. Setrikaan yang saya abaikan lantaran saya sibuk menulis.

Saya nggak bilang sibuk. Saya selalu menemukan kata-kata lain untuk ngeles,

“Oh, aku lagi banyak pekerjaan.”

“Bentar deh, ini proyek lagi deadline. Setrikaan / remah-remah makannya Fidel bisa menunggu.”

“Hadeuh..aku mau nyetrika, tapi mendadak ini klien paging dan melambai-lambaikan duit banyak asalkan kerjaannya selesai malam ini!”

Gitu aja terus, nggak selesai-selesai.

Padahal serius deh, setahun lalu, kerjaan blogging saya masih dalam ritme santai. Masih jadi hobi iseng-iseng dapat duit yang saya sambi sembari memantau bursa saham. Saking santainya, kadang saya masih sempat melirik iri ke tetangga, “Kok si itu dapat job proyek melulu, tapi saya jarang?”

Ternyata memang semua ada waktunya. Lambat laun, inbox saya mulai sering dapat email berisi request minta jasa backlink. kalau cuma nitip backlink sih cemen. Tapi kebanyakan klien malah minta saya menulis artikel-artikel call-to-action. Mulai dari yang minta saya review produk sampai bikin kampanye iklan layanan masyarakat terselubung. Artikelnya di blog saya sendiri lho, bukan di website mereka.

Perlahan-lahan waktu saya mulai tersita. Saya mulai terpikir bahwa klien-klien ini bukan cuma beli skill saya untuk curhat hore, tetapi sudah sampai ke level membeli waktu saya. Lha saya naikkan tarif pun, masih tetap saja orang titip backlink pada saya. What da heck is the thing about me?

*belagak a la Cameron Diaz di There’s Something about Mary*

Dan semakin saya naikkan tarif pun, saya merasa tanggung jawab saya makin besar. Ada perasaan dalam hati saya, bahwa saya ingin tulisan yang sudah saya buat untuk klien itu memperoleh apa yang diharapkan klien: pageview-nya banyak, bounce rate-nya kecil, lebih bagus lagi kalau sampai jadi call-to-action.

Maka update blog pun tidak lagi hanya sekedar menulis curhat hore, tetapi sudah ditambah kerjaan optimasi halaman. Dan yang terakhir ini, itu yang membuat saya jadi blogger sibuk.

Deadline Setiap Hari

Karena proyeknya saya inginkan berhasil, maka saya pun punya target untuk tiap tahapnya. Iya, produksi artikel blog pesanan klien itu ada tahap-tahapnya ternyata, kalau mau hasilnya seperti standar yang saya harapkan di atas.

Ambil contoh, misalnya saya dapat proyek menulis tentang cara trading saham, dengan backlink merujuk ke sebuah website.

Tahap satu, saya cari foto ilustrasinya dulu. Saya ini orang visual, pikiran saya baru jalan kalau saya sudah lihat barangnya dulu.

Tahap dua, menulis sambil membayangkan fotonya.

Tahap tiga, riset keyword. Saya cari keyword terbanyak tentang trading saham, lalu masukkan ke artikelnya.

Tahap empat, susun konten untuk SEO-nya. Bikin konten deskripsi untuk ditaruh di Search Engine Result Page dan di halaman preview media sosial.

Tahap lima, pasang robot untuk publish terjadwal di media sosial. Kenapa dijadwal? Karena saya mau artikelnya terbaca ketika traffic di linimasa sedang ramai. Dan sialnya, jam ramai segitu adalah jam saya sedang main bersama Fidel.

Jadi, kalau saya bikin artikel itu nggak cukup 1-2 jam, tapi bisa makan waktu 2-3 hari. Sebab diselingi kegiatan menjadi manusia di dunia nyata mengurus anak dan mengurus menu rumah plus belai-belai suami. Makanya kalau ada calon klien kirim saya e-mail minta dibikinkan lima artikel dalam sehari, pasti saya langsung balas situ-paging-content-creator-yang-salah.

Pun waktu segitu saya perpanjang, kalau setelah published, ternyata artikelnya tidak mendapatkan standar hasil yang saya harapkan. Kalau pageview-nya sedikit, saya mesti sounding link ke forum yang ramai. Kalau bounce rate-nya besar, saya mesti sounding artikel ke segmen target pembaca yang lebih spesifik. Rada repot juga karena niche yang saya pilih pun lumayan sulit: investasi, specifically about pasar modal. Tapi ya gimana, lha saya senang topiknya kok.

Saya bukan riweuhBut I am paid and I dislike disappointing my client.

Dan ke-hectic-an saya menulis artikel masih ditambah dengan proyek-proyek lain. Beberapa kali saya ditawari klien untuk bikin kampanye melalui blog dan nge-buzz melalui media sosial. Butuhnya nggak cuma satu influencer, tapi butuh banyak orang. Jadi kerjaan saya pun berkembang menjadi komandan batalyon buzzer plus kordinator bala tentara blogger. Tolong jangan tanya kenapa klien pilih saya jadi penggalang massa proyekan ini. Nggak bisa dipungkiri bahwa saya senang uangnya. #Nyengir

Yang mesti di-highlight gede-gede itu, hampir semua proyek selalu datang mendadak. Klien selalu nge-mail dengan deadline tinggal 2-3 hari, padahal otak kreatif saya kan butuh brainstorming beberapa hari sebelum mulai menulis. Saya belum selesai optimasi dengan proyek yang satu, sudah datang lagi permintaan proyek dari klien lain.

Dan saya juga sungkan menolak. Alasannya, karena saya senang uangnya. #NyengirLagi

Ada yang Salah dengan Cara Menjaga Kesehatan Tubuh Saya

Dan sepertinya yang bisa menghentikan saya bekerja cuma Tuhan.

Pernah suatu hari saya ambruk dan nggak bisa bangun setelah repot menulis berhari-hari. Saya masuk angin, muntah sampai dehidrasi. Yang membuat saya sedih waktu itu bukanlah saya nggak bisa kerja menulis, tetapi karena perut saya kesakitan tiap kali Fidel naik ke dada saya untuk menyusu. Fidel menangis karena merasa saya tolak. Padahal sumpah, perut saya sakit dan saya tidak bisa bergerak.

Akhirnya suami saya menggotong saya ke UGD. Kolega-kolega saya menyuntiki saya antihistamin, dan barulah saya bisa makan. Saya pulang dari rumah sakit sambil mesem-mesem, sementara dokter UGD-nya bilang fiuh karena ternyata saya bukan kena apendisitis.

Saya masih rada tengsin kalau ingat peristiwa itu. Karena menjadi dokter bertahun-tahun tetap nggak bikin saya expert tentang cara menjaga kesehatan tubuh saya sendiri.

Tapi belajar dari musibah itu, saya jadi berdamai dengan ke-workaholic-an saya. Saya mulai melonggarkan deadline yang saya bikin-bikin sendiri, terutama di tahap optimasi.

Kalau dulunya saya mengharap suatu artikel saya bisa tembus 4.000 hits dalam seminggu, saya turunkan standar saya jadi 4.000 hits dalam sebulan. Kalau dulu saya caplok permintaan artikel dari segala niche, sekarang saya cukup prioritaskan artikel dari niche-niche yang saya sukai saja. Kalau kliennya ajukan proyek tetapi dengan fee yang tidak saya sukai, saya suruh kliennya tunggu sampai saya pasang CSR mode. (CSR = corporate social responsibility, istilah saya untuk situasi ketika saya sedang dalam mood gw-lagi-ada-waktu-luang-jadi-situ-boleh-bayar-saya-semampunya).

Karena prinsip saya, people hire me not just because of my skill and my talent, but they also buy my time. The time that I am supposed to use to play with Fidel.

Plus saya juga berusaha lebih jujur kepada diri sendiri. Kalau saya sudah mulai merasa badan saya rada nggak enak, saya minum suplemen yang sudah teruji klinis sebagai cara meningkatkan sistem imun, supaya tubuh saya tetap terjaga. Kita memang selalu makan cukup tiap hari, tapi belum ada yang menjamin juga kalau vitamin-mineral yang masuk via makanan itu sudah cukup semua, kan? Coba perhatikan deh, orang yang cuma makan seadanya asal kenyang dengan orang yang minum Stimuno setiap hari, misalnya. Pasti penampakannya saja sudah beda.

Oh ya, kalau mau tahu lebih banyak suplemen Stimuno Forte untuk jaga daya tahan tubuh, bisa buka http://serbaherba.com/dayatahan.

Bagaimana cara menjaga kesehatan tubuh
Cara menjaga kesehatan tubuh bagi para pekerja itu simpel: kerja yang efisien, istirahat yang cukup, minum suplemen bila perlu.
Foto oleh Eddy Fahmi
Smart Workaholic

Pembaca blog saya yang rerata menghabiskan lima menit lebih di blog ini, ternyata workaholic. They love smart work rather than hard work.

Sebetulnya jadi workaholic itu normal, asalkan tahu batasnya kapan merasa puas, dan kapan harus berhenti. Puas kalau hasil sesuai target, bukan puas kalau sudah mencapai hasil sebanyak-banyaknya. Berhenti kalau badan sudah merasa lelah, berhenti kalau keluarga sudah teriak minta diperhatikan.

Karena urutan yang benar itu adalah Tuhan, lalu keluarga, baru pekerjaan. Dan urutan itu, tidak perlu dibolak-balik.

#Sehat365Hari

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

48 comments

  1. Suka sama artikel ini. Jadi lebih ngeh juga kalo jadi ibu itu memang kerjaan jumpalitan banget tapi harus tetap fit. Dan aku tak sendiri.

    TFS, mbak Vicky.

  2. “They love smart work rather than hard work” — and i agree with that.Tulisannya mba ngalir banget dah kaya air pancoran.. enak bacanya..

    Btw, mba konsumsi stimuno juga? masih baru konsumsi atau sudah lama? 🙂

  3. Kartes says:

    Okay, mungkin saya di tahap

    melirik iri ke tetangga, “Kok si itu dapat job proyek melulu, tapi saya jarang?”

    hahaha..

    Enggak mau komen tentang suplemennya ah, tapi tentang konsep bekerja.. Well, Tuhan-keluarga-kerja, sepakat banget untuk itu..

    Terlebih uang memang bisa membeli kenikmatan, sayangnya waktu ga bisa dibeli.. Jadi kalau kerja ya yang bikin happy dan tetap bugar.. 😀

    Happy trading, haha

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Andhika jangan melirik iri dulu. Nanti kalau job-nya sudah banyak, bingung nolaknya. Sebab waktu yang harus diluangkan untuk mengerjakan pun banyak. Bukankah uang bisa didapat, tapi waktu nggak bisa dibeli..?

      Cuss ah..saya mau lanjut trading lagi. Ini baru 40 menit, hari ini saya pasang 6 order, tapi baru 1 order yang match, hahahaha..

  4. hoeda says:

    Dengan penuh semangat meng-klik link di artikel (yang dicoret maupun yang gak dicoret, yang aktif maupun yang gak aktif). Tapi… “That page can’t be found”. 🙁

  5. SYUNAMOM says:

    Saya bukan workaholic karena hobi utama saya mager dikasur sama anak, tapi kalau jadwal saya lagi padat-padatnya saya juga minum Stimuno untuk menjaga daya tahan tubuh, karena kalau emak sakit, entah bagaimana rumah jadinya.

  6. Maria Soraya says:

    halooo mbak vicky, aku baru mampir ke sini

    oalah dirimu dokter toh, waktu itu pernah komen soal puskesmas di blogku 🙂

    pas banget ulasannya ini, saya lagi nyari suplemen/vitamin buat daya tahan tubuh

  7. Enny Mamito says:

    Harus tetap sehat walau banyak kegiatan, apalagi saat cuaca tak menentu kayak gini mbak. Sebentar panas sebentar hujan. Pokoknya gak boleh sakiit, cemuunguudh 😀

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Cuaca memang tidak tentu akhir-akhir ini. Saya mau keluar rumah pun mikir-mikir dulu, karena saya sedang menjemur pakaian dan takut pakaiannya kehujanan kalau saya tidak di rumah.

  8. Meskipun saya bukan blogger yang super sibuk, tapi kadang ngerasa capek juga, kalau pulang traveling sering sakit. Mungkin sistem imun kurang mendukung, jadi Harus konsumsi stimuno nih.. . Biar sehat kayak mbak Vicky

  9. Nova DW says:

    Menjaga daya tahan tubuh memang penting. Apalagi para perempuan yang memang ‘sibuk’. Eh … Kita ini memang perempuan sibuk lho, mbak. Yang diurus kan banyak. Secara kita dituntut multitasking juga ^^

  10. Aku slalu usahain atur waktu mbak. Pengalaman badan drop duh ga enak banget. Ga bisa ngapa-ngapain. Jadi mending ga maksain kalo emang ngerasa badan udah ga enak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *